Raka berbaring di ranjang dengan mata terbuka menatap langit-langit yang gelap. Pintu kamarnya tertutup, tapi di kepalanya pintu kamar Dinda tetap terbuka lebar—celah hitam yang mengundang, suara lembut yang bilang “selamat malam, Kak” dengan janji yang tidak diucapkan sepenuhnya.
2671Please respect copyright.PENANAvDiZ9waD1p
Ia membolak-balik sampai larut. Setiap kali hampir tertidur, bayangan itu kembali: Dinda berlutut di samping kursinya siang tadi, wajah sejajar, mata hitam yang lapar tapi sabar, bibir yang sedikit terbuka ketika bilang “pintu kamarku nggak dikunci”. Lalu kemeja flanel miliknya yang dikenakan Dinda, terlalu besar, longgar di bahu, memperlihatkan tulang selangka dan sepetak kulit dada yang putih. Legging hitam yang menempel di paha, membentuk lekuk yang jelas setiap kali Dinda bergerak.
2671Please respect copyright.PENANAl6vXkOgl90
Raka menghela napas panjang, menutup mata rapat-rapat, mencoba memikirkan Ayu. Ayu yang tidur di lantai bawah, lelah, percaya, mencintainya dengan cara yang stabil dan aman. Ayu yang selalu menyiapkan handuk bersih, yang mengingatkan makan, yang mencium keningnya sebelum tidur. Rasa bersalah datang seperti gelombang, tapi di bawahnya ada arus lain yang lebih kuat—arus yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.
2671Please respect copyright.PENANAQT1Rj4xkrG
Pagi datang dengan cahaya abu-abu dan bau kopi yang naik dari dapur. Ketika Raka turun, Ayu sudah siap berangkat. Ia memakai blazer abu-abu, rambut dikepang rapi, wajah sedikit pucat karena kurang tidur.
2671Please respect copyright.PENANAFQVmT4PxQB
“Mas, aku tinggal dulu ya. Ada meeting jam delapan. Mungkin pulang agak sore lagi.” Ayu mencium pipi Raka, lalu menoleh ke Dinda yang sedang mengisi botol minum di dapur. “Din, jangan bipin Kakak Raka terus ya. Biarin dia kerja.”
2671Please respect copyright.PENANAz4B7gVZkOI
Dinda tertawa kecil, suara yang sopan dan manis. “Iya, Kak. Aku janji.”
2671Please respect copyright.PENANAENeCW6AEKC
Setelah pintu depan tertutup dan suara mobil Ayu menjauh, rumah kembali menjadi ruang yang terlalu sunyi dan terlalu penuh. Dinda masih memakai kemeja flanel milik Raka dari kemarin. Lengan digulung sampai siku, dua kancing bawah terbuka, memperlihatkan sedikit perut bawah yang rata dan putih. Legging hitamnya sama. Rambutnya dikuncir tinggi lagi, membuat lehernya terlihat lebih panjang, lebih rentan.
2671Please respect copyright.PENANABWmT2fNIHk
Raka menuang kopi untuk dirinya sendiri. Tangannya sedikit gemetar.
2671Please respect copyright.PENANABqLPzo17Qf
“Kak,” suara Dinda terdengar dari belakang. “Tidur Kakak semalam… nyenyak?”
2671Please respect copyright.PENANADuHjx2cnk6
Raka tidak berbalik. “Cukup.”
2671Please respect copyright.PENANAai1n0gH8Ty
“Bohong.” Dinda mendekat. Bau sabun melati memenuhi jarak di antara mereka. “Aku dengar Kakak bolak-balik. Kasur Kakak berisik.”
2671Please respect copyright.PENANA6Lv8qoRxQe
Raka meletakkan cangkir, akhirnya menoleh. “Kamu nguping?”
2671Please respect copyright.PENANA3WDr8TYXp5
“Bukan nguping.” Dinda tersenyum tipis. “Dindingnya tipis. Sama seperti semalam-semalam sebelumnya. Aku juga nggak tidur nyenyak. Aku tunggu… tapi Kakak nggak datang.”
2671Please respect copyright.PENANAyXnaYw2B0q
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti batu ke danau. Raka menatap wajah Dinda. Di cahaya pagi yang pucat, kulitnya terlihat lebih lembut, bibirnya sedikit kering, mata hitam itu tidak menghindar.
2671Please respect copyright.PENANAxT3JMXLtA7
“Aku nggak akan datang,” kata Raka pelan. Suaranya lebih serak dari yang ia maksudkan. “Ini sudah cukup, Din. Kita sudah kebanyakan.”
2671Please respect copyright.PENANAzLmEGt4Mj6
Dinda mengangguk pelan, seolah menerima. Tapi ia tidak mundur. Ia berdiri di sana, begitu dekat sampai Raka bisa melihat detil bulu mata yang panjang, sedikit bayangan kelelahan di bawah mata, dan denyut nadi di leher yang berdetak stabil.
2671Please respect copyright.PENANAMLSl6I3kS2
“Kalau sudah cukup,” bisik Dinda, “kenapa Kakak masih pakai kaos yang sama seperti semalam? Yang bau keringat Kakak masih nempel. Aku bauin tadi pas lewat depan kamar.”
2671Please respect copyright.PENANAUXsWWlhdU1
Raka terdiam. Ia memang belum ganti kaos. Ia tidak sempat. Atau tidak mau.
2671Please respect copyright.PENANAiaKPGldsI1
Dinda mengangkat tangan, menyentuh ujung kaos Raka di dada. Jari-jarinya menekan kain tipis, merasakan detak jantung di bawahnya. “Jantung Kakak cepet.”
2671Please respect copyright.PENANA4k5lhJPYu6
“Dinda.”
2671Please respect copyright.PENANAZB0PX55nSZ
“Aku cuma ngecek.” Senyumnya masih sopan, tapi matanya tidak. “Kalau Kakak bilang berhenti sekarang, aku berhenti. Aku akan ganti baju, pakai kemeja longgar yang nggak keliatan bentuk tubuh, duduk di kamar seharian, dan pura-pura Kakak cuma suami kakakku. Tapi Kakak harus bilang. Dengan mulut Kakak. Jangan cuma diam.”
2671Please respect copyright.PENANA9ogLxKbjhU
Raka membuka mulut. Kata “berhenti” sudah di ujung lidah. Tapi yang keluar malah napas panjang yang berat.
2671Please respect copyright.PENANAnqvsepLNhD
Dinda menunggu. Ketika tidak ada jawaban, ia menurunkan tangan, mundur selangkah, dan tersenyum kecil—senyum orang yang baru saja menang tanpa perlawanan.
2671Please respect copyright.PENANAdqILrK9LNq
“Baik,” katanya lembut. “Aku anggap diam Kakak sebagai izin untuk terus lapar di depan Kakak.”
2671Please respect copyright.PENANAew9VDblXxX
Ia berbalik, berjalan ke ruang keluarga, duduk di sofa dengan laptop di pangkuan. Kemeja flanel itu terbuka lebih lebar ketika ia bersandar, memperlihatkan garis dalam payudara yang tidak memakai bra. Raka melihat puting yang sedikit menonjol menekan kain, bentuk yang penuh meski tidak besar, kulit putih yang mulus di celah dada.
2671Please respect copyright.PENANAHf6Ag3lUgZ
Ia memalingkan wajah, membawa kopi ke ruang kerjanya, mencoba membuka laptop. Layar menyala, email masuk, laporan menunggu. Tapi matanya kosong. Pikirannya penuh dengan kalimat Dinda, dengan jari yang menekan dadanya barusan, dengan bau melati yang masih tertinggal di hidung.
2671Please respect copyright.PENANAsbdTjgPtxL
Pukul sepuluh, Raka berdiri. Ia butuh air. Atau alasan. Ia berjalan ke dapur, menuang air putih, minum perlahan. Dari ruang keluarga, suara ketikan keyboard Dinda terdengar konstan. Sesekali berhenti, lalu dilanjutkan.
2671Please respect copyright.PENANAnKVBdC32ie
Ketika Raka kembali lewat, Dinda mengangkat wajah. “Kak, boleh minta tolong?”
2671Please respect copyright.PENANA8XZYhMV5ku
“Apa?”
2671Please respect copyright.PENANAm0yL8o5rhn
“Aku mau ambil buku di kamar atas. Yang tebal, di rak paling atas. Aku nggak yangkau.” Dinda menutup laptop, berdiri. “Boleh temenin?”
2671Please respect copyright.PENANAeRcJvHGsqu
Raka seharusnya bilang tidak. Ia seharusnya bilang ambil sendiri atau nanti. Tapi kakinya sudah bergerak mengikuti Dinda naik tangga.
2671Please respect copyright.PENANAKEMdm8upPr
Kamar Dinda berbau sabun dan sedikit pewangi pakaian. Ranjang sudah dirapikan, selimut dilipat rapi. Di meja belajar ada tumpukan kertas dan sticky note berwarna-warni. Dinda menunjuk rak buku di sudut.
2671Please respect copyright.PENANAHGWspwpe7s
“Yang paling atas, Kak. Buku teori hukum yang tebal itu.”
2671Please respect copyright.PENANAcCXAcR0iIK
Raka meraih. Karena raknya tinggi, ia harus berjinjit sedikit. Dinda berdiri tepat di belakangnya, begitu dekat sampai Raka merasakan napas hangat di punggungnya. Ketika Raka menurunkan buku, tubuh mereka hampir menempel.
2671Please respect copyright.PENANAeQhJCVMpsT
“Makasih,” bisik Dinda. Tangannya menerima buku, tapi jari-jarinya sengaja mengusap punggung tangan Raka lebih lama dari yang diperlukan. “Tangan Kakak masih panas.”
2671Please respect copyright.PENANArsunsJJK8Q
Raka berbalik. Jarak mereka sekarang hanya sejengkal. Dinda mengangkat wajah. Dari dekat, Raka melihat bibir bawah yang lebih tebal sedikit retak di tengah, lidah yang bergerak di balik gigi, dan mata yang menatap lurus tanpa malu.
2671Please respect copyright.PENANAg2qOpGTgSc
“Kakak mau pergi?” tanya Dinda pelan.
2671Please respect copyright.PENANADWfWDjQPOU
“Harusnya.”
2671Please respect copyright.PENANAUW0JhnzA60
“Tapi nggak.”
2671Please respect copyright.PENANA6kzBJuab2W
Raka tidak menjawab. Dinda mengangkat tangan, menyentuh dada Raka lagi—kali ini telapak penuh, menekan pelan, merasakan detak yang semakin cepat. Lalu tangannya naik ke leher, ibu jari mengusap jakun Raka yang naik-turun.
2671Please respect copyright.PENANA4IcKQO5W6h
“Aku suka detak ini,” bisiknya. “Detak orang yang menahan diri. Lebih jujur dari kata-kata.”
2671Please respect copyright.PENANAH188dRl4TJ
Raka menangkap pergelangan tangan Dinda. Genggamannya tidak kasar, tapi tegas. “Cukup.”
2671Please respect copyright.PENANAVrcuxApUmC
Dinda tidak menarik tangan. Ia malah melangkah lebih dekat sampai dada mereka saling menyentuh melalui kain. Payudaranya yang empuk menekan dada Raka. Hangat. Lembut. Raka bisa merasakan puting yang mengeras di balik kemeja flanel.
2671Please respect copyright.PENANAAcv4NCXlfz
“Kalau cukup,” bisik Dinda di depan mulut Raka, “kenapa Kakak masih pegang tanganku? Kenapa nggak dorong aku?”
2671Please respect copyright.PENANAoatA8v8Qde
Raka merasakan napas Dinda di bibirnya. Hangat, sedikit manis karena teh tadi pagi. Ia menunduk sedikit. Hampir. Bibir mereka hanya berjarak napas.
2671Please respect copyright.PENANAvHfxnmSRF5
Lalu suara motor di luar membuat mereka berdua kaku.
2671Please respect copyright.PENANAj4CSZGylca
Bukan Ayu. Hanya tetangga. Tapi cukup untuk membuat Raka melepaskan tangan Dinda dan mundur selangkah.
2671Please respect copyright.PENANAyPC9LKi0c4
Dinda tersenyum, bukan kecewa, tapi seolah bilang “hampir”. Ia memeluk buku ke dada, menutup sedikit celah kemeja yang terbuka. “Nanti lanjut, Kak. Aku tunggu.”
2671Please respect copyright.PENANAZpUxkkmx8P
Raka keluar dari kamar lebih dulu, turun tangga dengan langkah cepat, langsung ke ruang kerja, menutup pintu. Ia duduk, menunduk, menekan pelipis. Penisnya sudah tegang penuh di dalam celana, berdenyut sakit. Ia ingin mengocok sekarang juga, tapi menahan. Ia ingin menghukum dirinya dengan menahan.
2671Please respect copyright.PENANA5rvfISHulP
Siang berlalu dengan tegang yang semakin tebal. Dinda tidak mengganggu lagi. Ia tetap di ruang keluarga, mengetik, sesekali berdiri ke dapur, tapi tidak mendekat. Raka mencoba bekerja. Benar-benar mencoba. Ia membalas tiga email, merevisi satu laporan, tapi setiap kalimat terasa hampa.
2671Please respect copyright.PENANA1pQck3lg0C
Sore hari, sebelum Ayu pulang, Dinda muncul di pintu ruang kerja dengan secangkir kopi.
2671Please respect copyright.PENANAamSdBo65ki
“Kak, minum. Mata Kakak merah.”
2671Please respect copyright.PENANAsgafSI8iWh
Raka menerima tanpa menatap. “Makasih.”
2671Please respect copyright.PENANAyVcmfVyRDr
Dinda tidak pergi. Ia berdiri di ambang, bersandar di kusen. “Kakak Ayu telepon tadi. Katanya pulang jam enam. Ada macet.”
2671Please respect copyright.PENANATaL1MDVRkG
Raka mengangguk.
2671Please respect copyright.PENANAzWLCxAgW60
“Masih dua jam,” lanjut Dinda pelan. “Dua jam rumah ini cuma milik kita.”
2671Please respect copyright.PENANAyQMy31rM4U
Raka mengangkat wajah. “Dinda, jangan.”
2671Please respect copyright.PENANA7n5qtKoAR6
“Jangan apa? Jangan bilang jujur? Jangan bilang aku sudah ganti celana dalam dua kali hari ini karena basah terus? Jangan bilang setiap kali Kakak lewat, aku bayangin tangan Kakak di pahaku, di bokongku, di—”
2671Please respect copyright.PENANAoECxRhiLOr
“Cukup!” suara Raka lebih keras dari yang ia maksudkan. Ia berdiri. Kursi bergeser. “Kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Ini bukan permainan.”
2671Please respect copyright.PENANAJdVl9tc3Ps
Dinda menatapnya tenang. “Aku tahu. Aku tahu lebih dari Kakak. Kalau ketahuan, Kakak Ayu akan hancur. Keluarga kita akan berantakan. Aku bisa diusir. Kakak bisa kehilangan segalanya. Aku tahu semua itu. Tapi aku tetap di sini. Tetap bilang. Karena lapar ini lebih kuat dari takut.”
2671Please respect copyright.PENANAuWdsed3uk3
Ia meletakkan cangkir di meja, lalu berjalan mendekat lagi. Kali ini Raka tidak mundur. Dinda berhenti tepat di depan, mengangkat tangan, menyentuh pipi Raka dengan telapak yang dingin.
2671Please respect copyright.PENANABV6W4R7g7L
“Aku nggak minta Kakak cintai aku,” bisiknya. “Aku cuma minta Kakak jujur sama tubuh Kakak sendiri. Tubuh Kakak sudah bilang iya dari malam pertama aku desah di kamar. Kakak dengar. Kakak ikut. Kita sama-sama kotor. Sama-sama lapar.”
2671Please respect copyright.PENANAQ7N5cFyejs
Raka menatap mata itu. Di dalamnya tidak ada tipu daya. Hanya keinginan mentah yang sudah tidak dibungkus kesopanan lagi.
2671Please respect copyright.PENANAEZTscpNAt3
Tangannya terangkat sendiri. Ia memegang pinggang Dinda—pinggang yang ramping, yang bisa dilingkari hampir penuh dengan dua tangan. Kain kemeja flanel tipis. Di bawahnya, kulit hangat. Dinda menarik napas tajam, tapi tidak menjauh. Ia malah mendorong pinggangnya sedikit ke depan, menekan perutnya ke penis Raka yang sudah keras.
2671Please respect copyright.PENANA16C04e64ta
“Kak…” desahnya pelan.
2671Please respect copyright.PENANAaY7E68fYB0
Raka menunduk. Bibirnya hampir menyentuh pelipis Dinda. Bau melati dan sedikit keringat memenuhi hidungnya. Ia ingin mencium. Ingin menggigit telinga itu. Ingin menurunkan tangan ke bokong yang kenyal di balik legging, meremas, menarik lebih dekat.
2671Please respect copyright.PENANAQKloOVYby0
Tapi suara mobil di depan rumah membuat mereka berdua membeku.
2671Please respect copyright.PENANA5kBfLsEI9c
Ayu pulang lebih cepat.
2671Please respect copyright.PENANATs9oYJLi0x
Raka melepaskan pinggang Dinda seolah terkena api. Dinda mundur cepat, merapikan kemeja, mengambil cangkir kosong, dan keluar dari ruang kerja dengan wajah yang sudah kembali sopan dalam sekejap.
2671Please respect copyright.PENANAr1YTqLpyVO
Raka duduk kembali, mencoba mengatur napas, mengatur celana yang menonjol, mengatur wajah yang pasti masih memerah.
2671Please respect copyright.PENANAe30RhQH9fO
Pintu depan dibuka. Suara Ayu terdengar cerah. “Mas, Din, aku bawa siomay!”
2671Please respect copyright.PENANAl0bMHreSWF
Makan malam berlangsung seperti biasa. Ayu bercerita tentang macet, tentang rekan kerja yang lucu, tentang rencana weekend. Dinda tertawa di saat yang tepat, menyuapkan siomay ke mulut Ayu, bilang “enak banget, Kak”. Raka mengangguk, tersenyum, menjawab singkat. Di bawah meja, kaki Dinda tidak menyentuhnya sama sekali malam itu. Seolah memberi jeda. Atau memberi waktu untuk Raka tenggelam lebih dalam di dalam pikirannya sendiri.
2671Please respect copyright.PENANAEuy1ZDSbmZ
Setelah makan, Ayu bilang ingin mandi dan tidur karena besok masih meeting. Raka mengantarnya ke kamar, memeluknya lebih lama dari biasanya, mencium keningnya, bilang “istirahat yang cukup”.
2671Please respect copyright.PENANAXyiIh8M2c9
Ketika pintu kamar utama tertutup, Raka berdiri di ruang keluarga yang gelap. Hanya lampu dapur yang masih menyala. Dinda sedang mencuci piring. Bunyi air dan piring memenuhi keheningan.
2671Please respect copyright.PENANAsk21hSsDTs
Raka berjalan mendekat. Berdiri di ambang dapur. Menatap punggung Dinda yang tertutup kemeja flanel miliknya. Lekuk pinggang. Bokong yang terbentuk jelas di legging hitam. Paha yang padat.
2671Please respect copyright.PENANAVQHcyJtujE
Dinda mematikan kran, mengeringkan tangan, lalu berbalik. Matanya bertemu dengan mata Raka.
2671Please respect copyright.PENANAMaSeUdpoI1
Tidak ada yang bicara.
2671Please respect copyright.PENANAK7YoqwxCgB
Dinda berjalan mendekat, berhenti di depan Raka, mengangkat tangan, menyentuh dada Raka sekali lagi—ringan, seperti memastikan detak yang masih cepat.
2671Please respect copyright.PENANAIuefYueYRB
Lalu ia berjinjit, mendekatkan mulut ke telinga Raka, dan berbisik sangat pelan:
2671Please respect copyright.PENANADxuCtiuGxJ
“Pintu kamarku tetap terbuka malam ini, Kak. Aku nggak akan kunci. Aku juga nggak akan desah sendiri. Aku tunggu. Kalau Kakak datang… aku milik Kakak malam ini. Kalau nggak… aku akan tunggu lagi besok. Dan besoknya. Sampai Kakak nggak kuat.”
2671Please respect copyright.PENANAb1DSqJM1De
Ia menurunkan kaki, tersenyum kecil yang sama—sopan di permukaan, liar di dalam—lalu berjalan melewati Raka menuju tangga.
2671Please respect copyright.PENANAD6ybmqs9U9
Raka berdiri membeku di dapur yang masih berbau sabun cuci piring. Ia mendengar langkah kaki Dinda di tangga, bunyi pintu kamar yang dibuka, lalu keheningan.
2671Please respect copyright.PENANABegE8lwceq
Pintu itu memang tidak ditutup sepenuhnya.
2671Please respect copyright.PENANA4O2QdPCLgE
Raka mematikan lampu dapur satu per satu. Rumah menjadi gelap. Ia naik tangga dengan langkah yang berat. Di koridor lantai dua, cahaya samar dari celah pintu kamar Dinda terlihat jelas.
2671Please respect copyright.PENANAF270hTSi51
Ia berdiri di depan pintu itu lama sekali. Tangannya terangkat, menyentuh kayu yang dingin. Jantungnya berdegup begitu keras sampai terasa di tenggorokan.
2671Please respect copyright.PENANAgJH8bB9KPk
Ia mendorong pelan.
2671Please respect copyright.PENANA4ktdUhyrER
Pintu terbuka lebih lebar.2671Please respect copyright.PENANAG7jrqjD9RI


