Lalu pintu ku tertutup dengan bunyi klik yang lembut, hampir tidak terdengar, tapi di telinga Raka bunyi itu seperti gong yang menandai sesuatu yang tidak bisa dibatalkan lagi. Cahaya lampu tidur kuning di sudut kamar Dinda membuat segalanya terasa lebih hangat dan lebih berbahaya. Ranjang single dengan sprei putih polos, bantal yang masih berbekas lekukan kepala, meja belajar yang berantakan oleh kertas dan sticky note, dan aroma sabun melati yang sekarang lebih pekat karena ruangnya tertutup.
2917Please respect copyright.PENANAQZWcd2gQvd
Dinda masih duduk di tepi ranjang. Kemeja flanel milik Raka terlalu besar di tubuhnya, lengan digulung asal-asalan, dua kancing bawah terbuka, memperlihatkan garis perut yang rata dan putih serta sedikit lekukan pusar. Legging hitam ketat menempel di paha, membentuk setiap kontur otot yang lembut. Rambutnya sudah dilepas dari kuncir, tergerai di bahu dan punggung, sedikit berantakan karena baru saja digosok handuk. Matanya menatap Raka tanpa berkedip, hitam pekat di bawah cahaya kuning, penuh sesuatu yang sudah tidak lagi disembunyikan.
2917Please respect copyright.PENANAWv485pr0E0
Raka berdiri di dekat pintu, punggung masih menempel di kayu. Tangannya menggenggam gagang pintu seolah itu satu-satunya penahan agar ia tidak larut sepenuhnya. Jantungnya berdetak begitu keras sampai terasa di leher, di pelipis, di ujung jari. Ia bisa mencium bau dirinya sendiri di kemeja yang dikenakan Dinda—bau sabun mandi pria bercampur sedikit keringat—dan bau itu membuat perutnya mengencang.
2917Please respect copyright.PENANAO5b7vrzu5p
“Kakak datang,” suara Dinda pelan, hampir berbisik. Bukan pertanyaan. Hanya pernyataan yang mengandung lega dan ketakutan yang sama besarnya.
2917Please respect copyright.PENANA9GiPuXgXBb
Raka tidak langsung menjawab. Ia menelan ludah, merasakan tenggorokannya kering. “Aku… cuma mau bicara.”
2917Please respect copyright.PENANAXd8tXCbS3e
Dinda tersenyum kecil. Senyum itu tidak mengejek. Lebih seperti penerimaan. “Bicara. Baik. Aku dengar.”
2917Please respect copyright.PENANADkhH11xJZV
Ia menggeser sedikit ke samping, memberi ruang di tepi ranjang. Gerakan itu membuat kemeja terbuka lebih lebar di dada. Raka melihat kulit putih yang mulus, tulang selangka yang menonjol halus, dan sepetak payudara atas yang tidak tertutup bra. Putingnya sudah mengeras, menekan kain tipis, jelas terlihat di bawah cahaya.
2917Please respect copyright.PENANA3jrXR0TVNO
Raka tidak duduk. Ia masih berdiri. “Ini salah, Din. Sangat salah. Kalau Ayu—”
2917Please respect copyright.PENANAgwwCKSRLbf
“Aku tahu,” potong Dinda lembut. “Aku sudah bilang berkali-kali. Aku tahu semuanya. Aku tahu kakakku akan hancur kalau tahu. Aku tahu Kakak bisa kehilangan rumah ini, pekerjaan, kepercayaan. Aku tahu. Tapi Kakak tetap masuk. Pintu sudah ditutup. Jadi sekarang… jangan bicara tentang salah dulu. Bicara tentang apa yang Kakak rasakan.”
2917Please respect copyright.PENANAX50Msankue
Raka menghela napas panjang. Ia melangkah mendekat satu langkah, lalu berhenti lagi. Jarak masih aman, tapi udara di antara mereka sudah terasa tebal. “Aku merasa seperti orang paling jahat di dunia.”
2917Please respect copyright.PENANAljXLQDWfm2
“Aku juga,” jawab Dinda. Suaranya stabil, tapi ada getaran kecil di ujungnya. “Setiap malam aku tiduran di ranjang ini, aku bayangin Kakak. Aku coba berhenti. Aku coba bayangin laki-laki lain, teman kuliah, siapa saja. Tapi yang muncul selalu tangan Kakak. Suara Kakak pas bilang ‘maaf’ di dapur. Bau kopi di napas Kakak. Aku main sendiri sambil nahan suara, karena takut Kakak dengar… padahal di dalam hati aku ingin Kakak dengar.”
2917Please respect copyright.PENANArp2VUcnJ0z
Raka menutup mata sejenak. Kalimat itu menusuk tepat di tempat yang sudah retak. “Aku dengar. Setiap malam.”
2917Please respect copyright.PENANA5RXEna2LNi
“Aku tahu.” Dinda mengangguk. “Dan Kakak juga lakukan yang sama. Aku dengar juga. Dindingnya tipis, Kak. Kita sama-sama kotor. Sama-sama lapar. Sama-sama tidak bisa tidur.”
2917Please respect copyright.PENANA0zTory6AbA
Keheningan turun beberapa detik. Hanya bunyi hujan yang mulai turun lagi di luar, pelan, konstan, seperti detak jam yang tidak terlihat. Raka akhirnya melangkah lebih dekat. Ia berhenti di depan Dinda yang masih duduk. Dari posisi itu, wajah Dinda tepat di depan dadanya. Dinda mengangkat wajah, menatap dari bawah. Matanya basah sedikit—bukan karena menangis, tapi karena emosi yang terlalu penuh.
2917Please respect copyright.PENANAsDicvJU0ME
“Kakak boleh duduk,” bisiknya. “Aku nggak akan loncat ke Kakak. Aku janji. Kita bicara saja dulu.”
2917Please respect copyright.PENANA9gNq4MLVmv
Raka duduk di tepi ranjang, menjaga jarak sejengkal. Kasur sedikit turun karena beratnya. Bahu mereka hampir sejajar. Dinda memutar tubuh sedikit agar menghadap Raka, satu kaki ditekuk di atas ranjang, paha terbuka di dalam legging hitam. Kemeja flanel bergeser, memperlihatkan lebih banyak kulit paha atas.
2917Please respect copyright.PENANAXBbSAg0tuZ
“Aku takut,” kata Raka akhirnya. Suaranya rendah, serak. “Bukan takut ketahuan. Aku takut… kalau aku mulai, aku nggak bisa berhenti.”
2917Please respect copyright.PENANAJPPrNsXo1r
Dinda menatapnya lama. Lalu ia mengangkat tangan, sangat pelan, seolah memberi waktu pada Raka untuk menolak. Jari-jarinya menyentuh punggung tangan Raka yang diletakkan di atas paha. Usapan ringan, hampir tidak ada tekanan. “Aku juga takut. Tapi aku lebih takut kalau kita terus pura-pura. Aku lebih takut bangun setiap pagi, lihat Kakak di meja makan, dan harus menelan semua ini sendirian.”
2917Please respect copyright.PENANAmlpI1hm96N
Raka membalikkan telapak tangannya, memegang jari-jari Dinda. Tangannya jauh lebih besar, menutupi jari Dinda yang ramping hampir sepenuhnya. Kulit Dinda dingin sedikit, tapi cepat hangat di dalam genggamannya. “Kamu masih muda, Din. Masih ada banyak laki-laki di luar. Laki-laki yang bebas. Yang nggak punya istri. Yang nggak akan menghancurkan keluarga.”
2917Please respect copyright.PENANAmL3c75Vyqr
“Aku nggak mau laki-laki lain,” jawab Dinda tanpa ragu. “Aku mau yang ini. Yang sudah menikah dengan kakakku. Yang setiap malam menahan diri di balik dinding.
2917Please respect copyright.PENANA4VKIH5heva
Raka merasakan kata-kata itu langsung turun ke selangkangan. Penisnya yang sejak tadi setengah tegang sekarang mengeras penuh, menekan celana pendek dengan jelas. Ia yakin Dinda melihatnya, karena mata Dinda sempat turun ke pangkuan, lalu naik lagi tanpa malu.
2917Please respect copyright.PENANAxOOt0N75np
“Aku sudah basah lagi,” bisik Dinda, seolah membaca pikiran Raka. “Dari tadi Kakak masuk dan tutup pintu. Celana dalam aku sudah licin. Aku nggak bohong. Aku bisa buktikan kalau Kakak mau.”
2917Please respect copyright.PENANAY51cmWlt7l
Raka menggeram pelan di tenggorokan. Ia mengangkat tangan bebasnya, menyentuh pipi Dinda. Ibu jari mengusap tulang pipi yang lembut, lalu turun ke bibir bawah yang sedikit terbuka. Dinda membiarkan, bahkan sedikit menjulurkan lidah, menyentuh ujung ibu jari Raka dengan basah yang hangat.
2917Please respect copyright.PENANAnaCcyNMqTQ
“Dinda…” suara Raka pecah.
2917Please respect copyright.PENANAJp60xnVONN
“Cium aku,” bisik Dinda. Bukan perintah. Lebih seperti permintaan yang sudah ditahan terlalu lama. “Cuma cium dulu. Kalau Kakak mau berhenti setelah itu, kita berhenti. Aku janji. Tapi tolong… cium aku sekali. Aku sudah sabar dari minggu pertama aku tinggal di sini.”
2917Please respect copyright.PENANA4OEsBXXswe
Raka menunduk. Jarak napas mereka sudah tidak ada. Ia bisa merasakan hangat mulut Dinda, bisa mencium aroma pasta gigi mint yang samar. Ia menahan beberapa detik terakhir—detik di mana ia masih bisa berdiri dan keluar—lalu menutup jarak itu.
2917Please respect copyright.PENANAcqabn5SEXT
Bibir mereka bertemu.
2917Please respect copyright.PENANAobXe60HjAP
Awalnya hanya tekanan ringan, hampir ragu. Bibir Dinda lembut, sedikit kering di bagian luar, basah di dalam. Raka mengisap pelan bibir bawah Dinda, merasakan teksturnya, merasakan getaran kecil di tubuh perempuan itu. Dinda mengembuskan napas di mulutnya, tangan yang bebas naik ke tengkuk Raka, jari-jari menyusup ke rambut pendek di belakang kepala, menarik pelan.
2917Please respect copyright.PENANA8Ng0lShZHA
Ciuman itu berubah.
2917Please respect copyright.PENANA4K7e7jLvmf
Raka membuka mulut, lidahnya menyentuh bibir Dinda, meminta izin. Dinda langsung membuka, menerima, bertemu di tengah. Lidah mereka saling menyentuh, basah, hangat, saling menjelajah dengan lapar yang sudah ditahan terlalu lama. Raka merasakan gigi Dinda, langit-langit mulut yang lembut, lidah yang bergerak balas dengan cara yang tidak lagi pemula. Dinda mengisap lidah Raka pelan, lalu melepaskan, lalu menggigit bibir bawah Raka dengan gigi yang hati-hati.
2917Please respect copyright.PENANAyTvcyXCwFW
Desahan keluar dari tenggorokan Dinda, tertahan di dalam ciuman. Raka membalas dengan mengisap lebih dalam, tangan yang di pipi turun ke leher, ibu jari mengusap jakun yang naik-turun, lalu ke tulang selangka. Kulit Dinda panas di bawah jarinya. Ia merasakan denyut nadi yang cepat.
2917Please respect copyright.PENANAQ0XaJ2sJMj
Mereka bercumbu lama di tepi ranjang, tanpa buru-buru turun ke mana-mana. Hanya mulut, lidah, napas yang memburu, dan tangan yang mulai bergerak lebih berani. Tangan Raka turun ke bahu Dinda, mendorong pelan kemeja flanel agar melorot di satu sisi. Kulit putih bahu itu muncul, mulus, sedikit merinding karena udara AC. Raka melepas ciuman dari mulut, turun ke rahang, ke telinga, menggigit cuping telinga Dinda pelan.
2917Please respect copyright.PENANA7BJFcZmOCg
“Kak…” desah Dinda, suaranya sudah serak. “Lanjut… tolong lanjut…”
2917Please respect copyright.PENANAs5NYbMlR2E
Raka menggigit pelan kulit di bawah telinga, lalu menjilat, merasakan rasa asin tipis dari keringat. Tangannya masuk ke dalam kemeja yang terbuka, menyentuh pinggang telanjang. Kulit di sana lebih panas, lebih lembut. Ia mengusap naik, merasakan tulang rusuk yang halus, lalu berhenti tepat di bawah payudara.
2917Please respect copyright.PENANAe9y0OFpQdS
Dinda mendorong dadanya ke depan, meminta. “Pegang… Kak, pegang aku.”
2917Please respect copyright.PENANAu3Fge3nULR
Raka menangkup payudara kiri Dinda di dalam kemeja. Bentuknya penuh di telapak tangannya, empuk tapi kencang, puting yang sudah mengeras menusuk telapak. Ia meremas pelan, menggosok ibu jari di puting melalui kain, memutar. Dinda mendongak, lehernya terbuka, desahan lebih panjang keluar.
2917Please respect copyright.PENANA0ucJ6JYRFV
“Ahh… iya… gitu…”
2917Please respect copyright.PENANAUfZYmjqMMW
Raka memindahkan mulut ke leher Dinda, mengisap kulit putih itu sampai memerah, sementara tangannya membuka sisa kancing kemeja satu per satu dengan jari yang agak gemetar. Kemeja terbuka sepenuhnya. Payudara Dinda terlihat jelas di cahaya kuning—bulat, putih, puting merah muda yang tegang, areola kecil yang berkerut. Raka menunduk, mengambil satu puting ke dalam mulut.
2917Please respect copyright.PENANAqdTQEqRXSO
Dinda hampir melompat. Tangannya mencengkeram rambut Raka, menahan kepala di dadanya. “Kak… oh Tuhan… lidah Kakak…”
2917Please respect copyright.PENANAs7qdPRibpj
Raka mengisap pelan, memutar lidah di puting, menggigit sangat hati-hati, lalu berpindah ke payudara kanan, memberi perhatian yang sama. Tangannya yang bebas turun ke perut Dinda, mengusap pusar, lalu ke pinggang legging. Ia memasukkan jari ke dalam pinggang legging, menyentuh kulit perut bawah yang lebih panas.
2917Please respect copyright.PENANAbjG54KNeTZ
Dinda mengangkat pinggul sedikit, membantu. “Lepas… lepasin…”
2917Please respect copyright.PENANABhViKBuhDY
Raka menarik legging bersama celana dalam ke bawah dalam satu gerakan lambat. Dinda mengangkat pantat, membantu melepas sampai legging tertinggal di salah satu pergelangan kaki. Sekarang ia telanjang sepenuhnya di bawah kemeja yang terbuka, hanya kemeja flanel milik Raka yang masih tersangkut di siku.
2917Please respect copyright.PENANApvzTEhL6VD
Raka menarik napas tajam. Ia menatap. Paha Dinda terbuka sedikit karena posisi duduk. Vagina yang sudah basah terlihat jelas—bibir luar yang montok, berwarna merah muda kehitaman, mengkilap oleh cairan, klitoris yang sedikit bengkak di atas. Bulu kemaluan tipis, rapi, hanya di bagian atas. Aroma khas perempuan yang terangsang naik ke hidung Raka, manis dan amis sekaligus, membuat kepalanya pusing.
2917Please respect copyright.PENANAQxR1ghCLsd
“Kakak liat terus,” bisik Dinda, suaranya gemetar. “Aku malu… tapi aku suka Kakak liat.”
2917Please respect copyright.PENANAJ8AE29piyW
Raka berlutut di lantai, di antara kaki Dinda. Ia mendorong paha Dinda lebih terbuka dengan kedua tangan. Kulit paha dalam itu lembut sekali, hangat, sedikit bergetar. Ia mencium bagian dalam paha kiri, naik pelan, menjilat, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. Dinda mendesah lebih keras, tangan mencengkeram sprei.
2917Please respect copyright.PENANAIN277ZYmOD
Ketika mulut Raka sampai di lipatan paha, ia berhenti sejenak, hanya menghembuskan napas panas ke vagina yang sudah mengkilap. Dinda menggeliat. “Jangan goda… tolong…”
2917Please respect copyright.PENANAj9Bt5T2ZRf
Raka menjulurkan lidah, menjilat dari bawah ke atas, satu usapan panjang yang lambat. Rasa asin-manis langsung memenuhi mulutnya. Dinda memekik pelan, paha menutup di kepala Raka, lalu terbuka lagi. Raka mengulangi, kali ini lebih lambat, memisahkan bibir vagina dengan ibu jari, menjilat tepat di klitoris yang sudah keras.
2917Please respect copyright.PENANAhAc7dDaCTF
“Ahhh… Kak… iya di situ…”
2917Please respect copyright.PENANAajsojCRncq
Raka mengisap klitoris pelan, memutar lidah, sesekali menusuk ujung lidah ke lubang yang sudah basah. Cairan Dinda semakin banyak, membasahi dagu Raka, menetes ke pergelangan tangannya. Ia memasukkan satu jari tengah perlahan, merasakan dinding dalam yang panas dan licin menyempit di sekitar jarinya. Dinda mengangkat pinggul, mengejar.
2917Please respect copyright.PENANAuZOnrJoIib
“Tambah… satu lagi…”
2917Please respect copyright.PENANAPZqMn76G2V
Raka memasukkan jari kedua, menggunting pelan di dalam, sementara mulutnya terus bekerja di klitoris. Bunyi basah memenuhi kamar—bunyi jari yang masuk-keluar, lidah yang mengisap, desahan Dinda yang semakin tidak terkendali. Dinda menutup mulut dengan punggung tangan, tapi desahan tetap bocor.
2917Please respect copyright.PENANABbHS1YrZnk
“Kak… aku mau pipis… nggak… aku mau keluar…”
2917Please respect copyright.PENANAAP5iPoZBr1
Raka mempercepat gerakan jari, mengait ke depan, mencari titik yang membuat Dinda gemetar. Ketika ia menemukannya, Dinda mengangkat pinggul tinggi, paha bergetar hebat, dan orgasme pertama datang dengan desahan panjang yang pecah di antara jari-jari yang menutupi mulutnya. Cairan membasahi tangan Raka, menetes ke lantai. Dinda terus bergetar, dinding vagina berdenyut kuat di sekitar jari Raka.
2917Please respect copyright.PENANApJnAXsnx0L
Raka tidak berhenti. Ia terus mengisap pelan, membiarkan Dinda melewati puncak, lalu membangun lagi dengan gerakan lebih lambat. Dinda menangis pelan, bukan karena sakit, tapi karena terlalu penuh. “Kak… terlalu… aku nggak kuat…”
2917Please respect copyright.PENANAFczLfVyeP6
“Kamu kuat,” gumam Raka di antara paha, suaranya serak. “Keluar lagi untukku.”
2917Please respect copyright.PENANAU8hh4mdfRo
Ia memasukkan jari ketiga, mengisi lebih penuh, menghisap klitoris lebih kuat. Dinda orgasme kedua kali hanya dalam beberapa menit, kali ini lebih diam tapi lebih dalam—tubuhnya menegang, jari kaki menekuk, napas tertahan, lalu lepas dengan isakan.
2917Please respect copyright.PENANAKeIO8zmzEZ
Raka menarik jari, mencium paha dalam sekali lagi, lalu naik. Ia mencium perut Dinda, payudara, leher, sampai kembali ke mulut. Dinda menciumnya dengan lapar, menjilat cairannya sendiri di bibir dan dagu Raka.
2917Please respect copyright.PENANAGc0b89ntSS
“Sekarang Kakak,” bisik Dinda di antara ciuman. Tangannya turun, membuka kancing celana Raka dengan jari yang masih gemetar. Ia menarik resleting, memasukkan tangan ke dalam celana dalam, memegang kontol yang sudah keras dan basah di ujungnya. “Besar… Kak, ini besar banget…”
2917Please respect copyright.PENANAxv2Ais6cah
Raka mendesah di mulut Dinda ketika jari-jari itu mengocok pelan. Dinda menggeser tubuhnya ke belakang, berbaring di ranjang, menarik Raka di atasnya. Kemeja flanel masih tersangkut di salah satu lengan. Raka melepaskan celana dan celana dalam sepenuhnya, menendang ke lantai. Penisnya yang tegang menempel di perut Dinda, panas, berdenyut.
2917Please respect copyright.PENANA9AJravgthd
Dinda membuka kaki lebih lebar, menggeser pinggul sampai kepala kontol Raka menyentuh lubang yang masih basah dan berdenyut. “Masuk… pelan… aku sudah lama nggak…”
2917Please respect copyright.PENANA0OEMVbNkeC
Raka menahan diri di ambang. Ia menatap mata Dinda. “Kamu yakin?”
2917Please respect copyright.PENANA1DKU7ZuP7s
“Yakin,” bisik Dinda. “Aku sudah yakin dari lama. Masukin, Kak. Aku milik Kakak malam ini.”
2917Please respect copyright.PENANANaHy1WeKyT
Raka mendorong pelan. Kepala masuk lebih dulu, disambut oleh panas dan licin yang menyempit. Dinda menggigit bibir, alis berkerut, napas tertahan. Raka masuk lebih dalam, senti demi senti, merasakan dinding yang meremas, sampai seluruh batangnya tertanam penuh. Ia berhenti di sana, memberi waktu, dahi menempel di dahi Dinda.
2917Please respect copyright.PENANA41jwwrQo4V
“Sakit?” tanyanya serak.
2917Please respect copyright.PENANAqErK0Mx9AY
“Nggak… penuh… enak banget…” Dinda menggerakkan pinggul kecil. “Gerak… tolong gerak…”
2917Please respect copyright.PENANAYNKcwpqrtm
Raka menarik keluar pelan sampai hampir lepas, lalu masuk lagi dengan dorongan yang lebih dalam. Ritme awalnya lambat, dalam, penuh kontrol. Setiap hentakan membuat payudara Dinda bergoyang, membuat desahan keluar dari mulut yang terbuka. Raka mencium leher, menggigit, mengisap, sementara tangan memegang pinggang Dinda, menahan agar tetap menerima setiap dorongan.
2917Please respect copyright.PENANAr9POwp9vaY
“Lebih cepet… Kak… aku mau lebih…”
2917Please respect copyright.PENANAw6uanzOLMO
Raka mematuhi. Ia menaikkan tempo, pinggul bergerak lebih cepat, lebih dalam, bunyi kulit bertemu kulit mulai terdengar basah dan ritmis. Dinda melingkarkan kaki di pinggang Raka, menarik lebih dalam, kuku menancap di punggung Raka. “Iya… di situ… jangan berhenti…”
2917Please respect copyright.PENANAOrFZFJ2Gi8
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI


