Ayu masuk dengan membawa kantung kertas berisi roti bakar dan sebotol susu coklat. Wajahnya lelah, tapi senyumnya masih hangat seperti biasa. Rambutnya yang biasanya rapi sekarang sedikit berantakan, beberapa helai menempel di pelipis karena keringat. Ia meletakkan belanjaan di meja, lalu memeluk Raka singkat—pelukan yang familiar, aman, dan sama sekali tidak membangkitkan apa pun di dada Raka selain rasa bersalah yang semakin berat.
2945Please respect copyright.PENANAGJPkA7cnG4
“Kalian sudah makan?” tanya Ayu sambil melepas sepatu.
2945Please respect copyright.PENANAnWNPO3SPvE
“Baru selesai makan mie,” jawab Raka. Suaranya terdengar normal di telinganya sendiri, padahal tenggorokannya masih kering. “Dinda yang masak.”
2945Please respect copyright.PENANA31ZscdDA9S
Ayu menoleh ke arah adiknya yang sedang membersihkan sisa mi di wastafel. “Makasih ya, Din. Kamu nggak usah repot-repot terlalu banyak. Nanti Kakak yang masak malam.”
2945Please respect copyright.PENANAKkv9LIi3dQ
Dinda berbalik, tersenyum sopan persis seperti yang selalu ia tunjukkan di depan kakaknya. “Nggak repot, Kak. Aku memang suka masak. Lagian Kak Raka kelihatan lapar banget tadi.”
2945Please respect copyright.PENANAgaVW3o7hNg
Kalimat itu biasa saja. Tapi cara Dinda mengucapkannya—dengan sedikit penekanan di kata “lapar”—membuat Raka menunduk ke lantai. Ia merasa seolah setiap kata yang keluar dari mulut Dinda sekarang punya dua makna.
2945Please respect copyright.PENANALlZtkrI0Gc
Sore itu berlalu dengan lambat dan berat. Ayu bercerita tentang presentasi yang molor, tentang bos yang cerewet, tentang rekan kerja yang lupa membawa data. Raka mendengarkan sambil mengangguk di saat yang tepat, sesekali tersenyum, tapi pikirannya terus kembali ke dapur tadi: jari Dinda di dadanya, lutut yang menekan paha, bisikan “kalau Kakak diam, aku anggap itu jawaban.”
2945Please respect copyright.PENANA4ipjWuugOV
Dinda duduk di sofa sebelah Ayu, kaki dilipat ke samping. Gaun krem tipis itu naik sedikit ke paha ketika ia bergerak. Raka berusaha tidak menatap, tapi matanya seperti punya kehendak sendiri. Ia melihat garis paha yang mulus, lutut yang membulat lembut, dan betis yang ramping turun ke pergelangan kaki yang kecil. Ketika Dinda mengangkat tangan untuk merapikan rambut, gaun itu tertarik di dada, memperlihatkan lekukan payudara yang jelas di balik kain tipis. Putingnya sedikit menonjol—mungkin karena AC, mungkin karena sesuatu yang lain.
2945Please respect copyright.PENANAV7Zao5tGkP
Raka memalingkan wajah ke jendela. Di luar, langit mulai berubah oranye. Hujan semalam sudah reda total, meninggalkan tanah yang masih basah dan bau rumput yang segar.
2945Please respect copyright.PENANAa8NfqFJMq5
Malam tiba lebih cepat dari yang ia harapkan. Ayu memasak sayur asem dan tempe goreng. Mereka makan bertiga di meja yang sama. Percakapan mengalir normal: tentang cuaca, tentang tetangga yang baru beli mobil, tentang rencana Ayu liburan ke Yogyakarta bulan depan. Dinda sesekali menimpali dengan suara lembut, tertawa di saat yang tepat, memanggil “Kak” dengan nada yang sama sopannya seperti biasa.
2945Please respect copyright.PENANAdzEhixVhGN
Tapi di bawah meja, kaki Dinda bergerak.
2945Please respect copyright.PENANAu2elwSzMYx
Bukan langsung menekan. Hanya sesekali menyentuh ujung kaki Raka, lalu menggeser pelan ke samping, seolah tidak sengaja. Setiap sentuhan itu seperti arus listrik kecil yang menjalar naik ke paha Raka. Ia mencoba mengabaikan. Ia mencoba fokus pada sup yang hangat di sendoknya. Tapi ketika kaki Dinda diam sejenak tepat di samping kakinya—hangat, diam, menunggu—Raka merasa napasnya menjadi lebih pendek.
2945Please respect copyright.PENANAzzeVViVv5N
Ayu tidak menyadari apa-apa. Ia terlalu lelah. Setelah makan, ia langsung bilang ingin mandi dan tidur lebih awal. “Aku capek banget, Mas. Besok masih harus masuk pagi. Kalian nonton TV aja, atau istirahat.”
2945Please respect copyright.PENANAYlr81TB7dY
Raka mengangguk. “Iya. Tidur aja.”
2945Please respect copyright.PENANA5l3LQUTDf9
Ayu mencium kening Raka, lalu memeluk Dinda sebentar. “Jangan begadang, Din. Skripsimu bisa dikerjain besok.”
2945Please respect copyright.PENANASaYeyNwTxz
“Iya, Kak,” jawab Dinda manis.
2945Please respect copyright.PENANAnQfOJYzoNn
Ketika pintu kamar utama di lantai bawah tertutup, rumah tiba-tiba terasa lebih besar dan lebih sunyi. Raka masih duduk di meja makan, menatap piring kosong. Dinda berdiri, mengumpulkan piring-piring, membawa ke wastafel. Bunyi air mengalir memenuhi keheningan.
2945Please respect copyright.PENANAaH2AQxWD2I
Raka seharusnya berdiri dan pergi ke kamarnya. Ia seharusnya mengunci diri, membuka laptop, bekerja sampai larut, sampai rasa bersalah mengalahkan rasa lapar di selangkangan. Tapi ia tidak bergerak.
2945Please respect copyright.PENANAcH9MQsCIZr
Beberapa menit kemudian Dinda kembali. Ia tidak duduk di kursi seberang. Ia duduk di kursi di samping Raka—kursi yang biasanya ditempati Ayu. Jarak mereka sekarang sangat dekat. Bau sabun melati masih menempel di kulitnya, bercampur dengan sedikit aroma minyak goreng dari masakan tadi.
2945Please respect copyright.PENANAAzuja43peN
“Kak,” suara Dinda pelan sekali, hampir berbisik, “Kakak Ayu sudah tidur?”
2945Please respect copyright.PENANAufl8rt1hqD
“Mungkin. Dia bilang capek.”
2945Please respect copyright.PENANAjLLudFFJ7E
Dinda mengangguk. Ia menaruh siku di meja, menopang dagu dengan telapak tangan, menatap Raka dari samping. Dari sudut ini, Raka bisa melihat garis rahangnya yang lembut, telinga kecil dengan anting sederhana, dan leher yang putih bersih. Gaun krem itu longgar di bahu, sedikit melorot di satu sisi, memperlihatkan tulang selangka dan sepetak kulit dada atas.
2945Please respect copyright.PENANASJ6L7DlwLp
“Kakak diam terus dari tadi,” kata Dinda. “Aku takut Kakak marah.”
2945Please respect copyright.PENANAjzGqKgjecJ
Raka menghela napas. “Aku nggak marah.”
2945Please respect copyright.PENANAyis50lGhDR
“Tapi Kakak juga nggak bilang apa-apa.” Dinda memiringkan kepala. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. “Aku sudah bilang siang tadi. Kalau Kakak mau aku berhenti, bilang saja. Aku bisa pura-pura semuanya nggak pernah terjadi. Aku bisa jadi adik ipar yang sopan lagi. Yang cuma masak, cuci piring.”
2945Please respect copyright.PENANAd4P96ahviO
Raka menatap meja. Jari-jarinya menggenggam tepi kayu sampai buku-bukunya memutih. “Kamu tahu ini salah, Din.”
2945Please respect copyright.PENANAwT8fNFDalp
“Aku tahu.” Jawaban itu datang tanpa ragu. “Aku tahu lebih dari Kakak. Dia kakak kandungku. Aku tidur di rumahnya, makan dari rezekinya, dan sekarang aku… menginginkan suaminya.” Dinda tertawa kecil, pahit. “Kalau ditulis di kertas, ini jelek sekali. Tapi di dalam sini—” ia menaruh tangan di dadanya, tepat di atas payudara kiri, “—nggak terasa jelek. Terasa… lapar.”
2945Please respect copyright.PENANACsCxvwVJ6G
Kata “lapar” itu lagi. Raka merasakan sesuatu bergerak di perutnya.
2945Please respect copyright.PENANA0aaFWi8H9I
Dinda menggeser kursi sedikit lebih dekat. Lututnya sekarang menyentuh lutut Raka dengan tegas. “Kakak juga lapar, kan? Semalam. Tadi siang. Aku dengar. Aku tahu suara orang yang menahan diri. Aku juga sering melakukannya.”
2945Please respect copyright.PENANAwVXJRZYnqy
Raka menutup mata. “Dinda, tolong…”
2945Please respect copyright.PENANAIZ7khJprey
“Tolong apa, Kak?” Suara Dinda semakin pelan, semakin dekat. “Tolong berhenti? Atau tolong… lanjutkan?”
2945Please respect copyright.PENANAeznJooYut9
Raka tidak menjawab. Keheningan itu sendiri sudah menjadi jawaban.
2945Please respect copyright.PENANAvZCHhVQGi2
Dinda mengangkat tangan, menyentuh lengan Raka dengan ujung jari. Usapan pelan dari siku ke pergelangan tangan, mengikuti urat yang menonjol. “Tangan Kakak panas.”
2945Please respect copyright.PENANAiwIesmmu7i
Raka membuka mata. Ia menatap wajah Dinda dari dekat. Mata hitam itu tidak lagi hanya sopan. Ada sesuatu yang lebih gelap di dalamnya, sesuatu yang lapar dan sabar sekaligus. Bibir Dinda sedikit terbuka, mengkilap karena baru saja ia jilat tanpa sadar.
2945Please respect copyright.PENANAcMCpZIDSSp
“Aku nggak akan memaksa,” bisik Dinda. “Aku cuma mau Kakak tahu… aku sudah basah dari pagi tadi. Setiap kali Kakak memandangiku, setiap kali lutut kita saling sentuh, setiap kali Kakak pura-pura tidak mendengar desahanku di kamar… aku semakin basah.”
2945Please respect copyright.PENANADCvU6V774O
Raka merasa darahnya turun keras ke selangkangan. Penisnya mengeras dengan cepat, menekan celana pendek dengan menyakitkan. Ia ingin berdiri dan pergi. Ia ingin bilang berhenti dengan tegas. Tapi yang ia lakukan hanyalah duduk diam, membiarkan jari Dinda terus mengusap lengannya, naik ke bahu, lalu ke leher.
2945Please respect copyright.PENANAWsgqKsj0sg
Jari-jari itu dingin sedikit, tapi sentuhannya membuat kulit Raka merinding. Dinda mengikuti garis rahang Raka pelan, lalu berhenti di dekat telinga.
2945Please respect copyright.PENANAObD2EHZ8iS
“Kakak boleh menyentuhku,” bisiknya. “Kalau mau. Aku nggak akan bilang tidak.”
2945Please respect copyright.PENANA6TJtj7XWVm
Raka menelan ludah. Tangannya yang bebas terangkat sendiri, seolah punya nyawa. Ia menyentuh pipi Dinda. Kulit itu lembut, hangat, sedikit lembap karena keringat tipis. Dinda menutup mata sejenak, menekan pipinya ke telapak tangan Raka seperti kucing yang kelaparan akan belaian.
2945Please respect copyright.PENANAzCgXFuwtw2
“Kak…” desahnya pelan.
2945Please respect copyright.PENANAF0r9rAz689
Raka mengusap ibu jari di tulang pipi Dinda, lalu turun ke bibir bawah yang lebih tebal. Ia merasakan kehangatan napas Dinda di jarinya. Dinda membuka mulut sedikit, membiarkan ujung ibu jari Raka menyentuh bibir dalamnya yang basah.
2945Please respect copyright.PENANAibg8f8PIzh
Itu terlalu jauh.
2945Please respect copyright.PENANAA9GeQqvxLJ
Raka menarik tangan dengan cepat, seolah terkena api. Ia berdiri, kursi bergeser keras di lantai. “Aku… aku mau ke kamar.”
2945Please respect copyright.PENANAW5YPqNDXuY
Dinda tidak menahan. Ia hanya menatap Raka dari bawah, masih duduk, masih dengan gaun yang melorot di satu bahu. Matanya tidak kecewa. Justru ada senyum kecil di sudut bibirnya—senyum orang yang tahu bahwa kemenangan hanya soal waktu.
2945Please respect copyright.PENANA2HzqhN4vBH
“Baik, Kak,” katanya lembut. “Selamat malam.”
2945Please respect copyright.PENANAWW6St5fQi3
Raka naik ke lantai dua dengan langkah yang tidak stabil. Ia masuk ke kamar, menutup pintu, lalu bersandar di kayu yang dingin. Jantungnya berdegup kencang. Penisnya masih tegang, berdenyut menuntut. Ia berjalan ke kamar mandi, membuka celana, dan mengocok dengan gerakan cepat dan marah sambil membayangkan bibir Dinda di ibu jarinya barusan, membayangkan bagaimana bibir itu akan terasa di kontolnya, bagaimana lidah itu akan bergerak…
2945Please respect copyright.PENANAWNVAUu2hRj
Ia klimaks dengan desahan tertahan, menyemburkan ke wastafel. Napasnya memburu. Di cermin, wajahnya terlihat asing—mata gelap, rahang mengeras, seperti orang yang sedang kalah perang melawan dirinya sendiri.
2945Please respect copyright.PENANALtMX1sbBau
Ia membersihkan diri, ganti kaos, lalu berbaring di ranjang. Lampu masih menyala. Ia menatap langit-langit lama sekali.
2945Please respect copyright.PENANAH2LH4GW1OF
Dari kamar sebelah, tidak ada suara. Dinda tidak melakukan apa-apa malam ini. Tidak ada desahan. Tidak ada gesekan kasur. Hanya keheningan yang lebih menyiksa daripada desahan apa pun.
2945Please respect copyright.PENANATA014ybdn9
Raka mematikan lampu. Gelap menyelimuti. Tapi di dalam gelap itu, bayangan Dinda semakin jelas: gaun krem yang melorot, paha yang terbuka sedikit ketika duduk, jari yang mengusap lengannya, bisikan “aku sudah basah dari pagi tadi.”
2945Please respect copyright.PENANAUj0EkzzUIi
Ia membolak-balik di ranjang sampai larut. Tidur datang terlambat, dan ketika datang, ia penuh dengan mimpi yang basah dan bersalah.
2945Please respect copyright.PENANATgYsK9qEKU
Pagi berikutnya, Ayu sudah bangun lebih dulu. Bau kopi dan telur orak-arik memenuhi rumah ketika Raka turun. Ayu tersenyum seperti biasa, mencium pipinya, bilang hari ini ia pulang lebih cepat karena tidak ada rapat.
2945Please respect copyright.PENANAvAxRkoOaTW
Dinda sudah duduk di meja, memakai kemeja flanel milik Raka yang ia “pinjam” tanpa izin—kemeja yang terlalu besar, lengannya digulung sampai siku, dan hanya dikancing dua buah di tengah. Di bawahnya, legging hitam ketat yang menempel di paha dan bokong. Rambutnya dikuncir tinggi, memperlihatkan leher yang panjang dan bersih.
2945Please respect copyright.PENANAcd7ZD2V5xC
“Pagi, Kak,” sapa Dinda cerah. Matanya bertemu dengan mata Raka sebentar, lalu turun ke kemeja yang ia pakai. Senyum kecil muncul. “Aku pinjam kemeja Kakak ya. Baju aku semua masih di jemuran.”
2945Please respect copyright.PENANApIL2dnbRxX
Ayu tertawa. “Wah, cocok juga. Kamu keliatan lebih kecil di dalam baju Mas.”
2945Please respect copyright.PENANAYLqvkoSlTQ
Raka duduk tanpa banyak bicara. Sarapan berlangsung normal di permukaan. Tapi setiap kali Ayu menunduk ke piring, Dinda menatap Raka dengan cara yang membuat perutnya mengencang. Dan ketika Ayu berdiri untuk ambil air, kaki Dinda di bawah meja kembali mencari kaki Raka, menekan pelan, menggeser naik ke betis.
2945Please respect copyright.PENANAaNEvZCDiJJ
Raka menarik kaki. Dinda tersenyum ke piringnya.
2945Please respect copyright.PENANAshDdmdfkhQ
Setelah Ayu pergi ke kantor, rumah kembali menjadi milik mereka berdua.
2945Please respect copyright.PENANANQD9fJ1ClG
Dinda tidak langsung mendekat. Ia mencuci piring dengan tenang, menyetrika baju, lalu duduk di ruang keluarga dengan laptop, pura-pura mengerjakan revisi skripsi. Raka mencoba bekerja di ruang kerjanya. Tapi setiap tiga puluh menit, ia berdiri, berjalan ke dapur dengan alasan minum, dan setiap kali itu Dinda mengangkat wajah, tersenyum sopan, lalu kembali mengetik.
2945Please respect copyright.PENANAIsxZ1iEvfj
Siang hari terasa seperti siksaan yang panjang.
2945Please respect copyright.PENANAHlj2dZF5qf
Menjelang sore, Dinda muncul di ambang pintu ruang kerja Raka dengan dua gelas es teh. “Kak, minum dulu. Panas.”
2945Please respect copyright.PENANAwVz92rZj4r
Raka menerima gelas. Jari mereka bersentuhan lagi. Dinda tidak melepaskan segera. Ia berdiri di samping kursi Raka, begitu dekat sampai paha Dinda menyentuh lengan Raka.
2945Please respect copyright.PENANAMim29q6BZs
“Kakak masih marah?” tanya Dinda pelan.
2945Please respect copyright.PENANA8eiWiQLKrO
“Aku nggak marah.”
2945Please respect copyright.PENANAfUcXfVmEWn
“Kalau nggak marah, kenapa Kakak menghindari aku seharian?”
2945Please respect copyright.PENANAW9os0aeJgl
Raka meletakkan gelas. “Karena ini salah, Din. Sangat salah.”
2945Please respect copyright.PENANAtrmWtjPvp2
Dinda mengangguk pelan. “Aku tahu. Tapi aku juga tahu Kakak nggak bisa berhenti mikirin aku. Sama seperti aku nggak bisa berhenti mikirin Kakak.” Ia meletakkan gelasnya di meja, lalu berlutut di samping kursi Raka—bukan untuk memohon, tapi agar wajah mereka sejajar. “Aku cuma mau jujur. Aku sudah mencoba. Aku sudah coba bayangin laki-laki lain, coba main sendiri sampai capek, coba sibukin diri dengan skripsi. Tapi yang ada di kepala aku cuma tangan Kakak, suara Kakak, bau Kakak.”
2945Please respect copyright.PENANARqc2yjEfPb
Raka menatap mata itu dari dekat. “Dinda…”
2945Please respect copyright.PENANAbTjR8ZW3Ys
“Aku nggak minta Kakak tinggalkan Kakak Ayu,” lanjut Dinda, suaranya masih lembut tapi tegas. “Aku nggak minta jadi istri kedua atau apa pun. Aku cuma… lapar. Dan aku tahu Kakak juga. Jadi kalau suatu malam Kakak nggak kuat lagi… pintu kamarku nggak dikunci.”
2945Please respect copyright.PENANAToR7MBMVNM
Ia berdiri lagi, merapikan kemeja flanel yang terlalu besar itu, lalu berjalan keluar seolah baru saja membicarakan cuaca.
2945Please respect copyright.PENANA0ZOw4RD7rM
Raka duduk membeku di kursi. Kalimat terakhir itu berputar di kepalanya seperti mantra.
2945Please respect copyright.PENANAhRQLNcIBzb
Pintu kamarku nggak dikunci.
2945Please respect copyright.PENANAxhDZuSswEL
Malam itu Ayu pulang tepat waktu, membawa buah dan cerita tentang rekan kerja. Mereka makan malam bertiga lagi. Dinda kembali menjadi adik ipar yang sempurna—sopan, membantu, tertawa di saat yang tepat. Tapi setiap kali Ayu tidak melihat, matanya bertemu dengan mata Raka, dan di sana ada janji yang sama.
2945Please respect copyright.PENANAgrceFPC3rM
Setelah makan, Ayu bilang ingin tidur lebih awal lagi karena besok ada meeting pagi. Raka mengantarnya ke kamar, memeluknya, bilang “selamat tidur” dengan suara yang terasa kosong.
2945Please respect copyright.PENANAxrCwCq4qFw
Ketika pintu kamar utama tertutup, Raka berdiri di ruang keluarga yang sunyi. Lampu masih menyala. Dinda sedang duduk di sofa, kaki dilipat, masih memakai kemeja flanel milik Raka. Ia menatap Raka tanpa bilang apa-apa.
2945Please respect copyright.PENANAsB6H5cxywZ
Raka berjalan ke tangga. Ia naik pelan-pelan. Di koridor lantai dua, ia berhenti di depan pintu kamar Dinda. Pintu itu memang tidak dikunci—sedikit terbuka, memperlihatkan celah gelap di dalam.
2945Please respect copyright.PENANAmgAOk984Za
Ia berdiri di sana lama sekali. Jantungnya berdegup begitu keras sampai terasa sakit. Ia mengangkat tangan, hampir mendorong pintu, lalu menurunkan lagi.
2945Please respect copyright.PENANAI6uDfKY7LD
Ia masuk ke kamarnya sendiri, menutup pintu, dan bersandar di kayu.
2945Please respect copyright.PENANATjcClLvm0B
Dari seberang dinding, suara Dinda terdengar pelan, jelas, dan sengaja:
2945Please respect copyright.PENANAsTvtmNeOmr
“Selamat malam, Kak. Pintunya tetap terbuka… kalau Kakak berubah pikiran.”2945Please respect copyright.PENANAOSGZpLbNa4


