Pagi itu cahaya matahari menembus gorden tipis di kamar Raka dengan cara yang terasa seperti penghakiman. Ia terbangun dengan kepala berat, mulut kering, dan rasa bersalah yang menempel di kulit seperti keringat dingin yang tak mau hilang. Selimut masih bergulung di pinggang. Celana dalam yang semalam basah sudah diganti, tapi bekas basah di seprai masih terasa ketika jari-jarinya menyentuh kain.
3422Please respect copyright.PENANADwVrcMvJdV
Ia duduk di tepi ranjang lama sekali, menatap lantai kayu yang retak di beberapa tempat. Suara dari luar sudah mulai hidup: kicau burung di pohon mangga belakang rumah, deru motor tetangga yang lewat, dan… bunyi piring dari dapur bawah.
3422Please respect copyright.PENANAWzjHH7sOow
Dinda sudah bangun.
3422Please respect copyright.PENANA2DOY13e3K8
Raka menghela napas panjang. Ia berdiri, berjalan ke kamar mandi, membuka kran air sedingin mungkin, lalu membasuh wajah berkali-kali sampai pipinya memerah. Di cermin, matanya terlihat lebih gelap dari biasanya. Ia menyikat gigi dengan gerakan mekanis, menyisir rambut seadanya, lalu memakai kaos oblong abu-abu dan celana pendek hitam yang biasa ia pakai di rumah.
3422Please respect copyright.PENANAVHp2n1lLSp
Ketika membuka pintu kamar, koridor masih sunyi. Pintu kamar Dinda sudah terbuka sedikit. Dari dalam terlihat ranjang yang sudah dirapikan, selimut dilipat rapi di ujung, dan jendela yang dibuka lebar. Aroma sabun melati masih tersisa di udara.
3422Please respect copyright.PENANA7ZplBq8F7T
Raka menuruni tangga pelan-pelan. Setiap anak tangga terasa seperti keputusan. Di lantai bawah, aroma kopi dan telur dadar sudah memenuhi rumah. Dinda berdiri di depan kompor, punggung menghadapnya. Hari ini ia memakai kemeja putih oversized milik Ayu yang terlalu longgar di bahunya, dan celana pendek denim yang hanya menutupi separuh paha. Rambutnya masih basah, dikeringkan dengan handuk kecil yang digantung di bahu.
3422Please respect copyright.PENANAanQ1EQSSzg
“Pagi, Kak,” suara Dinda terdengar tanpa menoleh. Suaranya lembut, sopan, sama seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda di nada itu—seperti ada senyum yang disembunyikan.
3422Please respect copyright.PENANAz9wwDNw7Et
“Pagi,” jawab Raka. Suaranya serak. Ia berjalan ke meja makan dan duduk. “Ayu sudah telepon?”
3422Please respect copyright.PENANAOFNVqxpEMt
“Baru tadi. Katanya presentasinya molor sampai siang. Mungkin pulang sore.” Dinda mematikan kompor, lalu membawa piring berisi telur dadar dan nasi goreng sederhana ke meja. “Aku masak sedikit. Makan, Kak.”
3422Please respect copyright.PENANAhwWl90nQnn
Raka mengangguk. Ia mengambil sendok, tapi tidak langsung makan. Matanya mengikuti gerakan Dinda yang kembali ke dapur untuk mengambil cangkir kopi. Ketika Dinda meraih gula di rak atas, kemeja oversized itu terangkat tinggi. Raka melihat garis pinggang yang ramping, kulit putih bersih yang menegang sedikit ketika Dinda berjinjit, dan tepi celana dalam hitam yang muncul di atas pinggang celana pendek.
3422Please respect copyright.PENANAQ0PrF5Lqfx
Ia memalingkan wajah cepat, tapi sudah terlambat. Bayangan itu sudah menempel di otaknya.
3422Please respect copyright.PENANAlVtVZEWgNM
Dinda kembali dengan dua cangkir. Ia duduk di kursi yang sama seperti semalam—tepat di seberang Raka. Jarak meja yang sempit membuat lutut mereka hampir bersentuhan di bawah. Dinda tersenyum tipis sambil mendorong cangkir ke arah Raka.
3422Please respect copyright.PENANAyZisbYpTPj
“Susu sedikit, tanpa gula. Kayak kemarin.”
3422Please respect copyright.PENANAT35Es1w2vr
Raka menerima cangkir itu. Jari-jari mereka sempat bersentuhan sesaat. Hangat. Licin sedikit karena uap. Dinda tidak menarik tangan terlalu cepat. Ia membiarkan sentuhan itu bertahan satu detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu baru melepaskan.
3422Please respect copyright.PENANARjzqWgdJlv
Mereka makan dalam keheningan yang tebal. Bunyi sendok di piring terdengar terlalu keras. Raka mencoba fokus pada nasi, tapi setiap kali mengangkat wajah, ia menemukan Dinda sedang menatapnya. Bukan tatapan lama. Hanya sekejap. Lalu Dinda menunduk lagi, pura-pura sibuk memotong telur.
3422Please respect copyright.PENANAOi52pknZTN
“Kak,” Dinda membuka suara pelan setelah beberapa menit, “semalam… aku dengar hujan deras banget.”
3422Please respect copyright.PENANAiOG0gIm88M
Raka menelan makanan di mulutnya dengan susah payah. “Iya. Deras.”
3422Please respect copyright.PENANAQQRZRyqHZQ
“Aku nggak bisa tidur cepat. Kepikiran skripsi terus.” Dinda mengangkat bahu. Gerakan itu membuat kemeja longgar bergeser, memperlihatkan tulang selangka yang menonjol halus dan lekukan dada yang tertutup kain tipis. “Kakak juga susah tidur, ya? Aku dengar… ada suara dari kamar Kakak.”
3422Please respect copyright.PENANAqCUIGbkMCv
Raka hampir tersedak. Ia meletakkan sendok, mengambil cangkir kopi, minum terlalu cepat sampai panasnya menggores tenggorokan. “Mungkin… aku ngorok.”
3422Please respect copyright.PENANAsRD1GDOqNn
Dinda tertawa kecil. Suara tawa itu rendah, sedikit serak, sama seperti semalam. “Bukan ngorok, Kak. Lebih kayak… orang yang menahan sesuatu.”
3422Please respect copyright.PENANAEr53WpU383
Udara di antara mereka berubah. Raka merasakan darah naik ke wajah. Ia menatap Dinda, dan untuk pertama kalinya pagi ini Dinda tidak mengalihkan pandangan. Matanya hitam pekat, tenang, tapi di dalamnya ada api kecil yang menyala.
3422Please respect copyright.PENANAkQGb9HYlh1
“Dinda,” suara Raka rendah, hampir memperingatkan.
3422Please respect copyright.PENANAjw1lNUMNDr
“Iya, Kak?” Dinda memiringkan kepala. Senyumnya masih sopan, tapi ada sesuatu yang nakal di sudut bibirnya. “Aku cuma bilang apa yang kudengar. Kalau salah, maaf.”
3422Please respect copyright.PENANAkkPpzU0p9s
Raka tidak menjawab. Ia kembali makan, tapi rasanya sudah hambar. Di bawah meja, lutut Dinda bergerak sedikit. Bukan sengaja menyentuh. Hanya bergeser mendekat sampai kain celana pendeknya menyentuh lutut Raka. Hangat. Lembut. Raka bisa merasakan kulit paha Dinda melalui dua lapis kain.
3422Please respect copyright.PENANA4XCNiT5xs2
Ia tidak menarik kaki. Dinda juga tidak.
3422Please respect copyright.PENANAB1jKmJz5ED
Mereka menyelesaikan sarapan dalam diam yang semakin berat. Setelahnya Dinda berdiri untuk mencuci piring. Raka ikut ke dapur dengan alasan mau ambil air putih lagi. Di ruang sempit itu, mereka berdiri berdekatan. Dinda mencuci, Raka berdiri di samping, memegang gelas kosong yang tidak ia isi-isi.
3422Please respect copyright.PENANAtOtLrojKv0
“Kak,” Dinda berkata pelan tanpa menoleh, “tangan Kakak besar ya.”
3422Please respect copyright.PENANAueiKQD5wB4
Raka menoleh. “Kenapa tiba-tiba?”
3422Please respect copyright.PENANAdcJVTWgGjj
“Kemarin pas Kakak ambil gelas di belakangku, aku lihat. Urat-uratnya kelihatan. Kayak orang yang sering kerja kasar.” Dinda mematikan kran, mengeringkan tangan dengan lap, lalu berbalik menghadap Raka. Jarak mereka hanya sehasta. “Padahal Kakak kerja di kantor.”
3422Please respect copyright.PENANAPwZPhVxVbR
Raka terdiam. Bau sabun melati dari rambut Dinda memenuhi hidungnya. Dari dekat, ia bisa melihat detail yang kemarin sempat ia lewatkan: bulu mata yang panjang dan sedikit melengkung, bibir bawah yang lebih tebal dari bibir atas, sedikit retak di sudut karena sering digigit, dan leher yang ramping dengan denyut nadi yang terlihat jelas.
3422Please respect copyright.PENANAVXrn4YPQzA
“Aku dulu sering bantu bapak di bengkel pas masih SMA,” jawab Raka akhirnya. Suaranya lebih rendah dari yang ia maksudkan.
3422Please respect copyright.PENANAIs9axgSZdp
Dinda mengangguk pelan. Matanya turun ke tangan Raka yang masih memegang gelas, lalu naik lagi ke wajah. “Tangan yang besar biasanya… lembut juga, ya?”
3422Please respect copyright.PENANAftEzaPo2zl
Kalimat itu menggantung di udara. Raka merasa sesuatu di perutnya mengencang. Ia membuka mulut untuk menjawab, tapi suara ponsel di meja makan berbunyi. Ayu menelepon.
3422Please respect copyright.PENANAeocDmSiYNs
Raka segera pergi ke meja, mengangkat telepon. Suara Ayu terdengar lelah di seberang. “Mas, presentasinya baru selesai. Aku masih harus rapat kecil. Mungkin pulang jam empat atau lima. Kamu sama Dinda jangan lupa makan siang, ya.”
3422Please respect copyright.PENANAaZnoNr0gpP
“Iya,” jawab Raka singkat.
3422Please respect copyright.PENANAL9cE0SzafH
“Dinda baik-baik aja kan?”
3422Please respect copyright.PENANAwP9wbMiBbM
Raka melirik ke dapur. Dinda sedang mengelap meja dengan gerakan lambat, punggung menghadapnya, bokong yang bulat sedikit terangkat karena posisi membungkuk. “Baik. Dia lagi beres-beres.”
3422Please respect copyright.PENANAjr04mMNK3z
“Oke. Aku sayang kamu.”
3422Please respect copyright.PENANAp41vg6SOqX
“Aku juga.” Raka mematikan telepon. Kalimat “aku juga” terasa hampa di lidahnya.
3422Please respect copyright.PENANAOLVLQ8PUT8
Ketika ia berbalik, Dinda sudah berdiri di ambang dapur, menyandar di kusen dengan tangan tersilang di dada. Posisi itu membuat payudara yang tertutup kemeja oversized sedikit terdorong ke atas. Putingnya menonjol jelas di balik kain tipis karena AC yang terlalu dingin.
3422Please respect copyright.PENANA3ouHf1H5eg
“Kakak Ayu pulang sore?” tanya Dinda.
3422Please respect copyright.PENANAP99rZE05xQ
“Iya.”
3422Please respect copyright.PENANAfPWvY65wQZ
Dinda mengangguk. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Raka. “Kalau gitu… aku mau jemur baju di belakang. Kakak mau bantu?”
3422Please respect copyright.PENANAIdW0VJJsei
Raka seharusnya bilang tidak. Ia seharusnya bilang ia ada kerjaan di laptop. Tapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Boleh.”
3422Please respect copyright.PENANA4Yz5KIfEGX
Mereka keluar ke belakang rumah. Halaman kecil dengan jemuran bambu dan beberapa pot tanaman yang mulai layu karena hujan kemarin. Dinda membawa keranjang baju basah. Ia mulai menggantung satu per satu. Raka berdiri di samping, membantu menjepit.
3422Please respect copyright.PENANAk4oGqteKGA
Setiap kali Dinda merentangkan tangan untuk menggantung baju di tali yang lebih tinggi, kemeja oversized-nya terangkat lagi. Raka melihat pinggang yang ramping, lekuk yang dalam di samping tubuh, dan kulit putih yang menegang. Ketika Dinda membungkuk mengambil baju dari keranjang, celana pendek denimnya naik, memperlihatkan paha belakang yang kenyal dan sepetak bokong bawah yang hampir keluar.
3422Please respect copyright.PENANAc4hOFozsgI
Raka merasa mulutnya kering. Ia memalingkan wajah ke tanaman, pura-pura memeriksa daun yang menguning.
3422Please respect copyright.PENANA5yH12wqipW
“Kak,” suara Dinda tiba-tiba sangat dekat. Raka menoleh. Dinda berdiri di sampingnya, memegang kemeja milik Raka yang basah. “Ini baju Kakak. Aku cuci semalam bareng baju aku.”
3422Please respect copyright.PENANAC3AVO3W5n8
Raka menerima kemeja itu. Jari mereka bersentuhan lagi. Kali ini Dinda tidak melepaskan segera. Ia membiarkan ujung jarinya mengusap punggung tangan Raka pelan, sekali, dua kali, seperti tidak sengaja.
3422Please respect copyright.PENANAT3bitUBUvB
“Terima kasih,” gumam Raka.
3422Please respect copyright.PENANAD8dxa1AM5c
Dinda tersenyum. Senyum yang sama—sopan di permukaan, tapi di matanya ada sesuatu yang lain. “Sama-sama, Kak. Aku suka bau sabun Kakak di baju ini. Wanginya… tegas.”
3422Please respect copyright.PENANAfliSVawROv
Kalimat itu membuat Raka menelan ludah. Ia menggantung kemeja dengan gerakan kaku, lalu bilang ia mau masuk dulu karena ada email kerja. Dinda hanya mengangguk, terus menjemur tanpa menahan.
3422Please respect copyright.PENANAd6p7cWcKU4
Di dalam rumah, Raka duduk di depan laptop di ruang kerja kecil di pojok ruang keluarga. Ia membuka email, tapi tidak membaca. Matanya terus melirik ke arah pintu belakang. Beberapa menit kemudian Dinda masuk, membawa keranjang kosong. Ia berjalan melewati Raka, berhenti sejenak di belakang kursi, lalu berkata pelan,
3422Please respect copyright.PENANA74D1RxvzRL
“Kak, aku mau mandi. Air panasnya masih ada?”
3422Please respect copyright.PENANAZS2y77T9Py
“Ada.”
3422Please respect copyright.PENANAqFcjZdnGoi
“Makasih.” Dinda tidak segera pergi. Ia berdiri di belakang Raka cukup lama sampai Raka bisa merasakan hangat tubuhnya. Lalu ia berjalan ke tangga.
3422Please respect copyright.PENANAOpfUz82ouJ
Raka mendengar langkah kaki di lantai atas, bunyi pintu kamar mandi ditutup, lalu suara air mengalir. Ia mencoba fokus ke layar, tapi imajinasinya sudah liar. Ia membayangkan Dinda di bawah guyuran air, kemeja dibuka, celana pendek diturunkan, tubuh putih yang basah, payudara yang mengencang karena air dingin, puting yang mengeras, tangan yang mengusap sabun di dada, di perut, di antara paha…
3422Please respect copyright.PENANA6MW9R3hqhR
Raka menggeser kursi mundur. Penisnya sudah setengah tegang di dalam celana pendek. Ia mengutuk pelan, berdiri, berjalan ke dapur untuk minum air dingin sebanyak mungkin.
3422Please respect copyright.PENANAVr2jk1jbQe
Suara air di atas berhenti setelah dua puluh menit. Raka mendengar langkah kaki lagi, lalu bunyi pintu kamar Dinda ditutup. Ia menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada suara.
3422Please respect copyright.PENANAFnLWXzoIpU
Akhirnya ia menaiki tangga. Koridor sepi. Pintu kamar Dinda tertutup. Raka berjalan ke kamarnya sendiri, tapi ketika melewati pintu Dinda, ia berhenti. Dari celah bawah pintu, ia melihat cahaya. Dan… suara samar.
3422Please respect copyright.PENANAAvAacYqHP7
Desahan.
3422Please respect copyright.PENANAwRKixcYp8o
Raka berdiri membeku. Desahan itu pelan, tertahan, sama seperti semalam. Tapi kali ini lebih jelas karena siang hari dan rumah kosong. Ia mendengar gesekan kain, napas yang memburu, dan suara basah yang samar.
3422Please respect copyright.PENANAWRm0saQljm
Ia tahu apa yang sedang dilakukan Dinda di dalam.
3422Please respect copyright.PENANApzMWjuKGjG
Jantungnya berdegup begitu kencang sampai terasa di telinga. Ia mengangkat tangan, hampir mengetuk, lalu menurunkan lagi. Ia berdiri di sana, di koridor yang terang oleh cahaya siang, mendengar adik iparnya memuaskan diri sambil mungkin membayangkan dirinya.
3422Please respect copyright.PENANAVhUMhBbWpm
Desahan Dinda semakin cepat. Raka mendengar namanya dipanggil pelan sekali—“Kak…”—lalu desahan panjang yang pecah, diikuti napas terengah-engah yang pelan-pelan mereda.
3422Please respect copyright.PENANAg23OtwQVsR
Raka mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Ia masuk ke kamarnya, menutup pintu, lalu bersandar di kayu. Penisnya sudah tegang sempurna, menekan celana pendek dengan menyakitkan. Ia membuka resleting, mengeluarkan kontol yang sudah berdenyut, lalu mengocok dengan gerakan cepat dan kasar sambil membayangkan Dinda di balik pintu tadi: kaki terbuka, jari basah di dalam vagina yang licin, wajah memerah, bibir terbuka, mata terpejam membayangkan dirinya.
3422Please respect copyright.PENANAygCaXgWCJo
Ia klimaks dalam waktu singkat, menyemburkan sperma ke telapak tangan dan lantai. Napasnya memburu. Rasa bersalah datang segera setelahnya, tapi di bawah rasa bersalah itu ada rasa lapar yang lebih besar.
3422Please respect copyright.PENANA6ViJAi42BA
Di kamar sebelah, Dinda berbaring di ranjang dengan handuk masih melilit tubuh. Jari-jarinya basah. Ia tersenyum kecil ke langit-langit. Ia tahu Raka berdiri di luar barusan. Ia mendengar langkah kaki yang berhenti, lalu pergi.
3422Please respect copyright.PENANATc25DBHDHx
Besok, atau mungkin sore ini ketika Ayu belum pulang, ia akan membuat retakan itu lebih dalam.
3422Please respect copyright.PENANAht7M5mF7Dp
Raka membersihkan dirinya, mengganti celana, lalu turun ke bawah lagi. Ia mencoba bekerja. Benar-benar mencoba. Tapi setiap beberapa menit, ia mendengar suara dari lantai atas: langkah kaki, bunyi lemari dibuka, lalu keheningan lagi.
3422Please respect copyright.PENANAL8tLobR2Bi
Jam menunjukkan hampir pukul satu siang ketika Dinda turun. Kali ini ia memakai gaun rumah tipis berwarna krem yang biasa dipakai Ayu ketika di rumah. Gaun itu longgar, tapi karena Dinda lebih kurus dan lebih muda, kainnya jatuh dengan cara yang berbeda—menempel di dada, menyempit di pinggang, lalu melebar di pinggul. Rambutnya sudah kering, tergerai di bahu.
3422Please respect copyright.PENANAIBkn46Atlf
“Kak, sudah makan siang?” tanyanya sambil berjalan ke dapur.
3422Please respect copyright.PENANAVJ9qAtnQPC
“Belum.”
3422Please respect copyright.PENANAtnfY8PllVc
“Aku masak mi rebus aja, ya. Simpel.”
3422Please respect copyright.PENANAjGRQkijIRw
Raka mengangguk. Ia menutup laptop, mengikuti Dinda ke dapur tanpa alasan jelas. Di sana, Dinda mengisi panci dengan air, menyalakan kompor, lalu meraih bumbu di rak. Setiap gerakan membuat gaun tipis itu bergeser di tubuhnya. Ketika ia membungkuk mengambil wajan di lemari bawah, Raka melihat garis punggung yang ramping sampai ke lekuk bokong.
3422Please respect copyright.PENANAvgRlmLJaVI
“Kak, boleh minta tolong ambil kecap di lemari atas? Aku nggak yangkau.”
3422Please respect copyright.PENANAL4qfiqQgCM
Raka mendekat. Lemari atas berada tepat di atas kepala Dinda. Ia berdiri di belakang Dinda, meraih kecap. Dadanya hampir menempel ke punggung Dinda. Bau sabun melati memenuhi hidungnya lagi. Ia merasakan hangat tubuh Dinda melalui dua lapis kain.
3422Please respect copyright.PENANA87hJCnrE09
“Ini,” kata Raka, menurunkan botol kecap.
3422Please respect copyright.PENANAhuRX4udSh0
Dinda berbalik. Jarak mereka sekarang hanya beberapa sentimeter. Wajah Dinda tepat di depan dada Raka. Ia mengangkat wajah, menatap Raka dari bawah.
3422Please respect copyright.PENANAxAcOZLDqAu
“Makasih, Kak.” Suaranya pelan sekali. Napasnya mengenai kulit leher Raka.
3422Please respect copyright.PENANAub0uFxe0bg
Raka tidak mundur. Dinda juga tidak. Mereka berdiri seperti itu selama beberapa detik yang terasa seperti menit. Raka bisa melihat pori-pori halus di hidung Dinda, sedikit keringat di pelipis, dan bibir yang sedikit terbuka.
3422Please respect copyright.PENANA1iujKMw5pu
Lalu Dinda mengangkat tangan, menyentuh dada Raka dengan ujung jari. Hanya sebentar. Seperti membersihkan debu yang tidak ada.
3422Please respect copyright.PENANAP776ZfDGYd
“Kaos Kakak berantakan,” bisiknya. “Aku rapikan.”
3422Please respect copyright.PENANAJOUng3P8vr
Jari-jari itu merapikan kerah kaos Raka dengan gerakan lambat. Setiap usapan terasa seperti api. Raka merasakan penisnya kembali mengeras di dalam celana. Ia yakin Dinda merasakannya juga, karena jarak mereka terlalu dekat.
3422Please respect copyright.PENANAiB4kd5XcGW
Dinda menurunkan tangan, tapi tidak mundur. Matanya masih menatap Raka. “Kak… semalam, dan tadi siang… Kakak dengar, kan?”
3422Please respect copyright.PENANAPC3ysJ2PmH
Raka menelan ludah. “Dinda—”
3422Please respect copyright.PENANA5XWc0ZhFrZ
“Aku nggak malu,” potong Dinda pelan. Suaranya tetap lembut, tetap sopan, tapi isinya sudah tidak sopan sama sekali. “Aku cuma… kepikiran Kakak terus. Bau Kakak, suara Kakak, tangan Kakak. Aku coba berhenti, tapi nggak bisa.”
3422Please respect copyright.PENANAJEvsUpOgzA
Raka merasa dunia berputar pelan. Ia membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
3422Please respect copyright.PENANA8Bp6wUXUsH
Dinda tersenyum kecil, senyum yang sama seperti pagi tadi—sopan di luar, liar di dalam. “Aku tahu ini salah. Kakak punya istri. Istriku adalah kakak kandungku. Tapi aku nggak bisa bohong ke diri sendiri lagi.”
3422Please respect copyright.PENANAPGNp7rtw0W
Ia mengangkat tangan lagi, kali ini menyentuh rahang Raka dengan jari telunjuk. Usapan pelan dari dagu ke telinga. “Kalau Kakak bilang berhenti, aku berhenti. Aku akan pura-pura nggak pernah bilang apa-apa. Tapi kalau Kakak diam… aku anggap itu jawaban.”
3422Please respect copyright.PENANAzbiTG6YZYy
Raka tidak bilang apa-apa. Ia tidak bisa. Darahnya terlalu keras mengalir di telinga, di selangkangan, di seluruh tubuh.
3422Please respect copyright.PENANAIBXLUiaDT4
Dinda menunggu beberapa detik. Lalu ia tersenyum lebih lebar, menurunkan tangan, dan berbalik ke kompor seolah tidak terjadi apa-apa.
3422Please respect copyright.PENANAW1fwseAoPS
“Mi-nya sebentar lagi matang, Kak. Duduk aja. Aku antar ke meja.”
3422Please respect copyright.PENANA4SariEnAl8
Raka berdiri membeku di tengah dapur. Ia mendengar suara air mendidih, bunyi garpu mengaduk, aroma bumbu yang naik. Tubuhnya masih tegang. Penisnya masih keras. Dan di dadanya, sesuatu yang sudah retak semalam sekarang retak lebih dalam.
3422Please respect copyright.PENANA9HBNfwdsKU
Ia berjalan ke meja makan seperti orang mabuk, duduk, dan menunggu.
3422Please respect copyright.PENANA9m5fSNdpqs
Beberapa menit kemudian Dinda datang membawa dua mangkuk mi. Ia duduk di seberang lagi. Kali ini lututnya sengaja menyentuh lutut Raka di bawah meja. Bukan sekadar menyentuh—menekan pelan, menggeser naik sedikit ke paha.
3422Please respect copyright.PENANAIrrCbGaojI
Raka menatap mangkuk. Ia tidak berani menatap wajah Dinda.
3422Please respect copyright.PENANAI31fKR9sFQ
“Makan, Kak,” kata Dinda lembut. “Nanti dingin.”
3422Please respect copyright.PENANAUVvoYSg7ZC
Raka mengambil sumpit. Tangannya gemetar sedikit. Di bawah meja, lutut Dinda semakin naik, sekarang menyentuh paha dalam Raka. Hangat. Tegas. Sengaja.
3422Please respect copyright.PENANANzvV9O12ML
Raka mengangkat wajah. Dinda sedang makan dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi matanya menatap Raka di atas bibir mangkuk, dan di mata itu ada janji yang jelas:
3422Please respect copyright.PENANAuCPohVavxn
Mi di mangkuknya sudah hampir habis ketika suara motor terdengar di depan rumah. Ayu pulang lebih cepat dari yang dijanjikan.
3422Please respect copyright.PENANAyrDBIKyEYE
Dinda menarik lututnya pelan. Senyumnya kembali menjadi senyum adik ipar yang sopan dalam sekejap.
3422Please respect copyright.PENANA1bvOe5bu69
“Kakak Ayu pulang,” bisiknya. “Kita lanjut nanti, ya, Kak.”
3422Please respect copyright.PENANA6f7UE5w2Vr
Raka menelan ludah. Kata “nanti” itu menggantung di udara seperti ancaman dan janji sekaligus.
3422Please respect copyright.PENANAIKnpUT9K3x
Pintu depan dibuka. Suara Ayu terdengar, “Mas, Dinda, aku bawa roti bakar!”
3422Please respect copyright.PENANAlT0klRm1v1
Raka berdiri, mencoba merapikan celana yang masih menonjol, dan berjalan menyambut istri dengan senyum yang terpaksa.
3422Please respect copyright.PENANAfFujEhN8bQ
Di belakangnya, Dinda membersihkan meja dengan gerakan tenang, tapi ketika Raka melirik ke belakang, Dinda mengedipkan sebelah mata pelan—cepat, hampir tidak kelihatan—lalu kembali menjadi adik ipar yang baik.3422Please respect copyright.PENANA7JSETijh8t


