Hujan baru saja reda di atas atap genteng rumah di pinggiran Depok itu. Bau tanah basah masih menempel di udara, bercampur dengan aroma kopi tubruk yang baru saja diseduh dari dapur. Raka Pratama berdiri di ambang pintu belakang, memandang halaman yang basah mengilap di bawah cahaya sore yang pudar. Tangannya memegang cangkir keramik biru yang sudah retak di bibirnya—cangkir favorit istri. Ia tidak langsung minum. Ia hanya menatap uap yang naik pelan-pelan, seolah di dalamnya tersimpan sesuatu yang belum siap ia hadapi.
4158Please respect copyright.PENANAF6xBPWum7Y
Di dalam rumah, suara televisi berbisik rendah. Ayu, istrinya, sedang duduk di sofa ruang tengah dengan laptop di pangkuan. Rambutnya yang biasa dikepang rapi sekarang tergerai sedikit berantakan. Ia sedang mengoreksi laporan kantor. Sesekali ia menghela napas panjang, menekan pelipis, lalu kembali mengetik.
4158Please respect copyright.PENANAfvOQfgLd7k
Raka sudah menikah dengan Ayu selama empat tahun. Empat tahun yang terasa stabil, hangat, dan… aman. Ayu adalah perempuan yang selalu datang tepat waktu, selalu mengingatkan untuk makan, selalu menaruh handuk bersih di kamar mandi sebelum ia mandi. Ia mencintai Ayu. Benar-benar mencintai. Tapi akhir-akhir ini ada sesuatu yang menggeliat di dalam dadanya, sesuatu yang tidak ia beri nama.
4158Please respect copyright.PENANAK1SimwDCw4
Dan sesuatu itu datang bersama kedatangan adik iparnya.
4158Please respect copyright.PENANAByFCjnRSzp
Dinda Kartika tiba tiga minggu yang lalu. Ia datang dengan satu koper besar dan dua dus buku, bilang butuh tempat tinggal sementara karena kontrakan di dekat kampusnya kena banjir dan harus direnovasi. Ayu langsung bilang iya tanpa pikir panjang. “Dia adikku, Raka. Kita punya kamar kosong di lantai atas.”
4158Please respect copyright.PENANASVg3xhRVxA
Raka tidak menolak. Ia bahkan yang menjemput Dinda di stasiun. Saat itu hujan juga turun. Dinda berdiri di bawah atap stasiun dengan jaket jeans tipis, rambut basah menempel di pipi dan leher. Ia tersenyum sopan ketika melihat Raka, mengangguk kecil, dan mengucapkan “Terima kasih sudah menjemput, Kak” dengan suara yang lembut, hampir seperti bisikan.
4158Please respect copyright.PENANALjq5WNEUO6
Tiga minggu sudah berlalu. Dan setiap hari, Raka merasa ada yang berubah di dalam rumah itu.
4158Please respect copyright.PENANAnTv3qsKXGV
Dinda berusia dua puluh tiga tahun, tujuh tahun lebih muda dari Ayu. Di depan orang, ia selalu tampak tertutup. Baju longgar, rok di bawah lutut, rambut dikepang atau dikuncir rendah. Ia memanggil Raka dengan “Kak” yang sopan, selalu menawarkan membantu memasak, selalu mengucapkan terima kasih dua kali untuk hal-hal kecil. Tapi Raka mulai memperhatikan hal-hal lain.
4158Please respect copyright.PENANAhTRozIozDb
Cara Dinda duduk di lantai ruang keluarga sambil membaca, satu kaki ditekuk, roknya sedikit naik ke paha. Cara ia mengucek mata ketika mengantuk, membuat kaos oblong yang dipakainya tertarik ke atas dan memperlihatkan garis pinggang yang ramping. Cara ia tertawa kecil ketika Ayu bercerita, suara tawa itu rendah dan sedikit serak, bukan tawa gadis yang kaku.
4158Please respect copyright.PENANATAtut9ZXG0
Dan yang paling membuat Raka gelisah adalah bagaimana Dinda memandanginya ketika ia pikir tidak ada yang melihat.
4158Please respect copyright.PENANAzzgV30n1lk
Malam itu, setelah makan malam, Ayu bilang ia harus lembur di kantor sampai larut. “Ada presentasi besok pagi. Aku tidur di kantor saja, ya. Kamu jangan menunggu.” Raka mengangguk. Ia sudah terbiasa. Ayu sering lembur akhir-akhir ini.
4158Please respect copyright.PENANAKw3cqZTtzM
Setelah Ayu pergi, rumah terasa lebih sunyi. Dinda sedang mencuci piring di dapur. Raka duduk di meja makan, pura-pura membaca koran digital di ponsel, padahal matanya terus melirik ke arah dapur.
4158Please respect copyright.PENANAWXo4EWKl5F
Dinda memakai kaos putih tipis dan celana pendek abu-abu yang longgar. Rambutnya masih basah dari mandi sore tadi, dikeringkan seadanya dengan handuk. Beberapa helai menempel di leher belakangnya. Dari tempat duduk Raka, ia bisa melihat garis punggung Dinda yang ramping, lekuk pinggang yang menyempit, lalu melembung lembut di pinggul. Setiap kali Dinda meraih piring di rak atas, kaosnya terangkat sedikit, memperlihatkan sepetak kulit putih di atas pinggang celana.
4158Please respect copyright.PENANAjmVySxJJbY
Raka menelan ludah. Ia memalingkan wajah, tapi beberapa detik kemudian matanya kembali tertarik.
4158Please respect copyright.PENANA8fkYejyuqQ
“Kak Raka,” suara Dinda tiba-tiba terdengar, “mau teh hangat? Aku seduhin.”
4158Please respect copyright.PENANAFn7ynDHKFY
“Nggak usah, Din. Aku masih minum kopi.”
4158Please respect copyright.PENANAOdPtxjHVDD
“Kopinya sudah dingin, Kak.” Dinda menoleh, tersenyum tipis. “Aku buatkan yang baru, ya. Susu sedikit, tanpa gula. Kayak biasanya.”
4158Please respect copyright.PENANAnZoidtuQiT
Raka terkejut. Ia tidak ingat pernah bilang cara ia suka kopi. Tapi Dinda sudah tahu.
4158Please respect copyright.PENANAnHzkwjOemb
Beberapa menit kemudian Dinda datang membawa dua cangkir. Ia duduk di kursi di seberang Raka, bukan di samping. Jarak yang sopan. Tapi meja makan itu tidak terlalu lebar. Raka bisa mencium aroma sabun mandi Dinda—wangi melati yang samar, bercampur dengan sedikit wangi kulit basah.
4158Please respect copyright.PENANAdVrD2XLXSK
Mereka diam cukup lama. Hanya suara hujan yang mulai turun lagi di luar, pelan-pelan.
4158Please respect copyright.PENANAC9PMrDitRL
“Kak,” Dinda membuka suara, matanya menunduk ke cangkir, “Ayu kakak bilang kamu orangnya pendiam. Tapi aku rasa… kamu banyak mikir.”
4158Please respect copyright.PENANA4EgXJqNy8V
Raka mengangkat alis. “Kenapa bilang begitu?”
4158Please respect copyright.PENANAcRCPHrilor
“Karena kamu sering menatap kosong. Kayak sekarang.” Dinda mengangkat wajah. Matanya hitam pekat, sedikit sipit di ujungnya, dengan bulu mata yang panjang alami. “Aku dulu juga sering kayak gitu. Banyak yang dipikirin, tapi nggak bisa diceritain.”
4158Please respect copyright.PENANA40LDGDzCw1
Raka tersenyum kecil. “Kamu masih muda, Din. Urusan hidupmu masih panjang.”
4158Please respect copyright.PENANAQyUXal7w9N
“Umur nggak selalu berhubungan dengan beban, Kak.” Dinda mengangkat bahu. Gerakan itu membuat dada yang tertutup kaos tipis sedikit naik turun. Raka berusaha tidak menatap terlalu lama, tapi ia sudah melihat. Bentuk payudara Dinda tidak besar, tapi penuh dan kencang, dengan puting yang sedikit menonjol di balik kain karena dingin AC. “Kadang orang yang kelihatan tenang justru yang paling banyak menyimpan.”
4158Please respect copyright.PENANAMxYZityITA
Raka terdiam. Kalimat itu terasa menusuk.
4158Please respect copyright.PENANAF0DoJCypi5
Mereka mengobrol pelan tentang kampus Dinda, tentang skripsi yang sudah hampir selesai, tentang teman-teman yang mulai sibuk mencari kerja. Dinda bicara dengan suara lembut, sesekali tertawa kecil ketika menceritakan dosen yang galak. Setiap kali ia tertawa, pipinya merona sedikit, dan Raka merasa ada sesuatu yang menghangat di dadanya.
4158Please respect copyright.PENANA8eXrBY5ZWS
Setelah selesai minum, Dinda berdiri untuk mencuci cangkir. Raka ikut ke dapur, bilang mau ambil air putih. Di dapur yang sempit itu, jarak mereka hanya beberapa jengkal. Dinda berdiri di depan wastafel, punggung menghadap Raka. Raka mengambil gelas di rak di sebelah kanan Dinda. Lengannya hampir menyentuh bahu Dinda.
4158Please respect copyright.PENANAsl5V9gUlG2
“Maaf,” gumam Raka.
4158Please respect copyright.PENANAyhF8VKN97m
“Nggak apa-apa, Kak.” Suara Dinda terdengar sedikit serak.
4158Please respect copyright.PENANAobbO3CYbMS
Raka berdiri diam sejenak. Dari dekat, ia bisa melihat detail lebih jelas. Tengkuk Dinda yang putih, dengan beberapa helai rambut basah menempel. Garis tulang belikat yang lembut di bawah kaos. Pinggang yang ramping, seolah bisa dilingkari dengan dua tangan. Bokong yang bulat dan kenyal di balik celana pendek abu-abu. Paha yang padat, kulitnya mulus tanpa bekas luka, sedikit mengilap karena masih lembap.
4158Please respect copyright.PENANAhqGuLLaJf4
Raka merasa tenggorokannya kering. Ia segera menuang air dan kembali ke meja makan.
4158Please respect copyright.PENANA8ZsQvV4Ajd
Malam semakin larut. Dinda bilang ia mau naik ke kamar untuk mengerjakan revisi skripsi. Raka mengangguk. Ia sendiri duduk di sofa, menyalakan televisi tanpa benar-benar menonton. Pikirannya penuh.
4158Please respect copyright.PENANAXxYwHPqDK6
Ia ingat pertama kali melihat Dinda setelah menikah dengan Ayu. Saat itu di resepsi pernikahan, Dinda masih berusia sembilan belas tahun, memakai kebaya hijau muda, rambut disanggul. Ia tampak pemalu, selalu berdiri di belakang Ayu. Raka sempat berpikir adik iparnya itu seperti boneka porselen—cantik, rapuh, dan jauh.
4158Please respect copyright.PENANAQBhZK5SKcv
Sekarang boneka itu tinggal di rumahnya, memakai kaos tipis dan celana pendek, dan Raka mulai menyadari bahwa di balik kesopanan itu ada sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang liar, yang sesekali melintas di mata Dinda ketika ia menatap Raka terlalu lama.
4158Please respect copyright.PENANA17kYSogzFF
Raka menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran itu. Ia adalah suami Ayu. Ayu yang baik, Ayu yang setia, Ayu yang selalu pulang membawa oleh-oleh kecil untuknya. Ia tidak boleh berpikir seperti ini.
4158Please respect copyright.PENANArT8JOMQ4Wx
Tapi tubuhnya tidak peduli dengan kata “tidak boleh”.
4158Please respect copyright.PENANAoELRJK6M3T
Jam menunjukkan hampir sebelas malam ketika Raka memutuskan untuk naik ke kamar. Ia mematikan televisi, mengunci pintu depan, lalu menaiki tangga kayu yang sedikit berderit. Kamar Dinda berada di ujung koridor lantai dua, sebelah kamar mandi. Pintunya tertutup, tapi dari celah bawah pintu terlihat cahaya lampu masih menyala.
4158Please respect copyright.PENANAHgKsLpTIG9
Raka berjalan pelan. Ketika melewati pintu Dinda, ia mendengar suara samar. Seperti desahan. Atau mungkin hanya napas.
4158Please respect copyright.PENANAmfHboGvWVP
Ia berhenti sejenak. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia tahu seharusnya ia terus berjalan ke kamarnya sendiri. Tapi kakinya tidak bergerak.
4158Please respect copyright.PENANALWtGx7PdS3
Dari dalam kamar, terdengar suara kertas digeser, lalu desahan lagi. Lebih jelas kali ini. Suara perempuan yang menahan sesuatu.
4158Please respect copyright.PENANALu8PfhmaiD
Raka menelan ludah. Ia mengangkat tangan, hampir mengetuk, lalu menurunkan lagi. Ia berdiri di sana, di koridor yang redup, mendengar napas Dinda yang tidak beraturan dari balik pintu.
4158Please respect copyright.PENANApkH6oUyrFb
Beberapa detik kemudian suara itu berhenti. Hanya keheningan.
4158Please respect copyright.PENANAIVUdWph236
Raka memaksa dirinya berjalan ke kamarnya. Ia masuk, menutup pintu, lalu duduk di tepi ranjang. Napasnya masih pendek. Di balik kelopak mata, ia melihat lagi bayangan Dinda di dapur tadi—pinggang ramping, paha mulus, puting yang menonjol di balik kaos putih.
4158Please respect copyright.PENANAwUhHAT0Abm
Ia mengutuk dirinya sendiri pelan.
4158Please respect copyright.PENANA2hCbtYZnod
Di kamar sebelah, Dinda duduk di kursi belajar dengan wajah memerah. Tangannya masih gemetar sedikit. Ia baru saja menutup laptop. Skripsinya sudah lama selesai dibuka, tapi ia tidak membaca satu baris pun. Pikirannya penuh dengan bayangan Raka yang berdiri di belakangnya di dapur, bau kopi dan sabun pria yang samar, suara “maaf” yang rendah.
4158Please respect copyright.PENANAsut74mJjbU
Dinda menatap cermin kecil di meja. Wajahnya masih merah. Bibirnya sedikit terbuka. Ia menyentuh lehernya sendiri, merasakan denyut nadi yang masih cepat.
4158Please respect copyright.PENANAPcNOW3Z64L
Ia tahu apa yang baru saja ia lakukan. Ia tahu itu salah. Kakaknya menikah dengan lelaki itu. Tapi setiap kali Raka memandanginya—meski hanya sebentar—ada sesuatu di dalam perutnya yang mengencang, panas, dan basah.
4158Please respect copyright.PENANAko8N6ue3o3
Dinda berdiri, berjalan ke tempat tidur, lalu berbaring telentang. Ia menatap langit-langit. Jari-jarinya tanpa sadar merayap ke perut, lalu ke bawah, menyentuh celana pendeknya. Kain itu sudah sedikit basah di bagian tengah.
4158Please respect copyright.PENANAbmLcsoNvWx
Ia menutup mata, membayangkan tangan Raka yang besar, urat-urat di punggung tangan, cara Raka memegang cangkir. Ia membayangkan tangan itu di pahanya, naik pelan-pelan, membuka celana pendeknya…
4158Please respect copyright.PENANAolTct2v5Fl
Dinda menggigit bibir bawahnya keras sampai terasa sakit, berusaha menahan desahan. Jari tengahnya masuk pelan ke dalam celana, menyentuh bibir vagina yang sudah licin. Ia mengusap pelan, memutar di klitoris yang bengkak, sambil membayangkan suara Raka yang rendah memanggil namanya.
4158Please respect copyright.PENANAxrkon2ifOg
“Kak…” bisiknya sendiri, hampir tidak terdengar.
4158Please respect copyright.PENANA3Mw2KQhH5F
Di kamar sebelah, Raka masih duduk di tepi ranjang dengan tangan terkatup di pangkuan. Ia mendengar sesuatu. Suara samar dari dinding. Seperti desahan tertahan. Seperti nama yang dipanggil pelan.
4158Please respect copyright.PENANA1dMVlJo3yZ
Raka menutup mata rapat-rapat. Ia tahu ia harus tidur. Ia tahu ia harus mengabaikan. Tapi penisku sudah mengeras di dalam celana, berdenyut sakit, menuntut perhatian.
4158Please respect copyright.PENANA4VrLYGCDWd
Ia berdiri, berjalan ke kamar mandi di dalam kamarnya, membuka kran air dingin, membasuh wajah berkali-kali. Air menetes dari dagunya ke kaos. Ia menatap bayangannya di cermin. Mata yang gelap, rahang yang mengeras.
4158Please respect copyright.PENANAE9VEayOlja
“Jangan,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Dia adik ipar. Adiknya Ayu.”
4158Please respect copyright.PENANAEo0RTUw6nL
Tapi ketika ia kembali ke ranjang dan mematikan lampu, bayangan Dinda tidak pergi. Ia melihat lagi cara Dinda tertawa di meja makan, cara kaos putih itu menempel di payudara ketika basah sedikit oleh uap air, cara paha itu terbuka sedikit ketika Dinda duduk bersila di lantai.
4158Please respect copyright.PENANAMWVPjO7afE
Raka berbaring miring, memunggungi dinding yang memisahkan kamarnya dengan kamar Dinda. Ia bisa mendengar, sangat samar, suara kasur bergeser di sebelah. Lalu desahan lagi. Lebih panjang. Lebih basah.
4158Please respect copyright.PENANAqZPm9VgCMU
Tangannya turun ke bawah, memegang kontol yang sudah tegang sempurna melalui celana dalam. Ia mengusap pelan, menahan napas, membayangkan bibir Dinda yang tipis dan merah muda membuka, menerima kepalanya, lidah yang basah…
4158Please respect copyright.PENANAelRJHTiqw0
Raka menggigit bantal. Gerakannya semakin cepat. Di kamar sebelah, desahan Dinda semakin jelas, seolah dinding itu tidak ada. Seolah mereka sedang melakukan hal yang sama di waktu yang sama, saling mendengar tanpa berani mengakui.
4158Please respect copyright.PENANAMeziQaRpLg
Ketika Raka klimaks, ia menahan suara di tenggorokan sampai sakit. Sperma hangat membasahi telapak tangannya dan celana dalam. Napasnya memburu. Di seberang dinding, ia mendengar desahan panjang Dinda yang pecah, diikuti napas terengah-engah yang pelan-pelan mereda.
4158Please respect copyright.PENANAVASiyeAC1B
Keheningan kembali.
4158Please respect copyright.PENANA01cfdQvg1w
Raka berbaring terlentang, menatap gelap. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia merasa kotor, bersalah, dan… lapar. Lapar akan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dengan Ayu selama empat tahun terakhir.
4158Please respect copyright.PENANA65NjoEr0nm
Di kamar sebelah, Dinda menarik selimut sampai ke dagu. Jari-jarinya masih basah. Ia menggigit bibir, menahan senyum kecil yang nakal. Ia tahu Raka mendengar. Ia tahu Raka juga melakukan hal yang sama.
ns216.73.216.184da2


