2324Please respect copyright.PENANAzSWLDrTq3D**Bagas**: *(Gagap sedikit, buru-buru menekan tombol lock di HP sambil cengengesan).* "Eh! Reels kok, Bu! Ini lagi nyari inspirasi format CV yang bagus di Instagram... hehehe. Kan zaman sekarang orang HRD carinya yang kreatif, Bu."
2324Please respect copyright.PENANACJG2vcgzjr
Ibu Sri sudah berdiri tepat di samping kasurku. Aroma sabun mandi mawarnya menguar begitu kuat, bercampur dengan aroma hangat kulit tubuh matangnya yang baru dibalut daster. Dia menunduk, matanya memecing curiga tapi senyum jahil primadona desa-nya mengembang manis.
2324Please respect copyright.PENANAH60MMhw2XE
**Ibu Sri**: *(Melipat kedua tangan di bawah dada—gerakan yang secara otomatis membuat dua bongkahan padatnya semakin menonjol dan menantang di balik kain daster tipis itu).* "Reels apaan itu? Coba mana Ibu lihat HP-mu. Ndak usah bohong sama Ibu ya, Gas... Ibu ini sudah hapal kelakuan anak bujang kalau lagi tiduran senyum-senyum sendiri begitu."
2324Please respect copyright.PENANArU7RBLGubP
Ibu Sri menjulurkan tangan kirinya, memberikan isyarat meminta ponselku. Matanya yang teduh dipenuhi dengan jenaka dan sedikit memaksa.
2324Please respect copyright.PENANApBuGxeqnFF
**Bagas**: *(Menggaruk belakang kepala yang tidak gatal, menahan HP-ku dengan tangan kanan).* "Aduh, Bu... cuma video-video lucu doang kok... ndak penting ah buat Ibu."
2324Please respect copyright.PENANAeK0FclmQsO
**Ibu Sri**: *(Bukannya mundur, Ibu Sri malah duduk di tepi kasurku. Kasur kapukku langsung berderit pelan menahan bobot tubuhnya yang sintal. Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku).* "Hehh...anak muda kebiasaan! Asik ya lihat-lihat gituan siang bolong, bukannya bikin lamaran kerja." *(Nadanya cerewet khas emak-emak, tapi suara tawanya terselip halus di akhir kalimat).*
2324Please respect copyright.PENANAOA7FGttHNm
Tiba-tiba, dengan gerakan tak terduga, tangan Ibu Sri yang wangi sabun itu bergerak cepat dan berhasil merebut ponsel dari genggamanku!
2324Please respect copyright.PENANAvWkviCbXZg
**Bagas**: "Eh, Bu! Jangan dibuka!"
2324Please respect copyright.PENANAbPOQ7B7uri
Tapi terlambat. Layar ponselku sudah tidak terkunci karena fitur pendeteksi wajah. Dan apesnya, aplikasi Instagram masih terbuka di posisi terakhir.
2324Please respect copyright.PENANA08rLH21bOn
Video seorang selebgram montok berkaos ketat sedang bergoyang meliuk-liukkan dada dan pinggulnya terpampang jelas di layar, lengkap dengan lagu jedag-jedug yang mengiringi.
2324Please respect copyright.PENANA5J3w9JMJP2
Ibu Sri menatap layar ponselku selama beberapa detik. Mata berkedip-kedip cepat. Lalu perlahan, wajah putih bersihnya yang tadi segar sehabis mandi, kini merona merah padam hingga ke telinga.
2324Please respect copyright.PENANAUMpMDvStq0
Dia menelan ludah pelan, lalu menegakkan wajahnya. Menatapnya kini bukan lagi sekedar curiga, tapi ada percampuran antara malu, gengsi, dan sesuatu yang sulit ditebak di balik mata teduhnya itu.
2324Please respect copyright.PENANAnIg1MZYEvU
**Ibu Sri**: *(Suaranya tiba-tiba memelan dan agak bergetar, dia meletakkan HP-ku di atas kasur dengan perlahan).* "A-Astaghfirullah, Bagas... *ihhh*... Kamu ini lho... D-Diingetin disuruh bikin lamaran, malah nonton perempuan joget-joget ndak jelas begini..." *(Ibu Sri intinya yang basah, berusaha membuang muka).* "Emangnya...emangnya bagus ya badan perempuan yang... yang montok terus pakaiannya ketat-ketat begitu, Bensin?"
2324Please respect copyright.PENANAbTncwdBRFr
Pertanyaan terakhir itu lolos begitu saja dari ucapan, diucapkan dengan nada yang sangat pelan—hampir seperti bisikan. Ibu Sri meremas ujung dasternya sendiri di atas pahanya, tanpa sadar sedang membandingkan tubuh gembrot matangnya dengan wanita di video yang baru saja ia lihat.
2324Please respect copyright.PENANAN6k5CkwIfe
---
2324Please respect copyright.PENANAIZPcUKU1dD
**Bagas**: *(Menyeringai nakal, menopang kepala dengan satu tangan sambil memandangi Ibu dari samping).* "Baguslah, Bu! Namanya juga hiburan mata anak bujang..." *(Lalu aku menurunkan suaraku, sedikit berbisik sambil menatap lekat lekuk tubuh Ibu di balik daster).* "Tapi kalau boleh jujur sih... masih jauuuuh lebih bagus badan Ibu. apalagi kalau dasternya habis mandi gini, hehehe... *Maaf*, Buuu..."
2324Please respect copyright.PENANAtYhIBN4kn0
Mendengar gombalan pembohongku, wajah putih Ibu Sri seketika merona merah semerah tomat. Matanya membulat kaget, tapi bukannya marah, dia malah mencubit pelan dan mulai menggelitik perutku dengan gemas!
2324Please respect copyright.PENANAYz0Lt4tGDv
**Ibu Sri**: *(Sambil tertawa renyah, jari-jarinya yang wangi sabun menggelitik perut dan pinggangku).* "Iihhh! Dasar anak Ibu, mulutnya sudah mulai-mulai yaaa! Mulai nakal kamu ini, Le! Belajar gombal dari siapa sih, hah?!"
2324Please respect copyright.PENANA6tRebhVLoQ
**Bagas**: *(Menggeliat kegelian di atas kasur, tertawa lepas).* "Ampun, Bu! Ampuun! Hahaha! Ya kan Bagas ngomong jujur, Bu!"
2324Please respect copyright.PENANAEsG2e0SoYK
**Ibu Sri**: *(Berhenti menggelitik, tapi masih tertawa manis dengan napas agak terengah-engah).* "Hush! Bagus apanya toh, Le... badan Ibu ini kan sudah melar, gembrot ke mana-mana begini..."
2324Please respect copyright.PENANAkIy2JTViUB
Saat merayakannya, entah sadar atau tidak, Ibu Sri memperbaiki posisi duduknya. Dia sedikit menggoyangkan pinggul dan bahunya untuk memungkinkan letak daster yang menempel ketat di tubuhnya.
2324Please respect copyright.PENANAAckvpQqg7V
*Goyangan kecil itu berakibat fatal.*
2324Please respect copyright.PENANAfqyy5Q9o4y
Dua bongkahan padat di balik daster tipisnya ikut berguncang pelan namun sangat jelas di depan mataku. Ditambah lagi, lipatan paha berisinya yang bergesekan membentuk siluet yang luar biasa seksi dan matang.
2324Please respect copyright.PENANAWo3vamTSC3
*Astaghfirullah.*
2324Please respect copyright.PENANA2tyOSBx5rO
Darah mudaku rasanya langsung mendidih naik ke ubun-ubun. Aku nyaris menahan napas, mataku tertuju pada gerakan singkat itu. Otakku rasanya *kosong* seketika, serasa mau pingsan melihat pemandangan surga dari ibuku sendiri. Jarak kami sangat dekat, aroma mawar dan feromon alaminya benar-benar memabukkan.
2324Please respect copyright.PENANA37nj5o6qPs
**Bagas**: *(Menelan ludah dengan susah payah, suaraku tiba-tiba menjadi serak dan berat).* "B-Bu...jangan goyang-goyang gitu..."
2324Please respect copyright.PENANAaTqoK0QD7P
Ibu Sri yang awalnya masih tersenyum, tiba-tiba teringat. Dia menangkap perubahan nada suaraku dan arah mataku yang terkubur di dada. Wajahnya yang tadinya merah karena tertawa, kini memerah karena sesuatu yang lain. Suasana kamar yang tadi penuh canda tawa, tiba-tiba berubah menjadi sangat hening dan dipenuhi ketegangan panas yang membuat dada berdebar keras.
2324Please respect copyright.PENANAymCxVZJqqd
Ibu Sri menunduk menatap tubuhnya sendiri, lalu kembali memandang dengan mata bulatnya yang perlahan meredup sayu. Napasnya mulai berburu pelan.
2324Please respect copyright.PENANAbfBV9D4Nng
**Ibu Sri**: *(Suaranya pelan bergetar, setengah berbisik, memecah keheningan).* "E-El... eh, B-Bagas... kamu... kamu ngelihatin apa toh, Nak...?"
2324Please respect copyright.PENANAACUXzTMCIZ
Jemari Ibu Sri tanpa sadar mencengkeram sprei kasur di dekat pahaku. Tangannya terasa hangat dan sedikit gemetar.
2324Please respect copyright.PENANAU998x6VBVX
2324Please respect copyright.PENANATj0PxnP9nx
---
2324Please respect copyright.PENANAPvHUyYIpnU
2324Please respect copyright.PENANAttg4g7qg7j
Ibu Sri yang sadar arah melihatku langsung buru-buru menarik bagian atas dasternya dengan ketidaknyamanan, wajah putihnya semakin merah padam sampai ke telinga. Ketegangan aneh yang sempat mengintai di udara kamar langsung kusepatkan buat dibuyarkan sebelum makin melenceng.
2324Please respect copyright.PENANAf5lFHPLX4H
**Bagas**: *(Langsung berdeham keras, pura-pura batuk sambil duduk tegap di kasur).* "Ehem! Ngg... ndak ada apa-apa kok, Bu! Cuma kaget aja tadi refleks Ibu geli-geliin Bagas wkwk. Lagian Ibu ini lho, udah tahu anak bujangnya gelian!"
2324Please respect copyright.PENANAFdzEHBDALH
Mendengar jawabanku yang kembali santai dan berteriak, raut panik di wajah Ibu Sri seketika mencair. Ibu mendesah nafas lega yang panjang, lalu memukul bahuku dengan ujung handuk mandi yang dipegangnya.
2324Please respect copyright.PENANA8pOaD43AAe
**Ibu Sri**: *(Tertawa renyah menutup rasa ketidaknyamanannya, mukanya masih agak merona).* "Aduh... Bagas, Bagas! Kamu tuh ya, bikin kaget Ibu saja! Ibu kira kamu kenapa-napa tadi sampai melamun begitu. Makanya, jangan nonton video meliuk-liuk ndak jelas begitu ah, mending kamu fokus mengetik lamaran kerja di laptop itu!"
2324Please respect copyright.PENANAQPhO3wChmQ
**Bagas**: "Iya, iya, Ibu Sayang... Ini Bagas lanjut ngetik CV-nya. Tapi... nanti malam masak ayam goreng kalasan kesukaan Bagas ya, Bu? Biar semangat nih ngetiknya!"
2324Please respect copyright.PENANAfwUrbrGWZO
**Ibu Sri**: *(Tersenyum manis sekali, matanya menyempit hangat penuh kasih sayang seorang ibu).* "Nah, gitu dong! Anak ganteng Ibu harus rajin. Yo wes, Ibu mau ke dapur dulu, mau nyiapin bumbu buat makan malam kita berangkat nanti sama Ayah. Jangan lupa HP-nya disimpan dulu, fokus ke laptop!"
2324Please respect copyright.PENANAwbTouC3EHA
Ibu Sri berdiri dari tepi kasur, membetulkan letak kain dasternya dengan anggun, lalu melangkah keluar kamar sambil menyenandungkan lagu Jawa dengan pelan. Suasana hangat khas rumah pedesaan kembali.
2324Please respect copyright.PENANAuM0RVUjYFP
Aku mendesah lega sambil menyandarkan punggung ke kursi meja belajar. Pikiranku kembali jernih. Jemariku mulai lincah mengetik huruf demi huruf di Microsoft Word untuk menyelesaikan surat lamaran kerja ke perusahaan retail
2324Please respect copyright.PENANAngs0pGXo92
-
Ruang Tengah Rumah Utama. Pukul 18:15 Magrib.
2324Please respect copyright.PENANAgqqZzz4M4N
Azan Magrib sayup-sayup terdengar merdu dari musala desa di ujung jalan perkebunan. Udara sore yang tadinya gerah kini perlahan berganti menjadi sejuk dingin khas pegunungan.
2324Please respect copyright.PENANAQAoORdCd9C
Di ruang tengah yang beralaskan karpet hijau tebal, Ayah yang baru saja selesai mandi dan memakai sarung tenun hijau serta peci hitam, sudah berdiri di paling depan sebagai imam. Aku berdiri tepat di belakang Ayah, memakai baju koko putih dan sarung cokelat.
2324Please respect copyright.PENANAoiRmkNUL4j
Tiba-tiba, suara menyalakan kain yang halus terdengar dari arah kamar tidur utama. Ibu Sri keluar.
2324Please respect copyright.PENANAhfRbRCHTGb
Ibu Sri sudah mengenakan mukena terusan warna putih bersih berbahan katun sutra. Karena mukenanya agak menempel lembut di tubuh matangnya yang baru disegarkan air wudu, siluet lekuk tubuh berisi masih mencetak anggun dari belakang. Wajah bersihnya tanpa *make-up* tampak sangat teduh dan berseri-seri terkena sisa tetesan air wudu. Wangi parfum minyak zaitun dan harum mukenanya langsung memenuhi ruang tengah yang tenang itu.
2324Please respect copyright.PENANAnjI7nVQr81
Ibu Sri menggelar sajadah kecilnya tepat di belakang sebelah kiriku, berjarak satu jengkal.
2324Please respect copyright.PENANAt8JLqD1Kkb
**Ibu Sri**: *(Berbisik sangat pelan dengan nada halus khasnya).* "Luruskan safnya ya, Le..."
2324Please respect copyright.PENANARU9qXNbUtK
Aku melirik pelan ke belakang. Ibu Sri tersenyum sangat manis di balik lingkar mukenanya, matanya yang teduh memandangi sejenak sebelum menunduk khusyuk menghadap sajadah.
2324Please respect copyright.PENANAucc8taJVUk
**Ayah**: "Rapat dan luruskan saf... *Allahu Akbar*."
2324Please respect copyright.PENANApujQtutz9o
Salat Magrib berjamaah dimulai. Suara bacaan ayat suci dari Ayah terdengar bergema di ruang kayu yang hening. Setiap kali gerakan rukuk dan sujud, desiran kain mukena Ibu Sri yang berada di belakangku memberikan getaran tenang sekaligus membuat dadaku berdesir halus.
2324Please respect copyright.PENANANcXdkdb7ZH
Saat posisi sujud, aroma wangi mukena katun milik Ibu Sri berembus semakin dekat. Ada rasa adem, haru, sekaligus decak kagum yang terbersit di benakku melihat betapa cantiknya sosok primadona desa yang kini menjadi ibuku ini.
2324Please respect copyright.PENANAOZufqOzUpT
---
2324Please respect copyright.PENANAJhpDkFqd7I
Setelah salam doa kali menutup tiga rakaat Magrib, Ayah memutarkan badannya untuk memimpin doa. Kami bertiga mengangkat kedua telapak tangan.
2324Please respect copyright.PENANAehzod9sGSZ
**Ayah**: *(Mendoakan keselamatan keluarga, rezeki perkebunan, dan kesehatan).* "...Ya Allah, berikanlah kemudahan untuk anak kami, Bagas, yang sedang berusaha mencari pekerjaan..."
2324Please respect copyright.PENANAOaB8evao73
**Ibu Sri & Bagas** : “Aamiin…”
2324Please respect copyright.PENANA6hOMAcVAt0
Mendengar nama tersebut dalam doa Ayah, aku melirik ke arah Ibu Sri. Di balik mukena putihnya, Ibu Sri sedang menatap sambil mengangguk pelan. Ibu menyempatkan diri untuk tersenyum paling hangat dan paling tulus yang pernah kulihat. Ada binar kebanggaan seorang ibu di matanya yang berkaca-kaca.
2324Please respect copyright.PENANAoG0KQdupw5
Selesai berikhtiar dan bersalaman, Ayah berdiri lebih dulu untuk merapikan sarung dan melangkah ke teras depan untuk mengecek sepeda motornya. Tinggallah aku dan Ibu Sri berdua di atas karpet salat.
2324Please respect copyright.PENANAxzP4HnDS9z
Aku membalikkan badan menatap Ibu Sri yang sedang melipat sajadahnya secara perlahan.
2324Please respect copyright.PENANAg6XMOfRwck
**Bagas**: *(Berbisik pelan agar ndak terdengar Ayah di luar).* "Makasih ya, Bu... udah didoain pas salat tadi."
2324Please respect copyright.PENANAWLrUrG8rDb
Ibu Sri menghentikan lipatan sajadahnya. Dia mendongak, memandang dari bawah. Jarak kami begitu dekat di atas sajadah yang harum. Tangannya yang terbungkus kain mukena putih meraih jemariku, menggenggamnya pelan dengan kehangatan seorang ibu yang begitu protektif.
2324Please respect copyright.PENANAkirj0MbDZO
**Ibu Sri**: *(Suaranya sangat lembut, ada nada bercanda yang disisipkan halus).* "Iya, Le... Ibu ndak akan pernah putus doain anak bujang Ibu yang ganteng ini. Biar dapet kerjaan yang bagus di kota, biar ndak pusing-pusing lagi nongkrongin HP nonton video yang aneh-aneh..."
2324Please respect copyright.PENANA6hgweVEz5Z
**Bagas**: *(Terkekeh pelan, mukaku tiba-tiba hangat).* "Aduh, Ibu... kok masih diungkit toh soal video tadi wkwk."
2324Please respect copyright.PENANAAixSXwb1ZI
**Ibu Sri**: *(Tertawa renyah tanpa suara, dipukul pelan bahuku dengan mukenanya).* "Ihh...biar kamu ingat, Le! Mendingan fokus minta sama yang di Atas. Wes ayo, bantu Ibu bawa ayam goreng kalasan ke meja makan, sayang Ayahmu sudah nungguin tuh..."
2324Please respect copyright.PENANAGo6WD49v0l
Ibu Sri berdiri anggun, membuka ikatan tali mukenanya di belakang kepala, menampilkan rambut cantiknya yang terikat rapi. Langkah kakinya menuju dapur memantulkan wanita desa yang utuh—membuatku sadar betapa beruntungnya memiliki sosok Ibu yang bukan hanya berparas cantik dan bertubuh padat, tapi juga punya hati yang luar biasa hangat.
2324Please respect copyright.PENANA5gSG5l4R4W
2324Please respect copyright.PENANAJ5jDoMbsCr
2324Please respect copyright.PENANAOCrW8VJaau


