2402Please respect copyright.PENANALOUcxoixCkPukul 12:45 Siang.
2402Please respect copyright.PENANAnnIPDvb3bs
Aku sudah menghabiskan empat potong risoles dan dua gelas sirup buatan Ibu. Suasana di saung siang ini semakin tenang, namun udara terasa semakin panas. Angin kebun hanya berembus tipis, membuat keringat di pelipis Ibu Sri semakin jelas terlihat.
2402Please respect copyright.PENANAnshM9sBPfA
**Bagas**: *(Berdiri merasakan badan, memamerkan otot perut mudaku yang agak kecokelatan karena sering kerja di kebun).* "Bu, Bagas kayaknya bentar lagi mau balik ke rumah deh. Mau ngerjain berkas lamaran kerja buat dikirim besok. Ibu mau tetap di sini nungguin Ayah atau mau ikut pulang sama Bagas?"
2402Please respect copyright.PENANA89cB8JqOIv
Ibu Sri yang sedang mengemas rantang kosong memandang ke depan. Matanya lagi-lagi tanpa sadar memperhatikan bidang dadaku yang telanjang dan dipenuhi keringat. Dia buru-buru mengalihkan pandangannya, lalu mendesah pelan.
2402Please respect copyright.PENANAHCQpWjWKGL
**Ibu Sri**: *(Sambil menampar lututnya yang pegal untuk berdiri).* "Aduh, Le... Ayahmu itu kalau sudah ngobrol sama Pak RT soal sewa tanah, biasanya bisa sampai jam tiga sore baru kelar, Gas. Ibu juga sudah gerah banget ini lho duduk di mari... sumuk badannya. Ibu ikut kamu pulang sajalah, mau mandi sore lebih cepat..."
2402Please respect copyright.PENANAGr8AL6d6AP
Saat Ibu Sri berdiri di atas dipan bambu saung, tubuhnya montoknya agak oleng karena kain gamis di bawahnya tersangkut di paku kecil pinggiran bambu.
2402Please respect copyright.PENANAg5Io4GWBH4
**Ibu Sri**: "Eh! Hati-hati, Ibu..."
2402Please respect copyright.PENANAFdSE1BAzhP
Secara refleks, aku melangkah maju dan melingkarkan lengan berototku ke pinggang lebar Ibu Sri. Tanganku mendekap punggung dan pinggulnya yang padat dengan kuat menahan tubuhnya.
2402Please respect copyright.PENANAe3J1gPgHbz
*DERAJAT*
2402Please respect copyright.PENANAFIFqqHUNBZ
Jarak kami hanya terpaut beberapa inci. Aku bisa merasakan jelas betapa empuk dan beratnya tubuh primadona desa berumur 46 tahun ini di lenganku. Napas Ibu Sri tertahan, matanya membelalak kaget menatap wajahku dari jarak yang sangat dekat. Hembusan napas hangat beraroma sirup marjan dari bibir Ibu Sri menerpa wajahku.
2402Please respect copyright.PENANAan0lWZihSs
**Bagas**: *(Masih menahan pinggangnya dengan erat, nadaku merendah).* "Hati-hati, Bu...kayu bambunya licin."
2402Please respect copyright.PENANAqHVNDmllH9
**Ibu Sri**: *(Wajahnya benar-benar semerah kepiting rebus, refleksinya mencengkeram lengan atasku dengan erat).* "I-Iya, Gas... a-aduh, *ihhh*... Ibu kaget setengah mati, Le. Makasih ya... untung ada kamu, kalau ndak Ibu bisa nyungsep ke tanah ini tadi..."
2402Please respect copyright.PENANAP3UL8enbGB
Aku tersenyum tipis dan melepaskan dekapanku perlahan. Tentu saja, sengaja meluncur sedikit lebih lama di lekuk pinggulnya sebelum benar-benar menjauh. Ibu Sri salah tingkah, pura-pura menampar-nepuk gamisnya yang padahal tidak kotor sama sekali, mencoba membayangkan sensasi di dada.
2402Please respect copyright.PENANAgCR5VuDUMw
**Ibu Sri**: *(Tertawa canggung, suaranya sedikit sengau).* "Y-Yo wes! Ayo kita pulang, Gas... kamu angkat keranjang sayurnya ya, biar Ibu yang bawa rantangnya. Cuacanya kok rasanya tambah panas banget toh siang ini..." *(Ibu Sri mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan kosong, meski sebenarnya yang memanas adalah darah di balik tubuh matangnya).*
2402Please respect copyright.PENANAQHWuf1AvWa
Kami berdua berjalan beriringan melintasi jalan setapak tanah menuju rumah utama. Jarak rumah sekitar 500 meter dari saung. Sepanjang jalan, pundak kami sering bersentuhan tanpa sengaja. Ayunan bokong gembrot Ibu Sri yang berjalan di sampingku menjadi pemandangan paling menyiksa—sekaligus paling menggoda—bagi pemuda berusia 23 tahun sepertiku.
2402Please respect copyright.PENANAB1gJdwulUA
Apalagi membayangkan ucapan Ibu di saung tadi: *"Ibu mau mandi sore lebih cepat..."*
2402Please respect copyright.PENANAUUgtAJASWa
Deru mesin mobil *pick-up* tua milik keluarga meraung agak kencang melintasi jalanan berbatu menuju pekarangan rumah. Aku sengaja membawa mobil sedikit lebih cepat dari biasanya—mumpung Ayah masih sibuk dan memutar sepi. Di sebelahku, Ibu Sri terpaksa berpegangan erat pada *pegangan* di atas pintu, tubuhnya berisi bergoyang ke kiri dan ke kanan ikutan guncangan mobil.
2402Please respect copyright.PENANAOKCFIxaXcB
**Ibu Sri**: *(Sambil berpegangan kencang, suara melengking bercampur tawa dan omelan manis).* "Eee... Bagas! Pelan-pelan toh, Le! Ini jalanan kebun, bukan sirkuit sirkuit! *Ihhh*... kamu ini kalau bawa *pick-up* kok kaya dikejar hantu saja. Nanti rantang Ibu terbalik lho!"
2402Please respect copyright.PENANAEzvEpSCBOY
**Bagas**: *(Cengengesan sambil tetap menginjak gas).* "Biar cepet sampe rumah, Bu! Katanya Ibu tadi udah gatel mau mandi, sumuk kan?"
2402Please respect copyright.PENANABdQQddDRjG
**Ibu Sri**: *(Menepuk bahuku pelan sambil tertawa geli).* "Yo ndak begitu juga kali, Le... dasar anak muda..."
2402Please respect copyright.PENANAasPBFI3IOp
---
2402Please respect copyright.PENANA8iJ9i5NIMA
Begitu *pick-up* terparkir rapi di samping rumah, kami berdua langsung masuk. Suasana rumah terasa sangat sepi dan adem. Ibu Sri langsung melangkah menuju kamar mandi belakang sambil membawa handuk dan baju ganti, sementara aku masuk ke kamar tidurku, menyalakan kipas angin angin nomor tiga, dan membuka laptop di atas meja belajar.
2402Please respect copyright.PENANAmQgZsVfJTf
Di layar laptop, dokumen Microsoft Word berisi draf *Curriculum Vitae* (CV) untuk lamaran kerja di perusahaan *retail* besar sudah terbuka. Tapi namanya juga anak muda usia 23 tahun, darah lagi hangat-hangatnya—apalagi bayangan lekuk pinggul Ibu Sri di saung tadi masih menari-nari dalam ingatan.
2402Please respect copyright.PENANAWIqvczwUWU
Bukannya mengetik surat lamaran, jemariku malah refleks meraih ponsel di samping laptop. Aplikasi Instagram kubuka, dan jari jempolku mulai melakukan *scrolling* tanpa henti di halaman **Reels**.
2402Please respect copyright.PENANAwQNwkutB0B
Algoritma Instagram memang tidak pernah bohong. Isi *Reels*-ku didominasi oleh video cewek-cewek berparas manis dengan tubuh montok berisi, memakai pakaian ketat yang sedang asyik goyang meliuk-liuk mengikuti musik yang sedang *trend*.
2402Please respect copyright.PENANAKJcYoO8gjp
**Bagas**: *(Gumam pelan sambil menyerap kotor).* "Boh... mantap betul ini lekukannya... tapi kok rasanya masih kalah padat ya sama punya Ibu Sri..."
2402Please respect copyright.PENANAb6IWSX08z2
Aku makin keasyikan menyaksikan video-video reels itu, memagari tubuh di atas kasur sambil memegang ponsel di atas dada. Suara musik dari Reels kubuat agak pelan agar tidak terdengar keluar kamar.
2402Please respect copyright.PENANAYNJJhhE74e
Tanpa kusadari, suara gemericik air dari kamar mandi belakang yang jaraknya tidak jauh dari kamarku tiba-tiba berhenti. Ibu Sri sudah selesai mandi.
2402Please respect copyright.PENANA2g8IUo6GFG
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki bertelanjang dada melangkah halus melewati ubin rumah kayu. *Pintu kamarku tidak terkunci rapat, sedikit menganga.*
2402Please respect copyright.PENANAyo6l62AK7d
*KLEK...*
2402Please respect copyright.PENANAlH5S16khcN
Pintu kamarku didorong pelan. Di ambang pintu, berdiri sosok Ibu Sri yang baru saja selesai mandi.
2402Please respect copyright.PENANAImBk5zas8J
Pemandangan di depanku seketika membuat napas dan jempolku membeku di atas layar ponsel.
2402Please respect copyright.PENANAojNJ8tJhlA
Ibu Sri memakai daster kain batik lengan pendek berwarna biru muda yang agak tipis. Karena tubuhnya yang baru disiram udara dan belum sepenuhnya kering, kain daster itu agak menempel ketat di bagian dada padat dan paha matangnya yang sangat berisi. Rambut basahnya dibungkus rapi dengan handuk kecil, menyisakan jenjang leher putih mulusnya yang berembun titik-titik air segar. Aroma wangi sabun mandi mawar bercampur aroma alami tubuhnya secara tiba-tiba menyeruak memenuhi kamar tidurku yang sempit.
2402Please respect copyright.PENANAyINY7Ipczx
Ibu Sri bersandar di kosen pintu, pemandangan yang sedang telentang di kasur dengan curiga tapi menggemaskan.
2402Please respect copyright.PENANAiPQW0q1bSK
**Ibu Sri**: *(Mengusap menirukan yang basah dengan ujung handuk, suara bernada mengejek dan berkacak pinggang).* "Eee... Bagas... Ibu kira dari tadi suara ngetik di laptop kok ndak kedengaran sama sekali. Katanya mau buru-buru bikin lamaran kerja ke perusahaan *retail*... kok malah tiduran sambil senyum-senyum sendiri melototin HP? Ayo, ngaku... nonton apa kamu itu, Le?"
2402Please respect copyright.PENANAXve9IJ8wG0
Ibu Sri melangkah masuk ke dalam kamarku, berjalan perlahan mendekati kasur tempatku berbaring, tanpa sadar kalau daster basahnya membentuk lekuk tubuh primadonanya dengan sangat sempurna di bawah sorotan lampu kamar.2402Please respect copyright.PENANAtQaGHx8voX


