2597Please respect copyright.PENANAsC9pnCEIrZ2597Please respect copyright.PENANA9bAXtpZcS9
## 📜 **Episode 1: "Udara Panas di Saung Kebun"**
2597Please respect copyright.PENANAnYE6ZUAGXy
2597Please respect copyright.PENANANpbtJnpkzL
Matahari perkebunan sedang terik-teriknya. Suara jangkrik dan kemunculan daun cengkeh terdengar bersahut-sahutan. Di saung bambu tengah kebun, Ayah baru saja pamit naik sepeda motornya menuju warung Pak RT untuk berdiskusi kontrak sewa tanah baru, meninggalkan aku yang sedang menyapu dedaunan kering sambil bertelanjang dada.
2597Please respect copyright.PENANAkt8jRjz6wJ
Tiba-tiba, dari arah jalan setapak rumah utama, terlihat sosok wanita berjalan membawa rantang makanan dan termos es sirup. Ibu datang menyusul.
2597Please respect copyright.PENANAVbdv9AavHn
Gamis kain katun warna merah muda yang digunakannya agak tipis, menempel di tubuh matangnya akibat keringat tipis di leher dan dada. Setiap kali langkah kaki menginjak rumput, bokong montok dan paha berisi putarannya begitu padat. Hijab instan abu-abunya membingkai wajah putihnya yang merona merah karena kepanasan.
2597Please respect copyright.PENANAsH0QgDO80r
**Ibu**: *(Melambaikan tangan sambil tersenyum manis, nadanya sedikit bernyanyi dengan aksen khasnya).* "Eee... Leeee... Anak ganteng Ibu kok malah panas-panasan ndak pakai baju toh? Nanti masuk angin, terus kulitmu yang bersih ini jadi hitam lho..."
2597Please respect copyright.PENANAMGBf1rJqat
Aku menghentikan sapuku, menyapu keringat di dahi sambil menatap tubuh berisinya yang berjalan mendekati saung.
2597Please respect copyright.PENANAjzXZ6AQKBG
**Aku**: "Ayah baru aja berangkat ke rumah Pak RT, Bu. Nanggung ini sedikit lagi kelar nyapunya. Lagian panas begini enak ndak pakai baju, adem kena angin."
2597Please respect copyright.PENANA7002sBkNer
Ibu naik ke atas saung bambu, meletakkan rantang makanan lalu duduk melipat kakinya. Posisi duduknya yang miring membuat gamisnya mengetat di bagian paha gembrot dan pinggul lebarnya. Ibu mengambil kipas anyaman bambu, lalu memanggilku.
2597Please respect copyright.PENANApw02HAmmqD
**Ibu**: *(Cerewet tapi dengan nada bercanda yang menggemaskan).* "Hush! Ya ndak boleh begitu. Kamu itu sudah bujang, umur 23 tahun, masa di kebun telanjang dada begitu? Nanti kalau ada perempuan lewat piye? Ayooo, sini duduk dekat Ibu... Ibu kipasin nih, sayang anak kesayangan Ibu mukanya sampai merah begitu..."
2597Please respect copyright.PENANAHdRa66GUV7
Aku melangkah naik ke saung, duduk tepat di sebelah Ibu. Aroma harum bedak melati dan keringat segar dari tubuh Ibu langsung menyengat indra penciumanku. Sangat tenang, tapi di saat yang sama membuat dadaku berdebar kencang.
2597Please respect copyright.PENANA9vPkK4LzKJ
**Aku**: *(Duduk sangat dekat sampai bahuku menyenggol lengan berisinya).* "Habisnya panas banget hari ini, Bu. Sirupnya mana? Bagas haus banget nih..."
2597Please respect copyright.PENANAq7vJ6TSzmS
**Ibu**: *(Mengambil gelas, menuangkannya es sirup marjan merah. Saat dia menuangkan menuangkan air, posisi hijabnya sedikit tersingkap, menampilkan penampilan leher putih mulusnya yang berembun keringat).* "Ihh...sabar toh, Le... ini Ibu menuangkan. Wong haus saja kok terburu-buru..."
2597Please respect copyright.PENANADxByWQt7mM
Ibu menyerahkan gelas itu. Saat aku meraihnya, jemariku sengaja menyentuh kulit jemari Ibu yang halus dan agak dingin terkena es. Ibu sempat teringat sejenak, mata yang bulat dan teduh menatap mataku dari balik bulu mata yang lentik. Ada hening singkat yang indah di antara kami.
2597Please respect copyright.PENANARzqykZFs9J
**Ibu**: *(Terkekeh pelan dengan senyum primadonanya untuk mencairkan suasana).* "Ihh... kok malah ngeliatin Ibu begitu toh? Ada yang aneh ya di muka Ibu? Apa bedaknya luntur kena keringat?"
2597Please respect copyright.PENANANXl0d853IK
**Aku**: *(Terkeh pelan, meminum es sirup sampai kandas, lalu menatap lekuk dada dan paha berisinya).* "Ndak ada yang aneh, Bu. Cuma mikir aja... Ibu ini makin hari kok makin cantik ya? Pantesan dulu Ayah sampai berani berantem sama orang desa sebelah demi dapetin Ibu..."
2597Please respect copyright.PENANAr7cUsZZNtg
**Ibu**: *(Wajah putihnya seketika merona merah padam. Dia menampar paha telanjangku pelan—sebuah tepukan manja).* "Aduh... Le, Leee! Kamu itu ya, makin gede kok makin pinter menggombal kaya Ayahmu dulu! Jangan godain Ibu ah, ndak sopan kamu godain orang tua sendiri... *ihhh*..."
2597Please respect copyright.PENANAk5XITcIJ2N
Meski omelannya menganut, Ibu tidak menjauhkan duduknya. Malah, dia terus mengibaskan kipas bambunya ke arah dada telanjangku, membuat aroma tubuh matangnya semakin kuat terhirup di saung taman yang sepi itu.
2597Please respect copyright.PENANAc9iKEKWQNh
Suara angin sepoi-sepoi membuat daun-daun cengkeh menyentuh pelan. Di saung bambu yang teduh itu, posisi dudukku—Bagas—dan Ibu Sri semakin dekat. Tepukan manja Ibu di pahaku tadi meninggalkan rasa hangat yang menggelitik sampai ke dada.
Ibu Sri terkekeh manis, membetulkan letak hijab instan abu-abunya yang sedikit mengendur. Kulit wajahnya yang putih bersih merona merah akibat cuaca panas dan godaanku tadi.
Ibu Sri : (Kipas anyaman bambunya masih bergerak mengibasi dada telanjangku, suaranya pelan dan mengayun). "Hush! Kamu itu lho, Gas... 'Bagas, Bagas'... nama bagus-bagus diberi Ayahmu artinya pria tegap gagah, kok kelakuannya malah suka bikin Ibunya deg-degan. Kalau Ayahmu mendengar kamu puji-pujian Ibu cantik begini, bisa kena semprot kamu..."
Bagas : (Menyandarkan siku di lutut, menatap lekat wajah matang Ibu Sri dari samping). "Kan beneran cantik, Bu. Lha wong kemarin waktu Bagas ke warung Bu Tejo aja, bapak-bapak penyewa tanah masih pada nanyain: 'Ibu Sri ikut ke kebun ndak, Gas?'. Ibu itu emang primadona desa dari dulu, Bagas cuma ngomong fakta kok."
Ibu Sri : (Melirikku dengan mata bulatnya yang teduh, bibir bergincu tipisnya tersenyum simpul). "Ihh... dasar ya anak bujang satu ini. Ibu ini sudah kepala empat lho, Gas... badan juga sudah melar makin montok begini gara-gara jarang olah raga, kok ya masih dipuji primadona. Yo wes lah, daripada kamu ngomong ngelantur terus, nih makan risolesnya. Ibu buatkan khusus tadi pagi."
Ibu Sri meraih piring kecil berisi risoles hangat. Saat dia menunduk dan menyodorkan piring itu ke arahku, kain gamis katun merah mudanya tertarik mengetat di bagian dada dan paha gembrotnya. Aroma bedak bayi bercampur wangi keringat melati dari ritme menguar semakin tajam, pas berada tepat di depan hidungku.
Bagas : (Bukannya mengambil risoles, justru tergerak meraih pemahaman tangan halus Ibu Sri). "Bu...ada bekas tepung sama minyak di pipi Ibu."
Ibu Sri : (Tertegun, memegang piring berhenti di udara. Matanya menatap polos penuh keheranan). "Eh? Masa toh, Le? Di sebelah mana?"
Aku memberanikan diri. Jari Ibu diterima bergerak pelan, mengusap lembut tulang pipi putih Ibu Sri yang halus dan hangat. Sentuhan dadakan itu membuat napas Ibu Sri seketika tertahan— terkesiap —pelan. Ibu membayangkan membisu, dadanya yang padat naik-turun agak cepat di balik kain gamisnya.
Bagas : (Berbisik dengan nada rendah, mataku menguncinya). "Di sini, Bu..Nah, udah bersih."
Ibu Sri : (Pipi putihnya seketika merona merah padam. Dia menarik napas dalam-dalam, mengedipkan matanya beberapa kali untuk menguasai diri). "A-Aduh... Bagas... ihhh kamu ini lho..." (Ibunya bertanyan muka sedikit, tapi bibirnya mengulum senyum malu yang sangat manis). "Bikin kaget Ibu saja. Yo wes, nih dimakan risolesnya, jangan malah ngelamun merhatiin muka Ibu terus..."
Aku mengambil risoles itu dan mengunyahnya. Ibu Sri kembali mengibaskan kipas bambunya, tapi kali ini gerakan tangannya agak canggung dan agak cepat. Posisi duduknya tidak dia jauhkan sama sekali, malah bagian paha gembrotnya yang terbungkus kain gamis lembut itu menyentuh tipis dengan paha celana luarku.
Rasa hangat dari kulit paha matangnya menembus kain, membuat darah muda usia 23 tahunku berdesir hebat. Di tengah kebun yang sepi ini, hanya ada aku, Ibu Sri yang kelewat menggoda, dan suara angin siang yang menjadi saksi bisu benih-benih gairah pembohong yang mulai tumbuh.
2597Please respect copyright.PENANA7LXL6PpwVm
2597Please respect copyright.PENANAS4tEduu9ti
ns216.73.216.95da2


