1766Please respect copyright.PENANALOnERffMiXBab 2
Chapter 2: Naik Bus Penuh Pria
1766Please respect copyright.PENANAvPKMY51JO5
Pengumuman pemanggilan penumpang akhirnya terdengar dari speaker terminal.
“Penumpang tujuan Lampung, bus nomor… silakan naik. Keberangkatan segera.”
Vani mengangkat kepala. Jantungnya langsung berdetak lebih kencang. Ia berdiri pelan, merapikan jaket dan cadarnya sekali lagi, lalu berjalan menyusuri lorong menuju area parkir bus. Tas kecilnya digenggam erat di dada.
Begitu melihat bus yang dimaksud, langkahnya sempat terhenti.
Bus itu sudah hampir penuh. Dari pintu masuk yang terbuka, ia bisa melihat deretan kursi yang didominasi oleh laki-laki. Satu per satu pria dewasa naik dengan membawa tas atau koper kecil. Usia mereka sekitar 25 sampai 45 tahun. Ada yang berkaos oblong, ada yang berjaket, ada yang masih memakai kemeja kerja. Hampir tidak ada perempuan. Sama sekali.
Vani menelan ludah. Rasa waswas yang sejak tadi mengendap di dada langsung naik ke tenggorokan. Ia sempat berdiri di bawah pintu bus selama beberapa detik, ragu. Tapi tiket sudah di tangannya. Tidak ada pilihan lain. Terminal sudah mulai sepi, dan bus berikutnya baru berangkat dini hari.
Dengan langkah berat, ia menaiki anak tangga bus.
Di dalam, bau parfum campur keringat pria langsung tercium. Lampu bus sudah agak redup. Beberapa penumpang menoleh saat melihat sosok bercadar hitam masuk. Tatapan mereka tidak hanya penasaran. Ada yang mengamati dari ujung kaki sampai ke matanya yang terlihat di balik cadar. Vani menunduk dalam-dalam, berjalan pelan menyusuri lorong sempit sambil mencari nomor kursi 14B.
Kursinya berada di bagian tengah bus. Tepat di antara dua kursi yang sudah terisi.
Di sebelah kiri, seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun sudah duduk dengan santai. Jaket hitam, rambut agak panjang, bau parfum kayu yang familiar. Di sebelah kanan, pria yang lebih tua, mungkin empat puluhan, sedang memainkan ponsel.
Vani membeku sejenak di lorong.
Pria di sebelah kiri… adalah pria yang tadi ia tabrak di terminal.
Pria yang payudaranya sempat menempel penuh ke dadanya.
Wajah Vani langsung panas. Jantungnya berdegup kencang sekali. Ia sempat berpikir untuk meminta pindah kursi, tapi semua kursi sudah terisi. Tidak ada yang kosong.
Dengan tangan gemetar, ia duduk di kursi 14B. Tubuhnya langsung terjepit di antara dua pria itu. Bahu kirinya hampir menempel ke bahu pria berusia tiga puluhan. Bahu kanannya menyentuh lengan pria yang lebih tua. Rok panjangnya terlipat di antara kedua kakinya yang dirapatkan erat. Jaketnya ia kancingkan sampai atas, seolah ingin menutupi tubuhnya sepenuhnya.
Pria di sebelah kiri menoleh sedikit. Matanya sempat bertemu dengan mata Vani di balik cadar. Ada kilatan pengenalan di matanya. Ia tidak bilang apa-apa, hanya mengangguk kecil, lalu menoleh ke depan lagi.
Vani menunduk secepat mungkin. Pipinya terbakar. Bau parfum kayu itu sama persis dengan yang ia cium tadi di terminal. Ingatan tentang payudaranya yang menempel di dada pria itu langsung muncul lagi. Hangat. Padat. Memalukan.
Di depan dan belakangnya, banyak pria lain yang duduk. Beberapa di antara mereka sempat melirik ke arahnya. Ada yang berbisik pelan ke teman di sebelahnya. Vani tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi ia bisa merasakan tatapan itu menempel di tubuhnya.
Ia memegang tasbih digital dengan erat. Jari-jarinya mulai memutar pelan.
“Astaghfirullah… Ya Allah… tenangkan hatiku…”
Bus mulai digetarkan oleh mesin yang dihidupkan. Pintu ditutup. Lampu dalam bus semakin redup. Di luar jendela, lampu-lampu terminal perlahan bergerak mundur.
Vani duduk kaku di kursinya yang sempit. Kedua kakinya dirapatkan seerat mungkin. Bahu kirinya masih terasa panas karena hampir menempel ke pria di sebelahnya. Napasnya pendek. Di balik cadar hitam itu, matanya terpejam rapat.
Ia belum tahu bahwa perjalanan malam ini baru saja dimulai.
1766Please respect copyright.PENANA4qixsA8mEm
Bus mulai melaju perlahan meninggalkan terminal Surabaya. Lampu-lampu di dalam kabin dimatikan satu per satu hingga suasana menjadi gelap gulita. Hanya cahaya redup dari jalanan yang sesekali masuk melalui jendela. Mesin bus berdengung stabil, dan getaran lantai terasa di seluruh tubuh penumpang.
Vani duduk di kursi tengah, diapit dua pria. Di sebelah kanannya duduk pria berusia sekitar tiga puluhan yang tadi sempat membantu menahannya saat ia terpeleset di terminal. Di sebelah kiri, pria lain yang lebih muda dan berbadan agak besar. Vani menarik jaketnya lebih rapat, mencoba mengabaikan rasa canggung.
Tiba-tiba, tangan pria di sebelah kanan mulai bergerak. Awalnya hanya menyentuh paha Vani secara “tidak sengaja”. Jari-jarinya mengusap pelan kain rok yang menutupi paha atasnya. Vani menegang.
Pria itu mencondongkan tubuh sedikit dan berbisik pelan di dekat telinga Vani, suaranya rendah dan penuh nada menggoda.
“Tadi di terminal… aku sempat pegang payudaramu, Nona. Kenyal banget. Aku masih ingat rasanya.”
Vani mematung. Pipinya memanas. Ia ingin mendorong tangan itu, tapi malu. Suara di dalam bus sangat sepi. Kalau ia berteriak, semua orang pasti akan menoleh.
Tangan pria itu semakin berani. Ia meraba pinggul Vani perlahan, lalu jari-jarinya menyelinap ke bawah rok. Vani menahan napas. Telapak tangan kasar itu langsung menyentuh paha dalamnya yang mulus, lalu naik lebih tinggi hingga menyentuh kain celana dalam.
Vani menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Jari-jari pria itu mulai mengusap memeknya dari luar celana dalam. Gerakannya pelan tapi tegas, menekan klitoris yang sudah mulai membengkak. Vani menggeliat pelan di kursi, mencoba menjauh, tapi ruangnya sempit. Di sisi lain, pria di sebelah kiri yang selama ini diam tiba-tiba ikut bergerak.
Tangan pria di kiri menyelinap ke dalam jaket Vani dari arah bawah. Jari-jarinya langsung meraba payudara kiri Vani dari luar bra. Ia meremas pelan, lalu menggesek puting yang sudah mengeras.
Vani menahan erangan di tenggorokan. Kedua tangan pria itu bekerja bersamaan. Satu mengusap memeknya dari luar celana dalam dengan gerakan memutar yang semakin cepat, sementara yang lain meremas payudaranya bergantian. Celana dalam Vani sudah basah. Cairan mulai merembes keluar, membasahi jari pria di sebelah kanan.
“Sudah basah ya…” bisik pria di kanan dengan nada puas. “Padahal baru disentuh sedikit.”
Vani menggeleng pelan, tapi tubuhnya berkhianat. Nafsunya naik perlahan meskipun ia berusaha menahannya. Ia menggigit bibir bawah semakin kuat hingga hampir terasa sakit, takut mengeluarkan suara. Kedua pahanya mulai gemetar.
Pria di kiri membuka sedikit kancing jaket Vani dan memasukkan tangan lebih dalam, kali ini langsung meraba kulit payudara yang hangat. Jari-jarinya mencubit puting Vani pelan, membuat tubuh gadis itu tersentak.
Di dalam bus yang gelap, hanya terdengar suara mesin dan napas-napas yang semakin memberat. Vani menutup mata, mencoba menahan diri. Tapi setiap usapan di memeknya membuat pinggangnya ingin terangkat, dan setiap cubitan di putingnya membuat cairan semakin banyak keluar.
Kedua pria itu bergantian. Terkadang pria di kanan yang meremas payudaranya, sementara pria di kiri yang mengusap memeknya. Terkadang sebaliknya. Mereka bekerja sama tanpa bicara banyak, seolah sudah paham apa yang harus dilakukan.
Vani semakin basah. Celana dalamnya sudah basah total. Ia bisa merasakan jari pria di kanan mulai menekan lebih kuat, seolah ingin menyelinap ke dalam kain tipis itu. Tubuhnya panas. Nafsunya yang semula ia tahan kini mulai sulit dikendalikan.
Ia hanya bisa menggigit bibirnya semakin kuat, menahan erangan yang ingin keluar, sementara bus terus melaju dalam kegelapan menuju Lampung.1766Please respect copyright.PENANAoUrlNu0D6K


