1940Please respect copyright.PENANArBn6HqCoujBab 3
Chapter 3: Godaan Semakin Berat
1940Please respect copyright.PENANA4mwgFMuhxz
Perjalanan semakin larut malam. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Bus terus melaju di jalan tol yang gelap gulita. Kebanyakan penumpang sudah tertidur pulas dengan kepala tersandar di jendela atau bersandar ke sandaran kursi. Suasana di dalam kabin sangat sepi. Hanya terdengar dengungan mesin yang stabil, suara angin yang sesekali masuk lewat celah jendela, dan getaran pelan lantai bus.
Vani masih duduk diapit dua pria. Tubuhnya tegang sejak tadi. Celana dalamnya sudah basah total. Ia bisa merasakan kain tipis itu menempel di memeknya yang sudah bengkak dan sensitif. Ia mencoba menekan kedua pahanya rapat-rapat, menarik roknya ke bawah sejauh mungkin, tapi tangan pria di sebelah kanan tetap tidak pergi dari pahanya.
Tiba-tiba pria itu bergerak. Dalam gelap, Vani mendengar suara resleting yang dibuka pelan. Jantungnya berdegup kencang. Sebelum ia sempat menarik tangannya, pria itu sudah menggenggam pergelangan tangan kanannya dengan kuat dan menariknya ke arah pangkuannya.
Vani merasakan sesuatu yang panas, keras, dan berdenyut disentuhkan ke punggung tangannya. Kontol pria itu sudah tegang penuh. Kulitnya panas, urat-uratnya terasa jelas di telapak tangan Vani yang kecil.
“Pegang,” bisik pria itu di dekat telinga Vani. Suaranya rendah, kasar, dan penuh tekanan. “Pegang sekarang.”
Vani menggeleng pelan. Matanya terpejam rapat di balik cadar. Ia ingin menarik tangannya, tapi genggaman pria itu terlalu kuat.
“Jangan bandel,” bisik pria itu lagi. “Kocok. Pelan aja. Kalau berisik, aku buka cadarmu di depan semua orang.”
Ancaman itu membuat Vani membeku. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia akhirnya memegang batang kontol itu. Panasnya terasa menembus telapak tangannya. Ia mulai menggerakkan tangannya naik-turun dengan kaku dan pelan. Pria itu mengerang pelan di dekat telinganya, napasnya memburu.
“Iya… begitu. Lebih kencang sedikit.”
Sementara Vani dipaksa mengocok kontol pria di kanan, pria di sebelah kiri tidak tinggal diam. Tangan kanannya yang sudah berada di dalam rok Vani sejak tadi kini menyelinap lebih dalam. Jari-jari kasarnya menyelinap masuk ke dalam celana dalam yang sudah basah. Vani tersentak pelan saat ujung jari itu langsung menyentuh bibir memeknya yang sudah licin.
Tanpa basa-basi, pria itu mulai menggesek klitoris Vani dengan ujung jari tengahnya. Gerakannya cepat, memutar, dan tepat mengenai titik yang paling sensitif. Vani menahan napas sekuat tenaga. Matanya terpejam rapat. Sensasi di memeknya yang digesek kasar bercampur dengan kontol panas yang harus ia kocok membuat kepalanya pusing hebat.
“Sudah basah banget,” bisik pria di kiri dengan nada puas. “Dari tadi basah, ya? Enak digesek begini?”
Vani tidak menjawab. Ia hanya menggigit bibir bawahnya semakin kuat hingga hampir terasa sakit. Tangan kanannya terus bergerak mengocok kontol pria di kanan, sementara jari di dalam celana dalamnya bergerak semakin cepat dan semakin dalam. Pria itu memasukkan satu jari penuh ke dalam lubang Vani, menggerakkannya keluar-masuk sambil terus menggesek klitorisnya dengan ibu jari.
Vani merasa pinggangnya ingin terangkat. Kakinya gemetar di bawah rok. Ia mencoba menahan diri, mencoba mengabaikan sensasi yang semakin menumpuk di perut bawahnya, tapi tubuhnya berkhianat. Setiap usapan di klitorisnya membuat cairan semakin banyak keluar, membasahi jari pria itu dan menetes ke kain kursi.
Pria di kanan mulai menggerakkan pinggulnya pelan, mendorong kontolnya naik-turun di genggaman tangan Vani. Ia mencondongkan tubuh lebih dekat.
“Pegang lebih kencang. Iya… begitu. Kamu pintar juga ternyata.”
Vani merasa wajahnya memanas di balik cadar. Malu, takut, dan nafsu bercampur aduk menjadi satu. Ia menggigit bibirnya semakin kuat, menahan erangan yang ingin keluar dari tenggorokannya. Jari di dalam memeknya sekarang sudah dua. Pria di kiri menggerakkannya dengan cepat dan dalam, membuat suara becek yang pelan terdengar di antara mereka.
Sensasi itu menumpuk terlalu cepat.
Perut bawah Vani terasa kencang sekali. Kakinya gemetar hebat. Ia mencoba menahan, mencoba mengalihkan pikiran, tapi gelombang kenikmatan yang selama ini ia tahan akhirnya meledak tanpa bisa dibendung.
Vani orgasme untuk pertama kalinya di dalam bus.
Tubuhnya menegang hebat. Punggungnya melengkung sedikit di kursi. Ia menahan napas sekuat tenaga, menggigit bibir bawah hingga hampir berdarah, agar tidak mengeluarkan suara sama sekali. Memeknya berdenyut kuat di sekitar jari-jari pria itu, menyemprotkan cairan yang semakin membasahi tangan pria tersebut dan menetes ke kain kursi di bawahnya. Kakinya gemetar hebat, jari-jari kakinya menggulung di dalam sepatu.
Pria di kanan mengerang pelan saat merasakan tangan Vani mencengkeram kontolnya lebih kuat karena orgasme.
“Muncrat di bus… dasar lonte,” bisiknya dengan nada puas. “Pertama kali ya?”
Vani tidak menjawab. Tubuhnya masih gemetar. Napasnya tersengal pelan di balik cadar. Ia merasa sangat lemah dan hancur. Cadarnya yang tadi menutupi seluruh wajah sedikit bergeser karena gerakan tubuhnya saat orgasme. Ujung cadar turun hingga ke dagu, memperlihatkan sebagian wajah cantiknya — bibir merah yang digigit hingga memerah, dagu yang runcing, dan sedikit pipi yang memerah karena malu dan kenikmatan.
Pria yang duduk di kursi seberang gang, yang selama ini pura-pura tidur dengan kepala tersandar di jendela, tiba-tiba membuka mata. Dalam gelap, ia melihat gerakan-gerakan mencurigakan di kursi Vani. Saat cadar Vani sedikit terbuka dan wajahnya terlihat, pria itu langsung menyeringai lebar.
Ia berdiri sedikit dari kursinya dan berteriak dengan suara keras yang memecah kesunyian bus:
“Hei!! Ada lonte bercadar di sini! Lonte bercadar lagi diobok-obok di kursi belakang!! Lihat! Wajahnya kelihatan!”
Seluruh penumpang yang tadinya tertidur langsung terbangun kaget. Beberapa orang menyalakan lampu ponsel mereka. Cahaya putih dari layar ponsel menyinari bagian dalam bus yang gelap. Beberapa penumpang di kursi depan dan belakang langsung menoleh ke arah Vani. Suasana yang tadinya sepi tiba-tiba menjadi ricuh dan penuh bisikan.
Vani membeku di kursinya. Wajahnya yang sebagian terlihat di balik cadar yang turun langsung memucat.1940Please respect copyright.PENANAym2HVdcDp6


