2029Please respect copyright.PENANAtzALtIIAZMBab 1
Chapter 1: Akhir Semester di Pesantren
2029Please respect copyright.PENANA1LvN5fsEaH
2029Please respect copyright.PENANAY6cxBX9KL1
Vani baru saja menyelesaikan ujian semester terakhir di pondok pesantren putri. Nilai-nilainya bagus, bahkan termasuk yang tertinggi di kelasnya. Saat pengumuman resmi libur semester dibacakan di aula, suasana asrama langsung berubah menjadi keramaian yang hampir tak terkendali. Teriakan gembira, pelukan, dan tawa memenuhi koridor panjang berlantai keramik putih. Beberapa santriwati berlarian keluar kamar sambil membawa koper, ada yang menangis bahagia, ada pula yang sudah menyanyikan lagu-lagu daerah dengan suara keras.
Vani berdiri di sudut aula, tersenyum di balik cadar hitamnya. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia akan mudik sendirian ke Lampung. Ia merasa dadanya sesak campur aduk. Rindu rumah sudah lama mengendap di hatinya, terutama rindu pada ibu yang selalu memasak sayur asem kesukaannya dan adik laki-lakinya yang selalu rewel meminta oleh-oleh. Tapi di sisi lain, ada rasa takut yang pelan-pelan merayap. Ia belum pernah bepergian jauh sendirian. Dua tahun terakhir, setiap kali mudik, selalu ada temannya atau dijemput saudara.
“Vani…” suara lembut Ustadzah Fatimah membuatnya menoleh. Wanita paruh baya itu berdiri di sampingnya, wajahnya lembut tapi penuh perhatian. “Nilaimu bagus sekali semester ini. Ustadzah bangga.”
Vani menunduk hormat. “Alhamdulillah, Ustadzah. Berkat doa Ustadzah juga.”
Ustadzah Fatimah memegang kedua bahunya dengan lembut. “Hati-hati ya di jalan. Jaga adabmu. Jangan lupa sholat, jangan lupa dzikir. Dan… jaga diri. Dunia luar beda dengan di pondok. Banyak yang bisa menggoda mata dan hati.”
Vani mengangguk pelan. “Insyaallah, Ustadzah. Vani akan jaga diri.”
Setelah itu, teman-temannya bergantian memeluknya. Siti, sahabat karibnya sejak tahun pertama, bahkan menangis sambil memeluk erat. “Jangan lupa chat aku ya kalau sudah sampai. Aku tunggu cerita perjalananmu.”
Vani membalas pelukan itu dengan hangat. “Iya, Sit. Kamu juga hati-hati kalau pulang ke Madura.”
Sore itu, setelah sholat Ashar berjamaah, Vani kembali ke kamar asramanya di lantai dua. Kamar itu kecil, hanya berisi dua ranjang susun, lemari kayu, dan meja belajar. Teman sekamarnya sudah berangkat lebih dulu sejak pagi. Suasana kamar terasa sepi dan agak pengap. Vani duduk di tepi ranjang bawah, menatap koper kecil yang sudah ia siapkan semalam.
Ia berdiri dan berjalan ke cermin kecil di dinding. Perlahan, ia membuka cadarnya sebentar untuk mengusap wajah. Wajah oval dengan kulit sawo matang, alis tebal, dan bibir yang sedikit tebal. Matanya besar dan hitam. Ia menghela napas, lalu memasang kembali cadar hitamnya dengan rapi hingga hanya matanya yang terlihat.
Kemudian ia berganti pakaian untuk perjalanan. Ia memakai dalaman hitam ketat, lalu rok panjang hitam yang longgar hingga mata kaki. Di atasnya, ia mengenakan kemeja hitam longgar dan jaket abu-abu oversized yang menutupi tubuh bagian atas. Meski tertutup rapat, bentuk tubuhnya tetap sulit disembunyikan. Payudara besar yang menonjol di balik jaket, pinggang yang ramping, dan pinggul lebar yang membuat roknya sedikit menonjol di bagian belakang. Dua tahun di pondok membuat tubuhnya semakin berisi. Dulu ia kurus, tapi sekarang proporsional dan montok. Ia sendiri jarang menyadarinya, karena di pondok semua memakai pakaian longgar yang sama.
Vani menatap bayangannya di cermin cukup lama. “Ya Allah… jagalah aku,” bisiknya pelan.
Ia memasukkan beberapa barang terakhir ke tas kecil: baju ganti dua stel, mukena, Al-Qur’an saku, buku catatan, dan sedikit uang saku yang diberikan ibu lewat transfer minggu lalu. Ia juga membawa sebotol kecil minyak wangi non-alkohol yang biasa ia pakai. Aroma lembut mawar dan kayu manis.
Pukul empat sore, Vani sudah berada di depan gerbang pondok. Beberapa satpam dan ustadzah yang jaga mengantarnya sampai ke jalan raya. Ia menaiki angkutan kota yang menuju terminal. Di dalam angkutan yang sesak, ia duduk di pojok sambil memegang tas di pangkuan. Pandangannya terus menunduk. Setiap kali ada penumpang laki-laki yang naik, ia otomatis menunduk lebih dalam.
Perjalanan menuju terminal memakan waktu hampir satu jam karena macet. Vani mengisi waktu dengan berdzikir pelan di balik cadar. Subhanallah… Alhamdulillah… Allahu Akbar… La ilaha illallah… Jari-jarinya memutar tasbih digital kecil yang selalu ia bawa.
Saat tiba di terminal bus Surabaya, udara langsung terasa lebih panas dan berisik. Suara pedagang asongan, klakson bus, teriakan kenek, dan orang-orang yang berlarian memenuhi telinga. Bau asap knalpot bercampur dengan bau makanan gorengan dari warung-warung pinggir. Vani berjalan pelan, agak canggung. Setelah dua tahun hidup di lingkungan yang tertutup dan tenang, terminal terasa seperti dunia yang terlalu ramai dan kasar.
Ia mencari loket bus tujuan Lampung. Ada beberapa loket yang berjejer. Ia antre di belakang dua orang laki-laki. Saat gilirannya tiba, petugas loket yang berusia sekitar empat puluhan menatapnya sebentar.
“Mau ke mana, Mbak?”
“Lampung, Pak. Malam ini kalau ada.”
Petugas mengetik di komputer lama. “Jam tujuh malam masih ada sisa satu kursi. Busnya AC, tapi sudah hampir penuh. Tiketnya dua ratus ribu.”
Vani menyerahkan uang. Ia menerima selembar tiket berwarna biru. Nomor kursi 14B. Bagian tengah.
“Terima kasih, Pak.”
Petugas hanya mengangguk. “Tunggu di ruang tunggu sebelah. Busnya nanti dipanggil.”
Vani mengucapkan terima kasih lagi, lalu berjalan menuju ruang tunggu. Ruang itu cukup luas, berpendingin AC yang agak lemah, dengan bangku-bangku panjang dari plastik. Beberapa penumpang sudah duduk. Kebanyakan laki-laki. Ada yang tidur dengan kepala tersandar, ada yang main HP, ada yang ngobrol keras.
Vani memilih bangku di pojok yang relatif sepi. Ia duduk dengan tegak, kedua kaki dirapatkan, tas diletakkan di pangkuan. Rok panjangnya ia rapikan agar tidak terbuka. Cadarnya ia pastikan tetap rapi. Dari balik cadar, matanya sesekali melirik sekeliling.
Masih ada waktu hampir tiga jam sebelum busnya berangkat. Waktu yang terasa sangat lama.
Ia membuka Al-Qur’an saku dan mulai membaca pelan. Suaranya hanya terdengar sebagai gumaman di balik cadar. Tapi pikirannya sulit fokus. Ia terus memikirkan ibu di rumah. Sudah dua tahun ia tidak pulang. Ibu pasti sudah memasak banyak makanan kesukaannya. Adiknya pasti sudah besar. Ayahnya… semoga sehat.
Sesekali ada penumpang laki-laki yang lewat di depannya. Beberapa menoleh ke arahnya. Ada yang menatap agak lama ke arah cadar dan tubuhnya yang tertutup jaket. Vani langsung menunduk lebih dalam. Pipinya terasa panas. Ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. Di pondok, semua perempuan. Di sini, ia merasa seperti orang asing yang mencolok.
Ia menghela napas panjang dan mencoba tenang. Tangannya memegang tasbih digital lagi. “Astaghfirullah… Ya Allah, jagalah perjalanan hamba-Mu ini. Jauhkan dari segala fitnah dan bahaya…”
Waktu terus berjalan. Pukul lima. Pukul setengah enam. Langit di luar terminal mulai berubah jingga. Vani masih duduk di bangku yang sama. Ia sudah membaca beberapa juz, sudah berdzikir ratusan kali, sudah memikirkan banyak hal.
Ia teringat nasihat Ustadzah Fatimah. “Dunia luar beda dengan di pondok. Banyak yang bisa menggoda mata dan hati.”
Vani menelan ludah. Ia berharap perjalanan malam ini berjalan lancar. Busnya penuh, katanya. Tapi ia belum tahu seberapa penuh, dan siapa saja yang akan menemaninya sepanjang malam dari Surabaya menuju Lampung.
Ia menunduk lagi, memeluk tas di pangkuannya lebih erat. Di balik cadar hitam itu, matanya terpejam sejenak.
“Ya Allah… semoga semuanya baik-baik saja.”
2029Please respect copyright.PENANAddkniUX4LA
Waktu terus berjalan pelan di ruang tunggu terminal. Pukul setengah enam. Langit di luar sudah mulai gelap. Lampu-lampu terminal menyala kuning pucat. Vani masih duduk di bangku pojok, memeluk tas di pangkuannya. Al-Qur’an saku sudah ditutup. Jari-jarinya terus memutar tasbih digital dengan gerakan otomatis.
Perlahan, ia mulai menyadari sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Hampir semua penumpang yang menunggu di ruang tunggu ini… laki-laki.
Ia menghitung diam-diam. Satu, dua, tiga… terus sampai lebih dari tiga puluh lima orang. Ada yang duduk, ada yang berdiri sambil merokok di dekat pintu, ada yang ngobrol keras sambil tertawa. Usia mereka beragam. Ada yang masih muda sekitar dua puluhan, ada yang sudah beruban. Tidak ada satupun perempuan selain dirinya.
Vani menelan ludah. Jantungnya mulai berdetak lebih kencang. Di pondok, ia terbiasa dikelilingi perempuan. Di sini, ia merasa seperti satu-satunya titik yang mencolok di tengah kerumunan pria. Cadar hitamnya, rok panjangnya, jaket oversized-nya… semuanya terasa seperti magnet yang menarik perhatian.
Beberapa pasang mata sempat melirik ke arahnya. Ada yang cepat mengalihkan pandangan, ada yang menatap agak lama sebelum menunduk lagi. Vani langsung menunduk lebih dalam. Pipinya terasa panas di balik cadar.
“Astaghfirullah…” gumamnya pelan. “Ya Allah, tenang… tenang…”
Rasa waswas mulai merayap. Ia merasa ingin segera naik bus dan duduk di kursi yang agak tertutup. Tapi busnya masih lama. Masih ada waktu lebih dari satu jam.
Tiba-tiba perutnya terasa tidak nyaman. Mungkin karena terlalu banyak minum air putih sejak sore. Ia butuh ke toilet.
Vani ragu sejenak. Toilet terminal biasanya agak jauh, dan ia harus melewati kerumunan laki-laki itu. Tapi rasa ingin buang air sudah tidak bisa ditahan. Akhirnya ia berdiri pelan, merapikan rok dan jaketnya, lalu berjalan dengan langkah hati-hati menyusuri lorong ruang tunggu.
Matanya terus menunduk. Ia berusaha tidak menabrak siapa pun. Tapi rasa waswas membuat langkahnya menjadi kaku dan agak ceroboh. Lantai terminal agak licin karena baru saja dipel.
Tepat di dekat pintu toilet pria dan wanita yang bersebelahan, kaki Vani tiba-tiba terpeleset.
“Ah—!”
Badannya kehilangan keseimbangan. Tas di tangannya terlepas. Ia terjatuh ke depan dengan cepat. Dalam sekejap, dadanya menabrak sesuatu yang keras dan hangat.
Payudaranya yang besar menempel penuh ke dada seorang pria.
Vani membeku.
Pria itu berdiri tepat di depannya. Tubuhnya tegap, berbau parfum kayu yang agak tajam. Jaket Vani terbuka sedikit karena benturan, sehingga payudaranya yang terbungkus dalaman ketat menekan langsung ke dada pria tersebut. Tekanan itu terasa jelas. Lembut, penuh, dan panas.
Vani terkejut hebat. Matanya membelalak di balik cadar. Wajahnya langsung memerah panas. Ia cepat-cepat mendorong tubuhnya menjauh, tapi karena masih goyah, tangannya tanpa sengaja bertumpu di dada pria itu sebentar.
“A-astaghfirullah… maaf… maaf banget, Pak…” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Ia membungkuk dalam-dalam, mengambil tasnya dengan buru-buru.
Pria itu hanya terdiam sejenak. Matanya sempat melirik ke arah dada Vani yang masih naik-turun karena napasnya yang pendek. Lalu ia mengangguk pelan. “Gapapa, Mbak. Hati-hati.”
Vani tidak berani melihat wajahnya. Ia hanya mengangguk cepat, lalu berbalik dan hampir berlari masuk ke toilet wanita. Pintu toilet ditutupnya dengan tergesa. Di dalam, ia langsung bersandar di dinding, menutup wajah dengan kedua tangan.
Jantungnya berdegup kencang sekali. Pipinya terbakar. Payudaranya masih terasa panas di bekas tempat menempel tadi. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri di dada.
“Ya Allah… malu banget…” bisiknya pelan. “Kenapa aku ceroboh sekali…”
Ia berdiri di depan wastafel, membasuh tangan dengan air dingin, mencoba menenangkan diri. Di cermin, matanya terlihat sedikit basah karena malu. Cadarnya agak bergeser. Ia merapikannya dengan tangan gemetar.
Setelah beberapa menit, napasnya mulai stabil. Ia buang air dengan cepat, mencuci tangan lagi, lalu keluar dari toilet dengan langkah lebih hati-hati.
Di ruang tunggu, ia langsung kembali ke bangku pojoknya. Duduk dengan tubuh kaku, kedua kaki dirapatkan erat, tas dipeluk di dada seolah ingin menutupi dirinya sepenuhnya. Matanya menunduk, tidak berani melihat ke arah mana pun.
Di balik cadar hitam itu, wajah Vani masih panas. Peristiwa barusan terus terputar di kepalanya. Payudaranya yang menempel. Bau parfum pria itu. Suara rendahnya yang bilang “gapapa”.
Ia menggigit bibir bawah.
“Astaghfirullah… Astaghfirullah…”
Waktu terus berjalan. Busnya masih belum dipanggil. Dan rasa waswas di dada Vani… semakin dalam.2029Please respect copyright.PENANA5GLgl6bsvf


