1256Please respect copyright.PENANA0s1Xr55WhDBab 8
Bab 8: Air Mata yang Tak Berhenti
Sejak Pak Budi mulai memanggilnya lebih sering, Ratna merasa seperti hidupnya sudah tidak lagi menjadi miliknya sendiri. Setiap kali ponselnya bergetar dan muncul nama Pak Budi di layar, jantungnya langsung berdetak sangat kencang. Ia merasa takut, lelah, dan sangat kotor secara bersamaan. Ia sudah tidak lagi memiliki tenaga untuk melawan. Ia hanya bisa menangis dan menuruti apa yang Pak Budi inginkan.
Dalam minggu pertama setelah kejadian pertama di pos satpam, Pak Budi sudah memanggilnya sebanyak empat kali. Kadang di siang hari saat jam istirahat, kadang di sore hari setelah sekolah sepi. Setiap kali dipanggil, Ratna selalu menangis. Ia menangis saat dipaksa melayani Pak Budi, ia menangis setelah semuanya selesai, dan ia juga menangis saat pulang ke rumah. Air matanya seolah tidak pernah berhenti mengalir.
Suatu siang, Pak Budi mengirim pesan dan memintanya datang ke pos satpam setelah jam istirahat kedua. Ratna yang saat itu sedang berada di ruang guru langsung merasa dadanya sesak. Ia baru saja melayani Pak Budi dua hari yang lalu, dan sekarang ia sudah dipanggil lagi. Ia merasa sangat lelah. Ia ingin membalas pesan dan memohon agar diberi waktu, tetapi ia takut jika ia menolak, Pak Budi akan menyebarkan video itu.
Dengan perasaan yang sangat berat, Ratna akhirnya pergi ke pos satpam. Begitu masuk ke ruangan kecil, Pak Budi langsung mendorongnya ke sofa tanpa banyak bicara. Ratna menangis sambil mencoba menahan tangan Pak Budi.
“Pak Budi… tolong… saya masih capek…” Ratna menangis. “Saya baru dua hari yang lalu… tolong beri saya waktu…”
Pak Budi tidak peduli dengan permohonannya. Ia membuka kancing kemeja Ratna dengan kasar dan memaksa Ratna untuk melayaninya. Ratna menangis sepanjang proses. Ia menangis saat Pak Budi memaksa kontolnya masuk ke mulutnya, ia menangis saat Pak Budi memaksanya berbaring di sofa, dan ia menangis saat Pak Budi masuk ke dalam tubuhnya dengan kasar.
Setiap kali Pak Budi menggerakkan pinggulnya, Ratna hanya bisa menangis dan memohon ampun dalam hati. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa sangat berdosa. Ia merasa seperti sedang melakukan dosa besar yang tidak akan pernah bisa diampuni. Ia adalah seorang guru, ia adalah seorang wanita yang berhijab, tetapi sekarang ia harus melayani seorang pria yang bukan suaminya di dalam ruangan kecil pos satpam sekolah.
Setelah selesai, Pak Budi berdiri dan memakai celananya kembali. Ia menoleh ke Ratna yang masih menangis di sofa dan berkata dengan nada dingin.
“Jangan lupa, kamu milik saya. Besok saya akan hubungi kamu lagi.”
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menangis sambil memakai bajunya dengan tangan gemetar. Setelah Pak Budi keluar dari ruangan, Ratna masih duduk di sofa sambil menangis. Ia merasa sangat hancur. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa seperti sudah kehilangan segalanya.
Keesokan harinya, Pak Budi memanggilnya lagi. Kali ini ia memintanya datang ke pos satpam setelah jam pelajaran terakhir. Ratna yang saat itu sedang membereskan buku di ruang guru langsung merasa lemas. Ia baru saja melayani Pak Budi kemarin, dan sekarang ia sudah dipanggil lagi. Ia merasa sangat ingin menolak, tetapi ia takut jika ia menolak, Pak Budi akan menyebarkan video itu.
Dengan perasaan yang sangat berat, Ratna pergi ke pos satpam. Begitu masuk ke ruangan kecil, ia langsung menangis sebelum Pak Budi menyentuhnya. Ia menangis sambil memegang lengan Pak Budi dan memohon.
“Pak Budi… tolong… saya tidak sanggup lagi…” Ratna menangis. “Saya baru kemarin… tolong beri saya waktu… saya benar-benar tidak bisa…”
Pak Budi menatap Ratna yang sedang menangis di depannya. Wajahnya tetap datar. Ia kemudian melepaskan tangan Ratna dan mendorongnya ke sofa.
“Kamu sudah tahu akibatnya kalau kamu menolak,” katanya dingin. “Jangan buat saya harus mengingatkanmu lagi.”
Ratna menangis semakin kencang. Ia merasa sangat lelah dan sangat putus asa. Ia merasa seperti sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan. Akhirnya ia hanya bisa diam dan membiarkan Pak Budi melakukan apa saja terhadap tubuhnya.
Sepanjang proses, Ratna hanya bisa menangis. Ia menangis saat Pak Budi membuka bajunya, ia menangis saat Pak Budi memaksa kontolnya masuk ke mulutnya, dan ia menangis saat Pak Budi masuk ke dalam tubuhnya dengan kasar. Setiap kali Pak Budi menggerakkan pinggulnya, Ratna merasa seperti sedang kehilangan sebagian dari dirinya sendiri. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa sangat berdosa.
Setelah selesai, Pak Budi berdiri dan memakai celananya kembali. Ia menoleh ke Ratna yang masih menangis di sofa dan berkata dengan nada dingin.
“Besok saya akan hubungi kamu lagi. Jangan coba-coba untuk menolak.”
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menangis sambil memakai bajunya dengan tangan gemetar. Setelah Pak Budi keluar dari ruangan, Ratna masih duduk di sofa sambil menangis. Ia merasa sangat hancur. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa seperti sudah kehilangan segalanya.
Dalam minggu yang sama, Pak Budi memanggil Ratna sebanyak tiga kali. Setiap kali dipanggil, Ratna selalu menangis. Ia menangis sebelum proses dimulai, ia menangis selama proses berlangsung, dan ia menangis setelah semuanya selesai. Air matanya seolah tidak pernah berhenti mengalir.
Ratna merasa sangat hancur. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa seperti sudah kehilangan harga dirinya sebagai seorang guru. Ia adalah seorang pendidik yang seharusnya menjadi teladan bagi siswa, tetapi sekarang ia harus melayani seorang satpam sekolah di dalam ruangan kecil pos satpam. Ia merasa sangat berdosa. Ia merasa seperti sudah melakukan dosa besar yang tidak akan pernah bisa diampuni.
Setiap kali selesai melayani Pak Budi, Ratna selalu mandi dengan air yang sangat dingin. Ia menggosok tubuhnya berulang kali, terutama bagian yang disentuh Pak Budi. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa seperti ada sesuatu yang menempel di tubuhnya dan tidak bisa hilang meskipun ia sudah mandi berkali-kali.
Di rumah, Ratna juga sering menangis sendirian di kamar. Ia merasa sangat lelah. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa seperti sudah tidak bisa lagi menjalani hidupnya dengan normal. Setiap kali ia melihat wajahnya di cermin, ia merasa sangat tidak berharga. Ia merasa seperti sudah kehilangan segalanya.
Suatu malam, setelah melayani Pak Budi di pos satpam, Ratna pulang dengan tubuh yang sangat lemas. Ia langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ia duduk di tempat tidurnya sambil menangis. Ia memeluk lututnya dan menangis tanpa henti. Ia merasa sangat hancur. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa seperti sudah kehilangan harga dirinya sebagai seorang wanita dan sebagai seorang guru.
Ratna menangis sampai ia tertidur. Malam itu ia bermimpi buruk. Ia bermimpi bahwa Pak Budi menyebarkan video tersebut ke seluruh sekolah. Ia bermimpi bahwa semua orang mengetahui apa yang ia lakukan. Ia bermimpi bahwa ia sudah kehilangan segalanya.
Ketika ia bangun keesokan paginya, Ratna merasa sangat lelah. Ia merasa seperti sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menjalani hari. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa sangat tidak berharga.
Dan ia mulai merasa bahwa air matanya tidak akan pernah berhenti mengalir.1256Please respect copyright.PENANA0uBTRKEzeg


