1380Please respect copyright.PENANAmMWg90wiMxBab 7
Bab 7: Semakin Sering Dipanggil
Sejak malam itu, hidup Ratna berubah drastis. Ia merasa seperti sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Setiap kali ia mengingat apa yang terjadi di pos satpam, ia merasa sangat kotor dan sangat berdosa. Ia sudah mencoba untuk melupakan, tetapi setiap kali ia sendirian, bayangan itu selalu muncul di kepalanya. Ia merasa sangat malu dengan dirinya sendiri, tetapi ia juga merasa sangat takut.
Keesokan harinya, Ratna berusaha bersikap normal di sekolah. Ia mengajar seperti biasa, meskipun pikirannya tidak tenang. Beberapa kali ia melamun di dalam kelas, sehingga beberapa siswa harus memanggilnya berulang kali agar ia sadar. Ratna merasa sangat lelah. Ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman karena terus memikirkan Pak Budi dan ancamannya.
Saat jam istirahat, Ratna duduk sendirian di ruang guru. Ia tidak nafsu makan. Ia hanya memandang ponselnya dengan perasaan cemas. Ia takut Pak Budi akan menghubunginya lagi. Dan ketakutannya itu ternyata tidak sia-sia.
Sekitar pukul sebelas siang, ponselnya bergetar. Ada pesan dari Pak Budi.
Pak Budi:
Setelah jam pelajaran terakhir, datang ke pos satpam. Jangan telat.
Ratna merasa dadanya sesak saat membaca pesan itu. Ia membaca pesan tersebut berulang kali dengan tangan gemetar. Ia ingin membalas dan menolak, tetapi ia tahu bahwa jika ia menolak, Pak Budi bisa saja menyebarkan video itu. Akhirnya ia hanya bisa diam dan menahan tangisnya di dalam hati.
Sepanjang sisa hari itu, Ratna merasa sangat gelisah. Ia tidak bisa fokus mengajar. Beberapa siswa memperhatikannya dengan khawatir karena ia terlihat sangat tidak tenang. Ratna berusaha tersenyum dan bersikap biasa, tetapi semakin lama ia merasa semakin berat untuk melakukannya.
Setelah jam pelajaran terakhir selesai, Ratna berdiri di depan kelasnya cukup lama. Ia menatap papan tulis dengan pikiran yang kosong. Ia merasa sangat takut untuk pergi ke pos satpam, tetapi ia juga tahu bahwa ia tidak punya pilihan lain. Dengan langkah yang berat, ia akhirnya berjalan menuju pos satpam.
Ketika Ratna sampai di pos satpam, Pak Budi sudah menunggunya di dalam. Begitu melihat Ratna datang, Pak Budi langsung membuka pintu dan mempersilakannya masuk. Ratna masuk dengan kepala tertunduk. Ia tidak berani menatap wajah Pak Budi.
Pak Budi menutup pintu dan mengunci dari dalam. Ia kemudian membawa Ratna ke ruang kecil di belakang seperti kemarin. Begitu pintu terkunci, Pak Budi langsung mendorong Ratna ke sofa dan mulai membuka kancing kemeja Ratna tanpa banyak bicara.
Ratna menangis dan mencoba menahan tangan Pak Budi. “Pak Budi… tolong… saya masih capek…” katanya dengan suara parau.
Pak Budi tidak peduli. Ia terus membuka baju Ratna dan memaksa Ratna untuk melayaninya. Ratna menangis sepanjang proses. Ia merasa sangat kotor dan sangat berdosa. Setiap kali Pak Budi menyentuh tubuhnya, ia merasa seperti sedang kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.
Setelah selesai, Pak Budi duduk di sofa sambil memakai celananya kembali. Ia menoleh ke Ratna yang masih menangis di sofa dan berkata dengan nada dingin.
“Besok saya akan hubungi kamu lagi. Jangan coba-coba untuk menolak.”
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menangis sambil memakai bajunya kembali dengan tangan gemetar. Setelah Pak Budi keluar dari ruangan, Ratna masih duduk di sofa sambil menangis. Ia merasa sangat hancur. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa seperti sudah tidak bisa lagi membersihkan dirinya dari apa yang baru saja terjadi.
Keesokan harinya, Ratna kembali menerima pesan dari Pak Budi. Kali ini Pak Budi memintanya datang ke pos satpam setelah jam istirahat kedua. Ratna merasa sangat tertekan. Ia baru saja melayani Pak Budi kemarin, dan sekarang ia sudah dipanggil lagi. Ia merasa sangat lelah, baik secara fisik maupun mental.
Ratna pergi ke pos satpam dengan perasaan yang sangat berat. Begitu masuk ke ruangan kecil, Pak Budi langsung memaksa Ratna untuk melayaninya lagi. Ratna menangis dan memohon agar Pak Budi memberinya waktu untuk beristirahat, tetapi Pak Budi tidak peduli. Ia terus memaksa Ratna hingga ia puas.
Setelah selesai, Pak Budi berkata dengan nada dingin seperti biasa.
“Jangan lupa, kamu milik saya sekarang. Kalau saya panggil, kamu harus datang.”
Ratna hanya bisa menangis sambil memakai bajunya. Ia merasa sangat tertekan. Ia merasa seperti sudah kehilangan kebebasannya. Setiap kali ia mencoba untuk menolak atau memohon, Pak Budi selalu mengancam akan menyebarkan video itu. Ratna merasa sangat takut, sehingga ia akhirnya hanya bisa diam dan menuruti semua perintah Pak Budi.
Dalam beberapa hari berikutnya, Pak Budi semakin sering memanggil Ratna. Kadang ia memanggilnya di siang hari saat jam istirahat, kadang di sore hari setelah sekolah sepi. Ratna merasa semakin tertekan. Ia mulai sering menangis di dalam kelas ketika tidak ada orang yang melihat. Ia merasa sangat lelah dan sangat kotor.
Suatu siang, Pak Budi mengirim pesan lagi dan memintanya datang ke pos satpam. Ratna merasa sangat lelah. Ia baru saja melayani Pak Budi kemarin sore, dan sekarang ia sudah dipanggil lagi. Ia merasa sangat ingin menolak, tetapi ia takut jika ia menolak, Pak Budi akan menyebarkan video itu.
Dengan perasaan yang sangat berat, Ratna pergi ke pos satpam. Begitu masuk ke ruangan kecil, ia langsung menangis dan memohon kepada Pak Budi.
“Pak Budi… tolong… saya masih capek… saya tidak bisa lagi…” Ratna menangis sambil memegang lengan Pak Budi. “Tolong beri saya waktu… saya benar-benar tidak sanggup…”
Pak Budi menatap Ratna dengan wajah datar. Ia kemudian melepaskan tangan Ratna dan berkata dengan nada dingin.
“Kamu lupa ya? Kalau kamu menolak, video itu akan tersebar. Kamu mau itu terjadi?”
Ratna menangis semakin kencang. Ia menggeleng pelan sambil terus memohon.
“Saya mohon… tolong… saya tidak bisa lagi…”
Pak Budi tidak peduli dengan tangisan Ratna. Ia mendorong Ratna ke sofa dan mulai membuka bajunya. Ratna menangis sepanjang proses. Ia merasa sangat kotor dan sangat berdosa. Ia merasa seperti sudah kehilangan segalanya. Setiap kali Pak Budi menyentuh tubuhnya, ia hanya bisa menangis dan memohon agar semuanya cepat selesai.
Setelah selesai, Pak Budi berdiri dan memakai celananya kembali. Ia menoleh ke Ratna yang masih menangis di sofa dan berkata dengan nada dingin.
“Jangan coba-coba untuk menolak lagi. Kamu sudah tahu akibatnya.”
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menangis sambil memakai bajunya dengan tangan gemetar. Setelah Pak Budi keluar dari ruangan, Ratna masih duduk di sofa sambil menangis. Ia merasa sangat hancur. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa seperti sudah tidak bisa lagi menahan semua ini.
Sejak saat itu, Pak Budi semakin sering memanggil Ratna. Kadang dua hari sekali, kadang bahkan hampir setiap hari. Ratna merasa semakin tertekan. Ia mulai sering menangis di dalam kamar mandi sekolah agar tidak ada orang yang melihat. Ia merasa sangat lelah dan sangat kotor. Ia merasa seperti sudah kehilangan dirinya sendiri.
Setiap kali Pak Budi memanggilnya, Ratna selalu menangis dan memohon agar diberi waktu untuk beristirahat. Tetapi Pak Budi tidak pernah peduli. Ia selalu mengancam akan menyebarkan video jika Ratna menolak. Ratna merasa sangat takut, sehingga ia akhirnya hanya bisa diam dan menuruti semua perintah Pak Budi, meskipun hatinya sangat menolak.
Ratna merasa semakin tertekan setiap harinya. Ia merasa seperti sudah kehilangan harapan. Ia merasa sangat kotor dan sangat berdosa. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk keluar dari situasi ini. Ia hanya bisa menangis sendirian dan berharap agar semuanya cepat berakhir.
Namun, Pak Budi sepertinya tidak berniat untuk melepaskannya. Setiap kali Ratna memohon untuk diberi waktu, Pak Budi selalu menjawab dengan ancaman yang sama. Ratna merasa sangat terjebak. Ia merasa seperti sudah tidak memiliki jalan keluar lagi.
Dan ia mulai merasa bahwa hidupnya akan terus seperti ini selamanya.1380Please respect copyright.PENANAjGO0GNewDU


