1587Please respect copyright.PENANA1W1gJVm3a2Bab 6
Bab 6: Penyerahan Pertama
1587Please respect copyright.PENANA0yInCM49PV
Malam itu Ratna merasa sangat takut. Sepanjang hari pikirannya tidak pernah tenang. Ia terus memikirkan pesan dari Pak Budi yang memintanya datang ke pos satpam setelah jam pelajaran selesai. Ia sempat berpikir untuk tidak datang, tetapi ia tahu bahwa jika ia menolak, Pak Budi bisa saja langsung menyebarkan video yang merekam aksinya di belakang gedung sekolah. Akhirnya, dengan perasaan yang sangat berat dan takut, Ratna memutuskan untuk pergi.
1587Please respect copyright.PENANAZcqRokjr7l
Setelah jam pelajaran terakhir selesai dan sekolah mulai sepi, Ratna berjalan menuju pos satpam dengan langkah yang sangat lambat. Jantungnya berdetak sangat kencang. Tangan dan kakinya terasa dingin. Beberapa kali ia berhenti di tengah jalan karena merasa ingin mundur, tetapi ia akhirnya tetap melanjutkan langkahnya. Setiap langkah terasa sangat berat, seolah ia sedang menuju ke tempat yang akan menghancurkan hidupnya.
1587Please respect copyright.PENANAOZlgRfrc59
Ketika Ratna sampai di pos satpam, Pak Budi sudah ada di dalam. Begitu melihat Ratna datang, Pak Budi berdiri dan membuka pintu. Wajahnya terlihat tenang, berbeda dengan wajah Ratna yang pucat dan penuh ketakutan.
1587Please respect copyright.PENANASQg9am5tou
“Masuk,” kata Pak Budi sambil mempersilakan Ratna masuk.
1587Please respect copyright.PENANAgHTus8WOT9
Ratna masuk dengan kepala tertunduk. Ia tidak berani menatap wajah Pak Budi. Begitu ia masuk, Pak Budi langsung menutup pintu dan mengunci dari dalam. Suara kunci yang berbunyi terdengar sangat jelas di telinga Ratna, membuatnya semakin takut.
1587Please respect copyright.PENANA5b1YRiT8NE
Pak Budi kemudian berjalan ke ruang kecil di belakang pos satpam dan mempersilakan Ratna mengikuti. Ratna mengikuti dengan tubuh yang gemetar. Begitu masuk ke ruangan kecil itu, Pak Budi langsung mengunci pintu dari dalam.
1587Please respect copyright.PENANAktJQx2TjnT
Ruangan itu cukup sempit. Hanya ada satu sofa kecil dan meja di pojok. Pak Budi berdiri di depan Ratna dan menatapnya dari atas ke bawah. Ratna masih menunduk, tangannya saling memegang erat-erat karena gugup.
1587Please respect copyright.PENANAlz4BC3RyRx
“Kamu sudah ambil keputusan?” tanya Pak Budi dengan suara tenang.
1587Please respect copyright.PENANAWQxxrxvD8G
Ratna mengangguk pelan tanpa mengangkat wajah. Suaranya kecil dan bergetar saat ia menjawab.
1587Please respect copyright.PENANAxgXzd0fz6K
“Saya… saya akan menurut,” katanya. “Tapi tolong… jangan sebarkan video itu.”
1587Please respect copyright.PENANADcL3l9O0MN
Pak Budi tersenyum tipis. Ia mendekat dan mengangkat dagu Ratna dengan jarinya, memaksa gadis itu menatapnya. Ratna terpaksa mengangkat wajahnya. Matanya sudah basah karena air mata.
1587Please respect copyright.PENANAv4CVZOmJkZ
“Bagus,” kata Pak Budi. “Mulai sekarang, kamu milik saya. Kalau saya panggil, kamu harus datang. Kalau kamu berani menolak atau coba-coba menghindar, saya akan langsung sebarkan video itu. Kamu mengerti?”
1587Please respect copyright.PENANAwsCw3SaYAe
Ratna mengangguk sambil menangis. Air matanya mulai mengalir di pipinya. Ia merasa sangat malu dan sangat takut. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan berada dalam situasi seperti ini.
1587Please respect copyright.PENANAIztQJeVpro
Pak Budi kemudian mendorong bahu Ratna agar duduk di sofa. Ratna duduk dengan tangan yang gemetar. Pak Budi berdiri di depannya dan mulai membuka kancing kemeja Ratna satu per satu. Ratna menangis dan mencoba menahan tangan Pak Budi.
1587Please respect copyright.PENANAaJPNOIi0dZ
“Jangan… tolong…” Ratna menangis. “Saya tidak bisa… Saya punya suami…”
1587Please respect copyright.PENANAw1QSrs1xhc
Pak Budi tidak peduli. Ia terus membuka kancing kemeja Ratna hingga terbuka lebar. Ia kemudian membuka bra Ratna dan langsung meremas payudaranya dengan kasar. Ratna menangis semakin kencang. Ia merasa sangat malu dan sangat kotor.
1587Please respect copyright.PENANAfxYUHUbmQ9
Pak Budi membuka celananya dan mengeluarkan kontolnya yang sudah tegang. Ia memegang kepala Ratna dan mendorongnya ke depan.
1587Please respect copyright.PENANAG5phVH4J00
“Hisap,” perintahnya.
1587Please respect copyright.PENANAIe2bdUmNf5
Ratna menangis dan menggeleng. “Saya tidak bisa… Tolong…”
1587Please respect copyright.PENANA5rOaB0keqf
Pak Budi tidak sabar. Ia memegang kepala Ratna lebih kuat dan memaksa kontolnya masuk ke mulut Ratna. Ratna tersedak dan menangis saat kontol Pak Budi masuk ke dalam mulutnya. Ia mencoba menarik kepalanya, tetapi Pak Budi menahannya dengan kuat.
1587Please respect copyright.PENANAejr4B3Cffy
“Hisap dengan benar,” kata Pak Budi sambil menggerakkan pinggulnya perlahan.
1587Please respect copyright.PENANAOyGwp2d36D
Ratna menangis sepanjang waktu. Air matanya mengalir deras sementara ia terpaksa menghisap kontol Pak Budi. Ia merasa sangat terhina. Ia merasa sangat kotor karena harus melakukan hal ini dengan seorang pria yang sudah berumur dan bukan suaminya. Air liurnya mengalir di dagunya, tetapi Pak Budi tidak melepaskannya.
1587Please respect copyright.PENANANSNCmwSjRZ
Pak Budi menggerakkan pinggulnya lebih dalam, memaksa kontolnya menyentuh tenggorokan Ratna. Ratna tersedak dan menangis semakin kencang. Ia mencoba mendorong pinggul Pak Budi dengan tangannya, tetapi Pak Budi menahan tangan Ratna dan terus memaksa.
1587Please respect copyright.PENANAu3iHKBQOAO
Setelah beberapa menit, Pak Budi menarik kontolnya dari mulut Ratna. Ratna langsung batuk dan menangis sambil memegang dadanya. Napasnya tersengal-sengal. Pak Budi tidak memberinya waktu untuk bernapas lama. Ia mendorong Ratna agar berbaring di sofa.
1587Please respect copyright.PENANAluXH8WRl9I
Ratna menangis dan mencoba menutup kakinya. “Jangan… tolong jangan…” katanya dengan suara parau.
1587Please respect copyright.PENANAoyXWrig9hE
Pak Budi mengabaikan tangisannya. Ia membuka rok Ratna dan menarik celana dalamnya dengan kasar. Ratna menangis semakin kencang saat Pak Budi membuka kakinya lebar-lebar. Pak Budi kemudian membuka celananya dan langsung menyodok kontolnya ke dalam memek Ratna.
1587Please respect copyright.PENANAuBqZXLXSFL
Ratna menjerit kesakitan saat Pak Budi masuk dengan paksa. Ia menangis sambil memohon agar Pak Budi berhenti, tetapi Pak Budi justru menggerakkan pinggulnya lebih cepat dan lebih dalam. Ratna menangis sepanjang proses. Tubuhnya terasa sakit. Ia merasa sangat kotor dan sangat berdosa.
1587Please respect copyright.PENANAXAUZ353lye
Pak Budi terus ngentot Ratna dengan kasar. Ia memegang pinggul Ratna dengan kuat dan menggerakkan pinggulnya tanpa henti. Ratna menangis tanpa henti. Ia merasa seperti sedang kehilangan segalanya.
1587Please respect copyright.PENANAJN2OzANbIY
Pak Budi terus menggerakkan pinggulnya dengan kasar. Ia memegang pinggul Ratna dengan kedua tangannya dan memaksa kontolnya masuk lebih dalam setiap kali ia mendorong. Ratna menangis tanpa henti. Tubuhnya terasa sakit, terutama di bagian dalam memeknya yang terus-menerus didorong dengan kasar. Ia mencoba untuk menahan tangisnya, tetapi setiap kali Pak Budi mendorong lebih dalam, isakan tangisnya semakin keluar.
1587Please respect copyright.PENANAZioVfKLaOK
Ratna memegang bantal sofa dengan erat. Air matanya membasahi bantal tersebut. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa sangat berdosa. Setiap kali Pak Budi menggerakkan pinggulnya, Ratna hanya bisa menangis dan memohon dalam hati agar semuanya cepat selesai.
1587Please respect copyright.PENANAX3pfkEZmzs
Pak Budi tidak peduli dengan tangisan Ratna. Ia justru semakin bersemangat. Ia mengubah posisi Ratna beberapa kali. Pertama ia memaksa Ratna berbaring telentang, lalu ia mengangkat kedua kaki Ratna ke atas bahunya dan kembali memasukkan kontolnya dengan lebih dalam. Ratna menjerit pelan karena merasa sangat sakit, tetapi ia tidak berani teriak terlalu keras karena takut ada orang lain yang mendengar.
1587Please respect copyright.PENANAJThFFYHkw6
“Jangan teriak terlalu keras,” kata Pak Budi sambil terus menggerakkan pinggulnya. “Kamu tidak mau orang lain tahu kan?”
1587Please respect copyright.PENANA3MOlPJKIH5
Ratna hanya bisa menangis dan mengangguk pelan. Ia menutup mulutnya dengan tangan agar suara tangisannya tidak terlalu keras. Pak Budi terus ngentotnya dengan ritme yang cepat dan kasar. Beberapa kali ia menampar paha Ratna sambil mengatakan bahwa mulai saat ini Ratna adalah miliknya.
1587Please respect copyright.PENANAldEYF3yKe9
Setelah beberapa menit, Pak Budi mengubah posisi lagi. Ia menyuruh Ratna berbalik dan berlutut di sofa. Ratna menangis sambil mengikuti perintahnya. Pak Budi berdiri di belakang Ratna dan langsung memasukkan kontolnya kembali ke dalam memeknya dari belakang. Ratna menangis semakin kencang. Posisi ini membuat kontol Pak Budi masuk lebih dalam, membuatnya merasa sangat sakit.
1587Please respect copyright.PENANAxnRPU0TloJ
Pak Budi memegang pinggang Ratna dengan kuat dan terus menggerakkan pinggulnya. Sesekali ia menarik rambut Ratna ke belakang sambil mengatakan bahwa Ratna harus menurut jika tidak ingin video itu tersebar. Ratna hanya bisa menangis dan membiarkan Pak Budi melakukan apa saja terhadap tubuhnya.
1587Please respect copyright.PENANAx6jUPME2a4
Setelah beberapa menit lagi, Pak Budi mengeluarkan kontolnya dari dalam memek Ratna. Ia memaksa Ratna berbalik dan berlutut di depannya. Ratna menangis sambil mengikuti perintahnya. Pak Budi memegang kepala Ratna dan memaksa kontolnya masuk kembali ke mulut Ratna. Ratna menangis sambil menghisap kontol Pak Budi yang sudah basah karena cairan dari memeknya.
1587Please respect copyright.PENANASdlakW3tID
Pak Budi menggerakkan pinggulnya di mulut Ratna hingga akhirnya ia menyemprotkan spermanya ke dalam mulut Ratna. Ratna tersedak dan menangis. Ia mencoba untuk menarik kepalanya, tetapi Pak Budi menahannya hingga semua spermanya keluar. Setelah selesai, Pak Budi menarik kontolnya dan menyuruh Ratna menelan semuanya.
1587Please respect copyright.PENANAdeQTcemYbm
Ratna menangis sambil menelan spermanya. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa sangat berdosa. Setelah Pak Budi melepaskan kepalanya, Ratna langsung memegang mulutnya dan menangis semakin kencang. Ia merasa seperti sudah kehilangan segalanya.
1587Please respect copyright.PENANACHL8hF9xq1
Pak Budi berdiri dan memakai celananya kembali. Ia menatap Ratna yang masih berlutut di depannya sambil menangis. Ia tersenyum tipis, lalu berkata dengan nada dingin.
1587Please respect copyright.PENANAlQdFvruk02
“Mulai sekarang, kamu milik saya. Kalau saya panggil, kamu harus datang. Kalau kamu berani menolak, video itu akan tersebar. Kamu mengerti?”
1587Please respect copyright.PENANA1BgyjPTZvh
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ia merasa sangat kotor dan sangat berdosa.
1587Please respect copyright.PENANANsLHWzTAaK
Pak Budi keluar dari ruangan tanpa banyak bicara lagi. Ia meninggalkan Ratna sendirian di dalam ruangan kecil itu. Ratna masih berlutut di depan sofa sambil menangis. Ia merasa sangat hancur. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa seperti sudah kehilangan harga dirinya sebagai seorang wanita dan sebagai seorang guru.
1587Please respect copyright.PENANAMAxDkXvfEz
Setelah beberapa menit, Ratna akhirnya bangun dengan tubuh yang lemas. Ia memakai bajunya kembali dengan tangan yang gemetar. Ia keluar dari pos satpam dengan langkah yang tidak stabil. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus menangis. Ia merasa sangat malu dan sangat berdosa.
1587Please respect copyright.PENANAmWFkaHVySV
Begitu sampai di rumah, Ratna langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Ia langsung mandi dengan air yang sangat dingin. Ia menggosok tubuhnya berulang kali, terutama mulut, payudara, dan memeknya, seolah ingin menghilangkan semua sentuhan Pak Budi dari tubuhnya. Ia mandi cukup lama hingga kulitnya memerah.
1587Please respect copyright.PENANAu9cBL6snjT
Setelah mandi, Ratna keluar dari kamar mandi dan langsung mengambil mukena. Ia menggelar sajadah dan mencoba untuk sholat, tetapi ia tidak bisa. Setiap kali ia berdiri di hadapan Allah, ia merasa sangat munafik. Ia merasa sangat berdosa karena baru saja melakukan hal yang sangat bertentangan dengan keyakinannya.
1587Please respect copyright.PENANAfVSSjPP92Q
Ratna menangis di atas sajadah. Ia memegang mukenanya erat-erat sambil menangis tanpa henti. Ia merasa sangat hancur. Ia merasa sangat kotor dan sangat tidak berharga. Ia merasa seperti sudah kehilangan segalanya dalam satu malam.
1587Please respect copyright.PENANAxwMXgRlcZZ
Malam itu, Ratna tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ia merasa sangat menyesal, tetapi ia juga merasa sangat takut. Ia takut jika ia menolak Pak Budi lagi, maka video itu akan disebarkan. Ia merasa seperti sudah terjebak dalam situasi yang tidak ada jalan keluarnya.
1587Please respect copyright.PENANAb6VpJFMiCp
Ratna menangis sampai pagi tiba. Ia merasa bahwa hidupnya sudah tidak akan pernah sama lagi.1587Please respect copyright.PENANAzAc8353CPG


