1170Please respect copyright.PENANAOr41trVV2iBab 9
Bab 9: Ancaman yang Lebih Besar
Sore itu, setelah jam pelajaran terakhir selesai, Ratna kembali ke pos satpam seperti biasa. Ia sudah tidak lagi banyak menolak ketika Pak Budi memanggilnya. Tubuhnya terasa lelah, dan hatinya sudah terasa sangat berat. Begitu masuk ke ruangan kecil di belakang pos satpam, Pak Budi langsung mendorongnya ke sofa tanpa banyak bicara.
Ratna menangis pelan saat Pak Budi membuka kancing kemejanya. Ia sudah terbiasa dengan hal ini, meskipun setiap kali tetap merasa sangat kotor. Pak Budi membuka celananya dan memaksa Ratna untuk menghisap kontolnya. Ratna menangis sambil melakukannya. Air matanya mengalir di pipinya sementara ia terpaksa menghisap dengan mulutnya yang sudah basah oleh air liur.
Setelah beberapa menit, Pak Budi menarik kontolnya dari mulut Ratna. Ia mendorong Ratna agar berbaring di sofa dan langsung membuka roknya. Tanpa banyak basa-basi, ia memasukkan kontolnya ke dalam memek Ratna yang masih agak kering. Ratna menjerit pelan karena merasa sakit, tetapi ia tidak berani teriak terlalu keras. Ia hanya bisa menangis sambil memegang lengan sofa dengan erat.
Pak Budi menggerakkan pinggulnya dengan kasar. Ia memegang pinggul Ratna dengan kedua tangannya dan terus mendorong kontolnya masuk lebih dalam. Ratna menangis tanpa henti. Tubuhnya terasa sakit, tetapi ia sudah tidak lagi memiliki tenaga untuk melawan. Ia hanya bisa diam dan membiarkan Pak Budi melakukan apa saja terhadap tubuhnya.
Saat Pak Budi sedang menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang cepat, tiba-tiba ia berhenti sejenak. Ia menatap wajah Ratna yang sedang menangis di bawahnya. Ada senyum tipis yang muncul di bibirnya.
“Kamu tahu tidak,” kata Pak Budi pelan sambil masih berada di dalam tubuh Ratna, “saya sudah bosan main sendiri terus.”
Ratna yang sedang menangis langsung membuka matanya. Ia menatap Pak Budi dengan perasaan tidak enak. Napasnya masih tersengal karena baru saja menangis.
“Apa… apa maksud Pak Budi?” tanyanya dengan suara parau.
Pak Budi tersenyum lebih lebar. Ia mulai menggerakkan pinggulnya lagi, kali ini lebih pelan, seolah sedang menikmati pembicaraan ini.
“Saya pikir, lain kali saya ajak teman saya juga,” katanya santai. “Biar mereka juga bisa menikmati kamu. Kamu kan enak, Bu Ratna. Sayang kalau cuma saya yang nikmatin.”
Ratna langsung merasa seperti ada petir yang menyambar tubuhnya. Ia menggeleng cepat sambil menangis. Tangannya mendorong dada Pak Budi dengan panik.
“Jangan… tolong jangan…” Ratna menangis histeris. “Saya tidak mau… jangan bawa orang lain… tolong…”
Pak Budi tidak berhenti menggerakkan pinggulnya. Ia justru semakin dalam memasukkan kontolnya sambil menatap wajah Ratna yang sedang menangis.
“Kamu lupa ya?” katanya dingin. “Kamu sudah milik saya. Kalau saya mau bawa teman saya, kamu harus nurut. Kalau tidak…”
Pak Budi sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia justru menggerakkan pinggulnya lebih cepat dan lebih kasar. Ratna menangis semakin kencang. Ia merasa sangat takut. Ia sudah trauma dengan apa yang terjadi saat Pak Budi pernah membawa Mas Andi. Ia tidak ingin mengalami hal yang sama lagi, apalagi dengan lebih banyak orang.
“Jangan… tolong jangan bawa orang lain…” Ratna menangis sambil memegang lengan Pak Budi. “Saya akan nurut… saya janji… tapi jangan bawa orang lain…”
Pak Budi tersenyum tipis. Ia menunduk dan mendekatkan wajahnya ke telinga Ratna.
“Kalau kamu masih bandel,” bisiknya pelan, “saya akan sebarkan video mesum kamu itu. Video yang merekam kamu lagi buka baju di belakang sekolah, video yang merekam kamu lagi melayani saya… semuanya akan saya sebarkan. Ke kepala sekolah, ke guru-guru lain, bahkan ke orang tua siswa. Kamu mau itu terjadi?”
Ratna menangis semakin kencang. Ia menggeleng kepala dengan cepat. Tubuhnya gemetar hebat karena takut dan tangisan. Ia merasa seperti dunia runtuh di hadapannya.
“Jangan… tolong jangan sebarkan…” Ratna menangis. “Saya akan nurut… saya janji… tapi jangan bawa orang lain… tolong…”
Pak Budi tidak menjawab. Ia justru menggerakkan pinggulnya lebih cepat dan lebih kasar. Ratna menangis histeris. Ia merasa sangat takut. Ia takut jika ia menolak, Pak Budi akan benar-benar menyebarkan video itu. Ia takut jika video itu tersebar, maka hidupnya akan benar-benar hancur.
Pak Budi terus ngentot Ratna dengan kasar sambil sesekali mengingatkan ancamannya.
“Kalau kamu masih bandel, saya akan ajak teman saya. Bukan satu, tapi beberapa. Kamu mau itu terjadi?”
Ratna hanya bisa menangis dan menggeleng. Ia sudah tidak lagi memiliki tenaga untuk melawan. Ia hanya bisa diam dan membiarkan Pak Budi melakukan apa saja terhadap tubuhnya, sementara di dalam hatinya ia terus menolak dan merasa sangat takut.
Setelah beberapa menit, Pak Budi akhirnya mengeluarkan kontolnya dan menyemprotkan spermanya ke perut Ratna. Ratna menangis sambil memegang perutnya. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa sangat berdosa.
Pak Budi berdiri dan memakai celananya kembali. Ia menatap Ratna yang masih berbaring di sofa sambil menangis.
“Ingat baik-baik,” katanya dingin. “Kalau kamu masih bandel atau coba-coba menolak, saya akan bawa teman saya. Dan saya juga tidak ragu untuk menyebarkan video itu. Kamu sudah tahu apa yang akan terjadi.”
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menangis sambil memakai bajunya dengan tangan gemetar. Setelah Pak Budi keluar dari ruangan, Ratna masih duduk di sofa sambil menangis. Ia merasa sangat takut. Ia merasa sangat tertekan. Ia mulai merasa bahwa ancaman Pak Budi bukan lagi sekadar ancaman, tetapi sesuatu yang akan benar-benar terjadi jika ia sedikit saja menolak.
Ratna duduk di sofa cukup lama. Ia menangis tanpa henti. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa sangat berdosa. Ia merasa seperti sudah kehilangan segalanya. Ia takut jika Pak Budi benar-benar membawa teman-temannya, maka ia akan mengalami hal yang jauh lebih buruk dari yang sudah ia alami selama ini.
Ia juga takut jika video itu benar-benar disebarkan. Ia membayangkan bagaimana jika kepala sekolah, guru-guru lain, dan orang tua siswa mengetahui apa yang ia lakukan. Ia membayangkan bagaimana jika suaminya mengetahui hal ini. Pikiran-pikiran itu membuatnya semakin panik dan semakin menangis.
Ratna akhirnya bangun dengan tubuh yang lemas. Ia memakai bajunya kembali dengan tangan yang masih gemetar. Ia keluar dari pos satpam dengan langkah yang tidak stabil. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus menangis. Ia merasa sangat takut. Ia merasa sangat tertekan. Ia merasa seperti sudah kehilangan kendali sepenuhnya atas hidupnya sendiri.
Malam itu, Ratna tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan kata-kata Pak Budi. Ia terus membayangkan bagaimana jika Pak Budi benar-benar membawa teman-temannya. Ia juga terus membayangkan bagaimana jika video itu disebarkan. Semua pikiran itu membuatnya semakin takut dan semakin menangis.
Ratna merasa seperti sudah terjebak dalam situasi yang tidak ada jalan keluarnya. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa sangat berdosa. Dan ia mulai merasa bahwa ancaman Pak Budi akan segera menjadi kenyataan jika ia tidak bisa menahan diri untuk menolak.1170Please respect copyright.PENANARuMwFGtnGT


