1182Please respect copyright.PENANA2xOPSssmsTBab 10
Bab 10: Malam Pertama Bersama Orang Lain
Malam itu, setelah selesai melayani Pak Budi di pos satpam, Ratna sedang memakai bajunya dengan tangan gemetar. Ia menangis pelan sambil mengancingkan kemejanya. Pak Budi yang sudah memakai celananya kembali duduk di sofa sambil memandang Ratna.
“Malam ini kamu ikut saya,” kata Pak Budi tiba-tiba.
Ratna langsung mengangkat wajahnya dengan perasaan takut. Ia menggeleng pelan.
“Tidak… saya mau pulang…” jawabnya dengan suara parau.
Pak Budi berdiri dan mendekati Ratna. Ia mengangkat dagu Ratna dengan jarinya dan menatapnya dengan tatapan dingin.
“Bukan permintaan,” katanya pelan. “Kamu ikut saya. Ada yang ingin saya perlihatkan padamu.”
Ratna merasa sangat takut. Ia ingin menolak, tetapi ia tahu jika ia menolak, Pak Budi bisa saja marah dan menyebarkan video itu. Akhirnya ia hanya bisa diam dan mengikuti Pak Budi keluar dari pos satpam.
Mereka berjalan menuju motor Pak Budi. Ratna naik di belakang Pak Budi dengan perasaan yang sangat berat. Sepanjang perjalanan, ia terus menangis pelan di dalam helm. Ia tidak tahu akan dibawa ke mana, tetapi ia merasa sangat takut.
Setelah sekitar dua puluh menit berkendara, mereka sampai di sebuah kontrakan kecil di pinggir kota. Rumah itu terlihat sepi dan agak gelap. Pak Budi memarkir motornya dan menarik tangan Ratna untuk masuk ke dalam.
Begitu masuk ke dalam kontrakan, Ratna langsung merasa sangat takut. Di ruang tamu kecil itu sudah ada tiga orang pria yang sedang duduk dan merokok. Begitu melihat Ratna datang bersama Pak Budi, ketiga pria itu langsung menatapnya dari atas ke bawah dengan senyum yang membuat Ratna merasa sangat tidak nyaman.
“Ini dia,” kata Pak Budi sambil mendorong Ratna ke tengah ruangan. “Guru cantik yang saya ceritakan tadi.”
Salah satu pria berdiri dan mendekati Ratna. Ia memandang Ratna dari atas ke bawah dengan mata yang penuh nafsu.
“Wah, cantik juga ya,” katanya sambil tersenyum. “Memang enak dilihat.”
Ratna mundur selangkah. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menoleh ke Pak Budi dengan wajah pucat.
“Pak Budi… ini apa…?” tanyanya dengan suara bergetar. “Saya tidak mau… tolong saya pulang…”
Pak Budi tidak menjawab. Ia hanya menatap Ratna dengan tatapan dingin. Salah satu pria yang duduk di sofa tertawa pelan.
“Katanya mau nurut, tapi kok masih bandel juga,” katanya.
Pak Budi mendekati Ratna dan memegang lengannya dengan cukup kuat.
“Kamu ingat kan apa yang saya katakan?” bisiknya di telinga Ratna. “Kalau kamu bandel, saya akan bawa teman saya. Sekarang mereka sudah di sini. Kalau kamu menolak, video itu akan saya sebarkan malam ini juga.”
Ratna merasa seperti ada petir yang menyambar tubuhnya. Ia menggeleng cepat sambil menangis.
“Jangan… tolong jangan sebarkan…” Ratna menangis histeris. “Saya akan nurut… tapi tolong… jangan seperti ini…”
Pak Budi tidak peduli dengan tangisan Ratna. Ia mendorong Ratna ke tengah ruangan dan menyuruhnya berdiri di depan ketiga pria itu.
“Buka bajumu,” perintah Pak Budi.
Ratna menangis dan menggeleng. “Tidak… saya tidak mau…”
Salah satu pria berdiri dan mendekati Ratna. Ia langsung meraih kancing kemeja Ratna dan membukanya dengan kasar. Ratna menangis dan mencoba menahan tangan pria itu, tetapi ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Kemejanya dibuka paksa hingga terbuka lebar. Salah satu pria yang lain langsung meraih rok Ratna dan menurunkannya.
Dalam waktu singkat, Ratna hanya tersisa memakai bra dan celana dalam di depan empat orang pria. Ia menangis histeris sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ia merasa sangat malu dan sangat takut.
“Jangan… tolong jangan…” Ratna menangis sambil berlutut. “Saya mohon… saya tidak mau… tolong lepaskan saya…”
Pak Budi menarik Ratna berdiri dan mendorongnya ke sofa. Ratna menangis sambil mencoba menutup tubuhnya. Namun keempat pria itu langsung mengerubungi Ratna. Salah satu dari mereka membuka bra Ratna dan langsung meremas payudaranya dengan kasar. Pria lain menurunkan celana dalam Ratna dan langsung menyentuh memeknya.
Ratna menangis hebat. Ia memohon dan berusaha menolak, tetapi ia tidak bisa melawan keempat pria itu. Pak Budi yang pertama kali membuka celananya dan memaksa kontolnya masuk ke mulut Ratna. Ratna menangis sambil menghisap kontol Pak Budi. Air matanya mengalir deras.
Sementara itu, salah satu pria membuka kaki Ratna lebar-lebar dan langsung memasukkan kontolnya ke dalam memek Ratna dengan paksa. Ratna menjerit kesakitan di mulut Pak Budi. Tubuhnya tersentak hebat, tetapi ia tidak bisa bergerak karena ditahan oleh dua pria lainnya.
Keempat pria itu bergantian memperlakukan Ratna. Ada yang memaksa Ratna menghisap kontolnya, ada yang ngentot memeknya dengan kasar, dan ada yang memaksa masuk ke dalam anusnya. Ratna menangis hebat sepanjang waktu. Ia memohon agar mereka berhenti, tetapi tidak ada yang peduli.
Salah satu pria bahkan memaksa Ratna berbaring di atas salah satu dari mereka, lalu pria lain masuk dari belakang. Ratna menjerit kesakitan saat dua kontol sekaligus masuk ke dalam tubuhnya. Ia menangis histeris dan memohon agar mereka berhenti, tetapi mereka justru semakin bersemangat.
Ratna menangis tanpa henti. Tubuhnya terasa sakit. Ia merasa sangat kotor dan sangat terhina. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan dilayani oleh empat orang sekaligus seperti ini. Ia merasa seperti sudah kehilangan segalanya.
Namun di tengah tangisan dan rasa sakitnya, tiba-tiba Ratna merasakan sesuatu yang aneh. Tubuhnya mulai merespons meskipun pikirannya sangat menolak. Setiap kali kontol salah satu pria menggesek bagian sensitif di dalam tubuhnya, ia merasa ada sedikit sensasi yang muncul. Ratna merasa sangat malu dengan dirinya sendiri. Ia menangis semakin kencang karena merasa tubuhnya sudah berkhianat.
Pak Budi yang sedang memaksa Ratna menghisap kontolnya tersenyum tipis saat melihat reaksi Ratna.
“Mulai enakan juga ya?” bisiknya sambil menggerakkan pinggulnya di mulut Ratna.
Ratna menangis dan menggeleng. Ia tidak mau mengakui bahwa tubuhnya mulai merasakan sesuatu. Ia merasa sangat malu dan sangat berdosa. Namun semakin lama, sensasi itu semakin kuat. Ratna mulai merasa ada gelombang kecil yang muncul di tubuhnya, meskipun ia terus menangis dan menolak dalam hati.
Keempat pria itu terus bergantian memperlakukan Ratna hingga larut malam. Ratna menangis hebat di awal, tetapi semakin lama tangisannya mulai berkurang. Tubuhnya semakin sering merespons meskipun pikirannya masih sangat menolak. Ratna merasa sangat malu dengan dirinya sendiri. Ia merasa seperti sudah kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.
Setelah beberapa jam, keempat pria itu akhirnya selesai. Mereka meninggalkan Ratna terbaring di sofa dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Tubuh Ratna penuh dengan sperma. Matanya bengkak karena menangis. Ia merasa sangat kotor dan sangat lelah.
Pak Budi mendekati Ratna yang masih terbaring lemah. Ia tersenyum tipis sambil memakai celananya.1182Please respect copyright.PENANAev18OhCUnT


