1091Please respect copyright.PENANAp0EUpaRIj5Bab 11
Bab 11: Tubuh yang Mulai Berkhianat
1091Please respect copyright.PENANAmAGTBAaLIG
Setelah ronde pertama selesai, keempat pria itu duduk santai di ruang tamu kontrakan sambil merokok dan minum bir. Ratna masih terbaring lemah di sofa, tubuhnya penuh dengan sperma dan bekas tangan mereka. Matanya bengkak karena menangis, dan napasnya masih tersengal. Ia merasa sangat kotor dan sangat lelah.
Salah satu teman Pak Budi yang bernama Andi tiba-tiba tertawa kecil sambil menghembuskan asap rokok.
“Wah, enak juga ya tadi,” katanya sambil menatap tubuh Ratna yang telanjang. “Tapi kayaknya kurang seru kalau cuma biasa gitu doang.”
Pak Budi yang sedang duduk di kursi mengangguk pelan. Ia menatap Ratna dengan mata yang sudah penuh nafsu lagi, seolah ronde pertama tadi belum cukup baginya.
“Iya,” jawab Pak Budi. “Kayaknya perlu ada tambahan biar lebih seru.”
Ratna yang mendengar percakapan mereka langsung merasa sangat takut. Tubuhnya yang sudah lemas semakin gemetar. Ia mencoba untuk menutup tubuhnya dengan tangan, tetapi tidak ada lagi baju yang bisa ia pakai karena tadi sudah robek.
Pak Budi berdiri dan memandang ketiga temannya.
“Ayo kita ke luar bentar,” katanya. “Ambil beberapa barang biar malam ini lebih menarik.”
Salah satu pria yang bernama Joko langsung berdiri dengan antusias.
“Barang apa tuh, Bang?” tanyanya sambil tersenyum nakal.
Pak Budi tersenyum tipis sambil melirik Ratna yang masih terbaring di sofa.
“Tali, lilin, jepitan baju, sabuk… mungkin juga perlu yang agak gede buat lubang belakangnya,” jawabnya santai. “Biar dia nggak cuma diem aja.”
Ratna yang mendengar percakapan itu langsung merasa sangat panik. Ia menggeleng cepat sambil menangis.
“Jangan… tolong jangan…” Ratna menangis dengan suara parau. “Saya tidak mau… tolong lepaskan saya…”
Pak Budi tidak peduli dengan tangisan Ratna. Ia malah mendekat dan menepuk pipi Ratna dengan kasar.
“Kamu diam aja di sini,” katanya dingin. “Kami bentar aja. Kalau kamu coba lari atau berbuat macam-macam, video itu akan tersebar besok pagi. Kamu mengerti?”
Ratna menangis sambil mengangguk pelan. Ia tidak punya pilihan lain. Tubuhnya terlalu lemas untuk melawan, dan ia juga sangat takut jika video mesumnya disebarkan.
Pak Budi kemudian menoleh ke ketiga temannya.
“Ayo,” katanya. “Kita cari yang bagus-bagus.”
Keempat pria itu kemudian keluar dari kontrakan, meninggalkan Ratna sendirian di dalam ruangan. Begitu pintu tertutup, Ratna langsung menangis histeris. Ia memeluk tubuhnya yang telanjang sambil terus menangis. Ia merasa sangat takut. Ia tidak tahu alat-alat apa yang akan mereka bawa, tetapi dari percakapan tadi, ia sudah bisa menebak bahwa malam ini akan jauh lebih buruk dari sebelumnya.
Ratna mencoba untuk bangun dan mencari jalan keluar, tetapi kakinya terasa sangat lemas. Ia hanya bisa merangkak pelan ke arah pintu, tetapi ia tidak berani membukanya. Ia takut jika ia keluar, Pak Budi akan benar-benar menyebarkan video itu. Akhirnya ia hanya bisa duduk di lantai sambil menangis dan memeluk lututnya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, pintu kontrakan kembali terbuka. Pak Budi dan ketiga temannya masuk dengan membawa beberapa kantong plastik. Ratna yang masih duduk di lantai langsung merasa sangat takut. Tubuhnya gemetar hebat saat melihat mereka membawa beberapa barang.
Pak Budi meletakkan kantong plastik di atas meja dan mulai mengeluarkan isinya satu per satu.
Pertama, ia mengeluarkan beberapa gulungan tali tambang yang cukup tebal. Lalu ia mengeluarkan beberapa lilin putih ukuran sedang. Setelah itu ia mengeluarkan beberapa jepitan baju kayu, dua sabuk kulit, dan yang paling membuat Ratna ketakutan adalah sebuah terong yang cukup besar serta sebuah tongkat satpam panjang yang biasa digunakan Pak Budi saat bekerja.
Ratna menangis semakin kencang saat melihat semua barang itu dikeluarkan di atas meja. Ia menggeleng kepala dengan cepat sambil memohon.
“Jangan… tolong jangan pakai itu…” Ratna menangis histeris. “Saya tidak mau… tolong lepaskan saya…”
Pak Budi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis sambil mengambil salah satu tali dan mengujinya dengan tangannya. Salah satu temannya yang bernama Andi tertawa kecil sambil mengambil terong yang cukup besar itu.
“Wah, ini gede juga ya,” katanya sambil menatap Ratna dengan mata penuh nafsu. “Cocok buat lubang belakangnya.”
Ratna menangis semakin hebat. Ia merangkak mundur sampai punggungnya menyentuh dinding. Ia merasa sangat takut. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana barang-barang itu akan digunakan pada tubuhnya.
Pak Budi kemudian mengambil sabuk dan tongkat satpam. Ia memukul telapak tangannya sendiri dengan sabuk itu beberapa kali, seolah sedang menguji kekuatannya. Suara sabuk yang beradu dengan kulit terdengar sangat jelas di ruangan itu.
“Malam ini kita main yang agak beda,” kata Pak Budi sambil menatap Ratna. “Kamu sudah terlalu biasa sama yang biasa-biasa aja. Sekarang kita pakai yang lebih seru.”
Ratna menangis sambil menggeleng kepala. Ia merasa sangat takut. Ia merasa seperti sudah tidak bisa lagi menahan semua ini. Tubuhnya masih sakit dari ronde pertama, dan sekarang mereka ingin menggunakan alat-alat itu untuk menyiksa dan memperlakukannya lagi.
Salah satu pria yang bernama Joko mengambil lilin dan korek api. Ia menyalakan lilin itu dan memperhatikan api yang menyala di ujungnya dengan senyum nakal.
“Yang ini buat main api dikit,” katanya sambil tersenyum. “Biar dia nggak cuma diem aja.”
Ratna menangis semakin kencang. Ia memeluk tubuhnya sendiri erat-erat sambil terus memohon agar mereka melepaskannya. Namun keempat pria itu seolah tidak mendengar tangisannya sama sekali. Mereka justru semakin bersemangat saat melihat reaksi ketakutan Ratna.
Pak Budi kemudian mengambil tali dan mulai mengikat ujung-ujungnya, seolah sedang mempersiapkan sesuatu. Ia menatap Ratna dengan mata yang sudah penuh dengan nafsu dan kekejaman.
“Malam ini,” katanya pelan, “kita akan main yang lebih seru. Kamu siap nggak?”
Ratna hanya bisa menangis sambil menggeleng kepala. Ia merasa sangat takut. Ia merasa seperti sudah tidak bisa lagi menyelamatkan dirinya sendiri. Ia tahu bahwa malam ini akan jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.
Dan ia juga tahu, ia tidak punya pilihan lain selain menuruti mereka.
1091Please respect copyright.PENANA2Ng979hRt3
Keempat pria itu langsung bergerak setelah Pak Budi memberi aba-aba. Ratna yang masih duduk di lantai sambil menangis langsung ditarik berdiri oleh dua pria. Ia menangis dan berusaha melepaskan diri, tetapi tangannya langsung diikat ke belakang dengan tali yang cukup tebal. Tali itu diikat kuat-kuat di pergelangan tangannya, membuat Ratna tidak bisa menggerakkan tangannya sama sekali.
“Jangan… tolong jangan…” Ratna menangis histeris. “Saya tidak mau… tolong lepaskan saya…”
Pak Budi tidak menjawab. Ia hanya mendorong Ratna agar berlutut di tengah ruangan. Salah satu pria yang bernama Joko mengambil sabuk dan langsung memukul paha Ratna dengan sabuk tersebut. Suara sabuk yang menghantam kulit terdengar cukup keras. Ratna menjerit kesakitan dan menangis semakin kencang.
“Jangan teriak terlalu keras,” kata Pak Budi dingin. “Kalau kamu berisik, kami akan pakai yang lebih sakit.”
Ratna mencoba menahan tangisannya, tetapi setiap kali sabuk menghantam kulitnya, ia tidak bisa menahan jeritannya. Punggung, paha, dan pantatnya mulai memerah karena pukulan sabuk. Pak Budi kemudian mengambil tongkat satpam dan memukul bokong Ratna beberapa kali dengan tongkat tersebut. Ratna menangis sambil memohon agar mereka berhenti.
Setelah merasa cukup dengan pukulan, Pak Budi menyuruh Ratna berdiri. Tangan Ratna yang sudah terikat di belakang membuat ia tidak bisa menutup tubuhnya. Salah satu pria mengambil jepitan baju dan langsung menjepit puting payudara Ratna. Ratna menjerit kesakitan saat jepitan itu menjepit kulitnya yang sensitif. Dua jepitan lagi dipasang di putingnya yang lain dan di bibir kemaluannya. Setiap kali Ratna bergerak sedikit, jepitan itu menarik kulitnya dan membuatnya merasa sangat sakit.
Pak Budi mengambil lilin yang sudah menyala dan mendekatkannya ke tubuh Ratna. Ratna menggeleng cepat sambil menangis.
“Jangan… tolong jangan pakai itu…” Ratna menangis. “Saya takut… tolong…”
Pak Budi tidak peduli. Ia memiringkan lilin dan membiarkan lilin panas menetes ke payudara Ratna. Ratna menjerit kesakitan saat lilin panas menyentuh kulitnya. Ia menangis histeris sambil mencoba menjauh, tetapi ia tidak bisa bergerak bebas karena tangannya terikat. Pak Budi terus meneteskan lilin ke payudara, perut, dan paha Ratna. Ratna menangis tanpa henti. Tubuhnya gemetar karena campuran rasa sakit dan ketakutan.
Setelah merasa cukup dengan lilin, Pak Budi mengambil terong yang cukup besar. Ratna langsung merasa sangat panik saat melihat terong itu.
“Jangan… tolong jangan pakai itu…” Ratna menangis sambil menggeleng cepat. “Saya tidak mau… tolong…”
Pak Budi menyuruh Ratna berlutut dan membungkuk. Ratna menangis sambil mengikuti perintahnya karena takut. Pak Budi kemudian mengolesi terong itu dengan sedikit minyak dan mulai memasukkannya ke dalam anus Ratna. Ratna menjerit kesakitan. Tubuhnya tersentak hebat saat terong yang cukup besar itu dipaksa masuk. Ia menangis histeris dan memohon agar Pak Budi berhenti, tetapi Pak Budi justru memasukkannya lebih dalam.
Ratna merasa sangat sakit. Ia merasa seperti tubuhnya akan robek. Air matanya mengalir deras sambil ia terus memohon. Namun Pak Budi tidak berhenti. Ia menggerakkan terong itu masuk dan keluar beberapa kali sebelum akhirnya menariknya keluar.
Setelah itu, keempat pria bergantian memperlakukan Ratna. Ada yang memukulnya dengan sabuk dan tongkat, ada yang meneteskan lilin ke tubuhnya, dan ada yang memaksa kontolnya masuk ke mulut atau memek Ratna sementara tubuhnya masih dalam keadaan terikat dan penuh dengan lilin serta bekas pukulan.
Ratna menangis hebat sepanjang waktu. Ia merasa sangat sakit, baik secara fisik maupun batin. Ia merasa sangat kotor dan sangat terhina. Setiap kali salah satu pria memasuki tubuhnya, ia hanya bisa menangis dan memohon agar mereka berhenti. Namun tidak ada yang peduli dengan tangisannya.
Salah satu pria bahkan memasang jepitan lebih banyak di tubuh Ratna, termasuk di bibir kemaluannya, sebelum memaksanya untuk menghisap kontolnya. Ratna menangis sambil melakukan apa yang diperintahkan. Tubuhnya sudah tidak lagi memiliki tenaga untuk melawan.
Pak Budi yang berdiri di samping Ratna tersenyum tipis sambil memegang tongkat satpam.
“Mulai sekarang,” katanya pelan, “kalau kamu bandel, kami akan pakai alat-alat ini lagi. Kamu mengerti?”
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menangis sambil menunduk. Tubuhnya gemetar hebat. Ia merasa sangat hancur. Ia merasa seperti sudah kehilangan segalanya.
Malam itu berlangsung sangat lama. Keempat pria itu bergantian memperlakukan dan menyiksa Ratna menggunakan berbagai alat yang mereka bawa. Ratna menangis hampir sepanjang malam. Ia merasa sangat sakit, sangat kotor, dan sangat tidak berharga.
Setelah mereka selesai, Ratna terbaring di lantai dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Tubuhnya penuh dengan bekas pukulan, lilin, dan sperma. Matanya bengkak karena menangis. Ia merasa sangat lelah dan sangat hancur.
Pak Budi mendekati Ratna yang masih terbaring lemah. Ia menepuk pipi Ratna dengan tangannya.
“Malam ini baru permulaan,” katanya dingin. “Lain kali kami akan bawa lebih banyak alat dan lebih banyak orang.”
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit dengan mata kosong. Air matanya masih mengalir pelan. Ia merasa sangat takut. Ia merasa sangat kotor. Dan ia mulai merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa lepas dari semua ini.1091Please respect copyright.PENANAQHCQYLA81c


