975Please respect copyright.PENANAzy4sbYphh7Bab 12
Bab 12: Nafsu yang Mulai Bangkit
975Please respect copyright.PENANAaTjAW896qm
Malam itu, air mata yang biasanya membanjiri pipi Ratna hanya tersisa jejak kering di sudut matanya. Ia tidak lagi menangis sekeras dulu. Hanya ada hembusan napas panjang yang keluar pelan dari bibirnya saat ia menyeka wajah dengan punggung tangan. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Sesuatu yang lain mulai bangkit di dalam tubuhnya.
Ratna berbaring di ranjang, selimut menutupi tubuhnya hingga pinggang. Ia mencoba memaksa pikirannya untuk tetap dingin, tetap menolak. “Jangan,” bisiknya dalam hati. “Kau tidak boleh merasa seperti ini.” Pikirannya berusaha keras menolak, mengingatkan dirinya bahwa ia harus tetap kuat, harus tetap membenci segala bentuk keinginan. Tapi tubuhnya tidak mau patuh.
Sebuah kehangatan asing menyebar perlahan dari bawah pusar, naik ke dada, lalu turun lagi ke antara kedua pahanya. Ratna menggigit bibir bawahnya. Napasnya mulai tidak teratur. Kulitnya terasa lebih sensitif dari biasanya—setiap hembusan angin dari jendela yang sedikit terbuka membuatnya bergidik. Tangan kirinya bergerak sendiri, tanpa ia sadari, menyentuh lengan atasnya. Jari-jarinya membelai kulitnya sendiri dengan gerakan pelan, seolah mencari sesuatu yang pernah ia rasakan.
Jantungnya berdegup kencang. Ada denyut samar yang semakin jelas di bawah perutnya. Ratna menekan pahanya erat-erat, mencoba meredam sensasi itu, tapi semakin ditekan, semakin kuat rasa rindunya. Ia membayangkan sentuhan hangat di bahu, di leher, di kulit yang selama ini hanya ia sembunyikan di balik amarah dan air mata. Pikirannya langsung menolak bayangan itu dengan keras, tapi tubuhnya sudah berkhianat—napasnya semakin pendek, dada naik turun cepat, dan ada rasa panas yang menyebar ke seluruh tubuh.
Ia bangkit dari ranjang dengan langkah goyah. Kakinya membawanya menuju cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Lampu temaram menyinari wajahnya saat ia berdiri tepat di hadapannya.
Ratna menatap bayangan dirinya sendiri.
Mata yang biasanya penuh dengan air mata dan kebencian kini tampak berbeda. Ada kilau samar di dalamnya—bukan lagi hanya luka, melainkan sesuatu yang hangat, gelisah, dan berbahaya. Pipinya memerah. Bibirnya sedikit terbuka. Ia mengangkat tangan perlahan, ujung jari menyentuh bibir bawahnya sendiri, lalu turun ke leher, ke lekuk di atas tulang selangka. Kulitnya terasa panas di balik sentuhan itu.
Ia tidak bisa berpaling.
Matanya terus menatap bayangannya di cermin—tubuh yang terbungkus gaun tidur tipis, lekuk dada yang naik turun mengikuti napas yang masih belum tenang, dan tangan yang masih berada di lehernya. Ratna melihat dengan jelas bagaimana tubuhnya merindukan sentuhan, bagaimana ia malu-malu mengakuinya, dan bagaimana ia tetap berusaha menolak meskipun sudah terlambat.
Di depan cermin itu, untuk pertama kalinya, Ratna melihat dirinya sendiri mulai mengakui—meski masih setengah hati—bahwa nafsu kecil di dalam tubuhnya telah mulai bangkit.
975Please respect copyright.PENANAwxIxrTZ3bl
Setelah berdiri lama di depan cermin, Ratna mundur selangkah dengan langkah goyah. Ia kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya, tapi pikirannya sudah tidak bisa tenang lagi. Bayangan dirinya di cermin terus menghantui—cara ia menyentuh lehernya sendiri, cara napasnya yang tersengal, dan cara tubuhnya merindukan sentuhan. Pikirannya mulai terhasut. Suara kecil di kepalanya berbisik bahwa tidak ada salahnya… hanya sekali… hanya untuk meredakan rasa panas yang semakin tak tertahankan.
Tangan Ratna bergerak sendiri. Ia mengangkat kedua tangannya ke dada, lalu meremas payudaranya sendiri melalui gaun tidur tipis. Jari-jarinya menekan dan memilin putingnya yang sudah mengeras. Rasa nikmat kecil langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia menggigit bibir, mencoba menahan suara, tapi hembusan napas parau sudah keluar dari mulutnya.
“Tidak… jangan…” bisiknya lemah, tapi tangannya tidak berhenti. Satu tangan turun ke bawah, menyelinap ke balik gaun tidurnya. Jari-jarinya menemukan klitorisnya yang sudah bengkak dan basah. Ia mulai menggosoknya pelan, memutar jari di atas tonjolan kecil itu. Tubuhnya langsung bergidik. Rasa nikmat yang jauh lebih kuat dari sebelumnya menyambarnya. Ratna semakin bernafsu. Ia menggosok lebih cepat, pinggulnya mulai bergerak mengikuti irama tangannya sendiri.
Napasnya semakin tersengal. Rasa malu sudah hampir hilang, digantikan oleh kebutuhan yang membakar. Ia memasukkan dua jari ke dalam memeknya yang sudah sangat basah. Jari-jarinya bergerak masuk-keluar dengan ritme yang semakin cepat. Sementara itu, tangan satunya tidak berhenti menggosok klitoris. Ratna mengerang pelan. Tubuhnya semakin panas. Ia merasa tidak cukup. Dengan napas yang sudah kacau, ia mengangkat kakinya lebih lebar, lalu jari tengah tangan kirinya menyentuh lubang anusnya yang masih rapat.
Ia ragu sejenak… tapi hasrat sudah terlalu kuat. Ia mendorong jarinya perlahan masuk ke dalam anusnya sambil jari tangan kanannya terus mengentot memeknya. Dua lubangnya sekarang diisi jarinya sendiri. Ratna menekuk punggung, mulutnya terbuka lebar. Ia menggerakkan kedua tangannya lebih cepat, memasukkan dan mengeluarkan jari-jarinya dari memek dan anus secara bergantian. Cairan bening sudah membasahi selimut di bawah tubuhnya. Ia semakin tak terkendali. Pinggulnya naik turun liar, mengikuti setiap dorongan jarinya sendiri.
Tapi semakin lama, jarinya tidak lagi cukup.
Ratna membuka mata dengan pandangan kabur karena nafsu. Ia melihat di sudut meja kecil dekat ranjang ada timun dan jagung yang sudah dikupas, berukuran besar. Tanpa berpikir panjang, ia meraih keduanya. Timun yang panjang dan tegas di tangan kanannya, jagung yang lebih tebal di tangan kirinya.
Ia tidak ragu lagi.
Ratna membuka kakinya lebar-lebar. Dengan tangan kanan, ia mengarahkan ujung timun yang sudah licin ke lubang memeknya, lalu mendorongnya dalam-dalam. Timun besar itu meregangkan dinding dalamnya dengan kuat. Ratna mengerang keras. Ia mulai mengentot memeknya sendiri dengan timun secara brutal, menarik dan mendorongnya dengan ritme yang semakin cepat. Sementara itu, tangan kirinya mengarahkan jagung ke anusnya yang sudah longgar. Ia mendorong jagung masuk perlahan, merasakan bintil-bintilnya menggesek dinding anusnya yang sensitif.
Dalam hitungan detik, Ratna sudah kehilangan kendali sepenuhnya.
Ia mengentot memeknya sendiri dengan timun besar secara kasar dan dalam, sementara jagung di tangan kirinya juga menusuk anusnya dengan dorongan yang kuat. Tubuhnya bergoyang-goyang di ranjang. Payudaranya bergoyang mengikuti setiap dorongan. Mulutnya terbuka lebar, mengerang tanpa malu lagi. Air mata bercampur keringat mengalir di pipinya, tapi bukan karena sedih—melainkan karena kenikmatan yang terlalu besar. Ia memasukkan dan mengeluarkan kedua benda itu secara bergantian, kadang bersamaan, memenuhi kedua lubangnya sekaligus. Suara basah dan kencang mengisi kamar.
Ratna sudah tidak bisa berhenti.
Pikirannya sudah kosong.
Hanya ada nafsu yang membakar dan kebutuhan untuk terus diisi.
Tubuhnya semakin liar. Kedua tangannya bekerja tanpa henti. Timun dan jagung besar itu terus menusuk memek dan anusnya dengan ritme yang semakin brutal dan cepat. Ratna merasa sesuatu yang sangat besar sedang membangun di dalam tubuhnya. Semakin cepat ia menggerakkan kedua benda itu, semakin kuat tekanan di bawah perutnya.
Hingga akhirnya—
Tubuhnya tiba-tiba menegang keras. Ratna menjerit panjang dan parau saat orgasme yang luar biasa hebat menyambar seluruh tubuhnya. Memeknya berkedut-kedut hebat di sekitar timun, menyemburkan cairan bening yang membasahi selimut, tangannya, dan paha dalamnya. Anusnya juga mengencang kuat di sekitar jagung. Tubuhnya gemetar hebat, pinggul terangkat tinggi dari ranjang, punggung melengkung, mulut terbuka lebar tanpa suara lagi. Gelombang kenikmatan datang beruntun, membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Ia terus menggerakkan timun dan jagung meskipun tubuhnya sudah gemetar hebat, memperpanjang orgasme hingga terasa menyakitkan karena terlalu nikmat.
Setelah orgasme yang sangat panjang dan hebat itu akhirnya mereda, Ratna jatuh lemas di ranjang. Napasnya tersengal-sengal, dada naik turun cepat. Dengan tangan gemetar, ia perlahan menarik timun keluar dari memeknya dan jagung dari anusnya. Kedua lubangnya terasa kosong, sensitif, dan sedikit nyeri. Ia melemparkan kedua benda itu ke lantai tanpa peduli, lalu menarik selimut ke tubuhnya yang basah keringat dan cairan.
Matanya terpejam berat.
Kelelahan yang luar biasa langsung menyerang seluruh tubuhnya.
Pikiran yang tadi penuh dengan nafsu kini kosong dan tenang.
Dalam hitungan detik, Ratna tertidur pulas, tubuhnya masih sesekali bergetar karena sisa-sisa orgasme yang baru saja ia alami.975Please respect copyright.PENANAbozzGFY1Kz


