1022Please respect copyright.PENANAizNdW5ifliBab 13
Bab 13: Menjadi Lebih Binal
1022Please respect copyright.PENANAg6IqaICGjZ
Pagi itu Ratna bangun dengan tubuh masih terasa lelah, namun ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya. Malam sebelumnya masih jelas terbayang—cara ia kehilangan kendali, cara ia memasukkan timun dan jagung ke dalam tubuhnya sendiri hingga mencapai puncak yang membuatnya gemetar hebat. Saat ia berdiri di depan cermin kamar mandi, wajahnya memerah sendiri. Ia merasa malu. Sangat malu. Tapi di balik rasa malu itu, ada dorongan baru yang tak bisa ia pungkiri lagi.
Ia sudah berubah.
Ratna menatap seragam sekolahnya yang tergantung di lemari. Rok pendeknya yang biasa ia kenakan terasa berbeda hari ini. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka laci dalam dan mengambil celana dalam, tapi kemudian ia berhenti. Pikirannya terhasut lagi. Ia menggigit bibir bawah, lalu meletakkan celana dalam itu kembali ke dalam laci. Hari ini… ia memutuskan untuk tidak memakainya.
“Gila,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Kau benar-benar sudah gila, Ratna.”
Namun meskipun ia mengatakan itu, tubuhnya justru merespons dengan cara yang lain. Ada rasa hangat yang menyebar di selangkangannya saat ia membayangkan apa yang akan ia lakukan. Ia merasa malu dengan dirinya sendiri, tapi ia juga mulai menerima—sedikit demi sedikit—bahwa sisi binal di dalam dirinya sudah mulai muncul dan tidak bisa lagi ia tekan sepenuhnya.
Di sekolah, Ratna berusaha bersikap seperti biasa. Ia duduk di bangku, mendengarkan pelajaran, dan menjawab pertanyaan guru dengan sopan. Namun setiap kali angin dari jendela kelas menyentuh pahanya yang telanjang di balik rok, hatinya berdegup kencang. Ia merasa telanjang. Ia merasa berbahaya. Dan anehnya, ia mulai menikmati perasaan itu.
Saat jam istirahat tiba, Ratna melihat Pak Budi sedang berdiri di depan meja guru di koridor, sedang memeriksa beberapa berkas. Jantung Ratna langsung berdetak lebih cepat. Pak Budi—guru yang selalu tegas, selalu memperhatikan murid-muridnya dengan saksama. Ratna menunduk, tapi langkah kakinya justru membawanya mendekat ke arah meja guru.
Ia berhenti tepat di depan meja Pak Budi, jaraknya hanya sekitar satu meter. Ratna menunduk, pura-pura melihat sepatunya, lalu ia membungkuk perlahan untuk “membenarkan tali sepatu”. Rok seragamnya yang pendek terangkat naik. Karena ia sengaja tidak memakai celana dalam, angin koridor langsung menyentuh selangkangannya yang telanjang. Ratna merasa pipinya panas. Ia membungkuk lebih dalam lagi, seolah-olah tali sepatunya benar-benar susah diikat, padahal ia hanya ingin memberikan pemandangan kecil kepada Pak Budi.
Ia bisa merasakan udara dingin menyentuh bibir memeknya yang sudah mulai basah karena gugup dan nafsu yang terpendam. Ratna menahan napas. Tangan kanannya masih sibuk dengan tali sepatu, sementara roknya tetap terangkat cukup tinggi untuk memperlihatkan paha atas dan sedikit lekuk bokongnya. Ia sengaja memiringkan tubuh sedikit, sehingga dari sudut pandang Pak Budi, kemungkinan besar bisa melihat bahwa di balik rok itu tidak ada apa-apa.
Ratna merasa malu luar biasa.
Tapi ia juga merasa bergairah.
Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia bisa merasakan denyut di selangkangannya. Ia tahu apa yang sedang ia lakukan adalah hal yang berbahaya, tapi justru karena itu ia tidak bisa berhenti. Ia mulai menerima sisi binalnya yang baru ini—meskipun rasa malu masih membakar pipinya.
Pak Budi yang tadinya fokus pada berkas di tangannya, perlahan mengangkat wajahnya. Matanya langsung tertuju ke arah Ratna yang sedang membungkuk di depan mejanya. Ia melihat. Ia sadar. Dan pandangannya langsung tertuju pada pemandangan yang sengaja ditampilkan Ratna.
Ratna masih membungkuk, tangannya masih sibuk dengan tali sepatu, tapi ia sudah merasakan tatapan Pak Budi menembusnya.
1022Please respect copyright.PENANAIFGwJpCrj2
Jam pelajaran terakhir usai. Ratna berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah yang sedikit tidak stabil. Jantungnya masih berdegup kencang sejak tadi siang. Ia tahu Pak Budi sudah melihat apa yang ia lakukan. Tatapan guru itu masih terasa panas di kulitnya.
Saat ia hampir sampai di gerbang sekolah, suara berat memanggil namanya dari belakang.
“Ratna.”
Ia berhenti. Pak Budi berdiri di ujung koridor, tangan memegang kunci gudang. Wajahnya datar, tapi matanya tajam.
“Ikut saya sebentar ke gudang. Ada yang perlu saya bicarakan tentang sikapmu tadi.”
Ratna menelan ludah. Ia bisa saja menolak, bisa saja berpura-pura tidak mengerti. Tapi kakinya justru bergerak mengikuti Pak Budi. Setiap langkah terasa berat, tapi ada rasa panas yang menyebar di selangkangannya. Ia masih tidak memakai celana dalam. Roknya yang pendek bergoyang pelan, dan setiap hembusan angin menyentuh memeknya yang sudah mulai basah sejak siang tadi.
Mereka sampai di gudang belakang sekolah. Tempat itu jarang digunakan, penuh dengan tumpukan matras olahraga lama, rak besi, dan barang-barang rusak. Pak Budi membuka pintu, membiarkan Ratna masuk duluan, lalu mengunci pintu dari dalam. Suara kunci berputar terdengar sangat keras di telinga Ratna.
Gudang itu remang-remang, hanya ada satu lampu neon yang berkedip di sudut.
Pak Budi berdiri di belakangnya. Suaranya rendah dan tegas.
“Kamu sengaja, ya? Tadi siang. Tidak pakai dalam, membungkuk di depan meja saya. Rok terangkat tinggi. Kamu pikir saya buta?”
Ratna menunduk. Pipinya panas. “Bukan… saya cuma… membenarkan tali sepatu…”
Pak Budi tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya. Ia melangkah mendekat, lalu tiba-tiba meraih ujung rok Ratna dan mengangkatnya dengan kasar sampai pinggang. Udara dingin gudang langsung menyentuh bokong dan memek Ratna yang telanjang. Pak Budi diam sejenak, melihat bahwa di balik rok itu memang tidak ada apa-apa.
“Tidak pakai celana dalam,” gumamnya. Jarinya menyentuh paha dalam Ratna, lalu naik ke bibir memeknya yang sudah lembab. “Dan basah. Kamu benar-benar sudah berubah, Ratna.”
Ratna menggigit bibir. Rasa malu membakar wajahnya, tapi tubuhnya justru merespons. Saat jari Pak Budi menyentuh klitorisnya, ia tidak bisa menahan napas yang sedikit tersengal.
Pak Budi mendorong Ratna ke depan hingga ia membungkuk di atas tumpukan matras tua. Roknya masih terlipat di pinggang. Ia menendang kaki Ratna agar lebih lebar. Suara resleting dibuka terdengar jelas. Pak Budi mengeluarkan kontolnya yang sudah setengah tegang.
Tanpa banyak kata, ia meludahi jarinya sendiri, lalu mengolesi lubang anus Ratna yang masih rapat. Ratna menggigil.
“Pak… jangan di situ…” bisiknya lemah.
Pak Budi tidak peduli. Ia menempelkan kepala kontolnya yang besar ke anus Ratna, lalu mendorong dengan satu kali tekanan kuat. Ratna menjerit. Lubang anusnya tiba-tiba diregangkan oleh kontol tebal Pak Budi. Rasa sakit yang tajam menyambar punggung bawahnya.
“Ahh—! Sakit… Pak…!”
Pak Budi tidak berhenti. Ia mendorong lebih dalam hingga separuh kontolnya masuk ke dalam anus Ratna. Ia menggenggam pinggul Ratna dengan kuat, lalu mulai menggenjot. Awalnya lambat, tapi semakin lama semakin cepat dan dalam. Setiap dorongan membuat Ratna menjerit. Tubuhnya bergoyang di atas matras. Air mata bercampur keringat mengalir di pipinya.
Tapi di balik rasa sakit, ada sesuatu yang lain yang mulai muncul. Setiap kali kontol Pak Budi menyentuh titik dalam anusnya, ada gelombang aneh yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Ratna mulai mengerang bukan hanya karena sakit. Suaranya berubah menjadi campuran antara tangis dan rintihan nikmat.
Pak Budi mendengar perubahan itu. Ia tertawa pendek.
“Mulai enak, ya? Tadi siang kamu sudah berani ngegodain. Sekarang rasakan.”
Ia menggenjot lebih keras. Suara “plak-plak-plak” dari pinggulnya yang menampar bokong Ratna menggema di gudang. Ratna mencengkeram matras dengan kedua tangan. Roknya yang terlipat di pinggang bergoyang-goyang. Memeknya yang telanjang basah kuyup, cairan bening menetes ke paha dalamnya setiap kali kontol Pak Budi menghantam anusnya dalam-dalam.
Ratna merasa malu. Sangat malu. Tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Ia mulai mendorong bokongnya ke belakang, mengikuti irama genjotan Pak Budi. Ia mulai menikmati rasa penuh dan sakit yang berubah menjadi nikmat yang membakar.
Pak Budi menggenjotnya habis-habisan. Kontolnya masuk keluar dari anus Ratna dengan ritme yang cepat dan kasar. Ia sesekali menampar bokong Ratna dengan telapak tangan, meninggalkan jejak merah di kulit putihnya.
Setelah beberapa menit menggenjot anus Ratna dengan ganas, Pak Budi tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke sudut gudang. Di sana, tergantung di dinding, ada tongkat satpam kayu yang panjang dan tebal, ujungnya agak membulat.
Ia melepaskan kontolnya dari anus Ratna sebentar. Ratna megap-megap, lubang anusnya terbuka sedikit, masih berkedut-kedut karena baru saja dihajar. Pak Budi mengambil tongkat satpam itu, lalu mengolesi ujungnya dengan cairan yang keluar dari memek Ratna. Ia kembali berdiri di belakang Ratna.
Ratna merasa sesuatu yang dingin dan keras menempel di anusnya yang sudah longgar.
“Pak… itu apa…?” suaranya gemetar.
Pak Budi tidak menjawab. Ia mendorong ujung tongkat satpam ke dalam anus Ratna yang sudah basah oleh air liur dan cairan. Karena anusnya sudah terbuka lebar karena kontol tadi, tongkat itu masuk dengan lebih mudah, meskipun tetap meregangkan dinding dalamnya dengan sangat kuat.
Ratna menjerit lebih keras dari sebelumnya. “Ahhh—! Terlalu besar…! Pak… tidak bisa…!”
Tapi Pak Budi tetap mendorong. Ia memasukkan tongkat satpam sekitar sepuluh senti ke dalam anus Ratna, lalu ia mengarahkan kembali kontolnya ke lubang yang sama. Dengan satu dorongan kuat, ia memasukkan kontolnya kembali ke dalam anus Ratna yang sudah diisi tongkat.
Sekarang dua benda besar berada di dalam anus Ratna secara bersamaan.
Ratna kehilangan suara. Mulutnya terbuka lebar, tapi hanya suara parau yang keluar. Anusnya meregang sangat lebar, lebih lebar dari yang pernah ia bayangkan. Rasa penuh yang luar biasa, campuran antara sakit yang menusuk dan nikmat yang membakar, membuat kepalanya kosong. Tubuhnya gemetar hebat di atas matras.
Pak Budi mulai bergerak lagi. Ia menggenjot anus Ratna dengan kontolnya sementara tongkat satpam tetap berada di dalam, ikut bergerak setiap kali ia mendorong. Efeknya sangat brutal. Setiap dorongan membuat kedua benda itu menggesek dinding anus Ratna secara bersamaan. Ratna tidak bisa berhenti mengerang. Suaranya sudah tidak jelas lagi, hanya rintihan panjang dan tangis nikmat yang bercampur.
“Pak… ahh… terlalu… dalam…! Saya… tidak tahan…!”
Tapi tubuhnya justru mendorong ke belakang. Ratna mulai menerima. Ia mulai menikmati rasa sakit yang berubah menjadi kenikmatan yang sangat dalam. Memeknya menyemburkan cairan setiap kali Pak Budi menghantam anusnya dengan keras. Ia orgasme pertama kali tanpa disentuh di klitorisnya — hanya karena anusnya yang diisi dua benda sekaligus.
Pak Budi merasakan anus Ratna berkedut-kedut hebat di sekitar kontol dan tongkatnya. Ia menggenjot lebih cepat, lebih kasar. Suara “plak-plak” dan suara basah dari anus Ratna yang diregangkan menggema di gudang. Ratna sudah tidak bisa berpikir lagi. Ia hanya bisa mengerang dan mendorong bokongnya ke belakang, memohon tanpa sadar agar Pak Budi tidak berhenti.
Pak Budi menggenjotnya habis-habisan selama hampir dua puluh menit. Setiap kali Ratna hampir pingsan karena orgasme, ia memperlambat sebentar, lalu menggenjot lagi dengan ritme yang lebih ganas. Tongkat satpam dan kontolnya terus mengisi anus Ratna secara bersamaan, meregangkan lubang itu hingga batasnya.
Akhirnya, Pak Budi mencapai puncak. Ia mendorong kontolnya sedalam mungkin ke dalam anus Ratna, sementara tongkat satpam masih berada di dalam. Ia menyemburkan air mani panas yang sangat banyak ke dalam usus Ratna. Ratna merasakan kehangatan itu menyebar di dalam perutnya. Tubuhnya kembali gemetar hebat saat ia mencapai orgasme ketiga — atau keempat, ia sudah kehilangan hitungan.
Setelah Pak Budi menarik kontolnya keluar, ia juga menarik tongkat satpam dengan perlahan. Anus Ratna terbuka lebar, tidak bisa menutup sempurna. Air mani Pak Budi bercampur dengan cairan bening mengalir keluar dari lubang yang sudah longgar itu.
Ratna jatuh lemas di atas matras. Napasnya tersengal. Tubuhnya basah keringat. Bokongnya terasa panas dan nyeri, tapi ada rasa puas yang aneh menyebar di dadanya. Ia menangis pelan — bukan karena sakit semata, melainkan karena ia sadar betapa dalam ia sudah berubah. Ia baru saja dianal habis-habisan oleh gurunya, bahkan dengan tongkat satpam di dalam anusnya, dan ia menikmatinya.
Pak Budi berdiri di belakangnya, mengatur napas. Ia menatap bokong Ratna yang masih terangkat, lubang anusnya yang masih berkedut-kedut dan tidak bisa menutup rapat.
Ratna perlahan menoleh. Matanya berkaca-kaca, tapi ada kilau baru di dalamnya. Ia tidak lagi menangis sekeras dulu. Ia hanya diam, menerima apa yang baru saja terjadi padanya.
Pak Budi tersenyum tipis.
“Kamu sudah berubah, Ratna. Dan ini baru permulaan.”
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menunduk, roknya masih terlipat di pinggang, tubuhnya gemetar karena sisa-sisa orgasme dan kelelahan. Di dalam hatinya, rasa malu masih ada. Tapi di balik rasa malu itu, ada penerimaan yang perlahan tumbuh.
Ia sudah tidak bisa kembali menjadi Ratna yang dulu.1022Please respect copyright.PENANA99xkDudMx3


