1063Please respect copyright.PENANAe8qGZEjPTQBab 14
Bab 14: Ketagihan yang Tak Bisa Ditolak
1063Please respect copyright.PENANAQ4WVYRgg2T
Siang itu di kontrakan Pak Budi, Ratna sudah tidak lagi menangis setiap kali dipanggil. Ia masih merasa bersalah setiap kali selesai, tapi rasa bersalah itu sekarang bercampur dengan sesuatu yang lebih kuat—ketagihan. Tubuhnya sudah terbiasa. Setiap kali tangan-tangan kasar meraba tubuhnya, setiap kali kontol masuk ke memek atau anusnya, ia tidak lagi hanya diam menahan. Ia mulai merespons. Mulai mendesah. Mulai mendorong pinggulnya sendiri ke arah yang menggenjotnya.
Ada empat orang di ruangan kecil itu. Pak Budi sendiri dan tiga temannya. Cahaya matahari siang menembus jendela yang setengah terbuka, menyinari tubuh Ratna yang telanjang di tengah lantai. Rok seragamnya sudah dibuang ke sudut, kemeja putihnya terbuka lebar menampakkan payudaranya yang kemerahan karena digigit dan diisap. Satu kontol berada di dalam mulutnya, dua kontol digenggam di tangan kanannya dan kirinya, sementara Pak Budi berada di belakang, sedang menggenjot anusnya dengan ritme yang dalam dan mantap.
Ratna mendesah pelan di antara isapan. Ia masih malu. Masih ada suara kecil di kepalanya yang bilang ini salah, bahwa ia seharusnya tidak menikmati ini. Tapi tubuhnya sudah tidak peduli lagi. Setiap kali kontol Pak Budi menghantam titik dalam anusnya, ia merasakan gelombang nikmat yang membuat matanya terpejam. Memeknya sudah basah kuyup, menetes ke lantai tanpa disentuh.
Di luar kontrakan, terdengar suara tukang-tukang bangunan yang sedang bekerja di lahan kosong sebelah. Bunyi palu, gerinda, dan tawa kasar kuli terdengar jelas menembus dinding tipis di siang hari yang terang. Ratna mendengarnya. Dan tiba-tiba, ide gila muncul di kepalanya.
Ia ingin mereka mendengar.
Ia ingin mereka tahu.
Dengan sengaja, Ratna membuka mulut lebih lebar, melepaskan kontol yang tadi digigitnya, lalu mendesah dengan suara yang jauh lebih keras dari biasanya.
“Ahhh… Pak… dalam sekali… ahhh… enak…”
Suara desahannya yang panjang dan parau memenuhi ruangan. Pak Budi dan teman-temannya terkejut sebentar, lalu tertawa.
“Wah, sekarang berani desah keras,” kata salah satu teman Pak Budi sambil menampar pipi Ratna dengan kontolnya. “Mau didengar orang luar, ya?”
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah jendela yang setengah terbuka. Jendela itu menghadap langsung ke lahan bangunan di sebelah. Dengan sengaja ia mendesah lagi, lebih keras, lebih panjang, seolah-olah ingin memastikan suaranya menembus dinding di siang bolong ini.
“Ahhh… iya… genjot terus… anusnya penuh… ahhh…!”
Di luar, suara kerja para kuli sempat berhenti sejenak. Ada tawa kasar, lalu bisik-bisik. Beberapa di antara mereka menoleh ke arah kontrakan Pak Budi. Satu orang yang berdiri paling dekat dengan pagar bambu tipis mengangkat alis, lalu menyikut temannya.
Ratna melihat dari sudut matanya. Ada bayangan bergerak di balik jendela. Cahaya siang yang terang membuat siluet mereka terlihat jelas. Ia tahu mereka sedang mengintip. Rasa malu yang hebat langsung membakar pipinya, tapi di saat yang sama memeknya berkedut kuat. Ia sengaja membuka kakinya lebih lebar, membiarkan Pak Budi menggenjot anusnya lebih dalam sambil ia mendesah lagi dengan suara yang hampir seperti menjerit.
“Ahhh… lebih dalam… Pak… anusnya diisi penuh… ahhh…!”
Pak Budi tertawa kasar di belakangnya. Ia meraih rambut Ratna dan menarik kepalanya ke belakang, membuat punggungnya melengkung. Kontolnya terus menghantam anus Ratna dengan keras, menghasilkan suara “plak-plak” yang basah. Sementara itu, dua kontol di tangan Ratna digosok lebih cepat, dan satu lagi dipaksa masuk ke mulutnya lagi.
Di luar, para kuli sudah tidak lagi pura-pura bekerja. Empat atau lima orang berdiri di dekat pagar, mengintip melalui celah-celah bambu dan jendela yang terbuka. Cahaya siang yang terang membuat mereka bisa melihat dengan sangat jelas: gadis berseragam sekolah yang telanjang, berlutut di lantai, dikelilingi empat pria dewasa. Satu kontol di mulutnya, dua di tangannya, dan satu lagi sedang menggenjot anusnya dari belakang.
Ratna merasakan tatapan mereka. Ia tahu mereka melihat. Dan justru karena itu ia semakin berani. Ia melepaskan kontol dari mulutnya sebentar, menoleh ke arah jendela, lalu dengan sengaja menjulurkan lidah dan mendesah panjang sekali sambil menatap ke arah tempat para kuli berdiri.
“Ahhh… lihat… mereka lihat… ahhh…!”
Pak Budi yang mendengar itu hanya tertawa lebih keras. Ia menggenjot anusnya semakin kasar, membuat tubuh Ratna bergoyang hebat. Cairan dari memek Ratna sudah membasahi lantai di bawahnya. Ia tidak lagi mencoba menyembunyikan suaranya. Setiap desahan, setiap erangan, setiap “lebih dalam… lebih kencang…” sengaja dikeluarkan dengan keras agar para kuli di luar bisa mendengar dengan jelas di siang hari yang terang.
Dan para kuli itu memang melihat. Mereka berdiri diam di balik pagar, mata melebar, beberapa di antara mereka sudah meraba celana mereka sendiri. Mereka melihat bagaimana Ratna melayani empat pria sekaligus dengan tubuh yang sudah tidak lagi menolak. Mereka melihat bagaimana ia mendorong bokongnya ke belakang setiap kali Pak Budi menghantam anusnya. Mereka melihat bagaimana wajahnya yang basah air liur dan air mata itu penuh dengan ekspresi nikmat yang tidak bisa disembunyikan di bawah cahaya siang.
Ratna tahu mereka sedang menonton.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ingin berhenti.
1063Please respect copyright.PENANAqSZmrJrVOJ
1063Please respect copyright.PENANAHA9nK9xDG5
Pak Budi melihat bayangan para kuli yang masih berdiri di balik pagar. Ia tertawa kasar, lalu melepaskan kontolnya dari anus Ratna sebentar. Dengan suara keras ia memanggil ke luar jendela.
“Hei, kalian di luar! Mau ikut? Masuk saja. Ratna di sini siap dilayani.”
Para kuli saling pandang. Beberapa masih ragu, tapi rasa penasaran dan nafsu sudah lebih kuat. Satu per satu mereka masuk lewat pintu belakang yang dibuka Pak Budi. Totalnya ada sebelas orang. Bau keringat, debu bangunan, dan nafsu langsung memenuhi ruangan sempit itu.
Ratna masih berlutut di lantai, tubuhnya basah keringat dan cairan. Matanya melebar melihat jumlah mereka. Jantungnya berdegup kencang. Rasa malu masih ada, tapi di balik itu ada getaran aneh yang membuat memeknya berkedut. Ia sudah terlalu dalam. Ketagihan sudah menguasai tubuhnya.
Awalnya para kuli masih berusaha bergiliran. Satu orang berbaring di lantai, menarik Ratna ke atasnya dan langsung menusukkan kontolnya ke memek Ratna yang sudah basah. Yang lain menunggu di belakang, mengocok kontol masing-masing sambil menonton. Pak Budi dan ketiga temannya ikut berdiri di samping, sesekali menyuruh Ratna mengisap mereka sambil digentot dari bawah.
Ratna mendesah pelan. Ia mencoba menikmati. Setiap kali kontol masuk ke memeknya, ia mendorong pinggulnya sendiri. Mulutnya sibuk mengisap satu per satu. Anusnya yang masih longgar karena digentot Pak Budi tadi sesekali dimasuki jari atau kontol orang lain. Ia masih bisa menghitung. Masih bisa bernapas.
Tapi para kuli tidak sabar.
Setelah hanya beberapa giliran, mereka mulai mendorong satu sama lain. Tidak ada yang mau menunggu. Tangan-tangan kasar meraih tubuh Ratna dari segala arah. Seseorang menariknya dari posisi duduk di atas kontol, lalu membalikkannya. Dalam sekejap, Ratna sudah dibaringkan di atas tumpukan matras kotor. Kaki-kakinya dibuka lebar oleh dua pasang tangan.
Satu kontol langsung menusuk masuk ke memeknya. Belum sempat ia mengerang, kontol lain ikut mendorong masuk ke lubang yang sama. Dua kontol sekaligus meregangkan memek Ratna hingga ia menjerit.
“Ahhh—! Tidak… terlalu penuh… ahhh…!”
Tapi tidak ada yang berhenti. Kedua kontol itu bergerak bersamaan di dalam memeknya, saling bergesekan, meregangkan dinding dalamnya sampai sakit dan nikmat bercampur jadi satu. Sementara itu, di belakang, dua kontol lain ikut mendorong masuk ke anusnya yang sudah longgar. Dua kontol sekaligus memenuhi anusnya. Ratna merasa seolah tubuhnya akan robek. Air mata mengalir deras, tapi desahannya tidak berhenti.
“Ahhh… ahhh… penuh… semuanya penuh…!”
Tangan-tangan lain tidak tinggal diam. Kontol-kontol digosokkan ke wajahnya, ke payudaranya, ke mulutnya. Ratna dipaksa mengisap bergantian, kadang dua kontol masuk ke mulutnya sekaligus sampai air liurnya menetes ke dagu. Tubuhnya digoyang-goyang dari segala arah. Setiap lubang diisi, setiap inci kulitnya disentuh, digigit, dicubit.
Para kuli sudah tidak peduli giliran. Mereka menyerbu. Ada yang berdiri di atas matras, menundukkan kontolnya ke mulut Ratna. Ada yang berlutut di samping, memaksa kontol masuk ke sela payudaranya. Ada yang menunggu di belakang, siap menggantikan begitu salah satu kontol di anus atau memeknya keluar sebentar.
Ratna sudah tidak bisa menghitung lagi. Tubuhnya hanya bisa menerima. Setiap kali dua kontol di memeknya bergerak bersamaan, ia merasakan orgasme kecil yang membuatnya gemetar. Setiap kali dua kontol di anusnya menghantam dalam-dalam, ia menjerit panjang. Mulutnya penuh, wajahnya basah air liur dan air mani yang sudah tumpah di pipinya.
Waktu berlalu tanpa ia sadari. Cahaya siang di jendela perlahan berubah menjadi jingga. Para kuli berganti posisi berkali-kali. Ada yang sudah keluar di dalam memeknya, lalu digantikan yang lain. Ada yang keluar di anusnya, lalu digantikan lagi. Ada yang menyembur di wajahnya, di payudaranya, di rambutnya. Tubuh Ratna basah oleh cairan mereka. Memek dan anusnya sudah longgar total, terus diisi ulang tanpa jeda.
Ratna mulai kehilangan kekuatan. Tangannya lemas. Kakinya hanya bisa dibuka lebar oleh tangan-tangan yang menahannya. Desahannya berubah menjadi erangan lemah. Matanya mulai berkunang-kunang. Ia masih merasakan setiap dorongan, setiap regangan, setiap kontol yang masuk bersamaan di kedua lubangnya, tapi kesadarannya semakin menjauh.
Pak Budi berdiri di samping, menonton sambil mengocok kontolnya sendiri. Ia tersenyum puas melihat Ratna yang sudah tidak berdaya di tengah sebelas kuli.
“Terus. Pakai sampai habis,” katanya.
Dan mereka terus.
Sampai cahaya di luar jendela mulai redup. Sampai suara desahan Ratna semakin pelan. Sampai tubuhnya hanya tinggal digoyang oleh dorongan-dorongan kasar tanpa perlawanan. Orgasme terakhir yang datang membuat seluruh tubuhnya menegang sejenak, lalu lemas total.
Ratna pingsan.
Tubuhnya masih digentot beberapa saat setelah itu. Kontol-kontol masih masuk keluar dari memek dan anusnya yang sudah longgar dan basah. Para kuli masih belum puas, masih bergantian memakai lubang-lubang yang sudah tidak lagi bereaksi. Baru ketika langit di luar benar-benar gelap dan beberapa di antara mereka sudah kelelahan, mereka berhenti.
Ratna tergeletak di atas matras yang basah. Tubuhnya penuh cairan, memek dan anusnya masih sedikit terbuka, napasnya lemah. Ia tidak sadarkan diri.
Di luar, malam sudah tiba.1063Please respect copyright.PENANAU9tzSbBORO


