1045Please respect copyright.PENANApZnwjvJu9hBab 15
Bab 15: Ratna yang Berubah
Ratna berdiri di depan cermin kamarnya, menatap bayangan dirinya sendiri dengan pandangan yang sudah berbeda. Wajah yang dulu selalu sembab karena menangis kini tampak tenang, bahkan ada sedikit senyum tipis di sudut bibirnya. Tubuhnya masih terasa pegal setelah kejadian di kontrakan Pak Budi kemarin. Memek dan anusnya masih sedikit perih, tapi rasa nyeri itu justru membuatnya teringat kembali pada apa yang terjadi—sebelas kuli yang menyerbunya, dua kontol yang masuk bersamaan ke dalam lubangnya, dan bagaimana ia akhirnya pingsan karena terlalu banyak digunakan.
Dulu, kenangan seperti itu akan membuatnya menangis dan membenci dirinya sendiri. Sekarang, yang ia rasakan justru denyut hangat di selangkangannya.
Ia sudah berubah.
Ponsel di atas meja bergetar. Pesan masuk dari nomor yang sudah ia kenal. Pak Budi.
“Malam ini ke sini. Teman-teman juga datang.”
Ratna membaca pesan itu berkali-kali. Tidak ada rasa takut yang muncul. Tidak ada keinginan untuk menolak. Justru dadanya terasa berdebar karena sesuatu yang lain—antisipasi. Ia menaruh ponsel, lalu membuka lemari dan mengambil seragam sekolahnya. Ia sengaja memilih rok yang paling pendek, lalu memutuskan untuk tidak memakai celana dalam sama sekali. Ia ingin merasakan udara dingin menyentuh selangkangannya sepanjang jalan menuju kontrakan itu.
Di perjalanan, pikirannya penuh dengan bayangan. Ia membayangkan tangan-tangan kasar yang akan meraba tubuhnya lagi, kontol-kontol yang akan masuk ke dalam dirinya, dan suara desahan yang akan keluar dari mulutnya sendiri. Rasa malu masih ada, tapi sekarang rasa malu itu sudah tercampur dengan rasa ingin. Ia ingin dipanggil. Ia ingin dilayani. Ia ingin digunakan.
Ketika sampai di depan pintu kontrakan, Ratna tidak ragu mengetuk. Pintu terbuka. Pak Budi berdiri di ambang pintu, tersenyum tipis melihat penampilannya.
“Masuk,” katanya singkat.
Ratna masuk tanpa kata. Di dalam sudah ada tiga teman Pak Budi. Bau rokok dan minuman memenuhi ruangan. Mereka menatapnya dari atas sampai bawah, dan Ratna tidak lagi menunduk malu. Ia berdiri di tengah ruangan, lalu dengan sengaja membuka kancing kemeja seragamnya satu per satu sampai payudaranya terlihat. Roknya digulung ke pinggang, menampakkan memeknya yang sudah mulai basah meski belum disentuh.
“Kamu sudah tidak malu lagi, ya?” tanya salah satu teman Pak Budi sambil mendekat.
Ratna menatapnya. “Sudah tidak.”
Kata-kata itu keluar dengan tenang. Ia sendiri terkejut mendengar suaranya sendiri yang begitu yakin. Ia benar-benar sudah berubah. Ia tidak lagi menjadi gadis yang hanya menangis dan menolak. Ia sekarang adalah wanita yang menanti, yang menerima, yang bahkan mulai menikmati setiap sentuhan kasar yang akan datang.
Pak Budi mendorongnya ke sofa. Ratna tidak melawan. Ia membiarkan tubuhnya dibaringkan, membiarkan kaki-kakinya dibuka lebar, membiarkan jari-jari kasar menyentuh memek dan anusnya yang masih sensitif. Ketika kontol pertama masuk ke dalam memeknya, ia mendesah panjang—bukan karena terpaksa, melainkan karena tubuhnya sudah merindukan rasa penuh itu.
Ia mulai bergerak sendiri. Pinggulnya naik turun mengikuti genjotan. Tangannya meraih kontol lain dan membawanya ke mulutnya. Ia mengisap dengan lahap, lidahnya bergerak aktif, seolah ingin membuktikan bahwa ia sudah tidak lagi hanya menerima. Ia ingin memberi. Ia ingin melayani.
Setiap kali ada kontol yang masuk ke anusnya, ia mengerang lebih keras. Setiap kali ada tangan yang meremas payudaranya, ia mendorong dadanya ke depan. Rasa bersalah yang dulu selalu mengganggunya sekarang hanya menjadi bisikan kecil yang semakin jauh. Yang tersisa hanyalah kenikmatan, ketagihan, dan kesadaran bahwa dirinya sudah benar-benar berubah.
Di tengah-tengah genjotan yang semakin kencang, Ratna membuka mata dan menatap langit-langit kontrakan. Air mata mengalir di sudut matanya, tapi kali ini bukan karena sedih. Ia tersenyum kecil di antara desahan.
“Aku sudah jadi wanita binal…” bisiknya pelan, hampir tidak terdengar.
Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang menyangkal. Karena semuanya sudah terlihat jelas dari cara ia membuka kaki lebih lebar, dari cara ia mendesah meminta lebih dalam, dan dari cara ia tidak lagi menolak ketika dipanggil.
Ratna sudah berubah.
Dan ia tahu, ia tidak akan pernah kembali.1045Please respect copyright.PENANA8tjPPgKdDM


