1614Please respect copyright.PENANA1H44cmQ5S7Bab 4
Bab 4: Malam yang Berubah
Dalam beberapa hari terakhir, Ratna merasa dirinya semakin tidak bisa mengendalikan hasrat yang ada di dalam dirinya. Setiap kali ia berhasil melakukan aksinya tanpa ketahuan, perasaan puas yang muncul justru membuatnya ingin mencoba hal yang lebih berani lagi. Rasa takut yang ia rasakan saat melakukan hal-hal terlarang itu justru menjadi pendorong yang membuatnya semakin ketagihan.
Pagi itu, Ratna bangun dengan perasaan yang sedikit berbeda. Saat ia berdiri di depan lemari setelah mandi, ia sudah memiliki rencana di kepalanya. Ia ingin melakukan sesuatu yang lebih berisiko dari biasanya. Ia berdiri diam cukup lama sambil memandang seragamnya yang sudah disetrika rapi. Ada keraguan yang muncul, tapi ada juga dorongan yang lebih kuat untuk melangkah lebih jauh.
Setelah berpikir cukup lama, Ratna akhirnya mengambil keputusan. Ia membuka laci dan mengambil celana dalam yang sudah ia siapkan, lalu meletakkannya kembali ke dalam laci. Hari ini ia kembali memutuskan untuk tidak memakainya. Bahkan keputusan ini sudah terasa lebih mudah baginya dibandingkan beberapa minggu lalu. Ia merasa seperti sudah terbiasa dengan risiko tersebut.
Sepanjang perjalanan ke sekolah dengan motor, Ratna merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Setiap kali motornya melewati jalan yang ramai, ia bisa merasakan angin masuk melalui roknya yang longgar. Perasaan itu membuatnya sedikit tegang, tapi di saat yang sama ada kegembiraan aneh yang muncul di dadanya. Ia terus memikirkan apa yang akan ia lakukan sore nanti. Ia sudah merencanakan untuk melakukan aksinya di belakang gedung sekolah, tempat yang biasanya sepi di sore hari.
Sesampainya di sekolah, Ratna berusaha bersikap normal seperti biasa. Ia tersenyum dan menyapa guru-guru lain di ruang guru. Ia mengobrol ringan tentang jadwal pelajaran dan kegiatan sekolah. Tidak ada yang curiga bahwa di balik senyum dan sikapnya yang ramah, Ratna sedang memikirkan hal lain yang sangat bertolak belakang dengan citra dirinya sebagai guru.
Sepanjang hari, Ratna merasa sulit berkonsentrasi. Saat mengajar, pikirannya sering melayang ke sore nanti. Ia merasa gelisah dan excited secara bersamaan. Setiap kali jam menunjukkan waktu yang semakin sore, jantungnya semakin berdegup kencang. Ia merasa seperti sedang menunggu sesuatu yang sangat ia inginkan, sekaligus sangat ia takuti.
Setelah jam pelajaran terakhir selesai, Ratna tidak langsung pulang. Ia sengaja berlama-lama di ruang guru dengan alasan ada berkas yang harus diselesaikan. Ia menunggu hingga hampir semua guru dan siswa pulang. Sekolah mulai terasa sepi. Suasana sore yang tenang justru membuat Ratna merasa semakin berani.
Sekitar pukul setengah lima sore, Ratna akhirnya bangun dari mejanya. Ia berjalan pelan menuju belakang gedung sekolah. Tempat itu memang jarang dilewati orang karena letaknya yang agak tersembunyi di antara dua gedung dan ada beberapa pohon besar di sekitarnya. Ratna sudah beberapa kali memperhatikan tempat tersebut dan merasa tempat itu cukup aman untuk melakukan aksinya.
Setelah sampai di belakang gedung, Ratna berdiri diam selama beberapa detik. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada orang di sekitar. Suasana di tempat itu cukup sepi. Hanya terdengar suara angin dan sesekali suara motor dari jalan depan sekolah. Ratna menghela napas dalam-dalam, lalu mulai membuka kancing kemejanya perlahan.
Ia membuka kancingnya hingga ke dada. Angin sore langsung menyentuh kulit dadanya yang terbuka. Ratna merasa jantungnya berdetak sangat kencang. Ia berdiri di situ dengan posisi yang agak membelakangi gedung, sehingga jika ada orang yang lewat dari jauh, kemungkinan besar tidak akan langsung melihatnya.
Ratna berdiri di belakang gedung cukup lama. Ia membiarkan dadanya terbuka dan membiarkan angin menyentuh kulitnya. Setiap kali ada suara langkah kaki atau suara motor dari kejauhan, ia langsung menutup kancing bajunya dengan cepat dan berpura-pura sedang melihat ponsel. Tapi setelah suara itu menjauh, ia membuka kancingnya kembali. Perasaan takut dan excited bercampur menjadi satu, membuatnya merasa sedikit pusing.
Ratna bahkan mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto dengan tangan yang gemetar. Ia merasa sangat gugup, tapi juga merasa sangat bergairah. Ia tahu apa yang ia lakukan sangat berbahaya. Jika ada guru atau siswa yang melihatnya, karir dan reputasinya sebagai guru bisa hancur dalam sekejap. Tapi justru karena risiko itu, ia merasa tidak bisa menahan dirinya.
Ia berdiri di situ selama hampir sepuluh menit. Beberapa kali ia hampir menutup kancing bajunya karena mendengar suara dari kejauhan, tapi setelah merasa aman, ia membukanya kembali. Ratna merasa seperti sedang bermain dengan api. Semakin lama ia berdiri di situ, semakin kuat perasaan excited yang muncul di dalam dirinya.
Setelah merasa cukup, Ratna akhirnya menutup kancing bajunya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia menghela napas panjang dan merasa sedikit lega karena berhasil melakukannya tanpa ketahuan. Ada rasa puas yang muncul di dadanya. Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri sambil berbalik untuk pergi.
Namun, saat Ratna baru saja hendak melangkah, ia tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia merasa seperti sedang diawasi. Perasaan itu muncul begitu tiba-tiba hingga membuatnya langsung berhenti.
Ratna perlahan menoleh ke belakang.
Dan di saat itu juga, ia melihat seseorang berdiri tidak jauh dari situ.
Seorang pria berusia sekitar empat puluhan, memakai seragam satpam sekolah lengkap dengan topi. Pria itu berdiri di dekat sudut gedung sambil memegang ponsel di tangannya. Wajahnya terlihat tenang, tapi tatapannya jelas tertuju pada Ratna.
Ratna merasa seperti darahnya mengalir deras ke kepala. Ia langsung mengenali pria itu. Ia adalah Pak Budi, salah satu satpam yang sudah bekerja di sekolah tersebut cukup lama. Ratna pernah beberapa kali melihatnya di gerbang sekolah, tapi mereka tidak pernah benar-benar berbicara.
Sekarang, Pak Budi berdiri di sana sambil memegang ponsel, dan Ratna langsung menyadari apa yang mungkin terjadi.
Ia merasa sangat panik. Jantungnya berdetak sangat kencang hingga terasa sakit di dada. Kakinya terasa lemas. Ratna berdiri di tempatnya tanpa bisa bergerak. Ia ingin lari, tapi tubuhnya seperti tidak mau menuruti perintahnya. Ia ingin berkata sesuatu, tapi suaranya seperti hilang ditelan ketakutan.
Pak Budi akhirnya berjalan mendekat dengan langkah yang tenang. Wajahnya tetap datar, tapi ada sedikit senyum samar di bibirnya. Ia berhenti beberapa langkah dari Ratna dan mengangkat ponselnya sedikit.
Ratna merasa seperti dunia runtuh di hadapannya.
Ia tahu, ia sudah ketahuan.
Dan ia juga tahu, apa yang baru saja ia lakukan bisa menghancurkan segalanya yang telah ia bangun selama ini.
Ratna berdiri di tempatnya dengan tubuh yang gemetar. Ia merasa sangat malu, sangat takut, dan sangat menyesal. Ia ingin menangis, tapi air matanya seperti tidak mau keluar. Ia hanya bisa berdiri di situ sambil menatap Pak Budi dengan perasaan yang sangat kacau.
Pak Budi tidak langsung mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di situ sambil memandang Ratna dengan tatapan yang sulit dibaca. Hening selama beberapa detik yang terasa sangat lama bagi Ratna.
Akhirnya, Pak Budi membuka mulutnya.
“Bu Ratna…” katanya pelan.
Suara itu terdengar sangat tenang, tapi bagi Ratna, suara itu terasa seperti vonis.
Ratna masih belum bisa mengatakan apa-apa. Ia hanya bisa berdiri di tempatnya dengan tangan yang gemetar. Pikirannya sangat kacau. Ia memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Ia memikirkan bagaimana jika Pak Budi menyebarkan apa yang ia lihat. Ia memikirkan bagaimana jika video atau foto yang mungkin Pak Budi ambil tersebar ke kepala sekolah, ke guru lain, bahkan ke orang tua siswa.
Ratna merasa seperti sudah kehilangan segalanya dalam sekejap.
Ia menunduk dalam-dalam. Air matanya akhirnya mulai mengalir perlahan di pipinya. Ia merasa sangat malu dan sangat takut. Ia ingin memohon, tapi ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Pak Budi masih berdiri di depannya, memegang ponsel di tangan.
Dan Ratna tahu, mulai saat ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.1614Please respect copyright.PENANAJjROC0zqkl


