1546Please respect copyright.PENANADyyquAvJiOBab 5
Bab 5: Video yang Menghancurkan
Setelah kejadian di belakang gedung sekolah sore kemarin, Ratna merasa seperti ada beban yang sangat berat menimpa dadanya. Ia pulang dengan kondisi yang sangat tidak tenang. Sepanjang perjalanan dengan motor, tangannya terus gemetar. Beberapa kali ia hampir kehilangan keseimbangan karena pikirannya tidak bisa tenang sama sekali. Ia terus membayangkan wajah Pak Budi yang berdiri sambil memegang ponsel, dan bagaimana pria itu melihatnya dengan tatapan yang sulit dibaca.
Begitu sampai di rumah, Ratna langsung masuk ke kamar tanpa banyak bicara dengan ibunya. Ia mengunci pintu dari dalam, lalu langsung duduk di lantai sambil memeluk lututnya erat-erat. Air mata yang tadi ia tahan selama perjalanan pulang akhirnya pecah. Ia menangis pelan tapi dalam. Tubuhnya gemetar. Ia merasa sangat malu, sangat takut, dan sangat menyesal atas apa yang telah ia lakukan.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang…” gumamnya berulang kali sambil menangis.
Malam itu Ratna tidak bisa tidur sama sekali. Ia terus membolak-balikkan badan di tempat tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Pak Budi langsung muncul di kepalanya. Ia membayangkan berbagai skenario buruk yang mungkin terjadi. Ia membayangkan jika video itu disebarkan ke kepala sekolah. Ia membayangkan jika rekan kerja dan orang tua siswa mengetahui apa yang ia lakukan. Semua bayangan itu membuatnya semakin panik dan gelisah.
Pagi harinya, Ratna bangun dengan mata bengkak dan kepala yang terasa sangat berat. Ia berusaha menutupi bekas tangisannya dengan bedak, tapi hasilnya tetap terlihat jelas. Ia berusaha tersenyum di depan ibunya saat sarapan, meskipun hatinya sangat kacau. Ia takut jika ibunya curiga, maka ia harus memberikan penjelasan yang ia sendiri belum siap untuk berikan.
Sepanjang perjalanan ke sekolah, Ratna merasa seperti sedang menuju ke tempat yang sangat ia takuti. Jantungnya terus berdegup kencang. Tangan dan kakinya terasa dingin. Ia takut bertemu Pak Budi di gerbang sekolah. Untungnya, pagi itu Pak Budi tidak ada di gerbang. Ratna merasa sedikit lega, tetapi rasa lega itu hanya bertahan sebentar.
Sepanjang hari di sekolah, Ratna merasa sangat sulit berkonsentrasi. Saat mengajar, pikirannya sering melayang ke sore nanti. Beberapa kali ia salah menjelaskan materi karena tidak fokus. Beberapa siswa bahkan memperhatikannya dengan khawatir karena ia terlihat sangat pucat dan tidak seperti biasanya. Ratna berusaha tersenyum dan bersikap normal, tetapi semakin lama ia merasa semakin berat untuk melakukannya.
Saat jam istirahat, Ratna duduk sendirian di ruang guru. Ia tidak memiliki nafsu makan sama sekali. Ia hanya memandang ponselnya dengan perasaan cemas. Ia takut Pak Budi akan menghubunginya. Dan ketakutannya itu ternyata tidak sia-sia.
Sekitar pukul sepuluh lewat, ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan.
Pak Budi:
Bu Ratna, setelah jam pelajaran terakhir, tolong datang ke pos satpam. Ada yang perlu dibicarakan.
Ratna merasa seperti ada batu besar yang menimpa dadanya saat membaca pesan itu. Ia membaca pesan tersebut berulang kali dengan tangan yang gemetar hebat. Ia ingin membalas dan menolak untuk datang, tetapi ia tahu bahwa menolak bukanlah pilihan yang bijak. Jika ia tidak datang, Pak Budi bisa saja melakukan hal yang lebih buruk.
Sepanjang sisa hari itu, Ratna merasa seperti sedang menunggu hukuman. Ia tidak bisa fokus mengajar. Suaranya terdengar lemah dan tidak yakin. Beberapa siswa bahkan bertanya apakah ia sedang sakit. Ratna hanya bisa tersenyum kecil dan mengatakan bahwa ia hanya kurang tidur.
Setelah jam pelajaran terakhir selesai, Ratna berdiri di depan kelasnya cukup lama. Ia menatap papan tulis dengan pikiran yang kosong. Ia merasa sangat takut untuk pergi ke pos satpam, tetapi ia juga tahu bahwa semakin ia menunda, semakin buruk keadaannya nanti.
Dengan langkah yang sangat berat, Ratna akhirnya berjalan menuju pos satpam. Setiap langkah terasa seperti membawa beban yang semakin berat. Jantungnya berdetak sangat kencang. Ia merasa seperti sedang berjalan menuju sesuatu yang akan menghancurkan hidupnya.
Pos satpam terlihat sepi saat Ratna sampai di sana. Hanya ada Pak Budi yang sedang duduk di dalam. Begitu melihat Ratna datang, Pak Budi berdiri dan membuka pintu pos.
“Masuk, Bu Ratna,” katanya dengan suara tenang.
Ratna masuk dengan kepala tertunduk rendah. Ia merasa sangat malu untuk menatap wajah Pak Budi. Ia berdiri di tengah pos satpam dengan kedua tangan saling memegang erat-erat karena gugup.
Pak Budi menutup pintu dan mengunci dari dalam. Suara kunci yang berbunyi terdengar sangat jelas di telinga Ratna, membuatnya semakin takut.
Pak Budi kemudian duduk di kursinya dan mengambil ponsel dari meja. Ia mengetuk layar beberapa kali, lalu menoleh ke Ratna.
“Bu Ratna,” katanya pelan. “Saya rasa Bu Ratna sudah tahu kenapa saya panggil ke sini.”
Ratna tidak menjawab. Ia hanya menunduk semakin dalam. Air matanya sudah mulai menggenang di mata.
Pak Budi menekan layar ponselnya, lalu memutar video. Ia memutar video tersebut dengan volume yang cukup jelas. Video itu menampilkan Ratna yang berdiri di belakang gedung sekolah sore kemarin. Di video tersebut, Ratna terlihat membuka kancing kemejanya dan memperlihatkan dadanya. Ia juga terlihat mengambil beberapa foto dengan ponselnya sendiri. Wajah Ratna terlihat sangat jelas di rekaman tersebut.
Ratna merasa seperti ada petir yang menyambar tubuhnya. Ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya langsung mengalir deras tanpa bisa ia tahan. Ia menggeleng-geleng kepala dengan cepat.
“Itu… itu bukan… Pak Budi… tolong…” Ratna menangis histeris. Suaranya pecah karena tangisan yang sangat keras.
Pak Budi tidak menghentikan video. Ia membiarkan video itu terus diputar sampai selesai. Setelah video berakhir, ia meletakkan ponsel di atas meja dan menatap Ratna yang sedang menangis di depannya.
“Bu Ratna,” katanya dengan suara yang masih tenang. “Saya sudah merekam semuanya. Bukan hanya video ini. Saya juga punya foto-foto yang Bu Ratna ambil sendiri di perpustakaan dan di area parkir.”
Ratna merasa lututnya lemas. Ia langsung berlutut di lantai pos satpam. Ia menangis sangat keras. Ia memegang ujung baju Pak Budi dengan tangan gemetar.
“Pak Budi… tolong… hapus video itu… Saya mohon…” Ratna menangis tersedu-sedu. “Saya punya keluarga… Saya punya karir… Kalau video ini tersebar, hidup saya akan hancur… Saya tidak bisa… Saya benar-benar tidak bisa…”
Pak Budi tidak langsung menjawab. Ia hanya diam sambil memandang Ratna yang sedang berlutut dan menangis di depannya. Ia membiarkan Ratna menangis cukup lama sebelum akhirnya bicara lagi.
“Bu Ratna,” katanya pelan. “Saya tidak akan langsung menyebarkan video ini. Tapi Bu Ratna harus mengerti posisi saya. Saya sudah melihat semuanya. Dan saya punya bukti yang cukup jelas.”
Ratna mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Ia menatap Pak Budi dengan mata yang bengkak dan penuh ketakutan.
“Apa… apa yang Pak Budi inginkan?” tanyanya dengan suara parau karena menangis.
Pak Budi menatap Ratna cukup lama sebelum menjawab.
“Saya ingin Bu Ratna menurut,” katanya. “Jika Bu Ratna menurut, maka video ini akan aman. Tapi jika Bu Ratna menolak atau mencoba untuk menghindar… maka saya akan kirim video ini ke kepala sekolah, ke grup guru, dan mungkin juga ke beberapa orang tua siswa.”
Ratna merasa seperti ada sesuatu yang menghancurkan dadanya. Ia kembali menangis dengan sangat keras. Ia merasa sangat terjebak. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa seperti sudah kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
“Pak Budi… saya… saya tidak bisa…” Ratna menangis. “Saya punya suami… saya punya keluarga… Saya tidak bisa melakukan hal seperti itu… Tolong… saya mohon…”
Pak Budi tidak terpengaruh dengan tangisan Ratna. Ia tetap duduk dengan tenang di kursinya.
“Itu pilihan Bu Ratna,” katanya. “Saya hanya memberikan dua pilihan. Menurut, atau video ini tersebar. Pilihannya ada di tangan Bu Ratna.”
Ratna duduk di lantai pos satpam sambil menangis. Ia merasa sangat hancur. Ia merasa seperti sudah kehilangan segalanya. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi ancaman ini. Ia merasa sangat malu karena harus berlutut dan memohon di depan seorang satpam sekolah.
Pak Budi berdiri dan mengambil ponselnya.
“Saya beri Bu Ratna waktu sampai besok sore untuk memikirkan jawabannya,” katanya. “Tapi saya sarankan Bu Ratna tidak usah berpikir terlalu lama. Semakin lama Bu Ratna menunda, semakin buruk keadaannya nanti.”
Pak Budi kemudian membuka pintu pos satpam.
“Bu Ratna bisa pulang sekarang,” katanya. “Tapi ingat, saya punya video itu.”
Ratna berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Ia berjalan keluar dari pos satpam dengan langkah yang tidak stabil. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Ia merasa sangat malu, sangat takut, dan sangat putus asa.
Sepanjang perjalanan pulang, Ratna terus menangis. Ia merasa seperti sudah tidak bisa lagi menyelamatkan dirinya sendiri. Ia merasa seperti sudah terjebak dalam situasi yang sangat buruk dan tidak ada jalan keluar.
Malam itu, Ratna tidak bisa tidur sama sekali. Ia terus memikirkan kata-kata Pak Budi. Ia memikirkan video yang direkam. Ia memikirkan masa depannya yang tiba-tiba terasa sangat gelap dan tidak pasti. Ia merasa seperti sudah kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok.1546Please respect copyright.PENANAmZwtMmRdZ8


