1694Please respect copyright.PENANAQ6qJb4AMqXBab 2
Bab 2: Hasrat yang Tak Bisa Ditahan
Ratna bangun pagi seperti biasanya. Setelah sholat Subuh dan mengaji sebentar, ia berdiri di depan lemari sambil memikirkan pakaian yang akan ia pakai hari ini. Ia mengambil seragam guru yang sudah disetrika rapi — kemeja putih lengan panjang dan rok panjang hitam. Semuanya terlihat sangat sopan dan rapi, seperti yang selalu ia kenakan.
Namun sebelum memakai rok, Ratna berdiri diam di depan cermin. Ia menatap dirinya sendiri cukup lama. Ada keraguan yang muncul di wajahnya. Ia tahu apa yang sedang ia pikirkan, dan ia juga tahu bahwa ini bukan hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru, apalagi guru yang berhijab.
Tapi setelah beberapa saat, Ratna akhirnya mengambil keputusan. Ia membuka laci dalam lemari, mengambil celana dalam, lalu meletakkannya kembali ke dalam laci. Hari ini ia memutuskan untuk tidak memakainya. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat begitu ia menutup laci tersebut. Ada perasaan campur aduk antara rasa bersalah dan kegembiraan yang sulit ia jelaskan.
Ratna memakai roknya dengan tangan yang sedikit gemetar. Begitu rok itu menutupi tubuhnya, ia bisa merasakan angin dari AC menyentuh kulit pahanya secara langsung. Perasaan itu membuatnya sedikit gelisah, tapi juga membuatnya merasa lebih hidup. Ia berdiri di depan cermin sekali lagi, memastikan penampilannya tetap rapi dari luar, sebelum akhirnya keluar kamar.
Sepanjang perjalanan ke sekolah, Ratna terus memikirkan keputusannya. Setiap kali motornya melewati jalan yang agak ramai, ia merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Ia bisa merasakan roknya yang longgar bergeseran di kulitnya. Perasaan itu membuatnya sedikit tegang, tapi di saat yang sama ada rasa excited yang muncul di dadanya. Ia tahu ini berbahaya, tapi justru karena itu ia merasa tidak bisa menahan diri.
Sesampainya di sekolah, Ratna memarkir motornya di tempat biasa. Ia turun dan berjalan menuju ruang guru dengan langkah yang tenang. Beberapa guru menyapanya, dan ia menjawab dengan senyum yang ramah seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam yang rapi itu, Ratna sedang melakukan sesuatu yang sangat bertentangan dengan citra dirinya.
Di ruang guru, Ratna duduk di mejanya. Ia membuka buku pelajaran dan berpura-pura sibuk. Sesekali ia meneguk air dari botol yang ia bawa. Tapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di situ. Ia terus menyadari bahwa saat ini ia tidak memakai celana dalam, dan ia akan menghabiskan seharian dalam keadaan seperti itu. Perasaan itu membuatnya merasa gelisah sekaligus bergairah.
Jam pelajaran pertama dimulai. Ratna masuk ke kelas dengan membawa buku dan pulpen. Ia berdiri di depan papan tulis dan mulai menjelaskan materi seperti biasa. Saat ia berjalan di depan kelas, ia bisa merasakan roknya yang bergeseran di kulit pahanya. Setiap kali ia membungkuk untuk menulis di papan tulis atau mengambil sesuatu yang jatuh, ia merasa ada sedikit risiko. Meskipun roknya panjang, ia tetap merasa ada kemungkinan kecil bahwa seseorang bisa melihat sesuatu jika tidak hati-hati.
Ratna merasa jantungnya berdetak lebih cepat setiap kali ia melakukan gerakan tersebut. Ada rasa takut yang muncul, tapi di balik rasa takut itu ada perasaan excited yang sulit ia bendung. Ia tahu ini salah, ia tahu ini berbahaya, tapi ia juga merasa tidak bisa berhenti.
Setelah jam pelajaran selesai, Ratna kembali ke ruang guru. Ia duduk di mejanya dan menghela napas pelan. Tubuhnya terasa sedikit tegang. Ia merasa bersalah karena telah melakukan hal seperti ini di lingkungan sekolah, tapi di saat yang sama ia juga merasa ada kepuasan aneh yang muncul di dalam dirinya.
Saat istirahat kedua, Ratna pergi ke toilet guru yang berada di ujung koridor. Toilet itu biasanya sepi karena letaknya yang agak jauh dari ruang guru dan kelas. Setelah memastikan tidak ada orang lain di dalam, Ratna masuk ke salah satu bilik dan mengunci pintunya.
Ia berdiri di depan cermin kecil yang ada di dalam bilik. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ratna membuka kancing kemejanya perlahan dari atas. Ia membuka hingga tiga kancing, sehingga sebagian payudaranya terlihat jelas. Ia berdiri di depan cermin cukup lama, memandang dirinya sendiri. Ada rasa malu yang muncul, tapi juga ada kegembiraan yang sulit ia bendung.
Ratna mengeluarkan ponsel dari tasnya. Ia mengambil beberapa foto dari berbagai sudut. Setiap kali tombol kamera berbunyi, jantungnya berdegup lebih kencang. Ia merasa takut jika ada orang yang tiba-tiba masuk ke toilet, tapi justru karena rasa takut itu ia merasa semakin excited. Setelah selesai mengambil foto, ia dengan cepat menutup kancing bajunya kembali dan keluar dari bilik.
Sepanjang sisa hari itu, Ratna merasa lebih bersemangat dari biasanya. Meskipun ia tetap mengajar dengan normal dan bersikap sopan di depan siswa dan guru lain, di dalam hatinya ada perasaan yang terus bergelora. Ia terus memikirkan apa yang ia lakukan tadi di toilet. Ia merasa bersalah, tapi ia juga merasa ingin melakukan hal yang lebih berani lagi.
Sore harinya, setelah jam pelajaran terakhir selesai, Ratna tidak langsung pulang. Ia berlama-lama di ruang guru dengan alasan membereskan berkas. Setelah hampir semua guru pulang dan sekolah mulai sepi, Ratna bangun dari mejanya. Ia berjalan menuju koridor di lantai dua yang biasanya sudah sepi di sore hari.
Koridor itu panjang dan hanya ada sedikit orang yang lewat. Ratna berjalan pelan sambil sesekali melihat ke kiri dan kanan. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, ia berhenti di depan jendela besar yang menghadap ke halaman sekolah. Ia berdiri di situ selama beberapa detik, ragu-ragu, sebelum akhirnya membuka dua kancing teratas kemejanya.
Angin sore menyentuh kulit dadanya yang terbuka. Ratna merasa jantungnya berdetak sangat kencang. Ia berdiri di depan jendela tersebut cukup lama, membiarkan angin menyentuh tubuhnya. Setiap kali ada suara langkah kaki dari kejauhan, ia langsung menutup kancing bajunya dengan cepat. Tapi setelah merasa aman lagi, ia membukanya kembali.
Perasaan takut dan excited bercampur menjadi satu. Ratna merasa seperti sedang bermain dengan api. Ia tahu ini sangat berbahaya, ia tahu jika ada orang yang melihatnya, karir dan reputasinya bisa hancur. Tapi justru karena itu ia merasa tidak bisa menahan diri.
Setelah merasa cukup, Ratna menutup kancing bajunya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia berjalan cepat menuju parkir motor dan langsung pulang. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus memikirkan apa yang baru saja ia lakukan. Ada rasa bersalah yang sangat besar, tapi di saat yang sama ada juga kepuasan yang sulit ia jelaskan.
Malam harinya, setelah sholat Isya dan makan malam bersama keluarga, Ratna kembali ke kamar lebih awal. Ia mengunci pintu dari dalam dan duduk di tempat tidurnya. Ia mengeluarkan ponsel dan membuka album tersembunyi yang berisi foto-foto yang ia ambil di toilet sekolah tadi siang.
Ratna menatap fotonya sendiri dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa malu melihat dirinya sendiri dalam keadaan seperti itu, tapi di saat yang sama ia juga merasa ada dorongan untuk melakukan hal yang lebih berani lagi di lain waktu. Ia tahu ini sudah menjadi kebiasaan yang berbahaya, tapi ia juga merasa tidak bisa berhenti.
Ratna meletakkan ponselnya dan berbaring di tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang masih berputar. Ia tahu dirinya sedang melakukan hal yang salah. Ia tahu sebagai seorang guru, apalagi guru yang berhijab, ia seharusnya tidak melakukan hal-hal seperti ini. Tapi semakin ia mencoba untuk berhenti, semakin kuat hasrat itu muncul.
Ratna menutup mata. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa hasrat ini sudah mulai sulit ia tahan.
Dan ia juga tahu, suatu hari nanti, hasrat itu bisa saja menghancurkannya.1694Please respect copyright.PENANALxQ0iJYBFu


