1694Please respect copyright.PENANApbG300soDZBab 1
Bab 1: Guru Baru yang Terlihat Sempurna
Pagi itu Ratna bangun lebih awal dari biasanya. Jam menunjukkan pukul setengah lima. Ia langsung duduk di tempat tidur, mengusap wajah sebentar, lalu mengambil mukena yang sudah disiapkan di samping bantal. Kamarnya masih gelap, hanya diterangi lampu kecil di meja nakas. Ratna menggelar sajadah di lantai dan mulai sholat Subuh dengan khusyuk.
Setelah selesai sholat, ia duduk sebentar di atas sajadah. Matanya terpejam, tangannya diangkat untuk berdoa. Doanya seperti biasa — meminta agar hari ini bisa berjalan lancar, agar ia bisa menjadi guru yang baik, dan agar ia dijaga dari hal-hal buruk. Setelah berdoa, Ratna membuka Al-Qur’an kecilnya dan membaca beberapa ayat dengan suara pelan.
Setelah mengaji, Ratna berdiri dan melipat sajadahnya dengan rapi. Ia masuk ke kamar mandi, mandi dengan air hangat, lalu memakai seragam guru yang sudah disetrika. Kemeja putih lengan panjang, rok panjang hitam yang longgar, dan hijab segi empat berwarna hitam polos. Semuanya terlihat rapi dan sopan.
Sebelum keluar kamar, Ratna berdiri di depan cermin. Ia memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Tampilan luarnya memang sangat berbeda dengan apa yang ia rasakan di dalam. Ia tersenyum kecil pada bayangannya sendiri, lalu mengambil tas dan keluar kamar.
Di meja makan, ibunya sudah menyiapkan sarapan. Ratna duduk dan makan dengan tenang sambil sesekali menjawab pertanyaan ibunya tentang pekerjaan di sekolah. Ia terlihat seperti gadis baik-baik pada umumnya. Sopan, santun, dan tidak banyak bicara yang aneh.
Setelah sarapan, Ratna pamit dan berangkat ke sekolah dengan motor. Perjalanan menuju sekolah memakan waktu sekitar dua puluh menit. Sepanjang jalan, Ratna terlihat seperti guru biasa yang sedang berangkat mengajar. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya.
Sesampainya di sekolah, Ratna memarkir motornya di area parkir guru. Ia turun dan berjalan menuju ruang guru dengan langkah yang tenang. Beberapa guru yang sudah datang lebih awal menyapanya dengan ramah.
“Pagi, Bu Ratna,” sapa salah satu guru senior.
“Pagi, Bu,” jawab Ratna sambil tersenyum kecil.
Di ruang guru, Ratna meletakkan tasnya dan mengambil buku pelajaran yang akan ia ajarkan hari ini. Ia terlihat sibuk mempersiapkan materi. Beberapa guru lain mengobrol dengannya tentang siswa dan kegiatan sekolah. Ratna menjawab dengan sopan dan ramah. Tidak ada yang curiga bahwa di balik senyum dan sikapnya yang baik, ada hal lain yang ia simpan.
Jam pelajaran pertama dimulai. Ratna masuk ke kelas X IPA 2. Begitu ia masuk, suasana kelas langsung tenang. Ratna berdiri di depan kelas dengan hijab yang rapi dan seragam yang tertutup. Ia mulai mengajar dengan suara yang jelas dan tenang. Ia menjelaskan materi dengan sabar, sesekali bertanya kepada siswa, dan menjawab pertanyaan dengan ramah.
Di mata para siswa, Ratna adalah guru yang baik dan menarik. Beberapa siswa laki-laki bahkan diam-diam memperhatikannya lebih lama. Tapi Ratna tidak pernah memberikan kesan yang aneh. Ia selalu menjaga jarak dan bersikap profesional.
Saat istirahat, Ratna kembali ke ruang guru. Ia duduk di mejanya sambil membuka buku catatan. Sesekali ia meneguk air dari botol yang ia bawa. Dari luar, ia terlihat seperti guru biasa yang sedang istirahat. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam benaknya, ada pikiran-pikiran lain yang sedang berputar.
Setelah jam pelajaran terakhir selesai, Ratna membereskan barang-barangnya. Ia berpamitan kepada beberapa guru dan berjalan menuju parkir motor. Hari itu ia pulang agak sore karena ada rapat singkat dengan wali kelas.
Di perjalanan pulang, Ratna terdiam. Pikirannya sedikit melayang. Ia memikirkan hari yang baru saja ia lewati. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Ia mengajar dengan lancar, disapa dengan ramah, dan tidak ada masalah. Tapi Ratna tahu, ada sisi dirinya yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di sekolah.
Sesampainya di rumah, Ratna langsung masuk ke kamar. Ia meletakkan tasnya dan duduk di tempat tidur. Ia melepas hijabnya perlahan, lalu membuka kancing kemejanya satu per satu. Setelah itu ia berdiri di depan cermin dan memperhatikan dirinya.
Di balik penampilan guru yang sopan dan berhijab itu, Ratna menyimpan sesuatu yang sangat berbeda. Sesuatu yang ia sendiri kadang merasa malu untuk diakui, tapi tidak bisa ia tahan.
Ratna menatap bayangannya di cermin cukup lama. Ada sedikit senyum samar di bibirnya. Senyum yang berbeda dari senyum yang ia tunjukkan di sekolah.
Malam itu, setelah sholat Isya dan makan malam bersama keluarga, Ratna kembali ke kamar lebih awal. Ia mengunci pintu dari dalam. Ia duduk di tempat tidurnya sambil memegang ponsel. Matanya menatap layar, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Ratna memang terlihat sempurna di mata orang lain.
Tapi hanya ia sendiri yang tahu, betapa jauhnya ia dari kesan sempurna itu.1694Please respect copyright.PENANAkb9xoBVfv2


