613Please respect copyright.PENANAxlGGqCgbDmBab 4
Bab 4: Video yang Menghancurkan
Sore itu Dinda pulang kampus lebih awal dari biasanya. Sejak pagi ia sudah merasa tidak enak badan. Kepalanya pusing dan tubuhnya terasa lemas. Setelah mengikuti dua mata kuliah, ia memutuskan untuk tidak ikut diskusi kelompok dan langsung pulang. Begitu sampai rumah, ia langsung naik ke kamar, melepas cadar dan hijabnya, lalu berbaring di tempat tidur. Ia menutup mata dan berusaha untuk tidur sebentar, berharap rasa pusingnya bisa berkurang.
Setelah beristirahat sekitar satu jam, Dinda bangun dengan perasaan yang masih belum enak. Ia turun ke bawah untuk mengambil air minum di dapur. Rumah terasa sepi. Ayah dan ibunya belum pulang dari kegiatan masing-masing. Hanya ada Budi yang terlihat sedang membersihkan halaman belakang. Dinda tidak terlalu memperhatikannya. Ia menuang air putih ke dalam gelas dan meminumnya pelan-pelan sambil berdiri di dapur.
Tiba-tiba Budi muncul dari arah belakang rumah. Ia berjalan masuk melalui pintu dapur dengan langkah yang tenang. Begitu melihat Dinda, Budi tersenyum seperti biasa — senyum yang selama ini Dinda anggap ramah dan sopan.
“Mbak Dinda ada di rumah ya?” tanyanya dengan nada suara yang ramah.
Dinda mengangguk pelan. “Iya, Mas. Tadi agak tidak enak badan, jadi pulang lebih cepat.”
Budi mengangguk mengerti. Ia berdiri agak dekat dengan Dinda, lalu berkata dengan suara yang sedikit lebih rendah dari biasanya.
“Mbak Dinda, bisa tolong sebentar? Ada barang di gudang yang perlu dicek. Saya takut salah ambil. Mending Mbak yang lihat sendiri.”
Dinda mengerutkan kening. Ia jarang diminta Budi untuk pergi ke gudang. Gudang itu berada di bagian paling belakang rumah, agak terpencil, dan biasanya hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang lama serta peralatan kebun. Ia merasa sedikit bingung.
“Tapi… kenapa harus saya, Mas?” tanya Dinda pelan.
Budi tersenyum tipis. “Karena barangnya milik Mbak juga. Lebih baik Mbak yang lihat langsung.”
Dinda masih ragu, tapi ia tidak ingin menolak. Ia mengangguk pelan. “Baiklah.”
Budi berjalan di depan, dan Dinda mengikuti dari belakang dengan langkah pelan. Mereka melewati halaman belakang yang sepi. Angin sore terasa agak dingin. Saat sampai di depan gudang, Budi membuka pintu kayu yang agak berderit. Gudang itu cukup gelap di dalamnya. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari jendela kecil di atas.
Begitu Dinda masuk, Budi menutup pintu di belakang mereka. Suara pintu tertutup terdengar cukup keras di telinga Dinda. Ia merasa sedikit tidak nyaman berada di tempat yang gelap dan sempit ini, tapi ia tetap berusaha tenang.
“Barangnya di mana, Mas?” tanya Dinda sambil melihat sekeliling gudang yang penuh dengan kardus dan peralatan lama.
Budi tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menyalakan layarnya. Ia mengetuk beberapa kali, lalu menoleh ke Dinda. Wajahnya sudah tidak lagi menunjukkan senyum ramah seperti tadi.
“Mbak Dinda,” katanya dengan suara yang jauh lebih dingin. “Saya ada sesuatu yang perlu Mbak lihat.”
Dinda mengerutkan kening lebih dalam. “Apa?”
Budi mendekatkan ponselnya ke arah Dinda. Di layar, ada sebuah video yang sedang diputar. Dinda mengerjap beberapa kali saat melihat isi video tersebut. Ia merasa seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya.
Itu adalah dirinya sendiri.
Di video itu, Dinda sedang berdiri di depan cermin kamarnya tanpa cadar dan tanpa hijab. Rambut panjangnya terurai bebas. Ia sedang mengeringkan rambut dengan handuk setelah mandi. Video itu sangat jelas. Bahkan bisa terlihat ekspresi wajahnya saat ia sedang sendiri di kamar. Dinda bisa melihat dirinya tersenyum kecil saat mengeringkan rambut.
Dinda merasa darahnya seperti mengalir deras ke kepala. Ia mundur selangkah dan hampir tersandung sebuah kardus di belakangnya.
“Itu… itu apa?” suaranya bergetar hebat.
Budi menggeser video ke bagian lain tanpa berkata apa-apa. Sekarang muncul rekaman Dinda di dalam kamar mandi. Ia sedang mandi. Meskipun ada uap air yang sedikit menghalangi, tetap saja terlihat jelas bahwa itu adalah Dinda tanpa sehelai pakaian pun. Video itu merekam dari sudut yang tinggi, seolah-olah kamera dipasang di langit-langit kamar mandi.
Dinda merasa kakinya seperti tidak bisa menahan tubuhnya lagi. Ia langsung memegang lengan Budi dengan kedua tangannya yang gemetar.
“Mas Budi… ini… ini dari mana?” suaranya sudah mulai tercekat. Air mata langsung mengalir di pipinya. “Hapus! Hapus video itu sekarang juga!”
Budi tidak menghapus video tersebut. Ia malah menatap Dinda dengan tenang. Senyum ramah yang selama ini selalu ia tunjukkan sudah hilang sama sekali dari wajahnya.
“Saya pasang kamera di kamar Mbak,” jawab Budi dengan suara datar. “Sudah beberapa hari yang lalu. Waktu Mbak dan orang tua Mbak pergi ke acara keluarga.”
Dinda merasa seperti disambar petir. Ia mundur sampai punggungnya menyentuh dinding gudang yang dingin. Tangannya masih memegang lengan Budi erat-erat, seolah takut melepaskannya.
“Mas Budi… tolong… hapus video itu. Saya mohon…” suaranya sudah pecah karena tangisan. “Jangan sebarkan… tolong… Saya akan lakukan apa saja…”
Budi menarik tangannya pelan dari genggaman Dinda. Ia menyimpan ponsel kembali ke saku celana dengan gerakan yang tenang.
“Saya tidak akan sebarkan,” katanya pelan. “Asal Mbak nurut sama saya.”
Dinda menggeleng-geleng cepat. Air matanya semakin deras membasahi pipi dan bajunya. “Apa maksud Mas? Saya… saya tidak mengerti… Tolong jelaskan…”
Budi melangkah lebih dekat. Jarak mereka sekarang sangat dekat. Dinda bisa mencium bau sabun cuci yang masih menempel di baju Budi. Ia merasa sangat takut.
“Saya sudah lama memperhatikan Mbak,” kata Budi dengan suara rendah dan dingin. “Mbak selalu memakai cadar, selalu terlihat sangat alim di depan orang lain. Tapi saya ingin melihat sisi Mbak yang lain. Sisi yang tidak pernah dilihat orang lain. Sisi yang hanya saya yang tahu.”
Dinda menangis semakin kencang. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan karena takut suara tangisannya terdengar keluar gudang. Tubuhnya gemetar hebat. Lututnya terasa lemas.
“Mas Budi… saya mohon… jangan lakukan ini… Saya akan bilang ke Ayah… Saya akan cerita semuanya…” suaranya tersendat-sendat.
Budi tertawa kecil. Tawa itu terdengar sangat dingin di telinga Dinda.
“Kalau Mbak berani cerita ke siapa pun, termasuk Ayah Mbak, saya akan sebarkan video ini ke mana-mana. Ke grup keluarga besar, ke teman-teman kampus Mbak, bahkan saya upload ke media sosial. Biar semua orang tahu bagaimana ‘anak alim’ yang selalu memakai cadar itu sebenarnya.”
Dinda merasa seperti dunia runtuh di hadapannya. Ia berlutut di lantai gudang yang kotor dan berdebu. Tangannya memegang baju Budi erat-erat. Ia menangis histeris tanpa bisa mengendalikan dirinya lagi.
“Mas… saya mohon… jangan… Saya akan lakukan apa saja… tapi jangan sebarkan video itu… tolong…” suaranya pecah karena isakan tangis yang hebat.
Budi menunduk dan melihat Dinda yang sedang berlutut di depannya. Ia tersenyum tipis dengan tatapan yang dingin.
“Satu-satunya cara supaya video ini aman,” katanya pelan tapi tegas, “adalah Mbak nurut sama saya. Dari sekarang, Mbak adalah milik saya. Apa pun yang saya minta, Mbak harus lakukan tanpa menolak. Kalau tidak… besok pagi video ini akan tersebar ke mana-mana.”
Dinda menggeleng-geleng sambil terus menangis. Air matanya membasahi lantai gudang. Ia merasa sangat kotor, sangat hina, dan sangat takut. Ia merasa seperti ada sesuatu yang pecah di dalam dadanya.
“Saya… saya tidak bisa… Ini dosa besar… Saya tidak bisa melakukan itu…” gumamnya dengan suara parau.
Budi membungkuk dan mengangkat dagu Dinda dengan jarinya, memaksa gadis itu menatapnya. Air mata Dinda terus mengalir.
“Pilihan ada di tangan Mbak,” katanya dingin. “Nurut sama saya, atau video ini tersebar besok pagi. Pilih sendiri.”
Dinda merasa seperti ada sesuatu yang robek di dalam hatinya. Ia merasa cadar yang selama ini ia pakai dengan bangga, cadar yang ia anggap sebagai simbol kesucian dan perlindungan dirinya, tiba-tiba terasa sangat berat dan kotor. Seolah-olah cadar itu sudah ternoda hanya karena video ini ada di tangan Budi.
Ia menangis semakin keras. Tubuhnya gemetar tidak terkendali. Ia merasa sangat takut, sangat malu, dan sangat putus asa.
Budi melepaskan dagu Dinda dan berdiri tegak. Ia melihat Dinda yang masih berlutut di lantai dengan tatapan puas.
“Besok saya akan hubungi Mbak lagi,” katanya tenang. “Dan Mbak harus siap. Jangan coba-coba untuk menolak.”
Setelah mengatakan itu, Budi berbalik dan berjalan keluar dari gudang tanpa menoleh lagi. Pintu gudang ditutup dari luar, meninggalkan Dinda sendirian di dalam kegelapan.
Dinda masih berlutut di lantai gudang yang dingin dan kotor. Ia menangis tanpa suara lagi. Hanya isakan yang keluar dari mulutnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri seolah ingin menghilang dari tempat itu. Pikirannya kacau. Ia merasa sangat kotor. Ia merasa cadar kesuciannya yang selama ini ia jaga dengan sangat hati-hati sudah mulai robek dan ternoda.
Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia takut video itu akan tersebar. Ia takut orang tuanya akan kecewa. Ia takut reputasinya sebagai gadis alim akan hancur.
Dinda menangis di dalam gudang yang gelap sampai ia tidak tahu sudah berapa lama ia berada di sana.
Dan di luar gudang, Budi berdiri sambil memandang pintu gudang yang tertutup dengan senyum tipis di bibirnya.613Please respect copyright.PENANAszWOcIEcMt


