562Please respect copyright.PENANAYaWLHajcEABab 3
Bab 3: Kamera yang Tak Terlihat
Malam itu Dinda pulang kampus lebih lambat dari biasanya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan ketika ojek online yang ia naiki akhirnya berhenti di depan pagar rumah. Tubuhnya terasa sangat lelah. Sejak pagi ia sudah mengikuti tiga mata kuliah berturut-turut, lalu dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang memakan waktu hampir dua jam. Kepalanya terasa berat, punggungnya pegal, dan kakinya terasa seperti tidak ingin melangkah lagi.
Dinda turun dari motor ojek dengan gerakan pelan. Ia membayar melalui aplikasi, lalu berjalan masuk melewati gerbang kecil. Rumah besar itu sudah terlihat gelap dari luar. Hanya ada dua lampu yang menyala di lantai bawah — satu di teras dan satu lagi di ruang makan. Ayah dan ibunya biasanya sudah tidur lebih awal jika tidak ada acara penting, apalagi besok pagi ayahnya harus berangkat ke luar kota untuk urusan bisnis.
Begitu Dinda membuka pintu depan, ia langsung melihat Budi sedang duduk di kursi kayu dekat dapur. Pria itu seolah sedang istirahat sebentar setelah seharian bekerja. Begitu melihat Dinda masuk, Budi langsung berdiri.
“Mbak Dinda sudah pulang?” tanyanya dengan nada suara yang ramah dan sopan seperti biasanya.
Dinda mengangguk pelan. “Iya, Mas. Tadi ada tugas kelompok yang harus diselesaikan. Maaf ya, pulangnya agak malam.”
Budi menggeleng. “Nggak apa-apa, Mbak. Mau saya buatkan teh hangat atau kopi? Biar badan Mbak tidak terlalu capek.”
Dinda tersenyum kecil di balik cadarnya. “Nggak usah, Mas. Aku cuma mau langsung mandi terus tidur. Badanku sudah sangat lelah. Terima kasih ya.”
Budi mengangguk hormat. “Baik, Mbak. Selamat malam.”
Dinda mengangguk balik lalu berjalan menuju tangga. Setiap langkah terasa berat. Ia memegang railing tangga saat naik ke lantai dua. Begitu sampai di depan kamarnya, ia membuka pintu dan langsung masuk. Pintu ia tutup pelan agar tidak membangunkan orang tua yang sudah tidur.
Begitu berada di dalam kamar, Dinda langsung meletakkan tas kuliahnya di atas meja belajar. Ia berdiri diam sebentar di tengah kamar, menarik napas dalam-dalam. Kamarnya terasa sejuk karena AC yang sudah menyala sejak sore. Ia merasa sangat lega bisa pulang dan berada di ruang pribadinya.
Dinda membuka cadar yang sudah dipakainya seharian. Ia meletakkannya di atas meja rias dengan hati-hati. Setelah itu ia melepas hijab segi empat hitam yang ia pakai. Rambut panjangnya yang hitam terurai begitu hijab dilepas. Ia mengacak-acak rambutnya dengan jari, merasa lega karena akhirnya kepalanya bisa bernapas.
Ia berjalan ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Pintu kamar mandi ia tutup, tapi tidak sampai mengunci rapat-rapat seperti biasanya. Di rumah sendiri, Dinda memang jarang mengunci pintu kamar mandi. Ia merasa aman dan tidak ada yang akan mengganggu.
Di dalam kamar mandi, Dinda membuka keran shower dan membiarkan air hangat mengalir beberapa saat sebelum ia masuk. Ia melepas semua pakaiannya satu per satu dan meletakkannya di dalam keranjang cucian. Begitu tubuhnya terkena air hangat, ia menghela napas panjang. Air itu terasa sangat menenangkan. Pegal-pegal di punggung dan bahunya sedikit berkurang.
Dinda berdiri di bawah shower cukup lama. Ia membiarkan air mengguyur rambut dan punggungnya. Pikirannya melayang ke berbagai hal — tugas kuliah yang masih menumpuk, rencana besok, dan juga keinginannya untuk bisa istirahat dengan nyenyak malam ini. Ia tidak terburu-buru. Ia menikmati momen mandi ini sebagai cara untuk melepaskan semua penat yang ia rasakan seharian.
Setelah selesai mandi, Dinda mengeringkan tubuhnya dengan handuk besar berwarna putih. Ia memakai baju tidur yang longgar — kaos oversized berwarna putih dan celana pendek katun. Rambutnya masih agak basah, jadi ia mengeringkannya dengan handuk kecil sambil berdiri di depan cermin kamar mandi.
Saat itu, di sudut atas lemari pakaian yang tinggi, ada sebuah benda kecil hitam yang hampir tidak terlihat. Benda itu adalah kamera mini yang sudah dipasang Budi beberapa hari sebelumnya. Kamera itu menghadap langsung ke area tempat tidur Dinda dan juga ke arah cermin tempat Dinda sedang berdiri sekarang. Lampu indikatornya sengaja dimatikan agar tidak terlihat.
Budi sudah memasang kamera itu pada malam sebelumnya.
Malam itu, saat Dinda dan kedua orang tuanya pergi menghadiri acara keluarga di rumah saudara, Budi memanfaatkan kesempatan. Ia masuk ke kamar Dinda dengan alasan membersihkan kamar seperti biasa. Dengan cepat dan hati-hati, ia memasang dua kamera kecil. Satu di kamar tidur, di balik pinggiran lemari yang tinggi. Satu lagi di kamar mandi, di sudut langit-langit yang jarang dilihat orang. Ia memastikan kedua kamera itu tersembunyi dengan baik dan tidak mudah terdeteksi.
Budi sudah merencanakan ini sejak beberapa minggu lalu. Ia sudah lama memperhatikan Dinda. Gadis muda yang selalu memakai cadar dan hijab itu membuatnya penasaran. Ia ingin melihat sisi Dinda yang tidak pernah ia lihat di depan umum — saat Dinda melepas cadar, saat Dinda sedang sendiri di kamar, saat Dinda mandi, dan saat Dinda tidur.
Dan sekarang, kameranya sudah bekerja dengan baik.
Di kamar pembantu yang kecil di belakang rumah, Budi duduk di atas tempat tidurnya dengan ponsel di tangan. Layar ponselnya terbagi menjadi dua tampilan. Satu menunjukkan Dinda yang sedang mengeringkan rambut di depan cermin. Satu lagi menunjukkan kamar mandi yang sudah kosong. Budi menatap layar tanpa berkedip. Ada senyum tipis yang muncul di bibirnya — senyum yang sama sekali berbeda dari senyum ramah yang selalu ia tunjukkan di depan Dinda dan keluarganya.
Di kamar Dinda, gadis itu sudah selesai mengeringkan rambut. Ia berjalan ke tempat tidurnya dan duduk di pinggirnya. Ia mengambil ponsel dari tas dan membuka beberapa aplikasi chat. Ia membalas pesan dari teman kuliahnya yang bertanya tentang tugas kelompok tadi. Setelah itu ia membuka Instagram sebentar, melihat postingan teman-temannya, lalu meletakkan ponsel di atas meja nakas.
Dinda berdiri lagi dan mengambil mukena yang digantung di belakang pintu. Meskipun tubuhnya lelah, ia tetap tidak mau melewatkan sholat Isya. Ia menggelar sajadah kecil di sudut kamar dan mulai sholat dengan khusyuk. Suaranya pelan saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Setelah salam, ia duduk sebentar dan berdoa agak lama. Doanya seperti biasa — meminta agar ia bisa istiqomah, agar orang tuanya sehat, dan agar ia dijaga dari hal-hal buruk.
Setelah selesai sholat, Dinda mematikan lampu utama kamar. Hanya lampu tidur di meja nakas yang ia nyalakan dengan cahaya redup. Ia berbaring di tempat tidur, menarik selimut tipis sampai ke dada, lalu menutup mata. Tubuhnya memang sangat lelah, sehingga tidak butuh waktu lama baginya untuk tertidur pulas.
Di kamar pembantu, Budi masih duduk di tempat tidurnya. Layar ponselnya masih menyala terang. Ia memperhatikan Dinda yang sudah tertidur. Kamera merekam dengan jelas bagaimana Dinda berbaring, bagaimana selimut menutupi tubuhnya, dan bagaimana napasnya terlihat tenang saat tidur. Budi tidak melakukan apa-apa malam itu. Ia hanya menonton. Tapi di matanya ada kepuasan yang sulit ia sembunyikan.
Keesokan paginya, Dinda bangun seperti biasa sebelum adzan Subuh. Ia sholat dengan khusyuk, lalu mengaji sebentar. Setelah itu ia mandi dan bersiap untuk kuliah. Ia memakai hijab dan cadar seperti biasanya. Saat ia turun ke bawah, Budi sudah ada di dapur seperti biasa. Pria itu sedang membuat teh untuk ibu Dinda.
“Pagi, Mbak Dinda,” sapa Budi dengan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan.
“Pagi, Mas Budi,” jawab Dinda sambil tersenyum kecil di balik cadarnya.
Dinda tidak tahu sama sekali bahwa semalaman tadi Budi sudah melihat dirinya mandi, mengeringkan rambut, sholat, dan tidur melalui kamera yang tersembunyi. Ia juga tidak tahu bahwa Budi sudah menyimpan rekaman itu di dalam ponselnya dengan rapi.
Bagi Dinda, pagi itu seperti pagi-pagi biasa lainnya. Ia merasa aman di rumahnya sendiri. Ia minum air putih sebentar, lalu berjalan keluar rumah untuk menunggu ojek online yang sudah ia pesan.
Sementara itu, Budi yang berdiri di dapur, diam-diam menyimpan ponselnya ke dalam saku celana setelah memastikan rekaman semalam sudah tersimpan dengan baik. Tatapannya saat melihat Dinda yang sedang memakai cadar pagi itu sedikit berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyum sopannya.
Dinda tidak menyadari apa pun.
Ia hanya berjalan keluar pagar rumah dengan langkah ringan, tidak tahu bahwa privasinya sudah mulai direnggut tanpa ia sadari.
Dan di balik semua itu, Budi sudah mulai merencanakan langkah selanjutnya.562Please respect copyright.PENANAuBN5yVtTDX


