544Please respect copyright.PENANAAObNm97zejBab 2
Bab 2: Tatapan yang Mulai Mengganggu
Dinda pulang dari kampus sekitar pukul setengah empat sore. Cuaca sore itu cukup panas, dan perjalanan pulang dengan ojek online membuat bajunya agak lengket di punggung. Begitu turun di depan pagar rumah, ia langsung membayar dan berjalan masuk dengan langkah agak lelah.
Rumah terasa sepi seperti biasanya di sore hari. Ayah dan ibunya belum pulang. Hanya ada suara pelan dari televisi di ruang keluarga yang menyala tanpa penonton. Dinda meletakkan tas kuliahnya di sofa, lalu melepas sepatu. Ia berjalan pelan menuju dapur untuk mengambil minum.
Saat melewati ruang makan, ia melihat Budi sedang membersihkan lantai dengan pel. Begitu melihat Dinda, Budi langsung berhenti dan menunduk hormat.
“Sore, Mbak Dinda,” sapa Budi dengan suara yang ramah seperti biasanya.
“Sore, Mas Budi,” jawab Dinda sambil tersenyum kecil di balik cadarnya. “Masih ada yang dibersihkan?”
“Iya, Mbak. Tadi ada yang tumpah sedikit pas ibu masak,” jawab Budi sambil tersenyum tipis.
Dinda mengangguk lalu melanjutkan langkahnya. Ia tidak merasa ada yang aneh saat itu. Budi memang sering bekerja sampai sore jika ada pekerjaan rumah yang belum selesai.
Setelah minum air putih di dapur, Dinda naik ke kamarnya. Begitu masuk kamar dan menutup pintu, ia langsung melepas cadar yang sudah dipakainya seharian. Ia menghela napas lega. Rambutnya yang tertutup hijab terasa gerah. Dinda duduk di kursi belajar sebentar, membuka laptop untuk melihat tugas yang diberikan dosen hari ini.
Tak lama kemudian, perutnya terasa lapar. Ia ingat tadi pagi hanya makan sedikit karena buru-buru berangkat kuliah. Dinda berdiri, membuka pintu kamar, dan turun lagi ke bawah tanpa memakai cadar. Di rumah, ia memang kadang melepas cadar jika merasa aman dan tidak ada tamu.
Saat ia berjalan menuju dapur, Dinda melihat Budi masih berada di ruang makan. Pria itu sedang mengelap meja makan dengan kain. Dinda tidak terlalu memperhatikannya. Ia membuka kulkas, mengambil sebotol air dingin, dan menuangnya ke gelas.
Saat ia menoleh ke belakang, Dinda merasa ada sesuatu yang aneh. Budi yang tadi sedang mengelap meja, sekarang berdiri agak diam dan seolah sedang melihat ke arahnya. Begitu mata mereka hampir berpapasan, Budi buru-buru menunduk dan melanjutkan pekerjaannya seperti tidak terjadi apa-apa.
Dinda merasa sedikit tidak nyaman, tapi ia cepat mengabaikannya. Mungkin Mas Budi cuma kebetulan lewat pandangannya, pikirnya dalam hati. Ia mengambil gelas airnya dan naik kembali ke kamar.
Keesokan harinya, suasana rumah agak ramai. Ibu Dinda mengadakan pengajian kecil di rumah bersama beberapa tetangga. Dinda membantu ibunya menyiapkan makanan dan minuman di dapur. Karena ada tamu, Dinda memakai cadar sepanjang hari.
Saat ia membawa nampan berisi gelas teh ke ruang tamu, Dinda kembali merasa ada yang memperhatikannya. Ia melirik ke samping dan melihat Budi sedang berdiri di dekat pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang tamu. Pandangan Budi tertuju padanya lebih lama dari biasanya. Begitu Dinda menoleh, Budi langsung memalingkan muka dan berpura-pura sibuk mengambil sapu.
Dinda merasa tidak enak di dada. Bukan karena Budi melakukan sesuatu yang jelas salah, tapi cara Budi melihatnya terasa berbeda. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman. Namun ia tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata.
Sepanjang pengajian, Dinda berusaha fokus membantu ibunya. Tapi sesekali ia tetap merasa ada pandangan yang mengikuti gerakannya. Setiap kali ia berjalan melewati Budi, ia merasa tatapan itu ada.
Setelah semua tamu pulang dan rumah kembali sepi, Dinda duduk di ruang keluarga bersama ibunya. Ia sudah melepas cadar dan hanya memakai hijab longgar. Mereka menonton acara televisi bersama sambil ngobrol ringan tentang kegiatan ibu di pengajian tadi.
Tiba-tiba Budi masuk ke ruang keluarga membawa sapu dan pengki. Ia mulai membersihkan sisa-sisa makanan yang jatuh di lantai. Dinda tidak terlalu memperhatikannya. Ia asyik menonton televisi.
Namun saat ia berdiri untuk mengambil remote yang jatuh di lantai, Dinda merasa ada pandangan yang tertuju padanya. Ia melirik ke samping dan melihat Budi sedang membersihkan lantai tidak jauh dari situ. Pandangan Budi sempat tertuju ke arah Dinda lebih lama dari yang seharusnya. Begitu Dinda menatapnya, Budi buru-buru menunduk dan melanjutkan pekerjaannya.
Dinda langsung duduk kembali. Dadanya terasa sedikit tidak enak. Ia merapikan hijabnya dengan tangan yang tiba-tiba terasa dingin. Ia berusaha mengabaikan perasaan itu, tapi tidak bisa sepenuhnya.
Setelah acara televisi selesai, Dinda pamit naik ke kamar. Saat ia melewati Budi yang masih membersihkan ruang makan, ia mengucapkan salam dengan suara pelan.
“Mas Budi, saya naik dulu ya,” katanya sambil berusaha tersenyum.
Budi mengangkat muka dan tersenyum seperti biasa. “Iya, Mbak. Selamat malam.”
Dinda mengangguk lalu naik ke kamar. Begitu pintu kamar tertutup, ia bersandar di pintu sebentar. Ia menarik napas dalam-dalam. Perasaannya campur aduk. Ia merasa Budi memang sering memperhatikannya akhir-akhir ini. Bukan hanya sekali atau dua kali, tapi sudah beberapa kali dalam beberapa hari terakhir.
Dinda berjalan ke tempat tidurnya dan duduk di pinggirnya. Ia memandang cadar yang tadi ia lepas dan letakkan di atas meja. Cadar yang biasanya membuatnya merasa tenang dan terlindungi, malam itu terasa sedikit berbeda.
Ia mulai mengingat-ingat kejadian-kejadian kecil yang sebelumnya ia anggap biasa. Saat ia turun ke dapur tanpa cadar, Budi sering berada di sekitar. Saat ia membantu ibu di dapur, Budi sering melirik lebih lama. Bahkan saat ia hanya berjalan melewati ruang makan, Budi seolah selalu ada di dekat situ.
Dinda menggigit bibir bawahnya. Ia merasa tidak nyaman, tapi ia juga merasa bersalah karena berpikir buruk tentang Budi. Budi sudah bekerja lima tahun di rumah ini. Selama itu, ia tidak pernah melakukan hal yang benar-benar salah. Selalu sopan di depan ayah dan ibunya. Selalu rajin bekerja.
Jika Dinda mengadu kepada orang tuanya sekarang, ia takut Budi akan dipecat. Dan ia tidak ingin membuat masalah hanya karena “perasaan tidak enak” saja. Apalagi Budi adalah tulang punggung keluarganya. Dinda tahu Budi punya adik yang masih sekolah dan ibu yang sakit-sakitan.
Dinda menghela napas panjang. Ia berdiri dan mengambil mukena untuk sholat Isya. Sebelum sholat, ia berdiri di depan cermin dan memperhatikan dirinya yang sudah memakai cadar lagi.
“Ya Allah…” gumamnya pelan. “Jaga hatiku dari prasangka buruk. Dan lindungi aku dari hal-hal yang tidak baik.”
Setelah sholat, Dinda berbaring di tempat tidurnya. Lampu kamar sudah ia matikan. Hanya cahaya redup dari lampu tidur yang menyala. Ia memandang langit-langit kamar yang gelap sambil memikirkan kejadian tadi.
Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin ia terlalu sensitif. Mungkin Budi memang hanya kebetulan berada di sekitarnya. Mungkin ia yang terlalu banyak berpikir.
Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, Dinda tahu bahwa perasaan tidak nyaman itu nyata. Tatapan Budi memang berbeda akhir-akhir ini. Lebih lama. Lebih intens. Terutama saat ia memakai cadar.
Dinda menarik selimut sampai ke dada. Ia menutup mata dan berusaha tidur. Tapi butuh waktu cukup lama sebelum ia akhirnya bisa memejamkan mata dengan tenang.
Di luar kamar, rumah sudah gelap dan sunyi. Hanya ada suara AC yang pelan terdengar.
Dan di suatu sudut rumah, Budi masih terjaga. Ia duduk di kamar pembantu yang kecil di belakang rumah, memandang layar ponselnya dengan tatapan yang berbeda dari yang biasa ia tunjukkan di depan Dinda dan keluarganya.
Tapi Dinda tidak tahu itu.
Ia hanya merasa ada sesuatu yang mulai mengganggu ketenangannya di rumah yang selama ini ia anggap aman.544Please respect copyright.PENANAWY23oFlhG4


