604Please respect copyright.PENANAkrQ3e7Op5bBab 1
Bab 1: Anak Majikan yang Alim
Pagi itu Dinda bangun lebih awal dari biasanya. Jam di meja nakas menunjukkan pukul setengah lima dini hari. Ia langsung duduk di tempat tidur, mengusap wajahnya sebentar, lalu mengambil mukena yang sudah ia lipat rapi di samping bantal. Rumah besar itu masih gelap dan sunyi. Hanya suara AC yang pelan terdengar.
Dinda turun dari tempat tidur, menggelar sajadah di lantai kamar, lalu mulai sholat Subuh dengan khusyuk. Suaranya kecil saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Setelah salam, ia tidak langsung bangun. Ia duduk di atas sajadah, mengangkat kedua tangannya, dan berdoa cukup lama. Doanya seperti biasa — meminta agar ia bisa istiqomah menjalankan agama, agar ayah dan ibunya selalu sehat, dan agar ia bisa menjadi anak yang salehah.
Setelah berdoa, Dinda membuka Al-Qur’an kecil yang selalu ia letakkan di meja belajar. Ia membaca beberapa ayat dengan suara lirih sambil sesekali mengangguk pelan. Cahaya lampu kuning di kamarnya membuat suasana terasa damai. Bagi Dinda, pagi seperti ini adalah waktu yang paling ia sukai. Tidak ada suara bising, tidak ada orang yang mengganggu, hanya dirinya dan Tuhannya.
Setelah selesai mengaji, Dinda berdiri dan melipat sajadahnya dengan rapi. Ia masuk ke kamar mandi pribadi yang cukup luas. Ia mandi dengan air hangat, membersihkan diri dengan sabun yang wanginya lembut. Setelah mandi, ia mengeringkan rambutnya sebentar dengan handuk, lalu memakai baju rumah yang longgar dan sopan — celana training panjang dan kaos lengan pendek yang menutup dada.
Baru setelah itu ia keluar kamar mandi dan berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Dinda mengambil hijab segi empat berwarna krem yang sudah disetrika. Ia memasangnya dengan hati-hati, memastikan tidak ada rambut yang keluar. Setelah hijab terpasang rapi, ia mengambil cadar hitamnya. Gerakannya sudah sangat lancar. Ia memasang cadar dengan teliti, hanya menyisakan mata yang terlihat. Bagi Dinda, cadar bukan hanya kain biasa. Ia merasa lebih tenang dan terlindungi saat memakainya. Seolah-olah ada batas yang jelas antara dirinya dengan dunia luar.
Ia berdiri di depan cermin agak lama, memperhatikan penampilannya. “Alhamdulillah,” gumamnya pelan sambil tersenyum kecil di balik cadar.
Dinda mengambil tas kuliah yang sudah ia siapkan sejak semalam. Di dalam tas itu ada buku catatan baru, pulpen, laptop kecil, dan botol minum. Hari ini adalah hari pertama ia kuliah di semester baru. Meskipun sudah pernah kuliah satu semester sebelumnya, ia tetap merasa sedikit grogi. Ia berharap bisa bertemu teman-teman yang baik dan bisa fokus belajar.
Saat Dinda membuka pintu kamar dan turun ke lantai bawah, rumah masih terasa sepi. Ia berjalan pelan menuju dapur. Cahaya lampu dapur sudah menyala. Di sana, Budi sudah ada. Pria itu sedang membersihkan meja makan dengan lap basah. Begitu melihat Dinda turun, Budi langsung berhenti dan menunduk sedikit.
“Pagi, Mbak Dinda,” sapa Budi dengan suara yang ramah dan sopan seperti biasanya.
“Pagi, Mas Budi,” jawab Dinda sambil tersenyum kecil di balik cadarnya. “Sudah bangun dari tadi ya, Mas?”
“Iya, Mbak. Biasa. Mau saya buatkan sarapan? Ibu belum bangun.”
Dinda menggeleng pelan. “Nggak usah, Mas. Nanti aku buat sendiri. Terima kasih ya.”
Budi mengangguk. “Baik, Mbak.”
Dinda mengambil gelas dari rak, menuang air putih dari dispenser, lalu duduk di kursi makan. Ia minum perlahan sambil melihat ke arah taman belakang yang masih gelap. Pikirannya melayang sebentar ke kampus. Ia berharap hari ini bisa berjalan lancar. Ia bukan tipe orang yang suka ribut-ribut atau terlalu banyak bergaul. Ia lebih suka duduk di barisan depan, mendengarkan dosen, dan pulang cepat.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Ibu Dinda turun dengan memakai daster panjang yang rapi. Ibu Dinda adalah wanita yang masih terawat meskipun sudah berusia empat puluhan. Ia tersenyum saat melihat anaknya sudah duduk di meja makan.
“Sudah bangun, Nak?” tanya ibunya sambil mendekat.
“Iya, Bu. Tadi sholat Subuh,” jawab Dinda.
Ibu Dinda mengusap kepala anaknya dengan sayang. “Hari ini kan kuliah ya? Jangan lupa bawa cadar yang cadangan. Kalau capek, pulang aja. Jangan dipaksain.”
Dinda mengangguk. “Iya, Bu. Aku bawa dua cadar kok.”
Ibu Dinda tersenyum lalu berjalan ke dapur untuk membuat teh. Sementara itu, Budi masih berada di ruang makan, membersihkan sisa-sisa debu di sudut meja. Dinda sesekali melirik Budi. Seperti biasa, pembantu itu bekerja dengan tenang dan tidak banyak bicara. Dinda merasa beruntung memiliki pembantu seperti Budi. Selama lima tahun bekerja di rumah ini, Budi tidak pernah membuat masalah. Selalu sopan, rajin, dan tidak pernah berbuat aneh di depan Dinda atau keluarganya.
Setelah minum air, Dinda naik lagi ke kamar untuk mengambil jaket tipis. Ia memakai jaket di atas baju kuliahnya, lalu turun lagi. Kali ini ayahnya sudah duduk di ruang tamu sambil membaca koran pagi. Ayah Dinda pria yang tegas tapi penyayang. Ia mengangkat wajah saat melihat Dinda mendekat.
“Berangkat sekarang?” tanyanya dengan suara berat.
“Iya, Ayah. Jam delapan ada kelas.”
Ayah Dinda meletakkan korannya. “Nanti pulangnya suruh Budi jemput ya. Jangan naik ojek sendirian terus. Aku nggak enak.”
Dinda tersenyum di balik cadar. “Iya, Ayah. Kalau nanti telat, aku kabari Mas Budi.”
Ayahnya mengangguk puas. Ia berdiri, mendekati Dinda, lalu mengusap bahu anaknya. “Hati-hati di jalan. Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Ayah.”
Dinda mengangguk. Ia mencium tangan ayahnya sebelum berjalan keluar rumah.
Di depan pagar, Budi sudah menunggu sambil memegang kunci motor. Begitu melihat Dinda keluar, ia langsung membuka gerbang kecil.
“Mau saya antar sampai kampus, Mbak?” tanya Budi lagi seperti tadi pagi.
Dinda menggeleng. “Nggak usah, Mas. Aku naik ojek online aja. Biar Mas Budi nggak capek.”
Budi tersenyum tipis. “Baik, Mbak. Hati-hati ya.”
Dinda mengangguk, lalu berjalan ke pinggir jalan untuk menunggu ojek yang sudah ia pesan lewat aplikasi. Tak lama kemudian, seorang pengemudi ojek datang. Dinda naik ke belakang dan langsung berangkat menuju kampus.
Sepanjang perjalanan, Dinda melihat pemandangan kota yang mulai ramai. Motor dan mobil berlalu lalang. Ia memandang ke luar jendela sambil berpikir. Ia memang beruntung lahir di keluarga seperti ini. Rumah besar, orang tua yang menyayangi, dan kehidupan yang nyaman. Tapi Dinda tidak pernah sombong karenanya. Ia selalu berusaha untuk tetap rendah hati dan menjaga adab di mana pun ia berada.
Ia berharap di kampus nanti ia bisa bertemu teman-teman yang baik. Bukan yang terlalu bebas atau sering mengajak hal-hal yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Dinda memang tipe gadis yang cukup tertutup. Ia lebih suka menghabiskan waktu di rumah, membantu ibu di dapur, atau mengaji.
Saat ojek memasuki area kampus, Dinda merasa sedikit deg-degan. Ia turun di depan gerbang universitas, membayar ojek, lalu berjalan masuk dengan langkah pelan. Banyak mahasiswa yang sudah berkumpul di halaman. Beberapa di antaranya memakai hijab, tapi tidak banyak yang memakai cadar seperti Dinda.
Dinda menunduk sedikit saat berjalan. Ia merasa cadar yang ia pakai membuatnya sedikit berbeda dari yang lain. Tapi ia tidak peduli. Bagi Dinda, menjaga aurat adalah hal yang paling penting.
Ia berjalan menuju gedung fakultasnya. Di dalam hati, ia berdoa kecil: Ya Allah, mudahkan hari pertamaku di semester ini. Jaga aku dari hal-hal yang tidak baik.
Dinda tidak tahu bahwa di rumah, setelah ia pergi, Budi masih berdiri di depan pagar sambil memandang ke arah jalan yang baru saja dilalui Dinda. Tatapannya tidak lagi seperti biasanya. Ada sesuatu yang berbeda di balik senyum sopan yang selalu ia tunjukkan di depan keluarga Dinda.
Tapi saat itu, Dinda sama sekali tidak menyadari apa pun.
Ia hanya seorang gadis sembilan belas tahun yang baru memulai perjalanan kuliahnya, dengan cadar yang selalu ia pakai sebagai pelindung kesucian dirinya.
Belum tahu bahwa pelindung itu akan perlahan mulai retak di kemudian hari.604Please respect copyright.PENANAb2YREti2Zb


