725Please respect copyright.PENANAcAqU5IGTLoBab 5
Bab 5: Malam Pertama yang Dipaksa
Malam itu Dinda tidak bisa tidur.
Setelah kejadian di gudang sore tadi, ia langsung naik ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Ia duduk di tempat tidur dengan lutut dirangkul, tubuhnya masih gemetar. Air mata terus mengalir tanpa henti. Ia merasa sangat takut, sangat malu, dan sangat kotor. Video yang ditunjukkan Budi terus terbayang di kepalanya. Ia tidak bisa menghilangkan bayangan itu.
Dinda berusaha untuk tidur, tapi setiap kali ia memejamkan mata, ia langsung teringat ancaman Budi. Ia takut besok pagi video itu benar-benar akan disebar. Ia takut ayah dan ibunya akan melihatnya. Ia takut semua orang di kampus akan tahu. Pikiran itu membuat dadanya sesak.
Sekitar pukul sebelas malam, ponsel Dinda bergetar. Ada pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan.
Budi:
Turun ke kamar belakang sekarang. Jangan pakai baju tidur. Pakai yang biasa kamu pakai di rumah. Dan jangan lupa cadar.
Dinda membaca pesan itu berulang kali. Tangannya gemetar hebat. Ia menutup mulutnya dengan tangan karena takut menangis terlalu keras. Ia tahu apa yang dimaksud Budi. Ia tahu apa yang akan terjadi malam ini.
Ia ingin menolak. Ia ingin membalas pesan dan bilang tidak mau. Tapi setiap kali ia ingin mengetik, bayangan video yang direkam tanpa sepengetahuannya langsung muncul di kepalanya. Ia takut. Sangat takut.
Dengan tangan yang gemetar, Dinda bangun dari tempat tidur. Ia membuka lemari dan mengambil baju rumah yang biasa ia pakai — kaos lengan panjang dan rok panjang yang longgar. Ia memakainya dengan perlahan. Setelah itu ia mengenakan hijab dan cadar seperti biasa. Meskipun hatinya sangat takut, ia tetap memakai cadar. Entah kenapa, cadar itu masih membuatnya merasa sedikit terlindungi, meskipun ia tahu malam ini cadar itu mungkin akan menjadi saksi atas sesuatu yang sangat buruk.
Dinda membuka pintu kamar pelan-pelan. Rumah sudah gelap dan sunyi. Ia berjalan turun dengan langkah yang sangat pelan, takut membuat suara. Jantungnya berdetak sangat kencang. Setiap langkah terasa berat.
Ia berjalan menuju kamar belakang yang jarang digunakan. Kamar itu biasanya hanya dipakai untuk menyimpan barang atau kadang untuk tamu yang menginap. Saat Dinda sampai di depan pintu, ia melihat cahaya redup dari dalam. Pintu sedikit terbuka.
Dinda mendorong pintu pelan. Begitu masuk, ia langsung melihat Budi sudah ada di dalam. Pria itu duduk di kursi dengan kaki disilangkan, seolah sedang menunggu. Begitu melihat Dinda masuk dengan memakai cadar, Budi tersenyum tipis.
“Tutup pintu,” katanya dengan suara tenang.
Dinda menutup pintu dengan tangan gemetar. Ia berdiri di dekat pintu, tidak berani melangkah lebih dekat. Tubuhnya sudah mulai gemetar lagi.
Budi berdiri dan berjalan mendekati Dinda. Ia mengunci pintu dari dalam, lalu menoleh ke Dinda dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
“Bagus,” katanya pelan. “Kamu datang. Saya senang kamu nurut.”
Dinda menunduk. Air mata sudah mulai mengalir di balik cadar. Suaranya kecil dan bergetar saat ia bicara.
“Mas Budi… tolong… jangan lakukan ini…”
Budi mendekat dan mengangkat dagu Dinda dengan jarinya, memaksa gadis itu menatapnya meskipun cadar menutupi sebagian wajahnya.
“Saya sudah bilang sore tadi,” katanya dingin. “Kamu sekarang milik saya. Mulai malam ini, kamu harus nurut apa pun yang saya mau.”
Dinda menangis. Ia menggeleng pelan. “Saya… saya tidak bisa…”
Budi tidak menjawab. Ia langsung menarik tangan Dinda dan membawanya ke tempat tidur yang ada di dalam kamar itu. Dinda mencoba menarik tangannya, tapi Budi memegangnya dengan cukup kuat. Ia mendorong Dinda pelan agar duduk di pinggir tempat tidur.
Dinda menangis semakin kencang. Ia memegang cadarnya dengan kedua tangan, seolah ingin melindungi dirinya. Tapi Budi tidak memberinya waktu untuk menolak lebih lama.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Dinda dipaksa untuk “main” dengan Budi.
Sepanjang proses, Dinda hanya bisa menangis. Ia tidak melawan secara fisik karena takut video itu akan disebar, tapi air matanya tidak berhenti mengalir. Ia menangis pelan tapi terus-menerus. Tubuhnya kaku. Setiap kali Budi menyentuhnya, ia merasa sangat kotor. Ia merasa cadar yang masih ia pakai di wajahnya menjadi saksi bisu atas apa yang sedang terjadi padanya.
Budi tidak melepaskan cadar Dinda. Ia justru membiarkannya tetap terpasang. Bahkan saat Dinda dipaksa berbaring, cadar itu tetap menutupi wajahnya. Hanya mata Dinda yang terlihat, dan mata itu terus mengeluarkan air mata.
Dinda menangis sepanjang waktu. Ia menutup mata erat-erat, berharap semua ini hanya mimpi buruk. Tapi setiap kali ia membuka mata, ia tetap melihat Budi di atasnya. Ia tetap merasa sakit, baik secara fisik maupun batin.
Ia tidak tahu sudah berapa lama proses itu berlangsung. Rasanya sangat lama. Setiap detik terasa seperti siksaan.
Setelah semuanya selesai, Budi bangun dan memakai bajunya kembali dengan tenang. Dinda masih berbaring di tempat tidur dengan posisi menyamping. Ia menangis dengan isakan yang lebih pelan sekarang. Tubuhnya terasa sakit dan lemas. Cadar yang masih ia pakai sudah basah karena air mata.
Budi berdiri di samping tempat tidur dan menatap Dinda dari atas.
“Mulai sekarang,” katanya dengan suara tenang, “kamu adalah mainan aku.”
Dinda tidak menjawab. Ia hanya menangis semakin kencang. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dadanya. Ia merasa sangat hina. Sangat kotor. Sangat tidak berharga.
Budi tersenyum tipis melihat reaksi Dinda.
“Besok saya akan hubungi kamu lagi,” katanya. “Dan kamu harus siap. Jangan coba-coba untuk menolak.”
Setelah mengatakan itu, Budi membuka pintu dan keluar dari kamar belakang, meninggalkan Dinda sendirian di dalam kegelapan.
Dinda masih berbaring di tempat tidur selama beberapa menit. Ia menangis tanpa suara. Setelah merasa agak kuat, ia bangun dengan tubuh yang gemetar. Ia memperbaiki bajunya dengan tangan gemetar, lalu berjalan keluar dari kamar belakang dengan langkah yang sangat pelan.
Ia naik ke kamarnya seperti orang yang sedang berjalan dalam mimpi. Begitu masuk kamar dan mengunci pintu, Dinda langsung berlari ke kamar mandi. Ia membuka keran shower dan membiarkan air mengalir deras. Ia mandi dengan air yang sangat dingin, menggosok tubuhnya berulang kali dengan sabun. Ia merasa sangat kotor. Ia menggosok kulitnya sampai memerah, seolah ingin menghilangkan semua sentuhan Budi dari tubuhnya.
Setelah mandi, Dinda keluar dari kamar mandi dan langsung mengambil mukena. Ia menggelar sajadah dan sholat tahajud. Ia sholat dengan tangan yang masih gemetar. Setelah salam, ia tidak langsung bangun. Ia tetap duduk di atas sajadah dan menangis keras-keras.
“Ya Allah… ampuni aku…” isaknya pelan tapi dalam. “Saya tidak mau… tapi saya takut… ampuni saya… Saya merasa sangat kotor…”
Air mata Dinda membasahi sajadah. Ia menangis sambil memegang cadar yang masih ia pakai. Ia merasa cadar itu sudah tidak suci lagi. Ia merasa dirinya sudah tidak suci lagi.
Dinda sholat tahajud berkali-kali malam itu. Setiap kali selesai sholat, ia menangis dan berdoa minta ampun. Ia merasa sangat berdosa. Ia merasa sudah mengkhianati keyakinannya sendiri. Ia merasa cadar yang selama ini ia pakai dengan bangga kini hanya menjadi kain yang menutupi wajah seorang gadis yang sudah ternoda.
Setelah lelah menangis, Dinda berbaring di tempat tidur dengan mata yang bengkak. Ia memeluk bantal erat-erat. Tubuhnya masih sakit, dan hatinya terasa sangat hancur.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Yang ia tahu hanyalah bahwa mulai malam ini, ia sudah bukan lagi gadis yang sama seperti sebelumnya.
Dan cadar yang ia pakai, sudah tidak lagi terasa seperti pelindung.725Please respect copyright.PENANAjmpBmvWnuS


