90Please respect copyright.PENANAJZw4ojvITLBab 2
Bab 2: Malam yang Tak Bisa Dilupakan
Aku akhirnya sampai di rumah dengan napas masih tersengal-sengal. Pintu gerbang aku kunci dua kali, tanganku gemetar. Rumah terasa sepi. Ibu belum pulang dari arisan, dan ayah biasanya pulang malam. Aku langsung naik ke lantai dua tanpa menyalakan lampu ruang tamu. Kaki-ku masih lemas, seperti baru lari maraton.
Begitu masuk kamar mandi, aku mengunci pintu dari dalam dan langsung membuka keran shower. Air dingin deras menyiram tubuhku yang masih memakai seragam sekolah. Aku nggak peduli baju basah kuyup. Aku hanya ingin membersihkan diri secepat mungkin. Aku gosok lengan, pahaku, dan bokongku dengan sabun sampai berbusa banyak. Tapi semakin aku gosok, semakin jelas bayangan tadi muncul di kepala.
Anjing itu… badannya yang berat menekan tubuhku. Napas panasnya di leherku. Dan yang paling nggak bisa aku lupakan — kontolnya yang panas, basah, dan tegang itu menggesek pahaku. Aku ingat betul bagaimana ujungnya yang panas menekan celana dalamku dari luar, dorong-dorong seperti ia benar-benar mau masuk.
“Astagfirullah…” gumamku pelan sambil menutup mata. Air shower mengalir deras di wajahku, tapi air mata masih bercampur. Aku merasa kotor. Sangat kotor. Aku gosok lebih kuat lagi di bagian pahaku yang tadi disentuh kontol anjing itu. Kulitnya memerah karena digosok terlalu keras, tapi rasanya tetap ada. Panas yang aneh itu seolah masih menempel di kulitku.
Setelah mandi hampir dua puluh menit, aku keluar dari kamar mandi dengan handuk membungkus tubuh. Aku cepat-cepat mengganti seragam basah dengan baju rumah yang longgar — kaos oblong putih dan celana pendek katun. Hijabku aku lepas dan ganti dengan yang bersih. Rambut panjangku masih agak basah. Aku duduk di depan cermin kamar mandi, memandang wajah sendiri.
Mata-ku sembab. Bibir bawahku masih sedikit bergetar. Aku mencoba tersenyum, tapi nggak bisa. “Alya, lupain aja. Itu cuma anjing gila,” bisikku pada bayangan di cermin. Tapi otakku nggak mau nurut.
Aku turun ke dapur, minum air putih banyak-banyak. Tangan-ku masih gemetar saat memegang gelas. Aku mencoba makan sedikit nasi sisa siang, tapi tenggorokanku seperti tersumbat. Setiap kali aku menelan, aku ingat napas anjing yang panas itu. Aku akhirnya menyerah dan naik lagi ke kamar.
Malam semakin larut. Aku mendengar suara motor ayah masuk halaman. Aku pura-pura sudah tidur. Ayah naik sebentar, mengetuk pintu kamar, “Alya, sudah makan?” Aku jawab pelan dari balik pintu, “Sudah, Yah. Capek. Mau tidur dulu.” Ayah nggak curiga. Pintu kamarnya tertutup lagi.
Aku berbaring di tempat tidur dalam gelap. Lampu kamar aku matikan. Hanya ada cahaya remang dari lampu jalan di luar jendela. Aku memeluk bantal erat-erat. Mataku terpejam, tapi otakku nggak bisa berhenti.
Aku terus mengingat detailnya. Cara anjing itu naik ke tubuhku. Kaki depannya yang kuat menekan samping pinggulku. Badannya yang berat dan hangat. Dan kontolnya… aku nggak bisa berhenti membayangkan betapa panas dan basahnya saat menggesek pahaku. Aku ingat gerakannya yang cepat dan kasar, seolah ia sudah nggak sabar mau “mengawini” aku.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh di antara kedua pahaku. Hangat. Basah. Aku meremas paha-ku sendiri tanpa sadar. “Nggak… jangan mikir begitu,” bisikku pada diri sendiri. Tapi semakin aku melarang, semakin jelas bayangannya.
Aku berguling ke kanan, lalu ke kiri. Nggak bisa tidur. Tubuhku terasa panas dari dalam. Aku ingat betul bagaimana ujung kontol anjing itu menekan celana dalamku tadi. Ada tekanan yang kuat, panas, dan basah. Sekarang, tanpa sadar, tangan kananku menyusup ke dalam celana pendekku.
Jari-jariku menyentuh celana dalam yang sudah agak lembab. Bukan karena keringat. Aku tahu itu. Aku menarik napas dalam-dalam. “Astaghfirullah… ini dosa besar,” gumamku, tapi jari-jariku tetap bergerak. Aku mengusap pelan di atas celana dalam, lalu akhirnya menyusup ke dalamnya.
Memekku sudah basah. Jari tengahku menyentuh bibir memek yang lembab. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. “Nggak boleh… nggak boleh…” Tapi tanganku terus bergerak. Aku membayangkan lagi anjing itu di atasku. Badannya berat. Napasnya panas di telingaku. Dan kontolnya yang panas itu menggesek-gesek pahaku, lalu naik ke celana dalamku.
Aku membayangkan kalau tadi aku nggak lari. Kalau aku diam saja. Apa yang akan terjadi? Kontol panas itu pasti akan terus dorong-dorong sampai berhasil masuk sedikit. Aku membayangkan rasa panasnya saat menyentuh lubang memekku dari luar.
Jari-jariku bergerak lebih cepat. Aku memasukkan satu jari ke dalam memekku yang sudah sangat basah. “Ahh…” desisku pelan, hampir tak terdengar. Aku gerakkan jari itu masuk-keluar pelan sambil membayangkan kontol anjing yang lebih besar dan lebih panas. Aku membayangkan anjing itu menggeram di atas tubuhku, pinggulnya dorong-dorong kasar, seolah ia sedang “mengawini” aku beneran.
Aku menarik celana pendek dan celana dalamku sampai ke lutut. Sekarang tanganku lebih leluasa. Dua jari aku masukkan ke dalam memek yang sudah sangat basah dan hangat. Aku gerakkan cepat sambil membayangkan anjing itu menindihku dari belakang, kontolnya menyodok-nyodok lubangku. Aku membayangkan rasa penuh kalau kontol panjang dan tebal itu berhasil masuk.
“Ya Allah… ampuni aku…” bisikku sambil menangis pelan. Tapi tanganku nggak berhenti. Malah semakin cepat. Aku membayangkan anjing itu menggigit pelan tengkukku, badannya menekan punggungku, dan kontolnya yang panas itu terus masuk-masuk ke dalam memekku. Aku membayangkan ia keluar di dalam tubuhku, air panasnya menyembur deras.
Gelombang nikmat datang tiba-tiba dan sangat kuat. Tubuhku melengkung di tempat tidur. Aku menekan wajah ke bantal supaya nggak berteriak. “Ahh… ahh…” desisku tertahan. Orgasme itu datang hebat, lebih kuat dari biasanya. Memekku berkedut-kedut di sekitar jari-jariku, cairan bening menyembur sedikit membasahi selimut. Tubuhku gemetar hebat selama beberapa detik.
Setelah orgasme reda, aku langsung merasa sangat bersalah. Aku menarik tangan dari celana dalam dengan cepat, seolah tangan itu terbakar. Aku duduk di tempat tidur, napas masih tersengal. Air mata mengalir deras di pipi.
“Ya Allah… apa yang baru aku lakukan?” bisikku dengan suara pecah. Aku menangis pelan. “Itu anjing… itu hewan… aku sudah berdosa besar…” Aku merasa mual. Aku merasa kotor dari dalam. Tapi di saat yang sama, tubuhku masih terasa hangat dan lemas karena nikmat yang baru saja aku rasakan.
Aku bangun dari tempat tidur, pergi ke kamar mandi lagi. Aku cuci tangan berkali-kali dengan sabun. Lalu aku ambil air wudhu dengan tangan gemetar. Aku sholat dua rakaat di kamar, berdoa panjang-panjang minta ampun. “Ya Tuhan, ampunilah hamba-Mu yang lemah ini… jangan biarkan setan menguasai pikiranku…”
Tapi meskipun sudah sholat dan berdoa, bayangan anjing itu masih jelas di kepala. Cara ia naik ke tubuhku. Cara kontolnya yang panas dan basah itu menggesek pahaku. Cara ia dorong-dorong seolah aku adalah betina yang siap dikawini.
Aku kembali ke tempat tidur. Tubuhku lelah, tapi otakku nggak mau tenang. Aku memeluk bantal erat. Air mata masih mengalir pelan di bantal.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tertidur dengan perasaan yang sangat campur aduk. Ada rasa takut yang dalam. Ada rasa jijik yang kuat. Tapi di balik semua itu, ada rasa penasaran yang kecil tapi tajam, seperti duri yang tertancap di dada.
Aku tahu besok aku harus pulang seperti biasa. Aku harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tapi di dalam hati, aku sudah merasa ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang nggak bisa aku kembalikan lagi.
Dan yang paling menakutkan… aku nggak yakin apakah aku benar-benar ingin melupakannya.90Please respect copyright.PENANAr1bHC2FC4s


