94Please respect copyright.PENANAwkUMA9uwIABab 1
Bab 1: Pulang yang Berbahaya
Aku Alya, delapan belas tahun, kelas tiga SMA. Hari itu Jumat, jam pelajaran tambahan baru selesai pukul setengah empat sore. Cuaca panas banget, langit agak mendung, dan keringat sudah mulai membasahi punggungku di balik seragam putih abu-abu. Hijabku yang warna cokelat tua itu agak lengket di leher karena panas. Aku berjalan keluar gerbang sekolah bersama beberapa teman sebentar, lalu memisahkan diri.
Biasanya aku pulang naik angkot atau nunggu ibu jemput, tapi hari itu aku memutuskan ambil jalan pintas. Ada jalan tikus yang lewat pinggir kebun kosong dan dekat hutan kecil di belakang kompleks perumahan. Lebih cepat, dan aku capek banget setelah les tambahan. “Sekali-sekali nggak apa-apa,” gumamku dalam hati sambil mengatur hijabku yang agak geser.
Aku berjalan sendirian di jalan setapak yang agak sempit. Di kiri kanan ada semak belukar dan pohon-pohon yang agak rimbun. Suara burung dan serangga terdengar pelan. Aku memegang tas sekolah di bahu kanan, rok seragamku yang panjangnya sampai lutut itu sedikit bergoyang saat aku melangkah. Pikiranku melayang ke rumah. Ibu pasti sudah masak, ayah masih di kantor. Aku harus bantu masak nanti, terus sholat Maghrib berjamaah. Hidupku memang seperti itu — sekolah, rumah, sholat, mengaji. Kadang aku merasa bosan, tapi nggak pernah berani bilang.
Tiba-tiba, dari balik semak di sebelah kiri, ada suara gerakan cepat. Aku berhenti sebentar, jantungku langsung deg-degan. “Apa tuh?” gumamku pelan. Baru saja aku mau lanjut jalan, seekor anjing besar muncul dari balik semak. Badannya hitam kecokelatan, bulunya agak kotor dan kusut, ukurannya lebih besar dari anjing kampung biasa. Matanya merah, lidahnya sudah keluar, dan napasnya ngos-ngosan.
Anjing itu langsung lari kencang ke arahku sambil menggonggong “Guk! Guk! Guk!” suaranya beda dari gonggong anjing biasa. Lebih serak, lebih… excited. Aku kaget setengah mati.
“Astagfirullah!” teriakku sambil mundur beberapa langkah. Tas sekolahku hampir jatuh. Aku langsung balik badan dan lari secepat mungkin. Rok seragamku menghambat gerakan, tapi aku nggak peduli. Hijabku agak copot di belakang, rambut panjangku yang biasanya ditutup rapat mulai kelihatan sedikit.
Anjing itu kejar nggak mau kalah. Aku dengar gonggongannya semakin dekat, napasnya yang berat, dan suara kakinya di tanah. Jantungku berdegup sangat kencang, seperti mau copot. Aku lari zigzag, hampir nabrak pohon kecil di pinggir jalan. “Ya Allah, tolong… tolong…” doaku dalam hati sambil terus lari.
Aku sudah hampir sampai ke ujung jalan setapak yang lebih terbuka, tapi sialnya aku tersandung akar pohon yang menonjol. “Aduh!” Aku jatuh telentang dengan keras. Punggungku menghantam tanah, tas sekolahku terlempar ke samping. Napasku ngos-ngosan, keringat membanjiri wajah. Aku langsung mencoba bangun, tapi terlambat.
Anjing itu sudah ada di atasku.
Aku menjerit ketakutan. “Pergi! Jangan gigit aku!” Aku angkat tangan untuk mendorong kepalanya. Tapi anjing itu nggak menggigit. Ia hanya mengendus-endus tubuhku dengan napas panas yang bau. Mulai dari kaki, naik ke pahaku, lalu ke perut. Aku merasakan bulu kasarnya menggesek seragamku. Jantungku semakin kencang. Ada rasa takut yang luar biasa, tapi ada sesuatu yang aneh juga — perutku seperti mengerut.
Anjing itu terus mengendus, lalu ia naik ke tubuhku. Kaki depannya menumpu di samping pinggulku, badannya yang berat menekan tubuhku. Aku merasakan panas dari tubuhnya. Dan yang paling membuatku kaget… kontolnya sudah setengah keluar dari sarungnya. Panjang, merah muda kehitaman, basah, dan tegang. Ia langsung dorong-dorong pinggulnya ke arah bawahku, tepat di antara kedua pahaku. Gerakannya cepat, seperti mesin, seolah ia benar-benar ingin mengawini aku.
“Aduh… enggak! Pergi kau!” teriakku panik. Aku dorong kepalanya sekuat tenaga, tapi anjing itu kuat banget. Kontolnya yang panas dan basah itu menggesek rok seragamku, lalu naik sedikit ke pahaku yang telanjang karena rokku sudah naik saat jatuh. Aku merasakan panasnya langsung menyentuh kulit pahaku. Gerakannya semakin kencang, pinggulnya dorong-dorong ke bokongku dari belakang posisi. Aku bisa merasakan ujung kontolnya yang basah dan panas itu menekan celana dalamku dari luar.
Aku menangis ketakutan. “Ya Allah… tolong… tolong…” Air mata mengalir deras. Aku tendang perutnya dengan lutut, dorong bahunya dengan kedua tangan. Anjing itu menggeram pelan, tapi tetap mencoba. Kontolnya terus menggesek-gesek, kadang menyentuh bibir memekku dari balik celana dalam yang sudah agak basah karena keringat dan ketakutan. Sensasinya aneh — panas, kasar, dan ada tekanan yang bikin tubuhku tegang. Aku nggak mengerti kenapa tubuhku bereaksi seperti itu. Aku takut setengah mati, tapi ada sensasi hangat yang menyebar di perut bagian bawah.
Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, aku berhasil mengumpulkan tenaga. Aku dorong kepalanya dengan kedua tangan sekuat mungkin sambil berteriak, lalu tendang perutnya keras-keras. Anjing itu sedikit mundur. Aku langsung berguling ke samping, bangkit dengan cepat, dan lari lagi sekuat tenaga tanpa menoleh ke belakang.
Aku lari sambil nangis. Hijabku sudah benar-benar copot di belakang, rambutku tergerai acak-acakan. Rokku robek sedikit di samping karena tersangkut semak. Tas sekolahku kugenggam erat. Sepanjang jalan aku terus berdoa dalam hati, “Ya Allah ampuni aku… lindungi aku…” Aku nggak berani lihat ke belakang. Aku hanya lari sampai napas tersengal-sengal, kaki gemetar, dan dada terasa mau meledak.
Akhirnya aku sampai di pinggir perumahan. Aku langsung masuk ke gang kecil menuju rumahku. Begitu sampai di depan pagar rumah, aku langsung masuk dan mengunci pintu gerbang dari dalam dengan tangan gemetar. Aku bersandar di pagar, napas ngos-ngosan, keringat membanjiri seluruh tubuh. Air mata masih mengalir.
Aku masuk rumah dengan pelan. Untungnya ibu belum pulang dari arisan, dan ayah masih di kantor. Aku langsung naik ke kamar mandi di lantai dua. Aku mengunci pintu, lalu duduk di lantai kamar mandi dengan punggung bersandar ke dinding. Tubuhku masih gemetar hebat.
Aku ingat lagi kejadian tadi. Anjing itu… kontolnya yang panas… cara ia dorong-dorong pinggulnya ke tubuhku… rasa panasnya yang menyentuh pahaku… Aku merasa jijik dengan diri sendiri karena mengingatnya, tapi ada sesuatu di dalam tubuhku yang masih hangat. Aku cepat-cepat berdiri, membuka keran shower, dan mandi dengan air dingin yang deras. Aku gosok tubuhku kuat-kuat, seolah ingin menghilangkan semua sentuhan anjing itu.
Tapi saat air mengalir di tubuhku, aku masih bisa merasakan bayangan kontol anjing yang panas dan basah itu menggesek pahaku. Aku menangis pelan di bawah shower. “Astaghfirullah… apa yang terjadi dengan aku…” gumamku berulang-ulang.
Aku mandi lama sekali. Setelah selesai, aku mengenakan baju rumah yang longgar dan hijab yang bersih. Aku duduk di tempat tidur, memeluk bantal. Di luar sudah mulai gelap. Aku mendengar suara adzan Maghrib dari masjid dekat rumah. Biasanya aku langsung sholat. Tapi malam itu, aku duduk diam, pikiranku masih penuh dengan kejadian tadi.
Aku tahu aku harus lupa. Harus anggap itu cuma kejadian buruk biasa. Tapi entah kenapa, ada rasa penasaran yang kecil tapi mengganggu di dalam dada. “Kenapa anjing itu ngotot banget mau naik ke tubuh aku? Kenapa rasanya… aneh gitu?” pikirku.
Aku berbaring di tempat tidur, memandang langit-langit kamar yang sudah gelap. Jantungku masih belum benar-benar tenang. Aku tahu besok aku harus pulang seperti biasa. Tapi di dalam hati, aku sudah merasa ada sesuatu yang berubah.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidur dengan perasaan yang campur aduk — takut, jijik, dan… sedikit penasaran yang nggak bisa aku jelaskan.94Please respect copyright.PENANAm36ehTQdLm


