81Please respect copyright.PENANAyVRmKfdOtqBab 3
Bab 3: Kembali ke Tempat yang Sama
Aku bangun pagi dengan perasaan yang berat. Matahari sudah tinggi, tapi aku masih berbaring di tempat tidur memeluk bantal. Semalam aku tidur sangat gelisah. Setiap kali aku pejamkan mata, bayangan anjing itu langsung muncul. Kontolnya yang panas dan basah menggesek pahaku. Cara ia dorong-dorong pinggulnya ke tubuhku. Dan yang paling membuatku malu… orgasme yang sangat kuat yang aku rasakan saat colmek sambil membayangkannya.
Aku duduk di tempat tidur dan mengusap wajahku. “Alya, ini gila. Kamu harus lupa,” bisikku pada diri sendiri. Tapi aku tahu itu bohong. Aku nggak bisa lupa. Malah semakin pagi, rasa penasaran itu semakin kuat. Aku terus bertanya-tanya dalam hati: Bagaimana rasanya kalau aku nggak lari kemarin? Bagaimana kalau aku diam saja?
Aku mandi dan bersiap-siap untuk sekolah. Tapi otakku nggak bisa fokus. Saat aku memakai hijab di depan cermin, aku memandang wajah sendiri lama-lama. “Kamu gadis baik, Alya. Kamu berhijab. Kamu sholat. Kenapa kamu mikir hal-hal seperti itu?” Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu. Tapi pikiran itu tetap ada, seperti duri yang nggak mau dicabut.
Sepanjang pelajaran di sekolah, aku nggak bisa konsentrasi. Guru bicara di depan kelas, tapi yang aku dengar cuma suara anjing menggonggong di kepalaku. Teman-temanku ngobrol seperti biasa, tapi aku cuma bisa mengangguk-angguk tanpa benar-benar mendengar. Saat jam istirahat, aku duduk sendirian di kantin dan memandang piring nasi goreng yang nggak aku sentuh.
“Pulang lewat jalan biasa saja hari ini,” kataku dalam hati berkali-kali. Tapi saat bel pulang berbunyi, kakiku justru membawa aku ke arah jalan tikus yang sama seperti kemarin. Aku berdiri di pinggir jalan setapak itu cukup lama, tanganku memegang tali tas sekolah erat-erat. Jantungku sudah berdegup kencang meskipun aku belum bergerak.
“Aku cuma mau lihat… sekali saja,” bisikku pada diri sendiri. “Lihat apakah anjing itu masih di situ. Kalau ada, aku langsung lari. Kalau nggak ada, aku pulang lewat jalan normal.” Aku mencoba meyakinkan diri sendiri dengan alasan itu. Tapi aku tahu itu bohong. Aku tahu alasan sebenarnya adalah rasa penasaran yang sudah tak tertahankan.
Aku mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang sama. Langkahku pelan. Setiap kali ada suara dari semak, aku langsung berhenti dan jantungku melonjak. Tapi aku tetap maju. Udara sore itu terasa lebih panas dari biasanya. Keringat mulai membasahi punggungku di balik seragam. Hijabku terasa sesak di kepala.
Aku sampai di tempat di mana aku jatuh kemarin. Tanahnya masih ada bekas injakan dan rumput yang agak terinjak. Aku berdiri di sana, memandang sekeliling. Tidak ada suara gonggong. Hanya suara burung dan angin yang pelan. Aku menghela napas panjang. Mungkin anjing itu sudah pergi. Mungkin aku bisa pulang sekarang dengan tenang.
Tapi baru saja aku mau berbalik, dari balik semak yang sama seperti kemarin, muncul anjing hitam kecokelatan itu. Badannya masih sama besar. Matanya masih merah. Ia berdiri agak jauh, melihat ke arahku. Ekornya tidak bergoyang. Ia hanya diam, seolah sedang mengamati.
Aku membeku di tempat. Jantungku berdegup sangat kencang sampai terasa sakit di dada. “Ya Allah…” gumamku pelan. Aku mundur selangkah. Tapi anjing itu tidak langsung lari ke arahku seperti kemarin. Ia hanya berdiri, mengendus udara, lalu melangkah pelan mendekatiku.
Aku seharusnya lari. Aku tahu itu. Tapi kakiku seperti tertancap di tanah. Aku hanya berdiri diam, napas sudah mulai ngos-ngosan. Anjing itu semakin dekat. Sekarang jaraknya tinggal sekitar tiga meter. Ia mengendus-endus tanah, lalu mengangkat kepala dan melihat ke arahku lagi. Aku bisa melihat kontolnya sudah mulai keluar sedikit dari sarungnya, merah dan basah.
“Pergi… pergi sana,” bisikku dengan suara gemetar. Tapi suaraku lemah. Anjing itu terus mendekat. Sekarang ia sudah di depanku. Ia mengendus kaki seragamku, lalu naik ke pahaku. Aku bisa merasakan napas panasnya melalui celana panjang seragam. Tubuhku gemetar hebat.
Aku menutup mata sebentar. Gambaran semalam langsung muncul — aku colmek sambil membayangkan anjing ini menindihku. Rasa nikmat yang luar biasa yang aku rasakan tadi malam kembali terasa di tubuhku. Aku membuka mata lagi. Anjing itu sudah berdiri sangat dekat. Kontolnya sudah setengah keluar, panjang dan tegang.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Tangan-ku gemetar saat memegang ujung rok seragamku. “Sekali saja…” bisikku sangat pelan, hampir tak terdengar. “Cuma sekali… biar aku tahu rasanya.”
Dengan tangan yang gemetar, aku mengangkat rok seragamku sampai ke pinggang. Aku menurunkan celana dalam putih sekolahku sampai ke lutut. Angin sore menyentuh kulit pahaku yang telanjang. Aku merasa sangat malu, tapi rasa penasaran sudah lebih besar dari rasa malu itu.
Anjing itu seolah mengerti. Ia langsung mendekat dan mengendus memekku yang sudah agak basah karena keringat dan ketegangan. Aku menutup mata dan menggigit bibir bawahku. Napas anjing yang panas menyentuh kulit sensitifku. Lalu ia naik ke tubuhku dari belakang.
Aku merasakan berat badannya menekan punggungku. Kaki depannya menumpu di samping pinggulku. Aku membungkuk sedikit, tanganku bertumpu di lutut. Aku merasakan kontolnya yang panas dan basah itu menyentuh pahaku dari belakang. Anjing itu mulai dorong-dorong pinggulnya dengan gerakan cepat dan kasar.
“Aduh…” desisku pelan saat ujung kontolnya menyentuh bibir memekku. Ia terus mencari lubang. Aku merasakan panas yang luar biasa. Kontolnya basah dan licin karena cairan sendiri. Setelah beberapa kali mencoba, ujungnya berhasil masuk sedikit ke dalam memekku.
“Aahh…” Aku menahan napas. Rasanya sakit. Kontol anjing itu lebih panas dan lebih kasar dari jari-jariku. Ia langsung dorong lebih dalam dengan gerakan liar. Aku merasakan tubuhku diregangkan. Anjing itu menggeram pelan di belakang telingaku sambil terus mengentotiku dengan cepat.
Aku memegang lututku erat-erat. Air mata bercampur keringat mengalir di pipi. Tapi di balik rasa sakit itu, ada sensasi nikmat yang mulai muncul. Setiap kali kontolnya masuk dan keluar, ada gesekan yang membuat tubuhku bergetar. Aku membayangkan wajah ibu dan ayah, bayangan masjid, dan hijabku yang masih terpasang di kepalaku. Rasa bersalah datang deras, tapi nikmatnya juga semakin kuat.
Anjing itu mengentotiku dengan sangat cepat dan kasar. Kontolnya yang panas itu terus menyodok bagian dalam memekku. Aku merasakan ada bagian yang membengkak di dalam — knotnya. Ia mendorong lebih dalam sampai knot itu masuk sebagian. Aku menjerit pelan karena campuran sakit dan nikmat yang luar biasa.
Gelombang orgasme datang tiba-tiba. Tubuhku gemetar hebat. Aku menekan mulutku dengan tangan supaya nggak berteriak keras. Memekku berkedut-kedut di sekitar kontol anjing yang masih bergerak liar di dalamnya. Aku orgasme sangat kuat, lebih kuat dari semalam. Cairan bening menyembur keluar membasahi pahaku.
Anjing itu juga keluar tidak lama kemudian. Aku merasakan semburan air panas yang sangat banyak di dalam memekku. Ia menggeram pelan sambil terus mendorong pinggulnya beberapa kali lagi sebelum akhirnya menarik diri. Kontolnya keluar dengan suara basah. Air mani anjing yang hangat dan kental langsung mengalir deras keluar dari memekku, membasahi paha dan tanah di bawahku.
Aku langsung jatuh berlutut di rumput. Napasku ngos-ngosan. Kaki-ku gemetar hebat. Air mani anjing masih mengalir keluar dari dalam tubuhku. Aku menunduk, memandang cairan putih kental itu membasahi tanah. Hijabku agak geser ke belakang. Rambutku yang panjang terurai sedikit.
Aku menangis pelan. “Ya Allah… apa yang baru aku lakukan…” bisikku dengan suara pecah. Aku merasa sangat kotor. Sangat berdosa. Tapi di saat yang sama, tubuhku masih terasa lemas karena nikmat yang baru saja aku rasakan. Aku nggak bisa bohong pada diri sendiri — rasanya enak. Sangat enak.
Aku mengambil celana dalamku yang sudah kotor dan memakainya kembali dengan tangan gemetar. Rok seragamku aku turunkan. Aku berdiri dengan susah payah. Kaki-ku masih lemas. Anjing itu sudah menjauh beberapa meter, duduk dan menjilat dirinya sendiri.
Aku memandang anjing itu sebentar. Lalu aku berbalik dan mulai berjalan pulang dengan langkah yang goyah. Setiap langkah, aku bisa merasakan air mani anjing masih mengalir keluar dari memekku, membasahi celana dalamku.
Sepanjang jalan pulang, aku menangis pelan. Aku merasa sudah menghancurkan segalanya. Aku sudah berdosa besar. Tapi di balik air mata itu, ada satu hal yang nggak bisa aku pungkiri.
Aku sudah mencoba.
Dan aku tahu… aku mungkin akan kembali lagi.81Please respect copyright.PENANA4QIXyKndKB


