724Please respect copyright.PENANA98KnQ6oSvTChapter 2: Tanah Terpencil, Nafsu Terpendam
Keesokan paginya, Ustadzah Nadia bangun lebih awal dari biasanya. Tubuhnya masih terasa lelah dan sedikit pegal karena orgasme berkali-kali semalam, tapi pikirannya sangat jernih dan penuh tekad. Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, melepaskan gamis tidur, dan menatap tubuh telanjangnya.
Payudaranya masih terlihat montok dan berat. Puting cokelatnya sedikit membengkak karena digosok kasar tadi malam. Di antara kedua pahanya masih terasa lengket dengan sisa cairan cinta yang belum sepenuhnya kering. Nadia tersenyum kecil pada bayangannya sendiri.
“Hari ini aku mulai,” bisiknya pelan.
Ia mandi dengan air hangat, lalu memakai pakaian dalam hitam lace yang paling seksi yang ia miliki — bra yang memperlihatkan setengah payudara dan celana dalam thong yang nyaris tidak menutupi apa-apa. Di luar, ia memakai gamis longgar hitam dan jilbab putih seperti biasa. Tidak ada yang akan tahu apa yang ia pakai di balik pakaian salehahnya.
Nadia mengendarai mobil kecilnya sendirian menuju lembah terpencil yang sudah ia incar sejak kemarin. Perjalanan dua jam melalui jalan berkelok, melewati sawah dan hutan kecil. Sepanjang perjalanan, ia tidak bisa menghentikan pikirannya.
Bayangan pemuda-pemuda tampan yang akan ia rekrut terus muncul. Ia membayangkan mereka bertelanjang di tanah yang akan ia beli, tubuh berotot berkeringat di bawah terik matahari, lalu ia memanggil mereka satu per satu ke kamarnya di malam hari.
Memeknya mulai basah lagi hanya karena membayangkan itu.
Di tengah perjalanan, Nadia merasa tidak tahan lagi. Ia memutar mobil ke pinggir jalan yang sepi, di bawah pohon besar yang rindang. Mesin dimatikan. Ia menurunkan jok kursi sedikit ke belakang, lalu tangannya langsung menyusup ke dalam gamis.
Jari-jarinya menyentuh celana dalam thong yang sudah sangat basah. “Astaghfirullah… lagi-lagi basah hanya karena berpikir,” gumamnya dengan napas yang mulai memburu.
Ia menarik thong ke samping dan memasukkan dua jari ke dalam memeknya yang panas dan licin. Jari-jarinya bergerak pelan di awal, lalu semakin cepat. Dengan mata setengah terpejam, ia membayangkan dirinya berdiri di tengah tanah kosong yang akan ia beli, dikelilingi oleh lima pemuda telanjang.
Salah satu dari mereka — bayangan Rizki — maju ke depan, mendorongnya ke tanah, dan langsung menindihnya. Kontol tebal pemuda itu menembus memeknya dengan sekali dorong kuat.
“Ahh… ya… entot aku di tanah milikku sendiri…” desah Nadia pelan di dalam mobil.
Jarinya semakin ganas. Ia menambahkan jari ketiga. Suara basah “crot-crot” terdengar jelas di dalam mobil yang tertutup. Payudaranya naik turun cepat di balik gamis. Ia meremas payudara kiri dengan tangan kirinya melalui kain, membayangkan tangan kasar pemuda itu yang meremasnya.
Nadia menggoyang pinggul di kursi mobil, mengikuti gerakan jarinya sendiri. “Ngentot aku lebih dalam… isi aku… aku mau hamil sama sperma kalian…” gumamnya dengan suara serak.
Orgasme datang dengan cepat. Tubuhnya tegang, kaki gemetar, dan memeknya menyemprotkan cairan ke telapak tangannya. Nadia menggigit bibir bawah kuat-kuat supaya tidak berteriak. Ia terus menggosok klitorisnya sampai gelombang kenikmatan benar-benar mereda.
Setelah puas, ia membersihkan tangannya dengan tisu, memperbaiki pakaian, lalu melanjutkan perjalanan dengan napas masih sedikit tersengal dan senyum kecil di bibir.
Dua jam kemudian, mobilnya berhenti di pinggir lembah yang luas dan sepi. Tanah seluas hampir dua hektar, dikelilingi pohon-pohon tinggi dan bukit kecil di belakangnya. Sangat terpencil. Tidak ada rumah dalam radius satu kilometer. Sempurna.
Nadia turun dari mobil. Angin pagi menyapu wajahnya. Ia berjalan pelan di atas tanah yang masih ditumbuhi rumput liar. Sepatu haknya sedikit tenggelam di tanah lembab. Ia membayangkan di sini akan berdiri bangunan pondok yang besar, dengan kamar-kamar santri di satu sisi dan kamarnya yang lebih mewah di sisi lain — lengkap dengan pintu rahasia yang menghubungkan ke kamar-kamar santri.
Ia berhenti di tengah tanah. Matanya memandang sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Hanya angin dan suara burung.
Nadia merasa darahnya mengalir lebih cepat. Ia duduk di atas rumput, lalu berbaring telentang. Jilbab putihnya sedikit bergeser. Ia mengangkat gamisnya sampai ke pinggang, menarik thong ke samping, dan langsung memasukkan tiga jari ke dalam memeknya yang sudah basah lagi.
“Di sini…” bisiknya pada diri sendiri. “Di tanah ini aku akan ditiduri habis-habisan.”
Ia membayangkan membangun sebuah ruangan khusus di belakang pondok — ruangan tanpa jendela, hanya kasur besar di lantai dan cermin di dinding. Di ruangan itu ia akan memanggil santri-santri pilihan setiap malam. Kadang satu per satu. Kadang dua atau tiga sekaligus.
Jarinya bergerak cepat di dalam memeknya. “Aku mau mereka mengentot aku bergantian… aku mau ditelan sperma… aku mau jadi tempat mereka melampiaskan nafsu…”
Orgasme ketiga hari itu datang lebih cepat. Nadia mengangkat pinggulnya dari rumput, memeknya menyemprotkan cairan ke tanah yang akan ia miliki. Tubuhnya gemetar hebat di bawah terik matahari pagi. Ia terus memainkan dirinya sampai kakinya lemas.
Setelah selesai, ia berbaring sebentar, menikmati angin yang menyapu kulit pahanya yang basah. Lalu ia berdiri, memperbaiki pakaian, dan tersenyum puas.
Tanah ini akan jadi miliknya.
Siang harinya, Nadia bertemu dengan pemilik tanah — Pak Darma, seorang pria paruh baya yang sudah tua dan ingin segera menjual tanahnya. Pertemuan dilakukan di sebuah warung kecil di pinggir jalan.
Nadia memakai senyum salehahnya yang biasa. Ia berbicara dengan sopan, menawar harga dengan lembut, dan berhasil menekan harga lebih rendah dari yang ditawarkan. Pak Darma terlihat kagum dengan “ustadzah muda yang pintar ini”.
Sepanjang pembicaraan, Nadia diam-diam membayangkan hal-hal lain. Ia membayangkan Pak Darma yang sudah tua itu tahu apa yang akan ia lakukan di tanah ini. Bayangan itu justru membuatnya semakin basah.
Setelah kesepakatan lisan tercapai, Nadia berjanji akan mengurus surat-surat besok. Ia berpamitan dengan senyum manis, lalu kembali ke mobil.
Di perjalanan pulang, nafsunya kembali menggebu. Ia berhenti lagi di tempat yang sama seperti tadi pagi. Kali ini ia tidak hanya memakai jari. Ia mengeluarkan mainan kecil yang selalu ia bawa di tas — vibrator kecil berbentuk telur yang bisa dikendalikan dengan remote.
Ia memasukkan vibrator itu ke dalam memeknya yang sudah basah, lalu menyalakannya di level sedang. Mobil bergoyang pelan karena Nadia menggoyang pinggulnya di kursi. Tangan kirinya meremas payudara dengan kasar.
Ia membayangkan ruangan khusus yang akan ia bangun. Bayangan Rizki, Andi, Budi, dan pemuda-pemuda lain yang belum ia kenal sedang berdiri telanjang mengelilinginya. Mereka bergantian memasukkan kontol ke mulutnya, ke memeknya, bahkan ke pantatnya.
“Ya… pakai aku… pakai tubuh ustadzah kalian sepuasnya…” desahnya pelan sambil vibrator terus bergetar kuat di dalamnya.
Orgasme keempat hari itu datang dengan sangat kuat. Nadia menjerit pelan di dalam mobil, tubuhnya melengkung, dan cairan menyemprot membasahi jok mobil. Ia terus menekan vibrator sampai orgasme kedua menyusul tidak lama kemudian.
Setelah puas, ia membersihkan dirinya seadanya, mematikan vibrator, dan melanjutkan perjalanan pulang dengan tubuh lemas tapi hati sangat puas.
Malam harinya, di kamarnya, Nadia duduk di depan meja kerja dengan buku catatan terbuka. Ia mulai menuliskan rencana rekrutmen.
Ia akan menggunakan koneksi lama di beberapa pesantren lain. Ia akan bilang bahwa ia membuka pondok baru dan mencari santri dewasa yang serius ingin “memperdalam ilmu agama”. Ia akan melakukan wawancara pribadi untuk setiap calon.
Di setiap wawancara, ia akan menilai tidak hanya pengetahuan agama mereka, tapi juga penampilan fisik dan “potensi kepatuhan”.
Nadia merasa memeknya kembali basah hanya karena menulis rencana itu.
Ia berdiri, melepaskan gamis, dan berbaring di tempat tidur dengan kaki terbuka lebar. Tangan kanannya kembali menyentuh dirinya sendiri sementara tangan kirinya memegang pena dan terus menulis.
“Ia akan merekrut Rizki sebagai santri pertama,” tulisnya di buku.
Jarinya menggosok klitoris lebih cepat.
“Lalu Andi, Budi, Chandra… semuanya akan datang ke pondokku.”
Ia memasukkan dua jari ke dalam memeknya sambil membayangkan mereka semua sudah berada di sana.
“Aku akan jadi ratu di pondok itu. Mereka akan meniduri aku kapan saja aku mau. Aku akan mengajar mereka cara ‘melayani’ ustadzah dengan benar.”
Orgasme terakhir hari itu datang pelan tapi panjang. Nadia menggigit bantal untuk menahan suara. Tubuhnya gemetar di atas sprei yang sudah basah.
Setelah selesai, ia menutup buku catatan dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Besok ia akan mulai mengurus surat tanah.
Dan minggu depan… ia akan mulai merekrut santri pertama.
Nadia mematikan lampu, tubuh telanjang di bawah selimut tipis. Ia tersenyum dalam gelap.
Pondok impiannya sudah mulai terwujud.
Dan nafsu gilanya… baru saja akan mendapatkan tempat yang sempurna untuk berkembang bebas.724Please respect copyright.PENANADTDE5Ri2ER


