791Please respect copyright.PENANAGHEcQGwDhFChapter 3: Santri Pertama Tiba
Dua minggu setelah Nadia membeli tanah itu, Pondok Nadia sudah berdiri dalam bentuk yang sederhana tapi cukup layak. Sebuah bangunan utama berlantai dua dengan beberapa kamar kecil di sayap kanan untuk santri, dan kamar Nadia yang lebih besar di sayap kiri. Ada masjid kecil di tengah halaman, serta sebuah bangunan belakang yang belum selesai — ruangan yang hanya Nadia tahu akan menjadi “ruang khusus” nantinya.
Hari ini, santri pertamanya akan datang.
Rizki.
Pemuda dua puluh tiga tahun yang selama ini selalu membuat Nadia basah hanya dengan melihatnya dari kejauhan di masjid desa. Nadia sudah menghubunginya seminggu lalu melalui pesan singkat.
“Rizki, aku sedang membuka pondok baru di lembah. Kalau kamu serius ingin memperdalam ilmu agama dengan cara yang lebih intens, datanglah. Aku akan membimbingmu secara pribadi.”
Rizki langsung setuju. Nada pesannya terdengar sangat hormat dan antusias.
Pukul empat sore, mobil kecil Rizki masuk ke halaman pondok. Nadia sudah berdiri di depan pintu utama, memakai gamis hitam longgar dan jilbab putih yang rapi. Wajahnya tersenyum lembut seperti biasa, tapi di balik senyum itu ada api yang sudah menyala sejak pagi.
Rizki turun dari mobil dengan membawa tas ransel. Tubuhnya yang atletis terlihat jelas di balik baju koko putih dan celana kain hitam. Ia membungkuk hormat begitu melihat Nadia.
“Assalamualaikum, Ustadzah. Terima kasih sudah memberi kesempatan ini.”
“Waalaikumsalam, Rizki,” jawab Nadia dengan suara lembut. “Masuklah. Aku tunjukkan pondoknya.”
Sepanjang tur singkat, Nadia berjalan di depan Rizki. Ia sengaja mengayunkan pinggul sedikit lebih berlebihan dari biasanya. Beberapa kali ia berhenti dan menoleh, membuat payudaranya yang besar bergoyang pelan di balik gamis longgar.
“Ini kamar-kamar santri,” katanya sambil membuka pintu salah satu kamar. “Kamu bisa pilih yang mana saja. Untuk sementara hanya kamu yang ada di sini.”
Rizki mengangguk hormat, tapi matanya sesekali tidak bisa menahan diri untuk melihat tubuh Nadia yang montok meskipun tertutup longgar.
Setelah tur selesai, Nadia mengajaknya ke ruang tamu kecil. Mereka duduk berhadapan. Nadia menuangkan teh hangat untuk Rizki.
“Mulai besok kamu akan ikut pengajian pagi dan malam bersamaku,” kata Nadia pelan. “Tapi ada satu hal yang harus kamu pahami sejak awal.”
Rizki menatapnya dengan penuh perhatian.
“Di pondok ini, bimbingan yang aku berikan tidak hanya di siang hari. Malam hari juga ada pelajaran khusus… yang lebih dalam. Tentang akhlak, tentang cara melayani, dan tentang menahan nafsu.” Nadia tersenyum tipis. “Apakah kamu siap?”
Rizki mengangguk cepat. “Siap, Ustadzah. Saya akan patuh.”
Nadia merasa memeknya langsung berdenyut mendengar kata “patuh” keluar dari mulut pemuda itu.
Malam harinya, setelah shalat Isya berjamaah berdua di masjid kecil, Nadia memanggil Rizki ke kamarnya.
“Rizki, masuklah. Malam ini pelajaran pertamamu dimulai.”
Rizki masuk dengan wajah sedikit tegang karena gugup. Kamar Nadia cukup luas. Ada kasur besar di tengah, meja belajar, dan lemari pakaian. Lampu temaram menyala.
Nadia duduk di tepi kasur. Ia tidak memakai jilbab lagi. Rambut hitam panjangnya terurai indah di bahu. Gamisnya masih dipakai, tapi kancing atasnya sudah dibuka dua buah, memperlihatkan sedikit belahan payudara yang putih dan montok.
“Datang ke sini,” perintah Nadia pelan.
Rizki mendekat dengan langkah ragu. Nadia menepuk tempat di sebelahnya. Pemuda itu duduk dengan jarak sopan.
Nadia menatapnya langsung ke mata. “Kamu tahu kenapa aku memilih kamu sebagai santri pertama?”
Rizki menggeleng pelan.
“Karena aku melihat sesuatu di dalam dirimu,” kata Nadia sambil mengangkat tangan dan menyentuh pipi Rizki dengan lembut. “Kamu kuat. Kamu sehat. Dan aku yakin… kamu bisa melayani dengan baik.”
Tangan Nadia turun perlahan ke dada Rizki, merasakan otot di balik baju koko. Rizki menahan napas.
“Ustadzah… apa yang sedang terjadi?” tanyanya dengan suara serak.
Nadia tersenyum. “Aku sedang mengajarimu cara yang benar untuk melayani ustadzahmu.”
Ia berdiri di depan Rizki, lalu perlahan membuka kancing gamisnya satu per satu. Kain hitam itu terbuka, memperlihatkan bra hitam lace yang menahan dua payudara besar dan montok. Putingnya sudah mengeras, menonjol jelas.
Rizki menatap dengan mata membelalak. “Ustadzah… astaghfirullah…”
“Jangan takut,” kata Nadia sambil melepaskan gamis sepenuhnya sampai jatuh ke lantai. Sekarang ia hanya memakai bra dan celana dalam thong hitam yang nyaris tidak menutupi apa-apa. Tubuhnya yang montok dan berlekuk sempurna terpapar di depan pemuda itu.
Ia mendekat, mengangkat dagu Rizki dengan dua jari. “Mulai sekarang, kamu boleh memanggilku Nadia… saat kita berdua saja.”
Rizki menelan ludah keras. Kontolnya sudah tegang di balik celana, membentuk tonjolan yang jelas.
Nadia melihatnya dan tersenyum puas. Ia meraih tangan Rizki dan meletakkannya di payudaranya yang besar. “Pegang. Jangan takut.”
Rizki meremas pelan dengan tangan gemetar. Nadia mendesah pelan. “Lebih keras…”
Pemuda itu meremas lebih kuat. Nadia menutup mata sebentar, menikmati sentuhan tangan kasar pertama setelah sekian lama.
Ia membuka kancing baju koko Rizki, lalu celananya. Ketika kontol Rizki yang tebal dan panjang terlepas, Nadia menggigit bibir bawah. “Bagus sekali…”
Ia berlutut di depan Rizki, menatap kontol itu dari dekat. Tanpa banyak bicara lagi, ia membuka mulut dan menjilat ujungnya pelan. Rizki mendesah keras.
Nadia menelan kontol itu sedalam mungkin. Kepalanya bergerak naik turun dengan ritme lambat di awal, lalu semakin cepat. Suara “ngok-ngok” basah terdengar jelas di kamar. Tangan kirinya meremas buah zakar Rizki, sementara tangan kanannya turun ke memeknya sendiri dan menggosok klitoris melalui thong.
Rizki menggenggam rambut Nadia tanpa sadar. “Ustadzah… Nadia… enak sekali…”
Nadia melepaskan kontol dari mulutnya sebentar, air liur mengalir di dagunya. “Kamu suka? Mulai sekarang ini milikku juga.”
Ia berdiri, mendorong Rizki untuk berbaring di kasur. Ia naik ke atas tubuh pemuda itu, duduk di atas pahanya. Ia menarik thong ke samping, memperlihatkan memeknya yang sudah basah mengkilap dan berbulu tipis.
“Masukkan,” perintahnya pelan.
Rizki memegang kontolnya sendiri dan mengarahkan ke lubang memek Nadia. Dengan satu dorongan pelan, kepala kontolnya masuk. Nadia mendesah panjang. “Ahhh… besar sekali…”
Ia menurunkan pinggulnya perlahan sampai seluruh kontol Rizki tertelan ke dalam memeknya yang panas dan sempit. Nadia diam sebentar, menikmati rasa penuh yang sudah lama ia rindukan.
Lalu ia mulai menggoyang pinggulnya. Naik turun dengan ritme lambat di awal. Payudaranya yang besar bergoyang di depan wajah Rizki. Nadia meraih tangan pemuda itu dan meletakkannya di payudaranya lagi.
“Remas sambil aku naik turun,” katanya dengan suara serak.
Rizki mematuhi. Ia meremas payudara Nadia dengan kasar sementara Nadia menggoyang pinggulnya semakin cepat. Suara “plak-plak” basah terdengar setiap kali pinggul Nadia bertemu dengan pangkal paha Rizki.
“Enak… enak sekali…” desah Nadia. “Kontolmu mengisi aku dengan sempurna…”
Ia berubah posisi menjadi doggy style. Rizki berdiri di belakang kasur, memegang pinggul Nadia yang lebar, dan mulai mengentotnya dari belakang dengan ritme sedang. Nadia meraih sprei dengan kedua tangan, mulutnya terbuka lebar.
“Lebih keras, Rizki… entot ustadzahmu lebih keras…”
Rizki meningkatkan kecepatan. Dorongan-dorongan kuat membuat tubuh Nadia bergoyang ke depan. Kontol tebalnya menghantam titik sensitif di dalam memek Nadia berulang kali. Nadia mulai menjerit pelan setiap kali orgasme kecil datang.
Setelah beberapa menit, Nadia memutar tubuhnya dan mendorong Rizki untuk berbaring telentang lagi. Ia naik dan menunggangi pemuda itu sekali lagi, kali ini menghadap ke depan. Ia menggoyang pinggulnya dengan liar, naik turun cepat, payudaranya bergoyang hebat.
“Aku mau keluar…” desah Nadia. “Aku mau orgasme di kontolmu…”
Rizki memegang pinggulnya dan membantu mengangkat Nadia naik turun lebih cepat. Tidak lama kemudian, Nadia menjerit. Tubuhnya tegang, memeknya kejang-kejang di sekitar kontol Rizki, dan ia menyemprotkan cairan ke pangkal paha pemuda itu.
Rizki juga tidak tahan lagi. “Nadia… aku mau keluar…”
“Keluar di dalam,” perintah Nadia dengan napas tersengal. “Isi aku…”
Rizki mendorong pinggulnya ke atas beberapa kali dengan kuat, lalu kontolnya berdenyut hebat di dalam memek Nadia. Sperma panas menyembur deras ke dalam rahimnya. Nadia mendesah panjang, merasakan setiap tetesnya.
Setelah selesai, Nadia tidak langsung turun. Ia tetap duduk di atas Rizki, merasakan kontol yang masih setengah tegang di dalamnya. Ia membungkuk dan mencium bibir Rizki untuk pertama kalinya — dalam dan penuh nafsu.
“Ini rahasia kita,” bisiknya di telinga Rizki. “Mulai sekarang, setiap malam kamu datang ke kamar ini. Paham?”
Rizki mengangguk dengan mata berkabut nafsu. “Paham, Nadia.”
Nadia tersenyum puas. Ia turun perlahan, sperma Rizki langsung mengalir keluar dari memeknya yang merah dan bengkak. Ia mengambil tisu dan membersihkan diri sebentar, lalu berbaring di sebelah Rizki.
Malam itu mereka melakukan dua ronde lagi. Kali kedua Nadia menyuruh Rizki menidurinya dari samping sambil meremas payudaranya. Kali ketiga Nadia berlutut di lantai dan menyuruh Rizki mengentot mulutnya sampai sperma kedua menyembur ke tenggorokannya.
Pukul dua dini hari, Rizki akhirnya tertidur kelelahan di kasur Nadia.
Nadia masih terjaga. Ia menatap tubuh pemuda itu yang telanjang di sampingnya. Memeknya masih berdenyut pelan, penuh dengan sperma.
Ia tersenyum dalam gelap.
Santri pertama sudah resmi menjadi miliknya.
Dan besok… ia akan mulai menghubungi santri kedua.791Please respect copyright.PENANAWNBgfeizym


