837Please respect copyright.PENANAf2ViE6gwptChapter 1: Topeng Kesalehan
Malam itu udara desa terasa lebih dingin dari biasanya. Ustadzah Nadia baru saja menutup pengajian malam di masjid kecil di ujung desa. Suaranya yang lembut dan penuh hikmah masih terngiang di telinga para santri yang pulang satu per satu dengan wajah khusyuk. Ia berdiri di depan mimbar, tubuhnya dibalut gamis hitam longgar dan jilbab putih rapi yang selalu ia kenakan dengan sempurna. Tidak ada satu orang pun yang curiga bahwa di balik pakaian salehah itu tersembunyi sebuah tubuh yang penuh dengan nafsu gila yang tak pernah benar-benar bisa ia tahan.
Ia tersenyum manis sambil memberi salam kepada setiap santri yang mencium tangannya. Matanya sempat menyapu barisan pemuda yang baru bergabung minggu lalu. Salah satunya, Rizki, pemuda dua puluh tiga tahun dengan tubuh atletis yang sulit disembunyikan di balik baju koko putihnya. Bahu lebar, dada bidang, lengan berotot, dan wajah tampan dengan garis rahang tegas. Ketika Rizki membungkuk untuk mencium tangan Nadia, jarak mereka sangat dekat. Nadia bisa mencium aroma maskulin samar dari tubuh pemuda itu.
Jantungnya berdegup lebih kencang. “Astaghfirullah…” gumamnya dalam hati. Tapi tubuhnya sudah berkhianat. Ia merasakan denyut panas yang familiar di antara kedua pahanya. Memeknya mulai basah, cairan bening perlahan membasahi celana dalam katun putih yang ia kenakan di balik gamis.
Setelah semua orang pulang, Nadia mengunci pintu masjid dengan tangan sedikit gemetar. Ia berjalan cepat menyusuri jalan setapak menuju rumahnya yang berada persis di belakang masjid. Langkahnya tergesa, napasnya sudah tidak beraturan. Malam ini lagi-lagi ia merasa tidak bisa menahan diri lebih lama.
Begitu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam, Nadia bersandar kuat-kuat di pintu kayu tua itu. Napasnya memburu. Tangan kanannya tanpa sadar naik ke dadanya dan meremas payudara kiri melalui kain gamis. Payudaranya terasa berat, penuh, dan sangat sensitif malam ini.
Ia berjalan pelan ke depan cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Lampu temaram menyinari wajahnya. Perlahan, jari-jarinya yang lentik mulai membuka jilbab putih itu. Kain putih itu terlepas dan rambut hitam panjang bergelombang terurai indah menyentuh bahunya. Wajah cantik Nadia terlihat jelas — kulit putih mulus, alis tebal alami, mata besar yang sekarang sudah berkabut nafsu, dan bibir tebal berwarna merah muda yang sedikit terbuka.
Nadia menatap bayangannya sendiri di cermin. Ia mulai membuka kancing gamis satu per satu. Kain hitam itu jatuh ke lantai, memperlihatkan tubuhnya yang selama ini selalu ia sembunyikan. Bra hitam lace tipis menahan dua payudara besar dan montok ukuran 38D. Puting cokelatnya sudah mengeras, menonjol jelas di balik kain tipis. Pinggulnya lebar dan bulat, paha tebal dan mulus, serta pinggang yang relatif kecil membuat bentuk tubuhnya seperti jam pasir yang menggoda.
Ia menarik celana dalamnya ke bawah. Ada noda basah yang besar di bagian depan kain putih itu. Nadia tersenyum getir. “Lagi-lagi begini… hanya karena melihat pemuda itu sebentar saja.”
Ia duduk di tepi tempat tidur, kaki dibuka lebar menghadap cermin. Tangan kirinya meremas payudara kiri dengan kasar, jari-jarinya menjepit puting yang sudah keras dan menariknya pelan. Rasa sakit nikmat langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Tangan kanannya turun ke selangkangan. Jari tengahnya menyentuh klitoris yang sudah bengkak dan sensitif melalui celana dalam yang basah kuyup.
Sentuhan kecil saja sudah membuat tubuh Nadia bergidik hebat.
Ia menutup mata. Bayangan Rizki muncul begitu jelas di benaknya. Ia membayangkan pemuda itu menindih tubuhnya, kontol tebal dan panjangnya menembus masuk ke dalam memeknya yang basah dan panas. “Ahh… ya… entot aku, Rizki…” gumamnya dengan suara serak penuh nafsu.
Jarinya semakin cepat menggosok klitoris. Cairan cinta semakin banyak mengalir, membasahi paha bagian dalam hingga ke sprei. Nadia menarik celana dalamnya ke samping dan memasukkan dua jari sekaligus ke dalam lubang memeknya yang sempit tapi sangat basah dan licin. “Haaah… enak sekali…”
Jari-jarinya bergerak masuk dan keluar dengan ritme cepat. Suara “crot-crot” basah terdengar jelas di kamar yang sunyi. Nadia menggoyang pinggulnya mengikuti gerakan jarinya sendiri. Payudaranya bergoyang-goyang setiap kali ia mengangkat pinggul.
Bayangannya berubah semakin liar. Sekarang ia membayangkan Rizki mengentotnya dari belakang dengan kasar, satu tangan menarik rambutnya, satu tangan lagi menampar pantatnya. “Ngentot aku lebih keras… isi aku… ahh!”
Tiba-tiba bayangan itu berubah menjadi tiga pemuda sekaligus. Satu kontol di mulutnya, satu di memek, dan satu lagi menekan pintu belakangnya. Nafsu gila Nadia meledak-ledak. Ia memasukkan jari ketiga. Tiga jari sekarang mengisi memeknya dengan penuh. Ibujarinya terus menggosok klitoris dengan cepat dan kasar.
“Ya Tuhan… aku binal… aku sangat binal…” desahnya pelan sambil menggigit bibir bawah.
Tubuhnya mulai tegang. Otot perutnya mengeras. “Aku mau… aku mau keluar… ahhh!”
Gelombang orgasme pertama datang dengan sangat kuat. Nadia menekuk punggungnya, kaki gemetar hebat, dan memeknya menyemprotkan cairan bening ke seluruh tangan dan sprei. Ia terus menggosok klitorisnya meskipun sudah orgasme, memperpanjang kenikmatan itu sampai tubuhnya berkedut-kedut. Air mata kecil mengalir di sudut matanya karena terlalu nikmat.
Setelah gelombang pertama mereda, Nadia tidak berhenti. Ia berbaring telentang di tempat tidur, kaki diangkat tinggi dan dibuka lebar. Ia memasukkan tiga jari sekaligus lebih dalam, mencari titik sensitif di dalam memeknya. Tangan kirinya meremas dan menjepit puting susu bergantian dengan kasar. “Lagi… aku masih haus… aku butuh lebih banyak…”
Bayangannya sekarang menjadi orgy besar. Ia membayangkan dirinya telanjang bulat di tengah ruangan luas, dikelilingi oleh lima atau enam pemuda tampan dan berotot. Mereka bergantian menidurinya tanpa henti. Mulutnya penuh kontol, memeknya penuh, bahkan pintu belakangnya juga diisi bergantian. “Isi aku… penuhi tubuhku dengan sperma kalian semua… aku mau jadi pelacur kalian…”
Jari-jarinya bergerak semakin ganas. Suara desahan dan erangan kecil terus keluar dari mulutnya tanpa bisa ia tahan. “Fuck… fuck me harder… fill my pussy… ahhh!”
Orgasme kedua datang lebih dahsyat dari yang pertama. Nadia menjerit pelan, tubuhnya melengkung seperti busur, kaki gemetar tak terkendali, dan memeknya menyemprot lagi dengan lebih banyak cairan. Ia terus memainkan dirinya sampai gelombang kenikmatan itu benar-benar mereda dan meninggalkan tubuhnya lemas dan berkeringat.
Nadia berbaring telentang dengan napas tersengal-sengal. Tubuhnya basah oleh keringat dan cairan cinta sendiri. Rambut hitamnya acak-acakan di bantal. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata setengah terpejam.
Rasa puas sementara itu selalu datang, tapi selalu diikuti oleh rasa haus yang lebih besar.
“Kenapa aku selalu seperti ini?” gumamnya pelan dengan suara serak. “Aku ustadzah… orang-orang di desa ini menghormatiku… mereka memanggilku dengan penuh takzim… tapi di dalam sini…” Ia menyentuh dadanya yang masih naik turun. “Aku haus pria. Aku ingin ditiduri habis-habisan. Aku ingin banyak kontol mengisi tubuhku sampai aku tidak bisa berjalan.”
Ia ingat suaminya dulu. Laki-laki baik yang sangat mencintainya, tapi lemah di ranjang. Selalu cepat selesai, tidak pernah bisa membuat Nadia benar-benar puas. Setelah suaminya meninggal karena sakit tiga tahun lalu, Nadia semakin menekan nafsunya dengan kuat. Ia mengira dengan mengajar ngaji dan beribadah lebih banyak, nafsu itu akan hilang. Ternyata semakin ia tekan, semakin liar dan ganas jadinya.
Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul begitu jelas di benaknya.
Kenapa ia harus terus menahan diri?
Kenapa ia tidak membuat sesuatu yang bisa memuaskan nafsu gilanya secara permanen?
Nadia membuka mata lebar-lebar. Ia duduk di tempat tidur, payudaranya bergoyang pelan. “Pondok…” gumamnya pelan. “Kenapa aku tidak membangun pondok pesantren sendiri?”
Matanya berbinar penuh gairah. “Pondok khusus untuk pria dewasa… di tempat terpencil… jauh dari pengawasan orang banyak. Di sana aku bisa merekrut pemuda-pemuda pilihan. Yang berbadan bagus, tampan, dan sehat. Aku bisa ‘mengajar’ mereka di siang hari dengan cara yang salehah… tapi di malam hari…”
Nadia tersenyum lebar, senyum yang penuh dengan nafsu terlarang. “Di malam hari aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Aku bisa memanggil mereka ke kamar satu per satu… atau sekaligus. Aku bisa membuat mereka meniduri aku sesuka hati. Aku bisa jadi ratu di pondok itu.”
Ia bangun dari tempat tidur dengan tubuh masih telanjang. Kakinya sedikit gemetar karena orgasme tadi. Ia berjalan ke meja kerja kecil di sudut kamar, mengambil buku catatan tebal dan pena. Ia duduk telanjang di kursi, payudaranya menempel dingin di meja kayu.
Nadia mulai menuliskan rencana dengan tangan yang sedikit gemetar karena excited.
Lokasi: lembah terpencil di balik gunung kecil, dua jam dari desa ini. Tanahnya murah dan sepi.
Dana: ia bisa menggunakan sebagian warisan suaminya ditambah donasi dari jamaah yang selama ini percaya padanya.
Rekrutmen: wawancara pribadi. Ia akan memilih hanya pemuda yang benar-benar sesuai seleranya — tubuh tegap, wajah tampan, dan yang terpenting… patuh.
Aturan: total rahasia. Tidak ada yang boleh tahu apa yang terjadi di balik dinding pondok itu.
Nadia merasa darahnya mengalir lebih cepat. Memeknya lagi-lagi mulai basah hanya karena membayangkan masa depan yang akan ia ciptakan sendiri. Ia menyentuh dirinya sekali lagi dengan ringan, jari tengah menggosok klitoris yang masih sensitif.
“Iya… aku akan lakukan,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Mulai besok aku akan cari tanah. Aku akan buat Pondok Nadia… surga kecil yang hanya aku dan para santri pilihan yang tahu.”
Ia menutup buku catatan, lalu kembali berbaring di tempat tidur. Sebelum mematikan lampu, ia menyentuh dirinya sekali lagi dengan sangat pelan, membayangkan wajah-wajah pemuda yang akan datang ke pondoknya suatu hari nanti.
“Besok… semuanya akan dimulai,” gumamnya pelan.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Ustadzah Nadia tertidur dengan senyum puas di wajah cantiknya, meskipun di dalam hatinya, nafsu gila yang selama ini ia sembunyikan baru saja menemukan jalan keluar yang sempurna.837Please respect copyright.PENANAuaPngFLECm


