433Please respect copyright.PENANAugA7B2N6mhChapter 4: Malam Pertama di Apartemen
Firly duduk di belakang ojek online dengan tangan mencengkeram tasnya erat-erat. Motor melaju pelan di jalanan Jakarta yang mulai sepi. Malam sudah cukup larut, dan ia merasa semakin gelisah semakin dekat dengan apartemen Pak Budi. Ia menatap lampu-lampu jalan tanpa benar-benar melihatnya. Pikirannya terus berputar pada apa yang akan terjadi nanti.
Ia sudah tahu bahwa malam ini tidak akan mudah. Pak Budi sudah mengirim pesan jelas tadi sore: “Jam sembilan. Jangan telat. Dan jangan pakai dalam.” Firly menelan ludah setiap kali mengingat pesan itu. Ia memang sudah mematuhi perintah tersebut. Di balik rok hitam pendeknya, ia tidak memakai celana dalam sama sekali. Setiap kali angin malam menyentuh kulit pahanya, ia merasa semakin tidak nyaman dan malu.
Pikirannya terus kembali ke apa yang terjadi di Chapter 2, ketika ia pertama kali “dientot” di apartemen ini. Rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang. Tubuhnya belum terbiasa dengan ukuran kontol Pak Budi. Setiap kali ia mengingat bagaimana kontol itu masuk ke dalam dirinya, ia merasa takut dan mual sekaligus. Tapi ia tidak punya pilihan. Video yang merekam dirinya menghisap kontol Pak Budi di ruangan kantor masih ada di tangan pria itu, dan ancaman untuk menyebarkannya ke orang tuanya terlalu berat untuk diabaikan.
“Masuk aja, Mbak,” kata driver ojek ketika motor berhenti di depan gedung apartemen.
Firly turun dengan langkah berat. Ia berdiri sebentar di trotoar, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya naik ke lantai dua. Jarinya sempat ragu di depan pintu apartemen nomor 207, tapi ia akhirnya menekan bel juga.
Tak sampai sepuluh detik, pintu langsung terbuka.
Pak Budi sudah berdiri di sana dengan kaos oblong hitam dan celana pendek. Ia memandang Firly dari atas ke bawah dengan tatapan yang sulit dibaca, lalu membuka pintu lebih lebar tanpa banyak bicara.
“Masuk.”
Firly melangkah masuk. Begitu pintu tertutup dan dikunci, Pak Budi langsung mendekatinya dari belakang. Ia meraih pinggang Firly dan menarik tubuh gadis itu ke belakang hingga pantatnya menempel ke tubuhnya. Tangan Pak Budi turun dan langsung meremas pantat Firly dari balik rok dengan kasar.
“Angkat rokmu,” perintahnya pelan di telinga Firly.
Firly menunduk malu. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat roknya perlahan hingga memperlihatkan pantat dan memeknya yang polos. Pak Budi mengusap pantat Firly dengan tangan kasar, lalu menyentuh memeknya dengan dua jarinya. Ia menggesekkan jarinya di bibir memek Firly yang masih kering.
“Masih kering,” gumamnya. “Tapi nanti juga basah sendiri.”
Ia mendorong Firly ke arah kamar tidur. Begitu masuk ke dalam kamar, Pak Budi langsung mendorong Firly ke tempat tidur hingga ia terjatuh telentang. Pak Budi naik ke atas ranjang dan membuka kaki Firly lebar-lebar. Ia menunduk dan mengusap memek Firly dengan ibu jarinya, menekan klitorisnya dengan kasar.
“Pak… pelan ya…” bisik Firly dengan suara kecil. “Masih sakit dari kemarin…”
Pak Budi tidak menjawab. Ia malah membuka celana pendeknya dan mengeluarkan kontolnya yang sudah tegang dan panjang. Ia menggesekkan kepala kontolnya di bibir memek Firly yang masih rapat. Firly menggigit bibir bawahnya saat merasa kontol itu mulai mendorong masuk.
“Aduh… Pak…” Firly mengeluarkan suara kecil. “Sakit…”
“Ikut aja,” kata Pak Budi sambil terus mendorong pinggulnya. “Nanti juga biasa.”
Kontolnya perlahan masuk ke dalam memek Firly yang sempit. Firly menangis pelan saat merasa tubuhnya meregang untuk menerima ukuran itu. Ia meraih seprai dengan kedua tangannya dan menahan napas. Rasa sakit yang tajam langsung menyebar dari bawah perutnya.
“Pak… sakit banget…” isaknya. “Pelan dulu… tolong…”
Pak Budi tetap mendorong hingga kontolnya masuk sepenuhnya. Firly menangis lebih kencang. Ia merasa perut bagian bawahnya seperti ditusuk. Pak Budi mulai menggerakkan pinggulnya pelan, menarik dan mendorong kontolnya keluar masuk. Setiap kali kontol itu masuk dalam-dalam, Firly mengeluarkan suara kecil yang tertahan.
“Pak… tolong pelan…” pinta Firly sambil menangis. “Saya belum biasa… sakit…”
Pak Budi mengabaikan permintaannya. Ia justru mempercepat gerakannya sedikit. Ia menggenggam kedua pergelangan tangan Firly dan menahannya di atas kepala gadis itu, lalu mengentot lebih dalam. Firly menangis tersedu-sedu. Setiap dorongan terasa berat dan menyakitkan. Ia merasa memeknya seperti robek setiap kali kontol Pak Budi masuk sampai pangkal.
Setelah beberapa menit dalam posisi missionary, Pak Budi tiba-tiba menarik kontolnya keluar. Ia membalik tubuh Firly dengan kasar hingga gadis itu tengkurap. Lalu ia menarik pinggul Firly ke atas, membuatnya dalam posisi doggy style. Pak Budi menggenggam rambut Firly dan menarik kepalanya ke belakang.
“Angkat pantatmu,” perintahnya.
Firly menangis sambil mengangkat pinggulnya lebih tinggi. Pak Budi langsung memasukkan kontolnya lagi dari belakang dengan satu dorongan kuat. Firly menjerit pelan ke dalam bantal.
“Aduh… Pak… dalam banget…” erangnya.
Pak Budi mulai mengentot dari belakang dengan ritme yang lebih cepat dan lebih kasar. Ia menggenggam pinggul Firly kuat-kuat sambil terus mendorong kontolnya dalam-dalam. Tangan kirinya sesekali menampar pantat Firly, meninggalkan bekas merah di kulit putihnya.
“Ingat ya,” kata Pak Budi sambil ngentot. “Kalau kamu berani nolak atau lapor ke mana-mana, video itu langsung aku sebarkan. Orang tuamu bakal lihat anaknya lagi ngentot sama orang. Kamu mau?”
Firly menggeleng cepat sambil menangis. “Saya nurut… saya nurut, Pak… jangan disebar…”
Pak Budi mempercepat gerakannya. Ia mengentot Firly dari belakang dengan kasar selama beberapa menit. Suara “plok… plok… plok…” yang basah semakin keras terdengar setiap kali pinggulnya menghantam pantat Firly. Firly menangis tanpa henti. Ia merasa lelah dan sakit, tapi Pak Budi tidak berhenti.
Setelah cukup lama dalam posisi doggy, Pak Budi menarik kontolnya keluar lagi. Ia membalik tubuh Firly sekali lagi hingga gadis itu telentang. Kali ini ia mengangkat kedua kaki Firly dan meletakkannya di bahunya, lalu memasukkan kontolnya lagi dengan dorongan yang dalam. Posisi ini membuat kontol Pak Budi masuk lebih dalam dari sebelumnya.
Firly menangis sambil memegang lengan Pak Budi. “Pak… sakit… tolong… sudah cukup…”
Pak Budi mengabaikannya. Ia terus mengentot dengan ritme yang cepat dan dalam. Setiap kali kontolnya masuk sampai ujung, Firly merasa seperti tidak bisa bernapas. Air matanya terus mengalir ke pelipis. Pak Budi sesekali membungkuk dan mencium leher Firly dengan kasar sambil terus menggerakkan pinggulnya.
Setelah hampir lima belas menit dalam posisi ini, Pak Budi akhirnya mempercepat gerakannya. Ia menekan tubuh Firly ke kasur dan mengentot dengan kasar sampai akhirnya ia mengeluarkan semua isinya di dalam memek Firly. Firly merasa hangat cairan Pak Budi memenuhi dalam dirinya. Ia menangis pelan, tubuhnya gemetar hebat.
Pak Budi menarik kontolnya keluar dan melihat memek Firly yang merah dan basah, dengan air maninya yang mulai keluar pelan dari lubang itu.
Namun Pak Budi belum selesai.
Ia memberi Firly waktu sebentar untuk bernapas, lalu ia menarik tubuh gadis itu dan menyuruhnya berlutut di tepi tempat tidur. Pak Budi berdiri di depan Firly dan mengarahkan kontolnya yang masih setengah tegang ke mulut gadis itu.
“Buka mulut,” perintahnya.
Firly menangis sambil membuka mulutnya. Pak Budi memasukkan kontolnya ke dalam mulut Firly dan menggerakkan pinggulnya pelan. Firly menghisap dengan enggan, air liurnya mengalir deras membasahi dagu dan payudaranya. Pak Budi menggenggam rambut Firly dan mendorong kepalanya lebih dalam.
Setelah beberapa menit, Pak Budi menarik kontolnya keluar dari mulut Firly. Ia mendorong gadis itu kembali ke tempat tidur dan membuka kakinya lagi. Kali ini ia mengentot Firly dalam posisi side, dengan satu kaki Firly diangkat. Pak Budi mengentot dengan ritme yang lebih lambat tapi lebih dalam, membuat Firly terus menangis pelan.
Hampir satu jam Pak Budi mengentot Firly dalam berbagai posisi. Setiap kali Firly memohon agar berhenti atau pelan, Pak Budi justru mengentot lebih kasar atau lebih dalam. Firly sudah tidak lagi menghitung berapa kali ia menangis. Tubuhnya terasa lelah dan sakit di mana-mana.
Akhirnya, setelah ronde kedua, Pak Budi mengeluarkan air maninya untuk kedua kalinya di dalam memek Firly. Ia menarik kontolnya keluar dan membiarkan Firly terbaring lemas di tempat tidur.
Pak Budi bangun dan memakai celananya kembali. Ia menatap Firly yang masih terbaring dengan napas tersengal.
“Bersihin diri,” katanya. “Terus pulang.”
Firly bangun dengan susah payah. Kakinya gemetar hebat saat ia berjalan ke kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin dan melihat dirinya sendiri. Wajahnya sembab, matanya merah karena menangis, dan ada bekas tangan di pinggul serta payudaranya. Di antara kakinya terasa lengket dan sangat sakit.
Ia membersihkan diri seadanya, lalu memakai bajunya kembali. Saat keluar dari kamar mandi, Pak Budi sudah duduk di sofa sambil merokok.
“Besok pagi jam setengah delapan datang ke ruanganku,” katanya tanpa menoleh. “Jangan lupa bawa laporan yang kemarin. Dan malam depan, kamu datang lagi ke sini. Jangan telat.”
Firly mengangguk lemah. “Ya… Pak.”
Ia mengambil tasnya dan keluar dari apartemen tanpa menoleh lagi. Begitu sampai di luar, ia berjalan pelan ke pinggir jalan sambil memesan ojek. Kakinya masih gemetar dan terasa sakit setiap kali melangkah. Saat motor membawanya pulang, Firly menatap jalanan dengan mata kosong.
Ia merasa tubuhnya sudah tidak sepenuhnya miliknya lagi. Dan ia takut besok malam akan lebih berat lagi.433Please respect copyright.PENANAbShf0QCQSV


