431Please respect copyright.PENANAwtMDteym8aChapter 3: Ancaman yang Semakin Nyata
Firly bangun pagi dengan kepala yang terasa berat. Ia hanya tidur sekitar tiga jam semalam. Setiap kali matanya hampir terpejam, bayangan dirinya berlutut di ruangan Pak Budi dan di apartemennya terus muncul. Tubuhnya masih terasa pegal, terutama di bagian paha dalam dan bawah perut. Ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan setiap kali ia bergerak.
Ia berdiri di depan cermin kamar mandi sambil menatap wajahnya sendiri. Matanya sembab, bibirnya agak bengkak, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Ia mencuci muka berkali-kali dengan air dingin, berharap bisa menghilangkan rasa lelah dan takut yang menempel di tubuhnya. Tapi sia-sia. Rasa takut itu tetap ada, bahkan semakin besar saat ia mengingat ancaman Pak Budi kemarin.
“Kalau kamu berani nolak, video ini akan aku sebarkan.”
Kalimat itu terus berputar di kepalanya sepanjang malam.
Firly memakai seragamnya dengan gerakan lambat. Ia sengaja memilih rok yang agak longgar karena masih merasa sakit di bagian bawah. Sebelum keluar rumah, ia menatap ponselnya sebentar. Ada beberapa pesan dari ibunya yang menanyakan kabar, tapi ia tidak membalasnya. Ia takut jika ia membalas, ibunya akan tahu ada yang tidak beres dari suaranya.
Saat tiba di kantor, Firly langsung menunduk dan berjalan cepat ke mejanya. Ia berharap bisa menghindari Pak Budi setidaknya sampai siang. Tapi harapan itu langsung hancur begitu ia duduk. Ponselnya bergetar. Pesan singkat dari Pak Budi muncul di layar.
“Ruanganku. Sekarang.”
Firly merasa dadanya seperti diremas. Ia menatap pesan itu beberapa detik sebelum akhirnya berdiri. Kakinya terasa berat saat berjalan menyusuri lorong menuju ruangan Pak Budi. Beberapa rekan kerja menyapa, tapi ia hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk kecil. Jantungnya berdetak sangat kencang.
Ia mengetuk pintu pelan.
“Masuk.”
Suara Pak Budi terdengar dari dalam. Firly membuka pintu dan masuk, lalu menguncinya seperti biasa. Pak Budi sudah duduk di kursi kerjanya dengan santai. Di meja kerjanya terbuka laptop yang sudah menyala.
“Datang sini,” kata Pak Budi tanpa banyak bicara.
Firly berjalan pelan dan berdiri di depan meja. Pak Budi menatapnya dari atas ke bawah, seolah sedang menilai kondisinya.
“Semalem tidur nggak?” tanyanya datar.
Firly menggeleng kecil. “Sedikit saja, Pak…”
Pak Budi mengangguk seolah sudah menduga jawaban itu. Ia membuka laptopnya dan memutar sebuah video. Firly langsung mengenali rekaman itu. Di layar, terlihat jelas dirinya berlutut di ruangan ini kemarin sore, menghisap kontol Pak Budi dengan wajah basah oleh air mata dan air liur. Suara “ngglek… ngglek…” yang memalukan terdengar jelas.
Firly langsung menutup mulutnya dengan tangan. Matanya melebar ketakutan.
“Pak… tolong matiin videonya…” pintanya dengan suara gemetar.
Pak Budi justru memperbesar volume. “Kenapa? Malu? Padahal ini kamu sendiri yang ngelakuin.”
Air mata Firly langsung mengalir. Ia menggeleng cepat. “Saya sudah nurut kemarin… saya sudah datang ke apartemen… saya sudah lakukan semuanya yang Bapak minta…”
“Itu belum cukup,” potong Pak Budi. Ia menutup laptop dan bersandar di kursinya. “Kamu ambil uang perusahaan. Terus kamu ngentot sama atasanmu. Kamu kira aku cuma mau sekali terus selesai?”
Firly menangis sambil memegang ujung mejanya agar tidak jatuh. “Pak… tolong… saya akan ganti uangnya. Potong gaji saya. Tapi video ini… jangan disebar. Orang tua saya nggak boleh tahu…”
Pak Budi diam sebentar, lalu ia bangun dari kursinya dan berjalan mendekati Firly. Ia berdiri tepat di depan gadis itu dan mengangkat dagu Firly dengan dua jarinya.
“Kalau gitu, mulai sekarang kamu harus lebih nurut dari kemarin,” katanya pelan. “Bukan cuma nurut kalau aku panggil. Kamu harus siap kapan saja. Dan yang paling penting… jangan pernah nolak.”
Firly menangis lebih kencang. “Saya… saya akan nurut, Pak. Tapi tolong jangan kirim video itu ke orang tua saya. Saya akan lakukan apa saja…”
Pak Budi tersenyum tipis. Ia melepaskan dagu Firly, lalu meraih tangan Firly dan meletakkannya di atas kontolnya yang sudah tegang di balik celana kerja.
“Pegang,” perintahnya.
Firly menangis, tapi ia tetap menuruti. Ia menggenggam kontol Pak Budi dari luar celana dengan tangan yang dingin dan gemetar.
“Keluarin,” kata Pak Budi lagi.
Dengan tangan gemetar, Firly membuka kancing dan resleting celana Pak Budi. Kontolnya langsung terlihat, panjang dan sudah setengah tegang. Pak Budi mendorong tangan Firly agar menggenggam batangnya langsung.
“Gerakin,” perintahnya sambil terus bicara. “Kalau kamu berani lapor atau kabur, video ini langsung aku kirim ke orang tuamu. Bahkan aku bisa upload ke grup WA atau Instagram. Kamu mau semua orang lihat kamu lagi ngisep kontol?”
Firly menggeleng cepat sambil menangis. “Nggak… jangan… saya nurut…”
“Terus gerakin tanganmu,” desak Pak Budi.
Firly mulai menggerakkan tangannya naik turun dengan kikuk. Air matanya jatuh ke lantai. Pak Budi menggenggam rambut Firly dan menarik kepalanya ke belakang.
“Besok malam jam sembilan, kamu datang ke apartemenku lagi,” katanya. “Dan jangan pakai celana dalam. Langsung angkat rok begitu masuk. Paham?”
“Paham… Pak…” jawab Firly dengan suara parau.
Pak Budi mendorong kepala Firly ke bawah sampai mulutnya hampir menyentuh ujung kontolnya. “Jilat,” perintahnya.
Firly menjulurkan lidah dengan enggan dan menjilat ujung kontol Pak Budi beberapa kali. Air liurnya bercampur dengan air matanya. Pak Budi membiarkannya menjilat sebentar, lalu menarik kepalanya ke atas lagi.
“Cukup,” katanya. Ia mendorong tangan Firly agar menggerakkan kontolnya lebih cepat. “Sekarang cepetin. Aku mau keluar di tanganmu.”
Firly mempercepat gerakan tangannya sambil terus menangis. Beberapa menit kemudian, Pak Budi mengeluarkan desahan pendek. Air maninya menyembur ke tangan dan pergelangan tangan Firly.
Pak Budi menarik napas lega, lalu melepaskan rambut Firly.
“Bersihin tanganmu di kamar mandi,” katanya sambil memasukkan kontolnya kembali ke celana. “Terus keluar dan kerja seperti biasa. Jangan sampai ada yang curiga.”
Firly berdiri diam di tempatnya. Tangan kanannya kotor oleh air mani Pak Budi. Ia merasa sangat kotor dan hina. Sebelum ia keluar, Pak Budi berkata lagi.
“Besok malam jangan telat. Dan ingat baik-baik… satu kesalahan saja dari kamu, video ini langsung aku sebarkan ke semua orang yang kamu kenal.”
Firly mengangguk kecil tanpa menjawab, lalu keluar dari ruangan dengan cepat.
Begitu sampai di toilet wanita, ia langsung masuk ke salah satu bilik dan mengunci pintu. Ia duduk di kloset sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Air matanya mengalir deras. Tangan kanannya masih lengket. Ia mencuci tangannya berkali-kali di wastafel, tapi rasa kotor itu sepertinya tidak bisa hilang.
Ia menatap wajahnya sendiri di cermin. Gadis dua puluh tahun yang biasanya masih polos itu sekarang terlihat sangat berbeda. Matanya sembab, wajahnya pucat, dan ada rasa putus asa yang sangat dalam di dalam dadanya.
Ia tahu, mulai sekarang, ia benar-benar tidak punya pilihan lagi.431Please respect copyright.PENANAvqrM2nLsiT


