472Please respect copyright.PENANAfONl9QDFetChapter 2: Harga Kesalahan
Firly duduk di belakang ojek online dengan tangan mencengkeram tasnya erat-erat. Motor melaju pelan di tengah kemacetan malam Jakarta. Ia menatap ponselnya yang sudah beberapa kali bergetar, tapi ia tak berani membukanya. Tadi siang Pak Budi sudah mengirim alamat apartemennya lewat WhatsApp, beserta pesan singkat yang membuat perutnya mual.
“Jam 8 malam. Jangan telat.”
Ia menoleh ke luar jendela, tapi pikirannya terus kembali ke sore tadi. Mulutnya masih terasa aneh. Ada rasa asin yang sepertinya belum hilang sepenuhnya. Ia sudah berkali-kali menggosok gigi sebelum keluar rumah, tapi tetap saja terasa ada yang lengket di lidahnya.
“Masuk aja, Mbak,” kata driver ojek ketika motor berhenti di depan sebuah apartemen tipe studio di daerah Kebayoran.
Firly turun dengan langkah berat. Apartemen itu terlihat biasa saja dari luar. Gedung empat lantai yang sudah agak tua. Ia naik ke lantai dua dan berhenti di depan pintu nomor 207. Jarinya sempat ragu di depan bel, tapi akhirnya ia menekannya juga.
Tak sampai sepuluh detik, pintu langsung terbuka.
Pak Budi sudah berdiri di sana dengan kaos oblong hitam dan celana pendek. Ia memandang Firly dari atas ke bawah, lalu membuka pintu lebih lebar.
“Masuk.”
Firly melangkah masuk dengan kepala tertunduk. Apartemen itu kecil. Ada satu kamar tidur, ruang tamu yang menyatu dengan dapur kecil, dan satu kamar mandi. Meja makan penuh dengan bungkus makanan instan dan beberapa botol minuman. Bau rokok masih tertinggal di udara.
“Taruh tasmu di sofa,” kata Pak Budi sambil menutup pintu dan mengunci.
Firly meletakkan tasnya dengan tangan gemetar. Ia berdiri di tengah ruangan, tidak tahu harus berbuat apa. Pak Budi mendekatinya pelan, lalu tanpa banyak bicara, ia langsung meraih dagu Firly dan mengangkat wajah gadis itu.
“Kamu nangis lagi?” tanyanya datar.
Firly menggeleng lemah. “Nggak… cuma takut aja, Pak.”
Pak Budi tersenyum tipis. “Takut itu bagus. Biar kamu inget, ini semua karena kesalahanmu sendiri.”
Ia melepaskan dagu Firly, lalu berjalan ke kamar tidur. “Ikut sini.”
Firly mengikuti dengan langkah kecil. Begitu masuk ke kamar, Pak Budi langsung menutup pintu dan mendorong Firly sampai punggungnya menyentuh dinding.
“Tanggalkan bajumu,” perintahnya.
Firly menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Pak… boleh nggak pelan-pelan aja?”
“Tanggalkan,” ulang Pak Budi dengan suara lebih rendah. “Atau aku kirim video sore tadi ke grup keluargamu sekarang juga.”
Firly menelan ludah. Dengan tangan gemetar, ia mulai membuka kancing kemeja seragamnya satu per satu. Pak Budi berdiri di depannya, memperhatikan setiap gerakan. Begitu kemeja terbuka, terlihat bra putih polos yang Firly pakai. Gadis itu menunduk malu saat melepaskan roknya, sampai akhirnya hanya tersisa bra dan celana dalamnya.
“Semuanya,” kata Pak Budi.
Firly menangis pelan sambil membuka bra-nya. Payudaranya yang masih kencang terlihat jelas. Lalu ia menurunkan celana dalamnya perlahan. Memeknya yang masih polos dan belum pernah disentuh orang lain langsung terpapar.
Pak Budi mengangguk puas. Ia mendorong Firly ke tempat tidur sampai gadis itu terduduk di pinggir kasur. Tanpa banyak bicara, Pak Budi membuka celana pendeknya dan mengeluarkan kontolnya yang sudah setengah tegang.
“Buka mulut,” katanya.
Firly menurut. Ia membuka mulut dan membiarkan kontol Pak Budi masuk lagi ke dalam rongga mulutnya. Kali ini Pak Budi lebih kasar dari sore tadi. Ia menggenggam kepala Firly dan mengentot mulutnya pelan tapi dalam. Firly tersedak beberapa kali, air liurnya mengalir deras membasahi dagu dan payudaranya.
Setelah beberapa menit, Pak Budi menarik kontolnya keluar. Ia mendorong Firly sampai berbaring di tempat tidur. Lalu ia naik ke atas ranjang dan membuka kaki Firly lebar-lebar.
“Pak… sakit nanti,” bisik Firly dengan suara gemetar. “Saya belum pernah…”
“Semua orang pertama kali,” jawab Pak Budi dingin. Ia mengusap memek Firly dengan dua jarinya. “Basah juga ternyata. Padahal kamu bilang takut.”
“Itu… bukan karena suka, Pak…” Firly menangis. “Jangan dipaksa…”
Pak Budi mengabaikannya. Ia menggesekkan kepala kontolnya di bibir memek Firly yang masih rapat. Firly menggigit bibir bawahnya kuat-kuat saat merasa sesuatu yang panas dan keras mulai mendorong masuk.
“Akh… sakit…” erang Firly pelan.
Pak Budi mendorong lebih dalam. Memek Firly yang sempit terpaksa meregang untuk menerima kontol yang jauh lebih besar darinya. Firly menangis tersedu-sedu, tangannya mencengkeram seprai. Setiap kali Pak Budi mendorong lebih dalam, rasa sakitnya semakin menusuk.
“Pelan… Pak… sakit banget…” isaknya.
“Ikut aja,” kata Pak Budi sambil terus mendorong. “Nanti juga terbiasa.”
Akhirnya kontolnya masuk sepenuhnya. Firly merasa perut bagian bawahnya seperti ditusuk. Ia menangis lebih kencang, air matanya mengalir deras ke pelipis. Pak Budi mulai menggerakkan pinggulnya pelan, menarik dan mendorong kontolnya keluar masuk.
“Enak…” gumam Pak Budi. “Memekmu sempit sekali.”
Firly hanya bisa menangis dan menggigit bibirnya. Setiap kali kontol Pak Budi masuk dalam-dalam, ia merasa seperti robek. Ia bisa merasakan darah sedikit keluar, tapi Pak Budi tidak peduli. Ia justru mengentot lebih cepat.
“Pak… sakit… tolong pelan…” pinta Firly dengan suara parau.
Pak Budi justru mengangkat kedua kaki Firly dan meletakkannya di bahunya, lalu mengentot lebih dalam dan lebih kasar. Suara “plok… plok… plok…” yang basah mulai terdengar jelas setiap kali pinggulnya menghantam pantat Firly.
“Ingat ya,” kata Pak Budi sambil terus ngentot. “Kalau kamu berani nolak atau lapor, video sore tadi bakal aku kirim ke orang tuamu. Bahkan aku bisa upload ke internet. Kamu mau?”
Firly menggeleng cepat-cepat sambil menangis. “Nggak… jangan… saya nurut…”
“Bagus.”
Pak Budi mengubah posisi. Ia membalik tubuh Firly sampai gadis itu tengkurap, lalu menarik pinggulnya ke atas. Ia memasukkan kontolnya lagi dari belakang dengan satu dorongan kuat. Firly menjerit pelan ke dalam bantal.
“Pak… dalam banget…” erangnya.
Pak Budi mengentot dari belakang dengan ritme yang lebih cepat. Tangan kanannya meraih rambut Firly dan menariknya ke belakang, sementara tangan kirinya menampar pantat Firly beberapa kali. Setiap tamparan membuat Firly tersentak dan menangis lebih kencang.
Setelah hampir dua puluh menit mengentot dalam berbagai posisi, Pak Budi akhirnya mempercepat gerakannya. Ia menekan punggung Firly ke kasur dan mengentot dengan kasar sampai akhirnya ia mengeluarkan semua isinya di dalam memek Firly.
Firly merasa hangat cairan Pak Budi memenuhi dalam dirinya. Ia menangis pelan, tubuhnya gemetar hebat.
Pak Budi menarik kontolnya keluar. Ia melihat memek Firly yang merah dan sedikit berdarah, dengan air maninya yang mulai keluar pelan dari lubang itu.
“Bangun,” katanya. “Bersihin diri di kamar mandi. Terus pulang.”
Firly bangun dengan susah payah. Kakinya gemetar saat ia berjalan ke kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin dan melihat dirinya sendiri. Wajahnya sembab, bibirnya bengkak, dan ada bekas air mata di pipinya. Di antara kakinya terasa lengket dan sakit.
Ia membersihkan diri seadanya, lalu memakai bajunya kembali dengan tangan masih gemetar.
Saat keluar dari kamar mandi, Pak Budi sudah duduk di sofa sambil merokok.
“Besok pagi jam setengah delapan datang ke ruanganku,” katanya tanpa menoleh. “Bawa laporan kemarin yang belum selesai. Dan jangan lupa, mulai sekarang kamu nggak boleh nolak apa pun yang aku minta.”
Firly mengangguk kecil. “Ya, Pak…”
Ia mengambil tasnya dan keluar dari apartemen tanpa menoleh lagi. Begitu sampai di luar, ia berjalan pelan ke pinggir jalan dan memesan ojek lagi. Saat motor berjalan membawanya pulang, Firly menatap lampu-lampu kota dengan mata kosong.
Di dalam celana dalamnya masih terasa lengket. Dan di dalam hatinya, ia tahu bahwa mulai malam ini, hidupnya sudah tidak akan sama lagi.472Please respect copyright.PENANAdERLROy0bY


