572Please respect copyright.PENANAWjbKRCZKjbChapter 1: Kesalahan yang Terekam
Firly berdiri di depan mesin fotokopi sambil terus melirik jam. Sudah hampir sore, dan kantor mulai sepi. Ia merasa gelisah sejak tadi siang. Tiga juta rupiah yang ia ambil dari laci petty cash masih terasa berat di pikirannya. Bukan buat foya-foya, tapi buat operasi ayahnya yang mendadak sakit. Ia berniat menggantinya bulan depan, tapi tetap saja dadanya sesak setiap kali ingat apa yang sudah dilakukannya.
Baru saja ia mau kembali ke mejanya, suara dari belakang langsung membuat jantungnya berdegup kencang.
“Firly.”
Suara Pak Budi. Atasannya. Suaranya tenang, tapi Firly langsung tahu ada yang tidak beres.
“Iya, Pak?” jawabnya pelan sambil menoleh.
“Masuk ke ruanganku. Sekarang.”
Firly mengikuti Pak Budi dengan langkah kaku. Begitu masuk ke ruangan dan pintu ditutup, suasana langsung berubah. Pak Budi duduk di kursi kerjanya, lalu membuka laptop tanpa banyak bicara. Beberapa detik kemudian, ia memutar rekaman CCTV.
Firly merasa darahnya mengalir deras ke kepala.
Di layar laptop, terlihat jelas dirinya membuka laci petty cash dan mengambil uang. Waktu dan tanggalnya tercetak rapi di pojok.
Pak Budi mematikan video dan menatapnya datar.
“Tiga juta,” katanya. “Kamu ambil tiga juta dari uang perusahaan.”
Firly langsung merasa lututnya lemas. “Pak… saya bisa jelasin—”
“Jelasin apa?” potong Pak Budi. “Ini pencurian. Rekaman ini cukup buat aku pecat kamu hari ini juga, bahkan bisa dilaporkan.”
Air mata Firly langsung menggenang. Ia menunduk dalam-dalam. “Pak, tolong… ayah saya lagi sakit. Saya cuma pinjam. Nanti saya ganti, saya janji. Potong gaji saya, apa saja…”
Pak Budi bersandar di kursinya sambil memperhatikan Firly dari atas ke bawah. Gadis dua puluh tahun di depannya itu memang masih terlihat polos. Wajahnya manis, kulit putih, dan tubuhnya punya bentuk yang lumayan meski belum terlalu matang.
“Ada cara lain biar aku nggak lapor,” kata Pak Budi pelan.
Firly mengangkat wajahnya dengan harapan.
Pak Budi berdiri dan berjalan mendekat. Ia berhenti tepat di depan Firly, lalu dengan pelan mengangkat dagu gadis itu.
“Buka mulutmu.”
Firly membeku. “P-Pak… apa-apaan ini?”
“Pilihanmu cuma dua,” jawab Pak Budi dingin. “Aku lapor kamu sekarang, atau kamu nurutin apa yang aku mau. Pilih.”
Firly merasa kepalanya pusing. Ia tahu persis apa yang diminta Pak Budi. Tapi kalau rekaman ini sampai ke orang tuanya, atau disebar, hidupnya akan hancur total. Ia takut. Sangat takut.
Dengan tangan gemetar, Firly perlahan berlutut di lantai.
Pak Budi membuka ikat pinggangnya dengan santai, menurunkan celana sampai lutut. Kontolnya sudah setengah tegang, panjang dan tebal. Firly menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Pegang,” perintah Pak Budi.
Firly menggenggam kontol itu dengan tangan dingin. Hangat dan keras. Ia belum pernah memegang kontol orang lain sebelumnya.
“Mulai jilat,” kata Pak Budi lagi.
Firly menutup mata sebentar, lalu mendekatkan mulutnya. Ia menjulurkan lidah dan menjilat ujung kontol Pak Budi dengan kikuk. Rasa asin langsung terasa di lidahnya. Ia mencoba menahan rasa mual.
“Jangan cuma dijilat. Masukin ke mulut.”
Firly membuka mulut lebih lebar dan memasukkan kepala kontol itu ke dalam. Hangat. Berdenyut. Ia menggerakkan kepalanya pelan ke depan dan belakang, tapi setiap kali kontol itu menyentuh tenggorokannya, ia langsung merasa ingin muntah.
Pak Budi menghela napas puas. Ia meletakkan tangan di kepala Firly dan mendorongnya sedikit lebih dalam.
“Hisap. Jangan cuma diem.”
Firly mencoba menghisap dengan susah payah. Air liurnya mulai keluar dan membasahi dagunya. Setiap kali ia menarik napas, kontol itu semakin dalam masuk ke mulutnya, membuatnya tersedak pelan. Suara “ngglek… ngglek…” yang basah terdengar jelas di ruangan sunyi itu.
Pak Budi menggenggam rambut Firly lebih kuat dan mulai menggerakkan pinggulnya pelan.
“Bagus… mulutmu sempit banget,” gumamnya.
Firly menangis sambil terus menghisap. Air matanya jatuh ke lantai. Ia merasa sangat kotor dan malu. Kontol Pak Budi semakin keras di mulutnya, dan setiap kali didorong lebih dalam, tenggorokannya terasa penuh. Ia mencoba menarik kepalanya, tapi Pak Budi menahannya.
“Jangan lari,” kata Pak Budi. “Hisap sampai aku puas.”
Firly hanya bisa patuh. Ia terus menggerakkan mulutnya naik turun, lidahnya terpaksa menjilat batang kontol yang basah oleh air liurnya sendiri. Sesekali ia tersedak dan batuk pelan, tapi Pak Budi tidak memberinya waktu untuk berhenti.
Setelah beberapa menit yang terasa sangat lama, Pak Budi menarik Firly berdiri. Bibir gadis itu merah dan basah, air liur masih menetes di dagunya. Matanya sembab karena menangis.
Pak Budi menyentuh bibir Firly dengan ibu jarinya.
“Ini baru mulai,” katanya pelan. “Mulai sekarang, kalau aku panggil, kamu datang. Kalau nggak… besok pagi orang tuamu bakal dapat video ini.”
Firly mengangguk lemah. Suaranya hampir tak keluar.
“Ya… Pak.”
Pak Budi tersenyum tipis.
“Pulang. Besok pagi jam setengah delapan datang ke sini lagi. Jangan telat.”
Firly keluar dari ruangan dengan langkah goyah. Ia berjalan menyusuri lorong kantor yang sudah sepi dengan kepala tertunduk rendah. Setiap langkah terasa berat. Di dalam tasnya, ponsel bergetar — pesan dari ibunya.
Ia tidak membuka pesannya.
Begitu masuk ke dalam lift dan pintu tertutup, Firly langsung bersandar ke dinding. Ia menutup mulut dengan tangan dan menangis pelan. Rasa asin kontol Pak Budi masih terasa di lidahnya. Bibirnya masih basah. Dan ia tahu, besok pagi, ia harus kembali ke ruangan itu.
Malam ini, Firly merasa seperti ada sesuatu yang sudah diambil darinya. Dan ia takut besok akan diambil lebih banyak lagi.572Please respect copyright.PENANAmQJMZTLyhN


