415Please respect copyright.PENANAPScEjslMRTChapter 5: Rekan Kerja yang Ikut Tahu
Firly turun dari ojek online di depan apartemen Pak Budi dengan langkah yang sudah terasa berat. Sudah beberapa hari ini ia datang ke tempat ini, dan setiap kali rasa takutnya tidak pernah berkurang. Ia sudah mulai agak pasrah, tapi tetap saja dadanya sesak setiap kali mendekati gedung itu. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menekan bel apartemen nomor 207.
Pintu terbuka tidak lama kemudian.
Pak Budi berdiri di ambang pintu dengan kaos oblong hitam. Ia memandang Firly sebentar, lalu membuka pintu lebih lebar.
“Masuk.”
Firly melangkah masuk seperti biasa. Tapi begitu ia masuk ke ruang tamu, langkahnya langsung terhenti. Di sofa, sudah duduk seorang pria yang tidak ia kenal. Pria itu berusia sekitar empat puluhan, agak gemuk, dan sedang memegang segelas minuman sambil menatapnya dengan senyum tipis.
Firly langsung menoleh ke Pak Budi dengan wajah pucat.
“Pak… ada orang lain?” bisiknya pelan.
Pak Budi menutup pintu dan mengunci. Ia berjalan mendekati Firly lalu meletakkan tangan di bahunya.
“Ini Pak Andi,” katanya santai. “Rekan kerjaku. Dia juga tahu soal kamu. Jadi mulai sekarang, dia juga ikut.”
Firly merasa darahnya mengalir deras ke kepala. Ia menggeleng pelan, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
“Pak… jangan… saya… saya cuma nurut sama Bapak saja…” suaranya bergetar.
Pak Budi menepuk bahu Firly pelan. “Tenang. Kamu cuma perlu melayani kami berdua malam ini. Kalau kamu nurut, video itu tetap aman.”
Firly menatap Pak Andi yang masih duduk di sofa sambil tersenyum. Ia merasa sangat malu dan takut. Belum pernah dalam hidupnya ia harus melayani dua orang sekaligus. Apalagi orang asing seperti Pak Andi.
Pak Budi mendorong Firly pelan ke tengah ruangan.
“Angkat rokmu,” perintahnya.
Firly menunduk. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat roknya perlahan. Pak Andi yang duduk di sofa langsung mengeluarkan suara kagum pelan saat melihat memek Firly yang polos tanpa celana dalam.
“Wah… mulus banget,” kata Pak Andi sambil tersenyum lebar.
Pak Budi mendorong Firly hingga ia berdiri tepat di depan Pak Andi. “Pegang kontolnya,” perintah Pak Budi.
Firly menangis pelan. Ia mengulurkan tangan dengan enggan dan menyentuh kontol Pak Andi yang sudah tegang di balik celana. Pak Andi membuka celananya sendiri dan mengeluarkan kontolnya. Firly langsung menunduk malu saat melihat ukurannya yang juga besar.
“Pegang dan gerakin,” kata Pak Budi lagi.
Firly menurut. Ia menggenggam kontol Pak Andi dengan tangan dingin dan mulai menggerakkannya naik turun. Pak Andi mengembuskan napas puas sambil menatap wajah Firly yang sedang menangis.
Setelah beberapa menit, Pak Budi mendorong Firly untuk berlutut di depan Pak Andi.
“Buka mulut. Hisap,” perintahnya.
Firly menangis lebih kencang, tapi ia tetap membuka mulut. Pak Andi langsung memasukkan kontolnya ke dalam mulut Firly. Ia menggenggam rambut Firly dan mulai menggerakkan pinggulnya pelan. Firly tersedak beberapa kali, air liurnya mengalir deras membasahi dagu dan roknya.
Sementara itu, Pak Budi berdiri di belakang Firly. Ia mengangkat rok Firly dan menyentuh memeknya dari belakang. Jarinya menggesek klitoris Firly dengan kasar sebelum akhirnya memasukkan dua jarinya ke dalam memek gadis itu.
Firly mengeluarkan suara tertahan saat mulutnya masih penuh dengan kontol Pak Andi.
Setelah beberapa menit, Pak Budi menarik Firly berdiri. Ia mendorong gadis itu ke sofa dan menyuruhnya berlutut di atas sofa dengan posisi doggy. Pak Andi pindah ke belakang Firly, sementara Pak Budi berdiri di depan wajahnya.
Pak Andi menggesekkan kontolnya di memek Firly yang sudah agak basah. Tanpa banyak bicara, ia langsung mendorong kontolnya masuk dengan satu kali dorongan. Firly menjerit pelan.
“Aduh… sakit…” isaknya.
Pak Andi mulai mengentot Firly dari belakang dengan ritme yang cukup cepat. Sementara itu, Pak Budi memasukkan kontolnya ke mulut Firly. Firly sekarang melayani dua orang sekaligus. Mulutnya diisi kontol Pak Budi, sementara memeknya diisi kontol Pak Andi.
Pak Budi menggenggam rambut Firly dan mengentot mulutnya dengan pelan tapi dalam. “Bagus… hisap yang dalam,” katanya.
Pak Andi di belakang semakin mengentot dengan kasar. Ia menampar pantat Firly beberapa kali sambil menggerutu pelan, “Enak banget memeknya… sempit.”
Setelah beberapa menit, Pak Andi tiba-tiba menarik kontolnya keluar dari memek Firly. Ia menggesekkan ujung kontolnya di lubang anus Firly yang masih rapat.
Firly langsung panik. Ia melepaskan mulutnya dari kontol Pak Budi dan menoleh ke belakang.
“Pak… jangan… itu… bukan di situ…” katanya dengan suara gemetar.
Pak Budi menekan kepala Firly kembali ke kontolnya. “Diam. Kamu harus nurut.”
Pak Andi terus menggesekkan kontolnya di anus Firly. Ia meludahi lubang itu beberapa kali, lalu mulai mendorong pelan. Firly menangis keras saat merasa lubang belakangnya mulai meregang.
“Aduh… sakit… tolong… jangan di situ…” isak Firly sambil menangis tersedu-sedu.
Pak Andi tetap mendorong. Kontolnya perlahan masuk ke dalam anus Firly yang sangat sempit. Firly menjerit dan menangis hebat. Rasa sakitnya jauh lebih hebat dibandingkan di memek. Ia merasa seperti robek.
“Enak… anusnya juga sempit banget,” kata Pak Andi dengan suara puas.
Pak Budi di depan terus mengentot mulut Firly sambil berkata, “Kalau kamu berani nolak, video ini langsung aku sebarkan. Jadi diam dan terima.”
Firly hanya bisa menangis. Pak Andi mulai mengentot anusnya dengan pelan. Setiap kali kontolnya masuk, Firly mengeluarkan suara tangisan yang tertahan. Pak Budi dan Pak Andi bergantian menggunakan tubuh Firly. Kadang Pak Andi mengentot anusnya, kadang Pak Budi meminta Firly menghisap kontolnya sambil Pak Andi masih di belakang.
Setelah beberapa waktu, Pak Budi menyuruh Pak Andi berhenti sebentar. Ia lalu menyuruh Firly berbaring telentang di sofa. Pak Budi mengangkat kaki Firly dan memasukkan kontolnya ke dalam anus gadis itu. Firly kembali menangis keras.
Pak Andi berdiri di samping sofa dan memasukkan kontolnya ke mulut Firly. Sekarang Firly dilayani secara bergantian di dua lubang sekaligus.
Pak Budi mengentot anus Firly dengan ritme yang semakin cepat. “Enak… anusnya lebih enak dari memeknya,” katanya sambil terus mendorong dalam-dalam.
Pak Andi mengangguk setuju. “Bener… kita harus sering pakai lubang ini.”
Firly menangis tanpa henti. Ia merasa sangat kotor dan hina. Tubuhnya digunakan oleh dua orang sekaligus, dan yang paling menyakitkan adalah lubang belakangnya yang belum pernah digunakan sebelumnya.
Pak Budi dan Pak Andi bergantian mengentot anus Firly selama hampir empat puluh menit. Setiap kali salah satu dari mereka mengeluarkan air mani, yang lain langsung menggantikan posisinya. Firly sudah tidak lagi bisa menghitung berapa kali ia menangis.
Akhirnya, setelah kedua pria itu puas, Pak Budi menyuruh Firly membersihkan diri di kamar mandi. Firly berjalan dengan susah payah ke kamar mandi. Kakinya gemetar, dan ia merasa sangat sakit di bagian belakang.
Saat ia keluar dari kamar mandi, Pak Budi dan Pak Andi sudah duduk di sofa sambil merokok.
Pak Budi menatap Firly dan berkata, “Mulai sekarang, Pak Andi juga boleh panggil kamu kapan saja. Kalau kamu nolak, video itu langsung aku sebarkan.”
Firly berdiri diam di tempatnya. Air matanya mengalir pelan. Ia merasa hidupnya semakin tidak terkendali.
Pak Andi tersenyum dan menambahkan, “Kita harus sering main bareng. Anusnya enak banget.”
Firly tidak menjawab. Ia hanya mengambil tasnya dengan tangan gemetar dan keluar dari apartemen tanpa menoleh lagi.
Begitu sampai di luar, ia berjalan pelan ke pinggir jalan. Tubuhnya terasa sakit di mana-mana, terutama di anusnya. Ia merasa sangat kotor dan putus asa.
Malam itu, Firly pulang dengan perasaan bahwa ia sudah benar-benar jatuh lebih dalam ke dalam lubang yang tidak bisa ia keluarkan lagi.415Please respect copyright.PENANAzI3HKzkkeD


