Chapter 4: Tubuh Mungil yang Mulai Dikuasai
Ruangan penyimpanan musholla terasa semakin pengap dan sempit. Hujan deras di luar masih deras, seolah tak mau berhenti. Bau lembab, keringat, dan bau khas pria memenuhi ruangan kecil itu. Nashwa berdiri di tengah dua pria dengan tubuh yang gemetar hebat. Hijabnya masih tergeletak di sudut lantai yang basah, sementara gamisnya terkumpul di pinggang. Celana dalamnya sudah lama lepas, dan tubuh mungilnya yang hanya setinggi 151 sentimeter kini benar-benar terbuka di hadapan dua pria dewasa.
Pria pertama berdiri di belakangnya, sementara pria kedua berdiri di depan. Nashwa menangis pelan, air matanya terus mengalir di pipi yang basah. Tubuhnya yang kecil terasa sangat rapuh diapit dua tubuh besar itu.
“Jangan nangis terus, Nak,” kata pria pertama sambil meremas pantat Nashwa dari belakang. “Kamu sudah basah juga tadi. Badan kecilmu ini ternyata suka juga.”
Nashwa menggeleng lemah. “Bukan… saya tidak mau… ini dosa… tolong lepaskan saya…”
Pria kedua memegang dagu Nashwa dan memaksa gadis itu menatapnya. “Mulutmu bilang tidak, tapi tadi memekmu basah juga. Jangan bohong.”
Nashwa merasa malu yang luar biasa. Ia memang merasa ada sedikit cairan keluar dari memeknya tadi, padahal hatinya sangat menolak. Rasa bersalah semakin berat menekan dadanya. Ia teringat bahwa ia sedang berada di musholla, tempat ia biasa mengajar anak-anak mengaji dan sholat.
Pria kedua menurunkan celananya dan mengeluarkan kontolnya yang sudah keras. Ia menarik rambut basah Nashwa ke bawah, memaksa kepala gadis kecil itu mendekat ke kontolnya.
“Buka mulut,” perintahnya.
Nashwa menangis lebih keras. “Tidak… mulut saya sakit… saya tidak mau…”
Meskipun ia menolak, pria kedua tetap memaksa. Ia menekan kontolnya ke bibir Nashwa sampai akhirnya berhasil masuk ke dalam mulut gadis itu. Nashwa tersedak. Kontol yang besar dan panas itu memenuhi mulutnya. Ia merasa sangat kotor. Air mata mengalir deras saat ia terpaksa menghisap kontol pria itu.
Di belakangnya, pria pertama mulai menggesekkan kontolnya di antara pantat Nashwa yang kecil dan bulat. Nashwa bisa merasakan kontol panas itu menekan lubang pantatnya. Tubuhnya yang mungil bergetar hebat.
“Pantatmu kecil sekali,” kata pria pertama sambil meremas kedua pantat Nashwa dengan kasar. “Nanti pasti sempit banget kalau dimasukin.”
Nashwa ingin menjerit, tapi mulutnya penuh dengan kontol pria kedua. Ia hanya bisa mengeluarkan suara tersedak yang tertahan.
Pria pertama meludahi jarinya lalu mengusapkannya ke memek Nashwa dari belakang. Jarinya yang kasar mengusap bibir memek gadis itu yang masih polos. Nashwa menggeliat, berusaha menutup pahanya, tapi pria itu menahan kuat.
“Memeknya masih rapat,” kata pria pertama dengan nada puas. “Baru pertama kali ya?”
Nashwa tidak bisa menjawab. Mulutnya masih dipenuhi kontol pria kedua. Pria itu menggerakkan pinggulnya, memaksa Nashwa menghisap lebih dalam. Ludah Nashwa menetes dari sudut bibirnya.
Beberapa menit kemudian, pria pertama tidak lagi puas hanya menggesek. Ia menempelkan ujung kontolnya ke lubang memek Nashwa dari belakang. Nashwa langsung tersentak keras. Ia mencoba mundur, tapi pria kedua menahan kepalanya agar tetap menghisap kontolnya.
“Jangan… di sana jangan… saya masih perawan…” bisik Nashwa saat pria kedua sebentar melepaskan mulutnya.
Pria pertama tertawa kecil. “Perawan? Bagus. Nanti aku yang ambil keperawananmu.”
Tanpa banyak kata, ia mendorong kontolnya pelan ke dalam memek Nashwa. Nashwa menjerit. Tubuhnya yang kecil menegang kuat. Rasa sakit yang luar biasa menyebar dari antara pahanya. Kontol pria itu terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Ia merasa seperti robek.
“Akh… sakit… sakit sekali…” tangis Nashwa pecah.
Pria pertama tidak peduli. Ia terus mendorong kontolnya lebih dalam, perlahan tapi pasti, sampai hampir seluruh batangnya masuk ke dalam memek sempit Nashwa. Darah tipis bercampur dengan cairan mulai keluar dari lubang Nashwa.
Nashwa menangis tersedu. Ia merasa dunianya hancur. Keperawanannya diambil secara paksa di ruangan penyimpanan musholla, tempat ia biasa beribadah.
Pria pertama mulai menggerakkan pinggulnya. Ia ngentot Nashwa dari belakang dengan gerakan yang semakin kasar. Setiap dorongan membuat tubuh kecil Nashwa terdorong ke depan, dan kontol pria kedua semakin dalam ke mulutnya.
Nashwa merasa seperti boneka yang dientot dari dua lubang sekaligus. Tubuhnya yang rapuh dan kecil tidak mampu menahan dua kontol besar itu. Air mata terus mengalir di pipinya.
Di dalam hatinya, ia terus berdoa dengan putus asa.
Ya Allah… ampuni aku… ini dosa besar… aku di musholla… aku tidak mau… tolong ampuni aku…
Tapi doanya terasa sia-sia. Pria pertama semakin kencang ngentot memeknya dari belakang, sementara pria kedua memaksa mulutnya terus menghisap.
Beberapa menit kemudian, pria pertama mengeluarkan kontolnya dari memek Nashwa. Nashwa merasa lega sesaat, tapi lega itu tidak berlangsung lama.
Pria pertama menarik Nashwa ke lantai dan memaksa gadis itu berlutut. Ia duduk di bangku kayu kecil lalu menarik kepala Nashwa ke pangkuannya.
“Sekarang hisap yang bersihkan,” katanya sambil menekan kontolnya yang basah ke mulut Nashwa.
Nashwa menangis sambil menghisap kontol yang baru saja keluar dari memeknya sendiri. Rasa malu dan jijik bercampur menjadi satu.
Sementara itu, pria kedua berdiri di belakang Nashwa yang sedang berlutut dan kembali memasukkan kontolnya ke dalam memek gadis itu dari belakang. Nashwa tersentak. Sekarang ia dientot dari belakang sambil menghisap kontol pria pertama.
Tubuh mungilnya dipakai oleh dua pria sekaligus dalam posisi berlutut.
Nashwa merasa kesadarannya mulai kabur. Tubuhnya yang kecil bergetar hebat. Meskipun ia sangat menolak, ia bisa merasakan memeknya semakin basah dan licin. Ia merasa sangat malu karena tubuhnya “mengkhianati” hatinya.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar lagi.
Nashwa membeku. Matanya membuka lebar karena ketakutan. Pria pertama dan kedua juga berhenti sejenak.
“Mas… kalian di dalam?” Suara pria ketiga terdengar dari luar. “Hujannya deras. Saya lihat motor kalian masih di depan. Ada yang bisa dibantu?”
Pria pertama tersenyum tipis. Ia menjawab santai, “Masuklah. Ada cewek di sini. Guru ngaji musholla. Lagi kita urus.”
Nashwa menggeleng putus asa. Air matanya jatuh deras. “Jangan… jangan panggil orang lain… sudah cukup… saya tidak tahan lagi…”
Pintu terbuka. Pria ketiga masuk dan langsung membeku melihat pemandangan di dalam. Seorang gadis kecil berusia 18 tahun sedang berlutut dengan gamis terkumpul di pinggang, rambut basah terurai, dan sedang menghisap kontol sambil dientot dari belakang.
“Fuck…” gumam pria ketiga pelan. Matanya tidak bisa berpaling dari tubuh mungil Nashwa.
Ia menutup pintu dan mulai membuka celananya juga.
Sekarang ada tiga pria di dalam ruangan kecil itu.
Pria ketiga mendekat dan meraih rambut Nashwa. Ia menarik kepala gadis itu dari kontol pria pertama dan menggantinya dengan kontolnya sendiri.
“Giliran aku,” katanya sambil memasukkan kontolnya ke mulut Nashwa.
Nashwa menangis tersedu. Sekarang mulutnya dientot oleh pria ketiga, sementara memeknya masih dientot oleh pria kedua dari belakang. Pria pertama berdiri di samping sambil meremas dada mungil Nashwa dengan kasar.
Tubuh kecil Nashwa kini benar-benar dikuasai oleh tiga pria sekaligus.
Pria kedua yang ngentot memeknya dari belakang semakin kencang. Setiap dorongan terdengar suara “plok-plok-plok” yang vulgar. Nashwa merasa memeknya semakin penuh dan sakit. Air mani dan cairan campuran mulai menetes dari lubang memeknya yang sempit.
Nashwa merasa seperti sudah tidak bisa berpikir lagi. Ia hanya bisa menangis dan menghisap kontol yang ada di mulutnya. Tubuhnya yang mungil dan rapuh terus dipakai bergantian oleh tiga pria dewasa di ruangan penyimpanan musholla yang sepi.
Dan malam ini masih sangat panjang.405Please respect copyright.PENANAqAUoF4o5Iu


