Chapter 5: Kesialan yang Semakin Tak Terkendali
Ruangan penyimpanan musholla semakin pengap. Bau keringat, sperma, dan cairan tubuh bercampur dengan bau lembab ruangan. Hujan deras di luar masih belum reda. Nashwa (18 tahun) sedang berlutut di lantai dengan tubuh yang lemas. Gamisnya sudah benar-benar terkumpul di pinggang, rambut basahnya acak-acakan, dan hijabnya masih tergeletak di sudut.
Ketiga pria itu bergantian menggunakan tubuh mungilnya tanpa henti.
Pria kedua sedang berdiri di belakang Nashwa yang berlutut, memegang pinggul kecil gadis itu dengan kedua tangan. Kontolnya yang tebal dan panas sedang ngentot memek Nashwa dari belakang dengan gerakan yang kasar dan dalam. Setiap kali ia mendorong pinggulnya, terdengar suara “plok! plok! plok!” yang vulgar.
“Memeknya sempit banget… enak sekali,” kata pria kedua sambil mengentot lebih kencang. “Masih basah juga meskipun nangis terus.”
Nashwa menangis tersedu. Mulutnya saat itu sedang dipenuhi kontol pria pertama. Pria itu memegang kepala Nashwa dengan kedua tangan dan menggerakkan pinggulnya, memaksa gadis itu menghisap kontolnya sampai ke tenggorokan.
“Hisap yang dalam… jangan gigit,” perintah pria pertama dengan suara kasar.
Nashwa hanya bisa mengeluarkan suara tersedak. Air liurnya menetes dari sudut bibirnya dan jatuh ke lantai. Matanya sudah sembab karena menangis terus-menerus. Setiap kali kontol pria pertama masuk dalam, ia merasa ingin muntah, tapi ia tidak berani melawan.
Di sampingnya, pria ketiga berdiri sambil meremas kedua dada mungil Nashwa dengan kasar. Jarinya menjepit puting Nashwa yang kecil dan masih muda.
“Susu kecilnya enak juga,” kata pria ketiga sambil meremas lebih kuat. “Badan cewek ini memang pas buat dientot.”
Nashwa menangis lebih keras. Ia merasa sangat kotor. Tubuhnya yang kecil sedang dipakai tiga pria sekaligus di dalam musholla. Ia teringat pada saat ia biasa sholat di tempat ini, mengajar anak-anak mengaji, dan menjaga dirinya dengan baik. Sekarang, memeknya sedang dientot dari belakang, mulutnya penuh kontol, dan dadanya diramas tanpa ampun.
Di dalam hatinya, ia terus berteriak.
Ya Allah… ampuni aku… ini dosa besar… aku di musholla… aku tidak mau… tolong ampuni aku…
Tapi doanya terasa sia-sia. Pria kedua yang ngentot memeknya dari belakang semakin kencang. Ia menarik rambut Nashwa ke belakang sambil terus mengentot.
“Memekmu semakin basah, Nak. Jangan bohong lagi. Badanmu suka juga,” kata pria kedua sambil tertawa.
Nashwa menggeleng lemah. Air mata jatuh di pipinya. Meskipun hatinya sangat menolak, ia memang merasa memeknya semakin licin dan basah. Ia merasa sangat malu dan benci pada dirinya sendiri karena tubuhnya “mengkhianati”.
Pria pertama yang memasukkan kontolnya ke mulut Nashwa akhirnya mengeluarkan kontolnya. Ia menarik rambut Nashwa ke atas dan menatap wajah gadis itu yang penuh air mata.
“Sekarang giliran aku ngewe memekmu,” katanya.
Ia mendorong Nashwa sampai gadis itu terjatuh dengan posisi telungkup di lantai. Pria kedua langsung menarik kontolnya keluar dari memek Nashwa. Pria pertama kemudian membalik tubuh Nashwa dan memaksa gadis itu berbaring telentang.
Nashwa menangis saat pria pertama membuka kedua pahanya lebar-lebar. Tubuh mungilnya terlihat sangat kecil dan rapuh di lantai. Pria pertama langsung menempelkan kontolnya yang basah ke memek Nashwa yang sudah merah dan bengkak.
“Jangan… sakit… memek saya sakit…” bisik Nashwa dengan suara lemah.
Pria pertama tidak peduli. Ia mendorong kontolnya dengan satu dorongan kuat sampai hampir seluruh batangnya masuk ke dalam memek sempit Nashwa. Nashwa menjerit. Tubuhnya melengkung ke atas karena rasa sakit yang luar biasa.
“Ahh…! Sakit…! Keluarin… tolong keluarin…!” tangisnya pecah.
Pria pertama mulai ngentot Nashwa dengan posisi telentang. Ia mengangkat kedua kaki Nashwa yang kecil dan menekannya ke dada gadis itu, membuat posisi memeknya semakin terbuka lebar. Setiap dorongan terdengar suara “plok-plok-plok” yang keras dan vulgar.
“Memekmu enak sekali… sempit dan basah,” kata pria pertama sambil ngentot semakin kencang.
Nashwa menangis tersedu di bawah pria itu. Tubuhnya yang kecil bergoyang-goyang setiap kali kontol besar itu masuk dan keluar dari memeknya. Air mani dan cairan campuran dari sebelumnya keluar dari lubang memeknya yang sudah tidak bisa menutup rapat lagi.
Sementara itu, pria ketiga mendekat ke wajah Nashwa dan memasukkan kontolnya ke mulut gadis itu lagi. Sekarang Nashwa dientot di dua lubang sekaligus — memeknya oleh pria pertama, mulutnya oleh pria ketiga.
Pria kedua berdiri di samping sambil mengocok kontolnya sendiri, sesekali meremas dada Nashwa atau menampar pantat gadis itu.
Nashwa merasa seperti sudah tidak bisa bernapas. Tubuhnya yang mungil dipenuhi dua kontol besar sekaligus. Air matanya terus mengalir. Ia merasa sangat berdosa karena berada di musholla, tempat ia biasa beribadah.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar lagi.
Semua orang berhenti sejenak. Nashwa membuka matanya lebar karena ketakutan.
“Mas… kalian masih di dalam?” Suara pria keempat terdengar dari luar. “Hujannya mulai reda. Saya lihat motor kalian masih di depan. Ada cewek katanya?”
Pria pertama tersenyum tipis. Ia menjawab dengan santai, “Masuklah. Ada cewek guru ngaji di sini. Lagi kita pakai.”
Nashwa menggeleng putus asa. “Jangan… jangan… sudah cukup… saya tidak bisa lagi…” tangisnya pecah.
Pintu terbuka. Pria keempat masuk. Ia langsung tersenyum lebar saat melihat Nashwa yang sedang telentang dengan kaki terangkat, memeknya sedang dientot, dan mulutnya penuh kontol.
“Wah… bagus sekali,” kata pria keempat sambil langsung membuka celananya. “Giliran aku juga ya.”
Sekarang ada empat pria di dalam ruangan kecil itu.
Pria keempat mendekat dan menunggu giliran. Sementara itu, pria pertama yang sedang ngentot memek Nashwa semakin kencang. Ia menekan kedua kaki Nashwa sampai ke dada gadis itu dan ngentot dengan gerakan yang dalam dan kasar.
“Memeknya semakin basah… suka juga ternyata,” kata pria pertama sambil tertawa.
Nashwa menangis tersedu. Tubuhnya yang kecil bergetar hebat. Meskipun ia sangat malu, ia bisa merasakan memeknya semakin basah dan mengejang setiap kali kontol pria pertama menyentuh titik sensitif di dalamnya.
Pria ketiga yang memasukkan kontolnya ke mulut Nashwa akhirnya mengeluarkan sperma di dalam mulut gadis itu. Nashwa tersedak dan berusaha memuntahkannya, tapi pria itu menahan kepalanya agar sperma itu tertelan.
“Telan semuanya,” perintah pria ketiga.
Nashwa menangis sambil menelan sperma pria itu dengan susah payah. Rasa pahit dan asin memenuhi mulutnya. Ia merasa sangat kotor.
Begitu pria ketiga selesai, pria keempat langsung menggantikan posisinya. Ia memasukkan kontolnya ke mulut Nashwa yang masih basah oleh sperma.
Sekarang Nashwa dientot di mulut oleh pria keempat, sementara memeknya masih dientot oleh pria pertama.
Pria kedua yang tadi berdiri di samping akhirnya tidak tahan lagi. Ia mendekat ke wajah Nashwa dan mengocok kontolnya di depan wajah gadis itu.
“Keluarin air mani di wajahnya,” kata pria kedua sambil mengocok lebih cepat.
Beberapa detik kemudian, pria kedua menyemprotkan sperma tebal ke wajah Nashwa. Sperma putih kental itu mengenai pipi, dahi, dan bibir Nashwa. Nashwa menangis lebih keras saat merasa wajahnya kotor oleh air mani pria itu.
Pria pertama yang ngentot memeknya akhirnya juga mendekati klimaks. Ia menarik kontolnya keluar dari memek Nashwa dan menyemprotkan sperma ke perut dan dada mungil gadis itu.
Nashwa terbaring lemas di lantai. Tubuhnya yang kecil penuh dengan sperma. Wajahnya kotor, dadanya basah, dan memeknya merah serta bengkak. Air mata terus mengalir di pipinya.
Empat pria itu berdiri mengelilinginya sambil tersenyum puas.
Pria pertama kemudian berkata dengan nada santai, “Hujannya sudah reda. Kita bawa cewek ini ke tempat lain saja. Di sini terlalu berisiko.”
Nashwa yang masih terbaring lemas langsung membuka matanya lebar karena panik.
“Tidak… jangan bawa saya… tolong… saya mau pulang…” bisiknya dengan suara parau.
Pria keempat tersenyum. “Masih lama, Nak. Malam ini baru mulai.”414Please respect copyright.PENANA7b6ON3B6SS


