Chapter 3: Malam di Musholla yang Sepi
Ruangan kecil itu terasa semakin pengap. Bau lembab, sabun lantai, dan keringat bercampur menjadi satu. Hujan deras di luar tidak menunjukkan tanda akan berhenti. Bahkan semakin kencang, seolah sengaja menutupi segala sesuatu yang terjadi di dalam musholla.
Nashwa masih berdiri dengan punggung menempel di dinding. Tangannya yang kecil gemetar hebat. Hijab hitamnya sudah tergeletak di sudut ruangan yang gelap, basah dan kotor. Rambut panjangnya yang basah menempel di dahi, pelipis, dan lehernya. Gamis abu-abu mudanya masih terkumpul di pinggang, memperlihatkan celana dalam putih polos yang basah dan menempel di kulit pahanya yang putih.
Pria itu masih berdiri di hadapannya. Matanya menatap tubuh mungil Nashwa dengan nafsu yang tak disembunyikan. Tangan besarnya masih memegang pergelangan tangan Nashwa di atas kepalanya, membuat gadis kecil itu benar-benar tidak bisa bergerak.
“Jangan menangis terus begitu,” kata pria itu dengan suara rendah. “Nanti cantiknya hilang.”
Nashwa menggeleng pelan. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Bibirnya bergetar saat ia mencoba berbicara.
“Pak… tolong lepaskan saya… saya mohon… ini dosa… ini tempat suci…” bisiknya dengan suara parau.
Pria itu tertawa pelan. Ia mendekatkan wajahnya ke leher Nashwa yang basah. Napasnya yang hangat menyentuh kulit halus gadis itu.
“Tempat suci?” ulangnya sambil mencium pelan leher Nashwa. “Ini kan cuma ruang penyimpanan. Bukan di dalam musholla.”
Tapi Nashwa tahu. Ia tahu musholla hanya beberapa meter dari tempat ini. Ia bisa membayangkan mihrab, sajadah-sajadah yang tadi ia rapikan sendiri, dan Al-Quran yang masih ada di rak dekat mimbar. Rasa bersalah yang luar biasa berat menekan dadanya.
Tangan pria itu turun lagi ke dada Nashwa yang mungil. Kali ini ia meremas lebih kuat melalui kain gamis yang basah. Nashwa menarik napas tajam. Tubuhnya yang kecil tersentak.
“Jangan… jangan sentuh…” katanya lemah.
Tapi pria itu tidak peduli. Ia menarik ujung gamis Nashwa lebih tinggi lagi, sampai kain itu mengumpul di bawah dada. Sekarang perut putih Nashwa yang rata dan pinggangnya yang kecil terlihat jelas. Pria itu mengusap perut itu dengan telapak tangannya yang kasar. Sentuhan itu terasa panas di kulit dingin Nashwa.
Nashwa menutup matanya erat. Dalam hati ia terus berdoa.
Ya Allah… ampuni aku… ini bukan kehendakku… lindungi aku…
Doa itu terasa hampa saat tangan pria itu turun lebih rendah dan menyentuh bagian dalam paha Nashwa. Jari-jarinya yang besar mengusap kulit halus yang basah karena hujan. Nashwa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai terasa sakit, berusaha menahan suara yang ingin keluar dari mulutnya.
Pria itu menunduk dan mencium bahu Nashwa yang terbuka. Bibirnya bergerak ke arah leher, lalu ke tulang selangka. Setiap ciuman terasa seperti noda yang tak bisa dihapus. Nashwa merasa semakin kotor. Tubuhnya yang selama ini selalu dijaga dengan ketat kini disentuh oleh orang asing di dekat tempat ia biasa mengajar anak-anak mengaji.
Tangan pria itu akhirnya menyentuh celana dalam Nashwa. Jarinya mengusap bagian depan kain yang sudah basah. Nashwa langsung tersentak keras dan berusaha menutup kedua pahanya.
“Jangan… di sana jangan…” suaranya pecah.
Pria itu tertawa lagi. “Masih perawan ya? Bisa kurasakan dari sini.”
Kata-kata itu membuat Nashwa merasa semakin malu. Ia ingin menghilang. Ingin waktu berputar mundur. Tapi kenyataan tidak bisa diubah. Pria itu menarik celana dalamnya pelan ke bawah. Kain putih itu turun melewati paha Nashwa yang gemetar, lalu jatuh ke lantai yang basah.
Sekarang Nashwa benar-benar terbuka di bagian bawah tubuhnya.
Udara dingin ruangan menyentuh kulit paling pribadi miliknya. Nashwa menangis lebih keras. Tangannya yang masih ditahan di atas kepala berusaha melepaskan diri, tapi pria itu jauh lebih kuat.
Pria itu melepaskan pegangan di pergelangan tangan Nashwa hanya untuk sejenak, lalu ia menarik kedua tangan gadis itu ke belakang punggungnya dan menahannya dengan satu tangan. Tangan yang lain turun ke antara kedua paha Nashwa.
Jari kasarnya menyentuh bagian paling sensitif tubuh Nashwa.
Nashwa menjerit pelan. “Tidak…!”
Tapi jeritannya segera berubah menjadi isak tangis saat jari pria itu mulai bergerak. Ia mengusap pelan, lalu menekan. Nashwa merasa tubuhnya gemetar hebat. Bukan karena nikmat, tapi karena rasa malu, takut, dan benci yang bercampur menjadi satu. Ia tidak mengerti mengapa tubuhnya bisa memberikan sedikit reaksi meskipun pikirannya menolak keras.
Ini dosa… ini haram… Ya Allah, ampuni aku…
Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Nashwa.
“Basah juga ternyata,” bisiknya dengan nada puas.
Kata-kata itu membuat Nashwa merasa ingin mati. Ia menggeleng keras, air mata terus mengalir di pipinya yang basah.
“Bukan… bukan karena itu… saya tidak mau…” katanya terbata-bata.
Pria itu tidak mendengarkan. Ia terus menggerakkan jarinya. Nashwa bisa merasakan tubuhnya yang kecil bergetar tak terkendali. Lututnya mulai lemas. Kalau bukan karena pria itu menahannya, ia mungkin sudah jatuh.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. Nashwa terus menangis pelan sambil berusaha menahan suara yang ingin keluar. Ia mencoba memikirkan wajah ibunya, wajah ayahnya, dan anak-anak yang biasa ia ajar ngaji. Tapi bayangan itu semakin kabur saat jari pria itu semakin dalam.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan.
Nashwa membeku. Matanya membuka lebar karena panik. Pria itu juga berhenti sejenak dan menoleh ke arah pintu.
“Mas… kamu di dalam?” Suara pria lain terdengar dari balik pintu. “Hujannya deras sekali. Saya lihat motormu masih di depan. Ada yang perlu dibantu?”
Pria pertama tersenyum tipis. Ia menjawab dengan suara santai, “Masuklah. Ada yang menarik di sini.”
Nashwa menggeleng keras. “Jangan… jangan panggil orang lain… saya mohon…” bisiknya putus asa.
Tapi sudah terlambat.
Pintu ruangan penyimpanan terbuka pelan. Seorang pria lain, berusia sekitar 28 tahun, masuk sambil memegang payung yang sudah setengah rusak karena angin. Ia langsung membeku saat melihat pemandangan di dalam.
Nashwa berdiri dengan gamis terkumpul di pinggang, celana dalam di lantai, rambut basah terurai, dan wajah penuh air mata. Pria pertama masih menahannya dengan satu tangan.
Pria kedua menatap Nashwa dari atas ke bawah. Matanya melebar, lalu perlahan berubah menjadi penuh nafsu.
“Mas… ini siapa?” tanyanya pelan, tapi ada senyum di bibirnya.
“Guru ngaji dari musholla ini,” jawab pria pertama dengan nada santai. “Kena hujan deras. Saya bantu keringkan dulu.”
Pria kedua menutup pintu di belakangnya. Ruangan yang tadinya sempit kini terasa semakin penuh dengan kehadiran dua pria dewasa.
Nashwa merasa dunia benar-benar runtuh. Ia mencoba menutup kedua pahanya, tapi pria pertama tidak membiarkannya. Ia masih menahan tangan Nashwa di belakang punggung.
“Jangan… tolong jangan panggil orang lain… saya akan diam… saya tidak akan bilang siapa-siapa…” Nashwa menangis tersedu. Suaranya kecil dan putus asa.
Pria kedua melangkah mendekat. Ia menatap tubuh mungil Nashwa dengan jelas. “Cantik sekali. Masih muda juga. Berapa umurnya?”
“Delapan belas,” jawab pria pertama sambil tersenyum.
Pria kedua mengangguk pelan. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh rambut basah Nashwa. Nashwa langsung menoleh ke samping, berusaha menghindar, tapi tidak bisa.
“Rambutnya panjang… halus,” kata pria kedua. “Sayang sekali ditutup hijab terus.”
Ia menunduk dan mencium rambut Nashwa yang basah. Nashwa menutup matanya erat. Dua pria sekarang menyentuhnya. Tubuhnya yang kecil terasa semakin tidak berdaya diapit dua tubuh besar.
Pria pertama melepaskan tangan yang menahan pergelangan tangan Nashwa, tapi hanya untuk menarik kedua tangan gadis itu ke depan dan memberikannya kepada pria kedua. Sekarang pria kedua yang menahannya.
Pria pertama mundur selangkah dan mulai membuka kancing bajunya.
“Giliran saya dulu tadi,” katanya kepada temannya. “Sekarang giliran kamu. Tapi jangan rusak dulu. Kita masih butuh dia malam ini.”
Nashwa merasa seperti darahnya mengalir deras ke kepala. Ia mengerti arti dari kata-kata itu. Mereka tidak akan melepaskannya dalam waktu dekat.
Pria kedua menarik Nashwa mendekat ke tubuhnya. Ia mencium bibir Nashwa secara paksa. Nashwa menggeleng keras dan menutup mulut rapat-rapat. Tapi pria itu menekan lebih kuat. Bibir kasarnya menindih bibir halus Nashwa sampai akhirnya ia berhasil memaksa lidahnya masuk.
Nashwa menangis di dalam ciuman itu. Ia merasa mulutnya dikotori. Ia merasa sangat kotor.
Sementara itu, pria pertama sudah membuka celananya. Ia mendekat dari belakang Nashwa dan menempelkan tubuhnya yang panas ke punggung gadis kecil itu. Tangan besarnya meremas pinggul Nashwa dari belakang.
Nashwa merasa seperti terjebak di antara dua dinding yang panas dan kasar.
Pria kedua melepaskan ciumannya. Napasnya terengah. “Rasanya manis,” katanya sambil tersenyum.
Pria pertama tertawa pelan di belakang telinga Nashwa. “Belum apa-apa sudah manis. Nanti kalau sudah masuk pasti lebih enak.”
Nashwa menggeleng putus asa. “Jangan… saya mohon… saya tidak bisa… ini salah… ini dosa besar…”
Pria pertama menarik rambut basah Nashwa ke belakang, membuat kepala gadis itu mendongak. Ia mencium leher Nashwa dari belakang dengan kasar.
“Sudah terlambat untuk mohon,” bisiknya. “Kamu sudah di sini. Hujan deras. Tidak ada yang akan datang menolongmu malam ini.”
Kata-kata itu menusuk dalam hati Nashwa. Ia sadar bahwa memang tidak ada yang bisa menolongnya sekarang. Musholla sepi. Hujan deras. Ponselnya sudah mati karena basah. Tidak ada satu orang pun yang tahu di mana ia berada.
Pria kedua mulai menurunkan ritsleting celananya. Nashwa bisa melihat dengan jelas apa yang ada di balik kain itu. Tubuhnya yang kecil semakin gemetar.
Pria pertama mendorong punggung Nashwa pelan sampai gadis itu terpaksa membungkuk sedikit. Pria kedua memegang dagu Nashwa dan mengarahkan wajahnya ke bawah.
“Buka mulutnya,” perintah pria pertama.
Nashwa menggeleng keras. Air matanya jatuh ke lantai.
“Tidak… saya tidak mau… saya tidak bisa…”
Pria kedua menekan jempolnya ke pipi Nashwa, memaksa mulut gadis kecil itu terbuka sedikit. Lalu ia mendorong dirinya ke dalam mulut Nashwa.
Nashwa tersedak. Tangannya yang kecil langsung mendorong paha pria kedua, berusaha menjauh. Tapi pria pertama dari belakang menahannya kuat.
Air mata Nashwa mengalir deras saat ia merasa mulutnya dipenuhi. Ia merasa ingin muntah. Rasa malu dan jijik bercampur menjadi satu. Dalam hati ia terus berdoa, meskipun doa itu terasa semakin sia-sia.
Pria pertama di belakangnya mulai menggesekkan dirinya di antara pantat Nashwa yang kecil dan bulat. Nashwa bisa merasakan panas dan kerasnya tubuh pria itu menekan bagian belakang tubuhnya.
Dua pria sekarang menggunakan tubuhnya di ruangan kecil musholla yang sepi.
Hujan deras di luar terus turun, seolah menutupi segala suara yang terjadi di dalam.
Nashwa merasa kesadarannya mulai kabur. Tubuhnya yang mungil dan rapuh tidak bisa melawan. Pikirannya penuh dengan rasa dosa, malu, dan ketakutan. Tapi yang paling menyakitkan adalah saat ia menyadari bahwa tubuhnya mulai memberikan sedikit reaksi meskipun hatinya menolak sepenuhnya.
Ia menangis lebih keras.
Dan malam di musholla yang sepi baru saja dimulai dengan cara yang jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.436Please respect copyright.PENANAt1bZIMrNHY


