Chapter 2: Kecelakaan yang Membuka Pintu Kehinaan
Hujan semakin deras. Bunyi air yang menghantam atap seng musholla terdengar seperti genderang yang tak henti-henti. Nashwa berdiri di bawah atap kecil itu, tangannya masih memegang ponsel dengan pesan dari ibunya yang belum sempat ia balas. Air hujan merembes dari ujung hijabnya yang basah, menetes pelan ke bahu dan dada. Kain gamis abu-abu mudanya sudah menempel erat di tubuh, memperlihatkan bentuk bahu yang kecil, pinggang yang ramping, dan lekuk dada yang masih muda serta belum berkembang penuh.
Pria itu masih berdiri di sana, memandangnya. Senyum tipis di wajahnya tidak hilang.
“Ukhti… hujannya makin deras. Kalau nunggu reda, bisa sampai malam. Biar saya antar saja. Rumah saya cuma lewat gang sebelah, dekat sekali.”
Nashwa menunduk. Jarinya menekan layar ponselnya tanpa sadar. Ia ingin menolak. Ingin bilang bahwa ia bisa pulang sendiri, bahwa ia sudah besar, bahwa ia tidak perlu diantar orang asing. Tapi angin kencang kembali menyapu, membuat hijab basahnya tertiup dan menempel di pipi serta lehernya. Dingin menusuk kulit. Ia menggigil kecil.
“Terima kasih, Pak… tapi saya bisa pulang sendiri,” jawabnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan.
Pria itu melangkah selangkah lebih dekat. “Saya lihat Ukhti sendirian. Kalau terjadi apa-apa di jalan, nanti orang tua Ukhti khawatir. Saya cuma mau bantu.”
Ada nada yang seolah ramah, tapi Nashwa merasa ada sesuatu yang lain di baliknya. Ia mundur selangkah lagi, punggungnya hampir menyentuh dinding musholla. Tubuhnya yang hanya setinggi 151 sentimeter terasa semakin kecil di hadapan pria itu yang jauh lebih tinggi dan berbadan besar.
Hujan tidak menunjukkan tanda akan reda. Bahkan semakin deras. Air mulai menggenang di halaman musholla. Nashwa melihat sekeliling. Musholla sudah sepi. Tidak ada satu pun orang lain. Hanya dia dan pria ini.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan baru dari ibu:
“Na, kenapa belum balas? Kamu di mana? Hujan deras sekali, Nak. Pulang sekarang.”
Nashwa menatap layar itu lama. Jarinya bergerak ragu-ragu. Ia mengetik beberapa huruf, lalu menghapusnya lagi. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Saat ia sedang menunduk menatap ponsel, pria itu tiba-tiba melangkah lebih dekat dan mengangkat tangan, seolah ingin melindungi Nashwa dari percikan hujan yang masuk ke bawah atap.
“Tangan Ukhti basah semua. Kasih saya pegang payungnya.”
Sebelum Nashwa sempat menolak, tangan pria itu sudah menyentuh tangannya. Kulit pria itu hangat, kasar, dan besar. Berbanding terbalik dengan tangan Nashwa yang kecil, dingin, dan basah. Sentuhan itu hanya sebentar, tapi cukup membuat Nashwa menarik tangannya dengan cepat, jantungnya berdegup kencang.
“Saya… saya bisa sendiri, Pak,” katanya lagi, kali ini dengan suara yang sedikit lebih tinggi karena gugup.
Pria itu tertawa pelan. “Ukhti pemalu ya? Padahal saya cuma mau bantu.”
Nashwa merasa pipinya memanas. Bukan karena malu, tapi karena takut. Ia tahu ia harus segera pergi dari situ. Tapi saat ia melangkah keluar dari bawah atap, hujan deras langsung membasahi seluruh tubuhnya dalam hitungan detik. Air hujan deras menyiram wajahnya, membuat hijab yang sudah basah menjadi semakin berat dan menempel di kepala serta lehernya. Gamisnya yang longgar kini menempel di paha dan pinggulnya karena basah. Ia bisa merasakan dinginnya air menembus kain tipis hingga menyentuh kulit pahanya.
Ia berjalan cepat, berusaha menjauh dari pria itu. Tapi hanya beberapa langkah, ia mendengar suara langkah kaki mengikuti di belakang.
“Ukhti! Hati-hati, jalannya licin!”
Sebelum Nashwa sempat bereaksi, tangan besar pria itu sudah memegang lengannya dari belakang, menahannya agar tidak terpeleset. Pegangan itu kuat. Terlalu kuat untuk ukuran tangan seorang gadis kecil seperti dirinya.
Nashwa tersentak. “Lepaskan, Pak…”
“Tenang, Ukhti. Saya cuma bantu biar tidak jatuh.”
Tapi pria itu tidak melepaskan tangannya. Malah ia menarik Nashwa pelan ke arah samping musholla, ke sebuah bangunan kecil yang biasa digunakan sebagai ruang penyimpanan alat kebersihan. Pintunya setengah terbuka. Pria itu mendorong pintu itu dengan bahunya dan menarik Nashwa masuk.
“Di sini dulu, Ukhti. Hujannya terlalu deras. Nanti kena sakit.”
Nashwa ingin berteriak. Ingin menolak. Tapi tenggorokannya terasa kering. Ia hanya bisa menggeleng pelan sambil mundur ke dalam ruangan yang gelap dan pengap itu. Bau lembab dan sabun lantai menyengat hidungnya. Ruangan itu kecil, hanya ada beberapa sapu, ember, dan tumpukan karpet bekas di sudut.
Pria itu menutup pintu di belakang mereka. Suara hujan di luar menjadi lebih redam.
Sekarang hanya ada mereka berdua di ruangan sempit itu.
Nashwa memegang erat tasnya di dada, seolah bisa melindungi dirinya. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena dingin, tapi karena ketakutan yang mulai merayap. Ia bisa melihat pria itu memandangnya dari atas ke bawah. Pandangan itu berhenti di bagian dada Nashwa yang basah, di mana kain gamis menempel dan memperlihatkan bentuk bra putih polos yang ia kenakan di baliknya. Nashwa langsung menyilangkan tangan di dada, berusaha menutupi tubuhnya.
“Pak… saya mau pulang,” katanya dengan suara kecil, hampir seperti bisikan.
Pria itu melangkah mendekat. “Nanti dulu. Biar saya bantu keringkan dulu bajunya. Kalau begini basah terus, Ukhti bisa masuk angin.”
Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya. Sapu tangan itu sudah agak kotor, tapi ia tetap mendekatkan tangannya ke wajah Nashwa. Nashwa mundur sampai punggungnya menyentuh dinding. Tidak ada tempat lagi untuk mundur.
Tangan pria itu menyentuh pipinya yang basah. Sapu tangan itu mengusap pelan air di pipi Nashwa, lalu turun ke lehernya. Nashwa menahan napas. Kulitnya merinding. Ia merasa tangan itu terlalu lama berada di lehernya.
“Pak… jangan,” bisiknya.
“Istri saya juga pakai hijab seperti Ukhti,” kata pria itu pelan, suaranya terdengar lebih rendah. “Tapi tidak secantik Ukhti. Tubuh Ukhti… kecil sekali. Masih seperti anak SMA.”
Nashwa menoleh ke samping, menghindari pandangan pria itu. Air mata mulai menggenang di matanya. Ia merasa kotor. Ia merasa berdosa hanya karena berada di ruangan tertutup bersama laki-laki yang bukan mahramnya. Ia mencoba mengingat doa yang biasa ia baca saat takut.
“A’udzu billahi minasy syaithanir rajim…” bisiknya dalam hati, berulang-ulang.
Tapi doa itu terasa sia-sia saat tangan pria itu tiba-tiba turun dan menyentuh pinggangnya. Sentuhan itu melewati kain gamis yang basah dan menempel. Nashwa tersentak keras.
“Jangan!” serunya, suaranya pecah.
Pria itu tidak menarik tangannya. Malah ia menarik tubuh Nashwa yang kecil mendekat ke tubuhnya yang besar. Nashwa bisa merasakan panas tubuh pria itu menembus kain basahnya. Ia bisa mencium bau keringat dan hujan yang bercampur dari pria itu.
“Tenang… saya cuma mau bantu. Ukhti basah semua. Biar saya bantu lepas hijabnya dulu, biar cepat kering.”
“Tidak! Jangan sentuh hijab saya!” Nashwa berusaha mendorong dada pria itu dengan kedua tangannya yang kecil. Tapi usahanya sia-sia. Tubuhnya terlalu kecil dan lemah dibandingkan pria dewasa di hadapannya.
Pria itu tertawa pelan. Tangannya yang satu tetap memegang pinggang Nashwa, sementara tangan yang lain naik ke kepala Nashwa. Jari-jarinya menyentuh ujung hijab yang basah. Nashwa merasa seperti ada listrik yang menyengat seluruh tubuhnya saat jari pria itu menyentuh kain suci yang biasa ia pakai untuk menutup aurat.
“Pak… tolong… saya mohon…” suaranya sudah bergetar hebat. Air mata mulai jatuh di pipinya yang basah.
Pria itu tidak peduli. Ia menarik ujung hijab Nashwa pelan. Kain hitam itu terlepas sedikit dari kepala Nashwa, memperlihatkan sebagian rambut hitam panjang yang basah menempel di dahi dan pelipisnya. Nashwa langsung mengangkat tangan, berusaha menahan hijabnya tetap di tempat.
Tapi pria itu lebih kuat. Ia menarik hijab itu lebih keras sampai akhirnya hijab Nashwa terlepas sepenuhnya dan jatuh ke lantai yang basah.
Rambut hitam panjang Nashwa yang basah langsung terurai, menempel di bahu, leher, dan punggungnya. Ia merasa telanjang. Meskipun masih memakai gamis, tanpa hijab ia merasa seperti auratnya terbuka lebar di hadapan pria asing ini.
“Cantik sekali…” gumam pria itu, matanya menatap rambut basah Nashwa dengan penuh nafsu.
Nashwa menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat. “Kembalikan… kembalikan hijab saya… saya mohon…”
Pria itu tidak mengembalikannya. Malah ia menendang hijab itu ke sudut ruangan dengan kakinya. Lalu tangannya kembali ke pinggang Nashwa, menarik tubuh mungil itu mendekat sampai dada Nashwa menempel di dada pria itu.
Nashwa bisa merasakan sesuatu yang keras menekan perut bawahnya melalui celana pria itu. Ia tahu apa itu. Dan pengetahuan itu membuatnya semakin ketakutan.
“Pak… saya masih… saya masih perawan… saya tidak boleh…” katanya terbata-bata, air mata mengalir deras.
Pria itu menunduk, wajahnya mendekat ke telinga Nashwa. Napasnya yang hangat menyentuh telinga dan leher Nashwa yang basah.
“Kalau begitu… biar saya yang ajari.”
Tangan pria itu turun dari pinggang Nashwa ke pantatnya yang kecil dan bulat. Ia meremasnya melalui kain gamis yang basah. Nashwa tersentak dan berusaha mendorong pria itu lagi, tapi usahanya hanya membuat tubuhnya bergesekan lebih erat dengan tubuh pria itu.
“Jangan… jangan sentuh saya… dosa… ini dosa besar…” bisik Nashwa dengan suara parau.
Tapi pria itu tidak peduli dengan doa atau dosa. Tangannya yang besar meremas pantat Nashwa lebih keras, sementara tangan yang lain naik ke dada Nashwa yang mungil. Ia meremasnya melalui kain basah. Nashwa menjerit pelan, bukan karena sakit, tapi karena rasa malu dan takut yang luar biasa.
Tubuhnya yang kecil terasa seperti mainan di tangan pria dewasa itu. Setiap sentuhan terasa kasar dan memaksa. Nashwa bisa merasakan air mata terus mengalir di pipinya. Ia mencoba membayangkan wajah ibunya, wajah murid-murid ngajinya, wajah orang-orang yang biasa memanggilnya “Ukhti Sholehah”. Tapi bayangan itu semakin kabur saat tangan pria itu mulai menarik ujung gamisnya ke atas.
Kain basah itu naik perlahan, memperlihatkan paha putih Nashwa yang basah dan menggigil. Nashwa berusaha menekan kain itu ke bawah dengan tangannya, tapi pria itu menangkap kedua pergelangan tangannya dengan satu tangan saja dan menahannya di atas kepala Nashwa.
Sekarang Nashwa benar-benar tidak berdaya.
Pria itu menunduk dan mencium leher Nashwa yang basah. Bibirnya yang kasar menyentuh kulit halus Nashwa. Nashwa menggeleng keras, berusaha menjauhkan lehernya, tapi tidak bisa. Pria itu mencium lehernya, lalu naik ke dagu, lalu ke pipi yang basah oleh air mata dan hujan.
“Rasanya enak sekali…” gumam pria itu di antara ciumannya.
Nashwa menangis tersedu. “Lepaskan saya… saya mohon… saya akan pulang… saya tidak akan bilang siapa-siapa…”
Pria itu tertawa pelan di telinganya. “Kalau Ukhti diam dan nurut, saya akan antar pulang setelah ini. Kalau tidak… mungkin saya akan bawa Ukhti ke tempat lain.”
Ancaman itu membuat Nashwa membeku. Ia tahu ia tidak punya pilihan. Tubuhnya yang kecil dan lemah tidak bisa melawan. Hujan di luar masih deras, seolah menutupi segala suara yang mungkin terjadi di dalam ruangan kecil ini.
Tangan pria itu kembali menarik gamis Nashwa ke atas. Kali ini lebih tinggi, sampai kain itu mengumpul di pinggang Nashwa. Celana dalam putih polos Nashwa yang basah kini terlihat jelas. Nashwa menutup matanya erat-erat, air mata terus mengalir di balik kelopak matanya.
Ia merasa dunia runtuh.
Dan kesialan pertama baru saja dimulai dengan sungguhan.423Please respect copyright.PENANAeuNd2c5MtH


