444Please respect copyright.PENANAE2rF3Usx9rChapter 1: Kehidupan Sholehah Nashwa + Kesialan Pertama
Malam masih gelap ketika Nashwa membuka matanya. Jam menunjukkan pukul empat lewat lima belas. Seperti biasa, ia langsung bangun tanpa perlu alarm. Tubuhnya yang mungil, hanya setinggi 151 sentimeter, terasa ringan saat ia melangkah turun dari tempat tidur. Kamarnya kecil dan rapi, hanya ada lemari kecil, rak buku yang penuh dengan kitab dan Al-Quran, serta sajadah yang selalu digulung rapi di sudut.
Nashwa berdiri di depan cermin. Wajahnya polos, kulit putih bersih tanpa polesan apa pun. Rambut hitam panjang bergelombangnya ia ikat rapi sebelum memakai hijab hitam polos yang selalu ia kenakan. Hari ini ia memilih gamis abu-abu muda lengan panjang yang longgar, menutupi lekuk tubuhnya yang masih ramping dan belum banyak berubah sejak ia berusia delapan belas tahun. Tubuhnya memang kecil — dada yang mungil, pinggang ramping, pinggul yang belum terlalu lebar. Ia sering merasa seperti masih anak kecil jika berdiri di antara orang dewasa.
Setelah berwudhu dengan teliti, Nashwa sholat Subuh di kamarnya. Suaranya pelan saat membaca Al-Fatihah dan surat pendek. Ia khusyuk, dahi menyentuh sajadah dengan penuh ketundukan. Setelah salam, ia duduk sejenak, berdoa panjang untuk kedua orang tuanya, untuk murid-murid ngajinya, dan agar ia selalu dijaga dari godaan dunia.
“Ya Allah… jagalah aku,” bisiknya pelan sebelum mengusap wajah.
Pukul setengah enam, Nashwa sudah siap. Ia mengenakan hijabnya dengan rapi, memastikan tidak ada rambut yang keluar. Gamisnya longgar, rok bagian dalamnya juga panjang. Ia mengambil tas kecil berisi Al-Quran dan buku catatan murid, lalu keluar kamar.
Ibunya sudah di dapur. “Nak, mau ke musholla sekarang?” tanyanya sambil mengaduk bubur.
“Iya, Bu. Ada jadwal ngaji pagi untuk anak-anak kelas kecil,” jawab Nashwa dengan senyum kecil. Suaranya lembut, sopan.
“Jangan pulang telat ya. Malam ini ayahmu pulang dari Solo.”
Nashwa mengangguk patuh. Ia mencium tangan ibunya lalu berangkat.
Langit Semarang pagi itu masih mendung. Angin dingin menyapa tubuhnya yang kecil. Nashwa berjalan cepat menyusuri gang sempit menuju musholla Al-Hidayah yang berjarak sekitar sepuluh menit dari rumahnya. Sepanjang jalan ia membaca wirid pelan, bibirnya bergerak tanpa suara.
Sesampainya di musholla, beberapa anak kecil sudah menunggu di teras. Nashwa tersenyum lebar.
“Assalamualaikum, Nak-Nak. Siapa yang hafal surat Al-Asr hari ini?”
Anak-anak langsung ramai menjawab. Nashwa masuk ke dalam, meletakkan tasnya, lalu duduk di lantai dengan posisi yang sopan. Ia mulai mengajar dengan sabar, mengoreksi bacaan, menjelaskan makna, dan sesekali tertawa kecil saat ada anak yang salah ucap. Suasana musholla terasa hangat dan penuh berkah.
Pukul setengah delapan, kelas ngaji pagi selesai. Anak-anak bubar satu per satu. Nashwa membersihkan musholla sendirian. Ia menyapu lantai, merapikan sajadah, dan mengelap mimbar. Tubuhnya yang kecil terlihat semakin mungil saat ia membungkuk membersihkan sudut-sudut musholla.
Saat ia sedang mengelap kaca jendela belakang musholla, tiba-tiba hujan deras turun tanpa peringatan. Air hujan membasahi tanah di luar dengan cepat. Nashwa menghela napas.
“Ya Allah… hujan deras sekali,” gumamnya.
Ia bergegas mengambil payung kecil dari tasnya. Namun saat membuka pintu belakang musholla untuk melihat seberapa deras hujannya, angin kencang tiba-tiba menyapu. Payungnya terlepas dari tangan dan terbang ke halaman belakang musholla yang agak sempit dan berpagar.
“Wah…!” seru Nashwa kaget.
Ia berlari kecil mengejar payungnya. Hujan deras membasahi hijab dan bahu gamisnya dalam hitungan detik. Air hujan meresap ke kain, membuat gamisnya menempel di tubuh mungilnya. Nashwa merasa tidak nyaman, tapi ia tetap berusaha mengambil payung yang tersangkut di pagar belakang.
Saat ia membungkuk untuk mengambil payung, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah samping musholla.
“Ukhti… hujan deras sekali. Payungnya ke mana?”
Nashwa menoleh kaget. Seorang pria berusia sekitar tiga puluhan berdiri di bawah atap samping musholla. Ia mengenakan baju koko basah kuyup dan celana kain. Wajahnya tampan, tapi ada senyum tipis yang membuat Nashwa agak waspada.
“Itu… payung saya,” jawab Nashwa pelan sambil menunduk. Air hujan terus membasahi hijabnya. Kain hijab yang tadinya rapi kini basah dan sedikit menempel di dahi serta pipinya.
Pria itu melangkah mendekat. “Saya bantu ambilkan.”
Tanpa menunggu jawaban, pria itu melangkah ke hujan dan mengambil payung yang tersangkut. Saat ia memberikan payung itu kepada Nashwa, jari mereka menyentuh sebentar. Nashwa langsung menarik tangannya.
“Terima kasih, Pak,” katanya cepat, suaranya sedikit gemetar karena kedinginan dan rasa tidak nyaman.
Pria itu tidak langsung pergi. Ia berdiri di bawah atap, memandang Nashwa dari atas ke bawah. Pandangannya sempat berhenti di bagian dada Nashwa yang basah, di mana kain gamis menempel dan memperlihatkan bentuk tubuhnya yang kecil dan ramping.
“Ukhti sendirian di musholla?” tanyanya pelan.
“Iya, Pak. Baru selesai ngaji pagi. Mau pulang, tapi hujan deras,” jawab Nashwa sambil mundur selangkah. Ia memegang erat ujung hijabnya yang basah.
Pria itu tersenyum lagi. “Kalau begitu… biar saya antar pulang saja. Saya juga mau ke arah situ.”
Nashwa menggeleng cepat. “Tidak usah, Pak. Saya bisa pulang sendiri.”
“Tapi hujannya deras, Ukhti. Badan kecil begitu bisa kena sakit.”
Nada pria itu terdengar ramah, tapi ada sesuatu yang membuat Nashwa merasa tidak tenang. Hujan semakin deras. Angin bertiup kencang, membuat hijabnya kembali tertiup dan memperlihatkan sedikit rambut di pelipisnya.
Nashwa menunduk dalam. Hatanya berdebar. Ia tahu ia harus menolak dengan tegas, tapi hujan deras dan jarak ke rumah yang lumayan jauh membuatnya ragu.
Saat itu juga, ponsel Nashwa berbunyi. Ia mengeluarkannya dari tas dengan tangan gemetar. Pesan dari ibunya:
“Na, hujan deras sekali. Kamu di mana? Pulang sekarang ya, jangan kehujanan.”
Nashwa menatap layar ponselnya lama. Hujan tidak menunjukkan tanda akan reda. Pria itu masih berdiri di sana, menunggu jawabannya dengan senyum yang semakin lebar.
Kesialan pertama baru saja dimulai.444Please respect copyright.PENANACVnmldGKK2


