Bab 3: Persiapan yang Gelap
1281Please respect copyright.PENANAUEP7JyvsBR
Pagi kedua tanpa kehadiran Andi terasa lebih berat bagi Rina. Cahaya matahari menyusup melalui tirai kamarnya yang tebal, menerangi kulit putih mulusnya yang masih terbaring lemas di atas seprai yang agak basah. Malam tadi mimpi-mimpi aneh itu datang lagi, membuat memeknya banjir cairan orgasme dan tubuhnya terasa lelah meski baru bangun. Ia bangkit pelan, payudara I-cupnya bergoyang berat saat ia duduk. Puncak putingnya masih sensitif, sedikit membengkak karena gesekan kain semalaman.
1281Please respect copyright.PENANA14Uqlt1BHu
"Astaghfirullah... aku harus kuat. Ini pasti godaan setan karena kesepian," bisik Rina sambil mengusap wajahnya. Ia segera mengenakan hijab putih bersih, baju kurung longgar berwarna krem yang menutupi seluruh tubuhnya, dan rok panjang hingga mata kaki. Meski begitu, setiap gerakan membuatnya sadar betapa sensitif tubuhnya hari ini. Gesekan kain di paha dalamnya saja sudah membuat kristoris kecilnya berdenyut pelan.
1281Please respect copyright.PENANAKdK0DQnyxm
Di dapur, aroma kopi dan roti panggang sudah menyebar. Pak Hadi sudah bangun lebih pagi, sibuk menyiapkan sarapan. Tubuhnya yang masih tegap terlihat kuat di balik kaos polo dan celana rumah. Ia sudah mempersiapkan segalanya semalam: botol obat perangsang dosis sedang sudah siap di saku, kamera kecil cadangan untuk dipasang di kamar mandi dan ruang tamu, serta catatan rencana detail yang tersimpan di ponselnya.
1281Please respect copyright.PENANAEpgzEKg6w0
"Selamat pagi, Nak Rina. Duduklah, Bapak sudah siapkan sarapan," sapa Pak Hadi dengan senyum hangat yang sempurna. Matanya menyapu sosok Rina yang tertutup rapat, membayangkan apa yang tersembunyi di balik kain itu.
1281Please respect copyright.PENANA2NwJ2YU16s
"Terima kasih, Pak. Bapak repot sekali," jawab Rina sopan. Ia duduk di meja makan, mencoba tersenyum meski tubuhnya masih panas. memeknya terasa agak bengkak dan basah sejak bangun, membuatnya gelisah saat duduk.
1281Please respect copyright.PENANApTjiEB31cL
Mereka sarapan bersama. Pak Hadi bercerita tentang bisnisnya yang sedang ramai, sesekali bertanya kabar Andi. Rina menjawab pendek, fokus pada makanannya. Tapi saat Pak Hadi menuangkan jus jeruk segar ke gelasnya, tangannya sengaja menyentuh jari Rina lebih lama dari biasanya. Sentuhan hangat itu membuat Rina tersentak kecil, getaran menjalar ke lengan dan turun ke dada. putingnya mengeras lagi di balik bra.
1281Please respect copyright.PENANAbM6lr8uJ6U
"Maaf, Nak," kata Pak Hadi pura-pura tidak sengaja, tapi tatapannya penuh arti.
1281Please respect copyright.PENANAFI4OHrLDPx
Sepanjang pagi, Pak Hadi mengikuti Rina diam-diam. Saat Rina membersihkan ruang tamu, ia memasang satu kamera kecil di rak buku tinggi, tersembunyi di balik vas bunga. Saat Rina ke kamar mandi untuk mencuci pakaian, ia memasang kamera lain di sudut langit-langit yang strategis, menghadap ke shower. Semua terhubung ke monitor di kamarnya.
1281Please respect copyright.PENANACbmvR0Guud
Di ruang kerjanya sebentar, Pak Hadi memeriksa rekaman malam sebelumnya. Gambar Rina yang gelisah, tangannya menyentuh tubuh sendiri, membuat kontolnya mengeras kuat. "Tubuh ini akan jadi milikku sepenuhnya," gumamnya sambil merencanakan malam ini.
1281Please respect copyright.PENANAQFigfMBlhh
Siang harinya, cuaca panas. Rina menyiram tanaman di taman belakang rumah. Baju kurungnya sedikit basah oleh keringat, menempel di kulit dan memperlihatkan lekuk payudara montoknya. Pak Hadi mendekat dengan membawa air dingin.
1281Please respect copyright.PENANAgGPivd5x0M
"Minum dulu, Nak. Jangan sampai dehidrasi," katanya sambil memberikan gelas. Kali ini ia sudah mencampur obat perangsang dosis lebih tinggi ke dalam air itu.
1281Please respect copyright.PENANAbqcgDFa12S
Rina minum banyak karena haus. Cairan itu masuk ke tubuhnya, menyebar cepat. Dalam waktu setengah jam, panas yang ia rasakan kemarin berlipat ganda. Kulitnya memerah, napasnya lebih cepat. Saat membungkuk menyiram tanaman, bokong monsternya menonjol indah, membuat Pak Hadi berdiri di belakangnya dengan pandangan lapar.
1281Please respect copyright.PENANA66rXfAHKxN
"Badanmu semakin panas ya, Nak Rina? Wajahmu merah sekali," tanya Pak Hadi sambil meletakkan tangan di dahi Rina. Sentuhan itu membuat Rina hampir mengerang. Tubuhnya bereaksi hebat memeknya berkontraksi pelan, mengeluarkan lebih banyak cairan orgasme.
1281Please respect copyright.PENANAVY68l1IjYb
"Saya... saya tidak apa-apa, Pak. Mungkin kepanasan," jawab Rina dengan suara gemetar. Ia buru-buru masuk rumah, meninggalkan Pak Hadi yang tersenyum puas.
1281Please respect copyright.PENANAaU80Aw5E02
Sore menjelang, Rina mencoba beristirahat di kamar. Tapi obat bekerja lebih kuat. Ia berbaring, tapi setiap gerakan membuat putingnya bergesek kain, mengirim gelombang kenikmatan yang membuatnya menggigit bantal. memeknya basah sekali, celana dalamnya sudah lembab. Ia merasa bersalah besar pada Andi, tapi tangannya hampir tak bisa dikendalikan. Hanya sentuhan kecil di paha sudah membuat kristoris berdenyut minta lebih.
1281Please respect copyright.PENANAQ4McZeySCw
Pak Hadi menonton semua dari monitor. Ia melihat Rina berguling gelisah, kakinya saling gesek. "Sabar, sayang. Malam ini Bapak akan bantu kau lepaskan semua itu."
1281Please respect copyright.PENANA8YjFKh5Btd
Menjelang maghrib, Pak Hadi memanggil Rina ke ruang makan. Ia sudah menyiapkan teh herbal hangat dengan dosis obat yang lebih kuat lagi. "Minumlah ini, Nak. Bapak buat khusus untuk meredakan panas badanmu."
1281Please respect copyright.PENANApJj0YGIppO
Rina minum tanpa curiga. Teh itu manis dan hangat, menenangkan tenggorokannya yang kering. Tapi efeknya langsung terasa di perut bawah. memeknya seperti terbakar nikmat, dinding-dindingnya berdenyut minta diisi sesuatu yang besar.
1281Please respect copyright.PENANAd4FD3qgqX9
Setelah sholat Maghrib berjamaah, mereka duduk di ruang tamu lagi. Obrolan malam ini lebih dalam. Pak Hadi bercerita tentang betapa ia merindukan kehangatan keluarga sejak istrinya tiada. "Kamu mirip sekali dengan almarhumah, Nak. Cantik, taat, dan tubuhnya... ah, maaf Bapak kelepasan."
1281Please respect copyright.PENANAKi0qiBIRIw
Rina tersipu, tapi kata-kata itu membuat imajinasinya melayang. Obat membuat pikirannya kabur antara dosa dan keinginan. Pak Hadi mendekat lagi, tangannya memijat bahu Rina dengan alasan menenangkan.
1281Please respect copyright.PENANA3SJHjwsAox
"Kamu tegang sekali, Nak. Biarkan Bapak pijit lebih dalam," bisik Pak Hadi dekat telinga Rina. Napas hangatnya menyapu daun telinga menantunya, membuat Rina merinding hebat. Tangan mertuanya turun ke pinggang, lalu naik pelan ke sisi payudara tanpa menyentuh langsung. Rina merasa putingnya nyeri minta dihisap.
1281Please respect copyright.PENANASdBIFAN0mc
"Pak... ini tidak boleh..." protes Rina lemah, tapi tubuhnya tak bergerak menjauh. Sensasi panas, dingin, dan getaran bercampur aduk di tubuh sensitifnya.
1281Please respect copyright.PENANA1g58lhc86s
Pak Hadi berhenti di batas, tapi bisikannya semakin erotis. "Bapak hanya ingin bantu kamu, Nak. Andi jauh di sana, kamu butuh pelukan hangat. Lihat, bokongmu yang indah itu tegang juga. Biarkan Bapak urus semua kebutuhanmu di rumah ini."
1281Please respect copyright.PENANA6MrejXuS2s
Rina bangkit tergesa, wajahnya merah padam. "Saya mau istirahat dulu, Pak. Terima kasih."
1281Please respect copyright.PENANA3InpYvkhQv
Ia berlari ke kamar, mengunci pintu. Di dalam, ia langsung melepas hijab dan baju kurung luar. Tubuhnya hanya tinggal bra dan celana dalam yang basah. Ia melihat dirinya di cermin kulit memerah, puting mengeras menonjol, memek basah mengkilap. Tangan kanannya menyentuh kristoris kecil itu, dan kenikmatan meledak. "Ahhh... maafkan aku, Mas Andi..." erangnya pelan sambil jatuh berlutut.
1281Please respect copyright.PENANAvWkN0IbheO
Pak Hadi di depan monitor tersenyum lebar. Rekaman malam ini semakin lengkap. Ia mempersiapkan segala sesuatu untuk malam besok malam di mana ia akan mulai menyentuh lebih jauh. Kamera sudah siap, obat dosis penuh sudah disiapkan, dan basement sudah dibersihkan untuk sesi pertama.
1281Please respect copyright.PENANAw7VuU3CGAA
Malam itu rumah besar terasa penuh ketegangan. Rina bergulat dengan tubuhnya sendiri, air mata bercampur kenikmatan terlarang. Pak Hadi merencanakan dengan dingin dan penuh gairah, kontol besarnya berdenyut membayangkan robeknya memek rapat menantunya.
1281Please respect copyright.PENANA5Fyu8Qzfky
Persiapan sudah hampir selesai. Badai akan segera datang.
1281Please respect copyright.PENANAYO0mPilFRM


