Bab 2: Panas yang Tak Terduga
1313Please respect copyright.PENANAQfHtoUF2y0
Malam semakin larut di rumah besar Pak Hadi. Jam dinding di ruang tamu berdetak pelan, mengisi keheningan yang menyelimuti seluruh bangunan. Rina berguling di tempat tidurnya untuk kesekian kalinya. Tubuhnya terasa panas luar biasa, meski pendingin ruangan sudah dinyalakan cukup dingin. Kulit putih mulusnya berkilau karena keringat tipis yang muncul tanpa alasan jelas. Setiap kali kain baju tidur sutra tipis bergesek dengan puncak putingnya, ia merasa ada gelenyar listrik kecil yang menjalar hingga ke memek di antara kedua pahanya yang mulus.
1313Please respect copyright.PENANAO2LDqCRg6b
"Astaghfirullah... kenapa tubuhku seperti ini?" gumam Rina pelan. Ia duduk di tepi tempat tidur, hijabnya sudah dilepas karena hanya sendirian di kamar. Rambut hitam panjangnya tergerai indah di punggung. Payudara I-cupnya naik turun cepat seiring napas yang mulai berat. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Andi baru berangkat beberapa jam lalu, tapi ia sudah merasakan kesepian yang aneh, bercampur dengan gelombang panas yang membuat memeknya basah dan berdenyut pelan.
1313Please respect copyright.PENANAX1M89TKgCD
Di kamar utama lantai atas, Pak Hadi duduk nyaman di kursi kerjanya yang empuk. Monitor di depannya menampilkan gambar tajam dari kamera kecil yang sudah terpasang di kamar menantunya. Ia melihat Rina duduk gelisah, tangannya tanpa sadar menyentuh lehernya yang putih. Senyum puas terukir di wajah tegasnya. Obat perangsang dosis kecil yang ia campur di teh jahe tadi sore mulai bekerja dengan sempurna. Tubuh sensitif Rina memang sangat responsif.
1313Please respect copyright.PENANAoPa8XvqKkP
"Bagus... semakin panas, semakin mudah nanti kau patah, Nak," bisik Pak Hadi sambil mengusap dagunya. kontolnya sudah setengah tegang sejak tadi, membayangkan bagaimana ia akan menjinakkan menantu salehanya itu. Ia membuka laci lagi, memeriksa botol obat perangsang dosis penuh yang akan ia gunakan besok malam. Rencananya matang: besok ia akan buatkan minuman lagi, tapi dengan dosis lebih kuat. Kemudian ia akan dekati Rina pelan, gunakan pengalaman manipulasi selama puluhan tahun untuk membuatnya ragu dan ketakutan.
1313Please respect copyright.PENANAZTKosV7YiO
Pak Hadi bangkit, mengenakan kaos longgar dan celana rumah. Ia turun ke lantai bawah dengan langkah tenang. Malam ini ia ingin mengobrol lebih dekat dengan Rina, menguji seberapa jauh efek obat sudah merambat.
1313Please respect copyright.PENANARkChI8IgIy
Rina terkejut saat mendengar ketukan pelan di pintu kamarnya. "Nak Rina, masih bangun? Bapak lihat lampu masih menyala. Ada yang Bapak bisa bantu?" suara Pak Hadi terdengar lembut dari balik pintu.
1313Please respect copyright.PENANAFNt93VsPz8
Rina buru-buru merapikan hijabnya kembali, meski tubuhnya masih panas. Ia membuka pintu sedikit. "Eh, Pak Hadi. Maaf, saya belum tidur. Badan agak panas entah kenapa."
1313Please respect copyright.PENANApntOMLTW0Z
Pak Hadi tersenyum prihatin, tapi matanya menyapu cepat tubuh Rina dari atas ke bawah. Baju tidur tipis itu tak mampu menyembunyikan tonjolan puting yang mengeras di balik kain. "Mungkin karena cuaca atau capek. Masuklah, Bapak buatkan susu hangat lagi. Atau kita ngobrol sebentar di ruang tamu biar tidak sendirian."
1313Please respect copyright.PENANAVOido84Mcx
Rina ragu sebentar, tapi karena merasa hormat dan takut dianggap tidak sopan pada mertua, ia mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih."
1313Please respect copyright.PENANAz9IbaCKRLa
Mereka duduk di sofa ruang tamu yang empuk. Lampu temaram menciptakan suasana intim. Pak Hadi pergi ke dapur sebentar dan kembali dengan dua gelas susu hangat yang sudah ia campuri sedikit lagi obat perangsang ringan. Ia memberikan yang lebih banyak pada Rina.
1313Please respect copyright.PENANASNtdsXrOYM
"Minumlah, Nak. Susu hangat ini bagus untuk tidur nyenyak," kata Pak Hadi sambil duduk cukup dekat di samping Rina.
1313Please respect copyright.PENANAyTr9uWiWCO
Rina meniup gelasnya pelan. Aroma vanila menenangkan, tapi saat cairan hangat masuk ke tenggorokannya, panas di tubuhnya semakin menyebar. Ia merasakan memeknya semakin basah, cairan hangat mulai merembes pelan ke celana dalamnya. Puncak putingnya semakin mengeras, nyeri nikmat setiap kali bergesek kain. Ia menggeser duduknya gelisah, mencoba menutupi dengan menarik ujung baju tidur.
1313Please respect copyright.PENANAYLO9EbD0zj
Pak Hadi memperhatikan semua itu dengan saksama. "Kamu terlihat gelisah, Nak Rina. Ada yang mengganggu pikiran? Cerita saja sama Bapak. Andi sudah jauh, Bapak di sini sebagai gantinya."
1313Please respect copyright.PENANAthNjCiADoc
Rina menggigit bibir bawahnya. Wajahnya memerah. "Saya... entah kenapa badan panas sekali, Pak. Padahal AC nyala. Mungkin kecapekan bersih-bersih tadi."
1313Please respect copyright.PENANAS6IWNgxwsC
Tangan Pak Hadi menyentuh punggung Rina pelan, pura-pura menenangkan. Sentuhan itu seperti listrik bagi tubuh sensitif Rina. Ia merinding hebat, napasnya tersengal kecil. "Bapak pijit sedikit punggungmu ya? Biar rileks."
1313Please respect copyright.PENANAVTWo7ZO6Rp
Tanpa menunggu jawaban penuh, jari-jari tebal Pak Hadi mulai memijat bahu Rina dengan ahli. Tekanan yang pas, hangat dari telapak tangannya meresap ke kulit putih mulus di balik baju tipis. Rina ingin menolak, tapi rasanya enak sekali. Tubuhnya yang sensitif bereaksi berlebihan memeknya berdenyut lebih kuat, ia merasakan getaran kecil di perut bawah.
1313Please respect copyright.PENANAxGvrFp7kDv
"Pak... cukup... saya sudah baikan," bisik Rina dengan suara gemetar. Tapi tangannya tak bergerak menjauhkan mertuanya.
1313Please respect copyright.PENANAlNDLvyPp7u
Pak Hadi tersenyum dalam hati. "Kamu cantik sekali, Nak. Andi beruntung punya istri seperti kamu. Tubuhmu terawat, kulitmu mulus. Bapak kadang iri lihat kalian berdua."
1313Please respect copyright.PENANA4dNOQHffeZ
Kata-kata itu terdengar seperti pujian biasa, tapi nada suaranya dalam dan penuh arti. Rina merasa ada yang aneh, tapi obat membuat pikirannya kabur. Ia hanya bisa mengangguk pelan. "Terima kasih, Pak. Saya berusaha jadi istri yang baik."
1313Please respect copyright.PENANA2UNIUjfsUJ
Obrolan berlanjut. Pak Hadi bercerita tentang masa mudanya, bagaimana ia dulu aktif dan kuat. Sesekali tangannya turun lebih rendah, menyentuh pinggang ramping Rina. Setiap sentuhan membuat Rina semakin gelisah. memeknya sudah sangat basah, ia khawatir noda akan terlihat di sofa. Kakinya saling menekan untuk menahan sensasi.
1313Please respect copyright.PENANAo3XjAAJjMX
"Kalau kamu butuh apa saja, bilang Bapak ya. Bahkan kalau... kesepian di malam hari," kata Pak Hadi sambil menatap mata Rina dalam-dalam. Tatapannya penuh hasrat yang tersembunyi.
1313Please respect copyright.PENANAgcbxSHusrh
Rina menunduk, pipinya panas. "Saya... saya istri Andi, Pak. Saya tahan."
1313Please respect copyright.PENANAwRecKNV02P
Pak Hadi tertawa pelan. "Tentu, Nak. Bapak hanya khawatir saja. Sekarang istirahatlah. Besok pagi kita sarapan bersama."
1313Please respect copyright.PENANAGAREUZT3fv
Ia membantu Rina berdiri. Saat berdiri, kaki Rina agak lemas. Pak Hadi memeluk pinggangnya sebentar untuk "menopang". Tubuh mereka hampir menempel. Rina bisa merasakan sesuatu yang keras dan besar di perut bawah Pak Hadi menyentuh pinggulnya sekilas. Ia terkejut, tapi obat membuatnya tak langsung menjauh.
1313Please respect copyright.PENANAx3W0ah6T7e
"Maaf, Pak..." gumamnya malu.
1313Please respect copyright.PENANADMmBYlX0kK
"Tidak apa-apa. Tidur yang nyenyak, Nak Rina."
1313Please respect copyright.PENANAWhty75sHMC
Rina kembali ke kamarnya dengan langkah tergesa. Ia mengunci pintu, lalu langsung merebahkan diri. Tubuhnya terbakar. Tangan kanannya tanpa sadar merayap ke bawah, menyentuh memek yang sudah banjir cairan. Sentuhan pertama di kristoris kecilnya membuat ia mengerang pelan tertahan. "Ahh... kenapa... ini dosa..."
1313Please respect copyright.PENANAEETEZ443qJ
Ia mencoba menahan, berdoa dalam hati, tapi sensasi semakin kuat. Di monitor kamar Pak Hadi, gambar itu terekam jelas. Pak Hadi tersenyum lebar sambil mengusap kontolnya yang sudah sangat tegang.
1313Please respect copyright.PENANAMZHLoJTaNz
"Rina... besok malam kontol Bapak akan merobek memekmu yang rapat itu. Kamu akan mengerang nama Bapak, bukan Andi," gumamnya penuh kemenangan.
1313Please respect copyright.PENANAHOtVC6UowI
Malam itu Rina akhirnya tertidur dalam gelombang panas dan mimpi-mimpi aneh yang penuh bayangan tangan kuat mertuanya. Sementara Pak Hadi menyusun rencana lebih detail: besok ia akan pasang lebih banyak kamera, siapkan ruang basement, dan tingkatkan dosis obat. Obsesinya terhadap menantu saleha itu semakin membara. Ia akan hancurkan kesetiaan Rina pelan-pelan, ubah ia menjadi budak seks yang ketagihan kontolnya yang besar dan tebal.
1313Please respect copyright.PENANAdTidJWBzr0
Di dapur, angin malam masuk melalui jendela. Rumah besar itu masih tenang di permukaan, tapi di dalamnya sudah mulai bergejolak api terlarang yang akan segera membakar segalanya.
1313Please respect copyright.PENANAB4wj69jDtx
Rina terbangun tengah malam karena mimpi basah yang membuatnya malu setengah mati. memeknya berdenyut hebat, cairan cairan orgasmenya membasahi seprai. Ia menangis pelan, merasa bersalah pada Andi, tapi tubuhnya sudah mulai lemah terhadap sensasi baru itu.
1313Please respect copyright.PENANAKw5ZwUeaqf
Pak Hadi, yang masih terjaga, mencatat semua di buku catatannya. "Tahap satu berhasil. Besok tahap dua dimulai."
1313Please respect copyright.PENANA3GDgIef4QQ


