Bab 1: Bayangan di Balik Hijab
1423Please respect copyright.PENANAJI1GoA0mew
Pagi itu matahari menyapa rumah besar di pinggiran kota dengan cahaya keemasan yang lembut. Rumah dua lantai milik Pak Hadi itu berdiri megah, dikelilingi taman belakang yang hijau dan rapi. Di dalamnya, aroma masakan tradisional sudah menyeruak dari dapur. Rina, 28 tahun, berdiri di depan kompor dengan hijab putih bersih yang menutupi rambut hitamnya yang panjang. Kulitnya putih mulus seperti porselen, pinggang ramping yang kontras dengan payudara montok berukuran I-cup yang selalu tersembunyi rapat di balik baju kurung longgar. Bokongnya yang monster, bulat sempurna dan kencang, sedikit tertekan saat ia membungkuk mengaduk sayur.
1423Please respect copyright.PENANAyUjcwFF1Vt
Rina adalah istri saleha yang taat. Setiap pagi ia memulai hari dengan sholat Subuh berjamaah bersama suaminya, kemudian memasak sarapan, membersihkan rumah, dan membaca Al-Quran di ruang tamu yang tenang. Ia jarang keluar rumah kecuali untuk ke pasar atau mengantar suaminya. Tubuhnya yang sangat sensitif sering membuatnya malu sendiri; sentuhan kecil saja di bahu atau pinggang sudah membuat kulitnya merinding. Tapi ia selalu menahan, menjaga kesucian sebagai istri yang patuh.
1423Please respect copyright.PENANA9XtO6ZC1jW
"Andi sayang, sarapan sudah siap," panggil Rina dengan suara lembutnya yang merdu. Ia menyusun nasi goreng spesial, telur mata sapi, dan ikan goreng kesukaan suaminya di meja makan kayu mahoni.
1423Please respect copyright.PENANA81NHVeB3tF
Andi, 30 tahun, muncul dari kamar dengan tas besar di punggung. Tubuhnya tegap karena kerja keras di tambang, kulitnya kecokelatan terpapar matahari. Ia tersenyum lebar saat melihat istrinya, mendekat dan memeluk pinggang ramping Rina dari belakang. "Istriku yang paling cantik. Aku akan kangen masakanmu yang enak ini, Rin."
1423Please respect copyright.PENANAZTCkCC7n6n
Pelukan itu hangat, penuh kasih. Rina tersipu, merasakan dada bidang suaminya di punggungnya. "Berapa lama kali ini, Mas? Jangan lama-lama ya. Rumah ini sepi tanpa kamu."
1423Please respect copyright.PENANAVNUvyaLVTy
Andi menghela napas berat. "Minimal tiga bulan, sayang. Proyek tambang di Kalimantan ini besar. Tapi aku akan transfer lebih sering. Kamu jaga diri baik-baik di sini sama Bapak."
1423Please respect copyright.PENANAJFC7nDTAB2
Pak Hadi, mertua Rina yang berusia 55 tahun, sudah duduk di kepala meja. Tubuhnya masih tegap untuk usia itu hasil dari olahraga rutin dan genetika yang baik. Rambutnya sudah banyak uban, tapi wajahnya tegas dengan rahang kuat. Matanya yang tajam selalu tersembunyi di balik senyum ramah. Ia kaya raya dari bisnis properti dan kontraktor, tapi kesepian sejak istrinya meninggal bertahun-tahun lalu. Andi adalah anak tunggalnya, dan Rina... ah, Rina adalah obsesi terbesarnya.
1423Please respect copyright.PENANA5FZqkInvSS
"Benar, Nak Rina. Bapak akan jagain kamu di sini. Jangan khawatir," kata Pak Hadi dengan suara dalam yang tenang. Tatapannya meluncur cepat ke lekuk tubuh menantunya yang tertutup. Di balik meja, ia membayangkan bagaimana payudara I-cup itu akan terasa di tangannya, bagaimana bokong monster itu akan bergoyang saat ia...
1423Please respect copyright.PENANAJXk0pLHxje
Rina tersenyum sopan. "Terima kasih, Pak. Bapak juga jaga kesehatan ya."
1423Please respect copyright.PENANAxOalTOgUR5
Mereka makan sarapan bersama. Andi bercerita tentang pekerjaannya, Rina mendengarkan dengan penuh perhatian sambil sesekali melirik suaminya dengan cinta. Pak Hadi tersenyum, tapi di dalam hatinya ada badai. Sudah bertahun-tahun ia mengamati Rina. Wanita itu terlalu sempurna: kulit putih mulus yang tak pernah terkena sinar matahari langsung, tubuh yang subur dengan pinggang ramping, payudara montok yang membuat baju kurungnya menonjol, dan bokong yang membuat Pak Hadi sulit tidur malam. Ia tahu Rina sangat sensitif ia pernah tidak sengaja menyentuh tangan menantunya dan melihat pipinya merah padam. Itu membuat obsesinya semakin membara.
1423Please respect copyright.PENANA564rJI1c8V
Setelah sarapan, Andi memeluk istrinya lama di ruang tamu. "Aku cinta kamu, Rin. Jaga sholatmu, jaga rumah kita."
1423Please respect copyright.PENANADwQy7yTn3D
Rina memeluk balik, matanya sedikit berkaca-kaca. "Aku juga cinta Mas. Hati-hati di sana. Jangan lupa makan dan istirahat."
1423Please respect copyright.PENANATth0vsmE1B
Andi mencium kening istrinya di atas hijab, lalu berpamitan pada ayahnya. "Bapak, tolong jaga Rina ya. Dia istriku satu-satunya."
1423Please respect copyright.PENANArwXC11e06B
Pak Hadi menepuk bahu anaknya dengan kuat. "Tentu, Nak. Bapak akan rawat dia dengan baik." Di dalam hati, ia tersenyum sinis. *Rawat dengan cara Bapak sendiri.*
1423Please respect copyright.PENANAsbrjjsUwfv
Mobil pick-up Andi akhirnya melaju keluar gerbang. Rina berdiri di teras, melambai sampai mobil menghilang di tikungan jalan. Rumah terasa sepi seketika. Ia kembali ke dalam, membersihkan meja makan sambil bernyanyi pelan lagu religi untuk menenangkan hati.
1423Please respect copyright.PENANA8jR5mXw9cP
Pak Hadi mengamatinya dari ruang kerja di lantai atas. Dari jendela, ia melihat Rina bergerak di dapur. Setiap kali Rina membungkuk mengambil sesuatu, bokong monster itu menonjol indah di balik rok panjang. Payudaranya yang besar bergoyang pelan saat ia berjalan. "Ya Tuhan... tubuh ini dibuat untuk dijinakkan," gumam Pak Hadi pelan.
1423Please respect copyright.PENANAdEPInv5ww3
Ia duduk di kursi kerjanya, membuka laci rahasia. Di dalamnya ada botol kecil berisi obat perangsang kuat yang ia beli dari kenalan dokter tidak resmi. Cairan bening itu bisa membuat wanita biasa menjadi liar dalam hitungan jam, meningkatkan sensitivitas tubuh berkali-kali lipat. Di sampingnya, ada kamera kecil yang akan ia pasang di kamar Rina malam ini. Rencananya sudah matang.
1423Please respect copyright.PENANADES95LhCFe
Malam pertama tanpa Andi. Pak Hadi akan mulai pelan. Ia akan tawarkan teh hangat seperti biasa, campur obat sedikit dulu untuk melihat reaksi. Kemudian ia akan amati bagaimana Rina gelisah di malam hari. Tubuh sensitifnya pasti akan bereaksi. Pak Hadi membayangkan Rina mandi malam, air mengalir di kulit putih mulusnya, tangannya tanpa sadar menyentuh bagian sensitif karena panas yang aneh.
1423Please respect copyright.PENANADy8v51ocos
Ia merasakan kontolnya sendiri mengeras di balik celana. Besar, tebal, dan berpengalaman. Sudah lama ia tidak menggunakan kekuatannya sepenuhnya. "Rina... kamu akan jadi milikku. Dari saleha jadi budak Bapak yang patuh," bisiknya sambil tersenyum.
1423Please respect copyright.PENANAMN11Y1nNov
Sore harinya, Rina membersihkan kamar utama. Ia merapikan tempat tidur, mengganti seprai. Pikirannya melayang pada Andi yang sudah jauh. "Semoga Mas selamat," gumamnya. Ia duduk sebentar di tepi tempat tidur, merasakan kesepian mulai menyusup. Rumah besar ini terasa terlalu luas untuknya seorang.
1423Please respect copyright.PENANAYY9UklZVue
Pak Hadi muncul di pintu kamar. "Nak Rina, Bapak buatkan teh jahe hangat. Biar badan segar setelah capek bersih-bersih."
1423Please respect copyright.PENANAS40GsHPS8B
Rina bangkit, tersenyum. "Wah, terima kasih Pak. Bapak baik sekali."
1423Please respect copyright.PENANAreU54mYpck
Mereka duduk di ruang tamu sore itu. Teh jahe mengepul harum. Pak Hadi sudah mencampur sedikit obat di cangkir Rina dosis kecil untuk memulai. Rina meniup tehnya pelan, bibir merahnya menyentuh pinggir cangkir. Pak Hadi memperhatikan gerakan itu dengan lapar, membayangkan bibir itu nanti akan mengelilingi kontolnya.
1423Please respect copyright.PENANAmgzD0ZZblO
"Mas Andi sudah jauh ya, Nak. Kamu tidak takut sendirian?" tanya Pak Hadi sambil menyesap tehnya sendiri.
1423Please respect copyright.PENANAcX6ZTUddD6
"Takut sih, Pak. Tapi saya biasa. Lagian ada Bapak di rumah," jawab Rina polos.
1423Please respect copyright.PENANALIlHe0HS9t
Pak Hadi tersenyum. "Iya, ada Bapak. Bapak akan selalu ada untuk kamu. Apapun yang kamu butuhkan... bilang saja."
1423Please respect copyright.PENANA8d6YvZ88lF
Saat Rina minum teh, Pak Hadi melihat pipinya mulai sedikit memerah. Obat mulai bekerja pelan. Kulit putihnya terasa hangat, ada getaran kecil di perut bawahnya. Rina menggeleng pelan, mengira itu karena cuaca.
1423Please respect copyright.PENANAOuBrOILtEF
Malam semakin larut. Rina sholat Isya sendirian di kamar, berusaha fokus. Tapi tubuhnya terasa aneh. Panas mulai merayap dari dada ke bawah. puting di puncak payudaranya terasa mengeras tanpa alasan, gesekan kain baju saja sudah membuatnya menggigit bibir. Ia mandi air dingin, tapi memek di antara pahanya terasa basah dan berdenyut pelan.
1423Please respect copyright.PENANAMdRjxMG4bf
Di kamarnya sendiri, Pak Hadi memasang kamera kecil di sudut langit-langit kamar Rina dengan hati-hati. Layar monitor di kamarnya sudah terhubung. Ia melihat Rina keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk, kulit putih mulus masih basah. Bokong monster itu bergoyang saat ia berjalan ke lemari.
1423Please respect copyright.PENANAZvHZoisbls
"Malam ini baru permulaan, Rina sayang," bisik Pak Hadi sambil mengusap kontolnya yang sudah tegang. "Besok... Bapak akan mulai merasakan memekmu yang rapat itu."
1423Please respect copyright.PENANAfeTzgh96ne
Rina berbaring di tempat tidur, mencoba tidur. Tapi panas di tubuhnya semakin kuat. Ia membalik badan, kakinya menggesek-gesek pelan. Pikirannya kosong, hanya ada sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sekuat ini. Air mata kecil mengalir di pipinya karena bingung dan malu.
1423Please respect copyright.PENANA8WOJo3w4Ce
Sementara itu, Pak Hadi duduk di depan monitor, tersenyum puas. Rencananya berjalan lancar. Andi jauh di tambang, tidak akan tahu apa-apa. Rina yang saleha ini akan ia korupsi perlahan, hingga ia sendiri yang memohon kontol mertuanya.
1423Please respect copyright.PENANAjtzrAYL2S7
Malam pertama tanpa Andi berlalu dengan gelombang panas yang tak terlihat. Rumah besar itu menyimpan rahasia baru yang akan mengubah segalanya.
1423Please respect copyright.PENANAa1GhfKLuTn
1423Please respect copyright.PENANAQA3uq2JkBs


