Sudah satu minggu penuh Raihan mengabdi sebagai ustadz di Pesantren Ar-Rahman. Rutinitasnya kini terasa semakin padat dan penuh. Setiap pagi pukul setengah lima, ia sudah di depan kelas tahfidz santri putra, membimbing hafalan Al-Qur'an dengan suara yang tenang. Siang harinya, ia sesekali diminta mengisi kelas fiqih muamalah untuk santri kelas menengah. Dua kali dalam seminggu, ia juga mengajar kajian singkat akhlak dan tafsir untuk santri putri senior.
330Please respect copyright.PENANAuUGI5BpF6z
Para santri putri yang dulu mampir “Kak Raihan” kini berubah sikap. Begitu dia melangkah masuk kelas, keluar langsung hening. Gadis-gadis berjilbab rapi itu duduk tegak, tangan di pangkuan, tapi mata mereka berbinar penuh takjub. Sesekali ada yang tersipu malu saat Raihan menjelaskan ayat-ayat tentang kesabaran dan menjaga pandangan.
330Please respect copyright.PENANAlYkzJjzVH8
“Ustadz Raihan beda banget ya sekarang,” bisik salah seorang santri putri bernama Siti pada temannya di belakang saat istirahat. “Lebih dewasa, suaranya juga lebih tenang. Bikin deg-degan sendiri.”
330Please respect copyright.PENANAWVs58nicc0
“Ssst, jangan keras-keras. Nanti kedengaran,” balas temannya sambil menahan senyum. “Tapi iya, dulu pas masih santri kan biasa aja. Sekarang… wah, aura ustadznya keluar semua.”
330Please respect copyright.PENANAY8E575OVBl
Raihan yang sedang merapikan buku di meja pura-pura tidak mendengar, tapi senyuman kecil tidak bisa ditumbuhkan di sudut bibir. Ia merasa tanggung jawabnya semakin berat, namun juga ada kepuasan tersendiri melihat perkembangan santri-santri tersebut.
330Please respect copyright.PENANAIHw3OQhO6m
Malam itu, setelah salat Isya berjamaah dan belajar santri dimalam hari, suasana pondok mulai sepi. Hanya terdengar suara jangkrik yang bersahutan dan angin malam yang menyapu daun-daun pohon di halaman. Raihan baru saja ingin kembali ke kamar ketika ponselnya bergetar. Pesan dari grup ustadz-ustadzah:
330Please respect copyright.PENANAXMYMzZTXmd
Ustadzah Layla: “Ustadz Raihan, kalau sempat malam ini, saya tunggu di perpustakaan utama ya. Mau lebih lanjut diskusi metode hafalan yang kemarin.”
330Please respect copyright.PENANAvimlD3xh0n
Raihan membaca pesan itu dua kali. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ustadzah Layla—wanita yang selama ini selalu menjadi pusat perhatiannya. Tinggi 165 cm, berpostur berisi dengan lekuk tubuh yang selalu tertutup gamis longgar, tapi tak bisa disembunyikan sepenuhnya. Ia memakai kemeja putih bersih yang masih wangi, sarung hitam, dan peci hitam sederhana.
330Please respect copyright.PENANAZuxG7Ycz0d
Perpustakaan utama terletak di gedung tengah pondok. Pintu kayu besar sudah tertutup rapat, tapi lampu meja di pojok masih menyala temaram, menebarkan cahaya kuning keemasan. Raihan mendorong pintu pelan.
330Please respect copyright.PENANAFXZjHYVkU1
“Assalamualaikum, Ustadzah Layla…” sapanya lembut.
330Please respect copyright.PENANAbXJ1RE1Re9
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab suara lembut yang sudah tak asing. Ustadzah Layla duduk di sofa panjang dekat rak buku fiqih. Gamis hitam panjangnya sedikit kusut karena sudah lelah seharian. Cadarnya masih terpasang rapi, namun mata indahnya terlihat lebih menonjol di bawah cahaya lampu.
330Please respect copyright.PENANA4hedlUJwCG
Raihan mendekat. Aroma buku tua bercampur parfum mawar langsung memenuhi penciumannya. “Maaf agak lama, Ustadzah. Tadi sempat membersihkan kamar dulu.”
330Please respect copyright.PENANA8nSLrQ2RjK
“Tidak apa-apa, Ustadz. Saya juga baru datang sepuluh menit yang lalu,” balas Layla sambil tersenyum di balik cadar. "Mau minum teh dulu? Saya sudah siapkan termos kecil dan dua gelas. Tehnya masih hangat."
330Please respect copyright.PENANAyf5jXnbfBU
“Terima kasih banyak, Ustadzah. Baik sekali.” Raihan duduk disebelahnya. Jarak mereka hanya sekitar 30 sentimeter. Bau parfum mawar dari tubuh Layla terasa semakin kuat, manis, dan menenangkan sekaligus menggoda.
330Please respect copyright.PENANAdWCfyTFxcR
Mereka mulai berdiskusi. Layla mengambil buku catatan kecilnya. "Jadi, seperti yang kita bahas minggu lalu, di Al-Azhar metode hafalannya lebih fleksibel. Mereka tidak memaksakan hafal satu juz dalam waktu singkat. Lebih ke pemahaman makna dulu baru dihafal. Ustadz sudah coba di kelas putra?"
330Please respect copyright.PENANA8CsCsLl0Kk
"Sudah Ustadzah. Hasilnya lumayan. Santri yang biasanya bosan jadi lebih antusias. Tapi ada yang masih susah mengingat urutan ayat," jawab Raihan sambil menyesap teh.
330Please respect copyright.PENANAeVbkLFCVTN
Layla mengangguk. "Itu wajar. Coba tambahkan metode visualisasi. Bayangkan ayat-ayat itu seperti cerita yang hidup. Saya dulu di Mesir sering pakai itu saat sendirian di kamar kos."
330Please respect copyright.PENANATlr12yUUrp
"Ustadzah pernah tinggal sendirian di Mesir? Berat pasti ya," tanya Raihan, matanya sesekali mencuri pandang ke lekuk dada Layla yang naik-turun pelan mengikuti napas.
330Please respect copyright.PENANAkfifwV8Iil
"Berat sekali, Ustadz. Kadang-kadang malam-malam dingin, jauh dari keluarga. Tapi itu yang membuat saya lebih kuat," cerita Layla dengan suara lembut. "Ustadz sendiri? Impiannya apa setelah khidmah di sini?"
330Please respect copyright.PENANAznFvobsq6o
Raihan tersenyum kecil. “Saya ingin melanjutkan kuliah di luar kota jika memungkinkan. Tapi sekarang fokus dulu mengabdi di sini. Melihat santri-santri berkembang dan bahagia.”
330Please respect copyright.PENANAw9Ks3w5YqP
Obrolan mereka mengalir semakin ringan. Topik pelajaran perlahan bergeser ke hal pribadi. Tubuh mereka tanpa sadar semakin mendekat. Paha mereka hampir bersentuhan di sofa yang sempit.
330Please respect copyright.PENANAVxGPTzaJ88
Tiba-tiba Layla menghela napas panjang. “Ustadz Raihan… sebenarnya sudah lama saya memperhatikan kamu. Sejak masih santri dulu. Kamu berbeda dari yang lain. Lebih serius, lebih bertanggung jawab.”
330Please respect copyright.PENANAzkhw8TulRI
Raihan merasa darahnya memanas. “Ustadzah juga… saya sering melihat Ustadzah dari jauh saat mengajar. Cara Ustadzah bicara, cara berjalan… selalu membuat saya……”
330Please respect copyright.PENANAc0QSYDdbUe
Layla terdiam sejenak. Mata menatap Raihan lebih dalam. “Ustadz… jangan bilang begitu. Kita sama-sama punya amanah di pondok ini. Banyak yang memandang kita.”
330Please respect copyright.PENANAOnBJMdVPo7
“Tapi malam ini hanya kita berdua, Ustadzah,” balas Raihan pelan, suaranya hampir berbisik.
330Please respect copyright.PENANAleoTe6PYsD
Layla menggigit bibir di balik cadar. Perlahan ia mengangkat tangan dan menarik cadarnya ke atas hingga hanya menutupi hidung. Raihan akhirnya melihat tepi yang penuh, merah alami, dan pipinya yang halus dengan garis samar bekas cadar.
330Please respect copyright.PENANAEAQtlOaVtB
“Ustadz…” bisik Layla, suaranya gemetar.
330Please respect copyright.PENANAXU9FK1puUz
Raihan tak bisa menahan diri. Ia mendekatinya dan mencium bibir Layla dengan lembut. Ciuman pertama terasa hangat, penuh keraguan. Layla sempat menegangkan sambil memegang lengan Raihan. Tapi kemudian matanya terpejam. Bibirnya mulai membalas ciuman itu dengan sama hangatnya.
330Please respect copyright.PENANAXGo6y2gmBE
“Ustadz…kita tidak boleh…” desah Layla saat mereka melepas lelah sebentar, napasnya sudah memburu.
330Please respect copyright.PENANAjySQomuNYJ
“Ustadzah… maafkan saya,” kata Raihan, tapi dia langsung mencium lagi, kali ini lebih dalam. Lidah mereka saling menari pelan, saling memuaskan rasa manis teh yang masih tersisa. Tangan Raihan naik ke pinggang Layla, merasakan kehangatan tubuh berisi di balik gamis tipis.
330Please respect copyright.PENANAUl73AwaWMj
“Ahh… Ustadz…” keluar desahan kecil dari bibir Layla. Tangan Raihan semakin berani. Ia naik ke dada montok Layla yang selama ini selalu menjadi fantasinya. Telapak tangan menyentuh gundukan besar dan berat itu dari atas kain gamis. Rasanya sangat penuh, kenyal, dan panas.
330Please respect copyright.PENANAB9to8D41uo
“Ustadzah… indah sekali,” bisik Raihan di telinga Layla sambil menciumi leher putihnya yang harum.
330Please respect copyright.PENANAQG91DUuRXl
Layla mengeluh pelan, “Ahhh… Ustadz… jangan di situ… astaghfirullah… tapi rasanya… ahh… pelan saja…”
330Please respect copyright.PENANAHnpLJrOrVX
Tangan Layla menggenggam Raihan, seolah menahan, tapi tak kuat. Ia bahkan tanpa sadar sedikit mendorong agar remasan itu lebih dalam. Payudaranya yang besar terasa semakin menegangkan, putingnya di bawah kain. Raihan meremas lebih berani, ibu jarinya mengusap puting yang menonjol.
330Please respect copyright.PENANAsJSr7UsgOm
“Ustadz… Anda nakal sekali malam ini,” bisik Layla di sela mencium basah mereka. Lidah Raihan menjilat bibir bawah Layla, membuatnya mendesah lagi.
330Please respect copyright.PENANAI4xafmuGxH
“Karena Ustadzah terlalu menggoda,” jawab Raihan sambil meremas payudara kiri Layla dengan lebih kuat. “Saya sudah lama membayangkan ini. Setiap kali Ustadzah lewat di koridor, dada Ustadzah yang montok ini selalu membuat saya gelisah.”
330Please respect copyright.PENANAJGKpbwcFpO
Layla tersipu, pipinya memerah. “Jangan bilang begitu… malu… ahh!” Desahannya semakin sering saat Raihan menurunkan satu tangan ke paha tebalnya, merasakan kelembutan di balik gamis. Tapi Layla langsung menahan tangan itu.
330Please respect copyright.PENANAZNWpwmMpu4
“Ustadz… cukup… malam ini sampai sini dulu ya,” katanya dengan suara gemetar, meski matanya masih mengisyaratkan penuh kerinduan. “Kita… masih bisa menahan diri, kan?”
330Please respect copyright.PENANAWAfMqLP4Ne
Raihan menghormati. Ia mencium kening ustadzah Layla, lalu membantu merapikan tampilan itu kembali dengan lembut. “Maafkan saya, Ustadzah. Saya terbawa nafsu.”
330Please respect copyright.PENANAqoDJ8b4KNK
Mereka duduk berdampingan, nafas masih tersengal-sengal. Ustadzah Layla menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Raihan. "Apa yang kita lakukan ini salah besar, Ustadz. Kita guru di sini. Bagaimana kalau ketahuan?"
330Please respect copyright.PENANABQIEUktEQa
“Tapi rasanya sangat enak, Ustadzah,” jawab Raihan sambil memegang erat tangannya. “Saya berjanji akan menjaga rahasia ini. Tapi… saya tidak bisa berhenti memikirkan Ustadzah.”
330Please respect copyright.PENANAxuccQu0c5M
Layla tersenyum kecil. “Saya juga… sudah lama merasa ada yang aneh setiap bertemu kamu.”
330Please respect copyright.PENANAoLCzauM1JS
Mereka berbincang pelan lagi selama beberapa menit, membahas perasaan masing-masing, rasa bersalah, dan juga ketertarikan yang tak terbendung. Akhirnya, Layla berdiri dengan kaki agak goyah. Dada montoknya masih terasa panas dan sensitif bekas remasan Raihan.
330Please respect copyright.PENANAJjYwOEmzDZ
"Pulanglah dulu, Ustadz. Saya menyusul beberapa menit lagi supaya tidak terlihat bersama," katanya.
330Please respect copyright.PENANAwmOM0RxZSk
Raihan mengangguk. Sebelum keluar, ia mencium punggung tangan Layla sekali lagi. “Terima kasih malam ini, Ustadzah.Mimpi indah.”
330Please respect copyright.PENANAYMdt7k9uhm
Layla hanya tersipu dan mengangguk.
330Please respect copyright.PENANAJ3XORIiefZ
Malam itu, Raihan kembali ke kamar. Tangannya masih mengingat betapa nikmatnya payudara besar dan kenyal Ustadzah Layla. Sementara Layla berjalan ke asrama putri dengan langkah pelan, gamisnya sedikit kusut, dan dadanya masih berdenyut-denyut.
330Please respect copyright.PENANAD7w2AVxoqf
330Please respect copyright.PENANA6NyGgZW7eN


